Be an Ordinary Person with Extraordinary Personality

Sabtu, 23 Mei 2009

Manumisio*

Terkadang aku ingin menjadi matamu,

Agar aku bisa membaca setiap seni di hidupmu

Tapi biarlah setiap tubuh menikmati

Setiap seni yang mewarnai hidupnya

Yang mengalir dalam darahnya

Termasuk dirimu

Seni,

Meski tak terlihat

Namun geraknya selaras dengan nyanyian rindu

Meski tak terdengar

Namun suaranya begitu merdu

Meski tak terbaca

Namun bahasanya begitu syahdu

Katakan pada seni di hidupmu

’Aku ingin menikmatimu,

Menjadi roh dalam kehidupanmu’

Padamu,

Jiwa yang menggeliat dalam galau penat

Temukan seni

Lalu jadilah api

*Pendewasaan pemikiran anak-anak (dengan surat)

Rabu, 06 Mei 2009

Menanti Embun

MENANTI EMBUN

Kuhirup napas panjang, mencoba menata kembali puzzle rasa di hati yang selama ini tercecer. Kubiarkan diafragma ini mengembang beberapa saat lalu kuhembuskan Karbondioksida itu keras-keras seperti orang yang sedang buang sial dari dalam dirinya. Sekarang, di detik yang terus berjalan aku terduduk di sini. Sendiri. Meski di luar sana hingar bingar hidup belum sepenuhnya dimulai, namun aku selalu ingin memulainya lebih awal dari siapa pun. Aku akan terus duduk sampai aku puas. Barangkali siapa pun yang melihatku akan heran dengan apa yang aku lakukan. Menatap lurus ke depan tanpa kata-kata dan sekali-sekali bergumam. Itu pun tanpa kata yang bisa mereka mengerti. Gumamanku hanya terlihat seperti komat-kamit tukang tarot.

Tapi seandainya kalian -atau kau- tahu, barangkali ada sedikit empati yang mampu muncul dari suara hati yang tak pernah mampu berbohong. Aku tak sekedar berkomat-kamit tak jelas. Sesungguhnya aku sedang menyampaikan gundah hati yang beberapa waktu ini tak tersampaikan. Sebuah cerita yang selama ini kuhanyutkan bersama rasa dan kesempatan yang kukira akan sirna begitu saja. Tapi tak semudah itu, dari hulu memang tampak hilang, namun ketika sampai ke muara aku menemukannya kembali.

Aku mulai berusaha menciptakan kesempatan seperti ini. Kesempatan yang tak terbayar, dan aku tak perlu teman bicara. Aku bisa menyampaikannya sesuka hatiku, menyampaikan dengan lirih suara tak terdengar. Lalu tiba-tiba aku menjadi berpikir apakah ini jeritan hati yang terlalu lelah atau pikiran yang mengaku kalah?

Aku sedikit menggeser posisi dudukku. Kuraih sebuah buku bersampul hitam yang selama ini setia menerima apapaun yang aku rasakan. Sebuah buku harian yang selama ini menjadi wakil semua telinga yang mampu mendengar jeritku. Buku itu, teman curhat yang tak pernah protes meski tusukan pena kadang “menyakitinya”. Setelah kudapat buku itu, aku kembali ke posisi dudukku semula. Kubuka lembar yang dibatasi sepotong pita merah. Sesosok wajah ada di salah satu lembar yang dibatasi itu. Wajah yang tercetak dalam foto ukuran 4R. Wajah yang senantiasa aku rindukan.

Mataku panas, entah mengapa setiap kali kupandangi mata di foto ini, degup kencang jantungku terpacu. Perih, sedih, luka menyambar-nyambar. Lalu disusul dengan bahagia, ceria, suka yang sekedar mampir sebentar. Aku mengusap wajah yang tak sesungguhnya itu. Wajah salah seorang yang paling berharga dalam hidupku, sumber kekuatan cintaku. Setiap kali, setiap pagi dalam beberapa waktu ini kulakukan itu. Berharap siang nanti kudapatkan kabar keberadaannya. Kudengar berita kepulangannya. Setiap hari –dalam beberapa waktu ini- harapan itu terkembang dan setiap hari –dalam beberapa waktu ini- pula harapan itu pupus.

Andai dia ada di sisiku saat ini, aku tak akan muluk-muluk bercerita. Aku hanya ingin menikmati waktu bersamanya. Namun, ketahuilah, aku tak pernah menganggapnya tiada. Setiap waktu, bagiku dia selalu ada bersamaku. Meski raganya entah berada di mana sekarang, namun rohnya selalu hidup dalam pikiranku. Siapa pun tak bisa menyalahkanku –tentang hal ini, tentangnya- karena aku hidup dengan sudut pandangku. Siapa pun hidup dengan sudut pandangnya masing-masing. Dan aku tak akan pernah membiarkan kehidupanku berjalan dengan sudut pandang yang sempit yang bisa membuatku bunuh diri.

“Aku ingin kau mengerti…” kata itu tiba-tiba meluncur dari mulut ini. Lalu mataku semakin panas dan tak kuasa lagi membendung telaga kecil yang beriak deras ini. Foto itu kudekap, imajinasiku melayang seakan aku sedang memeluk sosok sesungguhnya. Rasa-rasanya ada perasaan halus yang menelusup dan bisikan kecil menghampiri telingaku. Itu darinya, ya benar-benar darinya. Namun sekali lagi aku harus menyadari bahwa itu hanya imajinasiku. Aku menyayanginya bahkan benar-benar mencintainya.

Seandainya dia berada di sini, sekarang juga akan kuberitahukan padanya tentang dua waktu dimana aku sangat menyukai saat-saat itu. Waktu pagi ketika fajar putih menyingsing di langit timur, diiringi kokok ayam ricuh serta cicit tikus yang berhenti kudengar. Lalu ketika bola raksasa menyembul, masih di langit timur, dan seakan-akan berkata “dunia, aku kan menguasaimu”. Kemilau embun yang baunya masih basah menusuk hidungku dan membelai pernapasanku. Uapnya naik sedikit demi sedikit. Kunikmati detik-detik itu sampai wujud embun itu lenyap dari pandangan kasatku.

Jika hari telah beranjak siang, aku cukup kesal dan mengutuki waktu. Mengapa dia harus bergerak, merangkak, berjalan, berlari, hingga kejaranku tak sampai? Mengapa dia tak mau sejenak berhenti mengerti arti dari setiap jejak yang kucoba langkahi? Namun, akhirnya kusadar bahwa aku sama sekali tak bisa menyalahkan waktu. Apa yang bisa kusalahkan, aku pun tak nanpu mendefinisikannya secara pasti. Apa kalian tahu definisi waktu? Definisi pastinya, maksudku, jika tahu ceritakan padaku.

Mengapa aku mengutuki waktu siang yang sama sekali tak berasa? Semua ini tak lepas dari rasa kesalku terhadap praktek birokrasi di negeri ini. Negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi -pada faktanya memang seperti itu kuakui- namun kegemahannya bagiku seperti sepotong pizza yang hanya dapat dibeli oleh kalangan yang sudah cukup uang untuk membelinya. Tanpa tedeng aling-aling, orang miskin itu nggak perlu makan pizza dulu karena raskin (beras miskin) pun datangnya selalu ditunggu-tunggu. Ya, hanya orang yang punya tahta dan harta saja yang menikmati kekayaan negara. Sekalian saja sahkan undang-undang “pejabat anti melarat”. Sama saja biar pun labelnya pizza, baunya toh masih seperti Jengkol juga, hanya orang yang suka saja yang mau memakannya.

Kembali lagi pada birokrasi yang tak ayal bukan lagi sebagai sebuah bentuk organisasi paling ideal menurut Aristoteles, namun sekarang cenderung pada penyimpangan yang nyata. Gampangnya, birokrasi bereinkarnasi dan melahirkan kembali oknum pelaku birokratisme yang membuat hal mudah menjadi susah dan harus berpayah-payah mendapatkannya.

Kekesalanku bukan tak beralasan. Entah itu sebagai perwujudan ego mengenai hak warga negara atau memang rasa kehilangan yang membuat emosi ini tak terkendali. Dasar manusia! Birokrasi zaman ini terlalu banyak cingcong, sesuatu yang seharusnya menjadi “sekedar” namun akhirnya sukar dan membuat gusar.

Pikiranku terlalu berkelana sampai persoalan negara. Hanya karena sosok yang wajahnya tercetak dalam secarik kertas foto yang sekarang sedang kupegang. Kupastikan seandainya wajah ini berwujud di depanku sekarang, akan kupeluk dia dengan erat. Dia adalah hakku dari Tuhan. Aku tak mau kehilangan dirinya -sama sekali- meski kusadari kepemilikan di dunia ini tak ada yang kekal.

Kulirik jam weaker di atas meja berwarna cokelat tua di sebelah tempat tidur. Sudah lima belas menit aku duduk diam sembari memandangi foto ini. Aku tak ingin beranjak karena aku menggantungkan harapanku pada posisiku sekarang.

“Aku masih ingin kau tahu...” butiran yang leleh menetes di pipiku. Aku membenci siang karena semua bagian dari diriku begitu lelah mencari dan menemukanmu. Selain pagi, hanya waktu malam yang senyap bisa kunikmati meski sedikit. Itu sekarang. Dulu, malam tak ubahnya pagi dengan embunnya. Malam adalah gelap yang indah. Apalagi jika remang cahaya bulan menghias. Ditambah titik-titik bintang membuat corak rasi pari, biduk atau scorpio. Sekarang, meski kesadaranku terkikis oleh lelahnya pikiran, aku terus berusaha menikmatinya. Kutahu jika malam datang maka dia akan segera berakhir dan berganti pagi kembali. Lalu aku bisa berceloteh panjang tentang dirimu dalam hatiku. Tentang kebahagiaan dan harapan akan masa depan. Walau aku sadari, siang menanti jejakku untuk terus mencarimu.

Air mata ini menganak sungai, sebuah ironi tentang kenyataan lemahnya diriku. Tapi aku yakin kesempatan itu masih ada, terbentang seluas langit. Kau akan menghampiriku kembali dengan besarnya rasa cintamu itu. Kau akan datang padaku kemudian merangkul tubuh kecilku dalam dekapan tangan kokohmu. Kau akan tersenyum sambil mengacak-acak rambutku. Aku tahu kau akan berkata:

”Tanamkan jiwa ksatria di hatimu, meski kau perempuan, kau Srikandi dalam kehidupan ini. Nafas yang menjadikan kehidupan ini selaras dengan kelembutanmu. Kau adalah roh kartini yang senantiasa hidup dan jiwa bunda Theresa yang tak pernah mati.”

Aku terguguk mengingat kata-kata yang pernah kau ucapkan itu. Aku malu karena Srikandi , Kartini, dan bunda Theresa yang kau banggakan ini begitu rapuh.

”Kau bisa meraih mimpi-mimpimu. Bermimpilah gadisku, mimpi itu gratis. Bercita-citalah yang besar maka kau akan jadi orang besar. Kau harus berpandangan seluas langit dan memiliki pemikiran sedalam laut.”

Kembali kuhirup napas dalam-dalam. Kuresapi dengung kata-kata yang pernah kudengar itu dan tak akan terhapus dari memori jangka panjangku.

Seandainya kau ada di sini, sekarang, aku akan ceritakan tentang mimpi besarku. Kuyakin kau pasti menepuk pundakku seakan aku tak hanya sekedar sahabat karibmu. Barangkali kau juga takkan percaya, aku yang seperti ini, bermimpi untuk menggantikan Ibu Meutia Hatta di tahun 2040 kelak. Kurasa tidak terlalu tinggi jika aku ingin meneruskan perjuangan perempuan. Tapi kau tak ada di sini sekarang. Kau entah berada di mana. Di belahan bumi yang mana. Aku bingung. Jalan pikiranku buntu. Saat ini, jangankan menggantungkan cita-citaku sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan sebagai obsesi yang tinggi. Cita-cita tertinggiku hari ini -dan telah tiga hari yang lalu- adalah bertemu denganmu dan memelukmu.

Kakiku mulai kesemutan bersila selama 30 menit. Kusdari waktu merangkak dan terus berjalan. Saat yang kutunggu, tepatnya yang paling kususkai yaitu saat matahari terbit segera tiba. Raksasa bulat itu akan segera muncul memendarkan sinar kuning keemasan sebelum menjadi panas yang menusuk kulit. Pagi ini kembali kugantungkan harapanku pada-Nya, pada mereka, dan pada siapa pun yang mendengarkan. Pada semua orang yang mau mendoakan aku dan kami.

Hari baru setelah tiga hari yang lalu harus kujalani kembali. Mau tidak mau. Semoga harapan pagi ini tak tersiakan. Kuraih handphone yang kutaruh di atas meja cokelat kecil di dekat tempat tidur itu. Kutelpon seorang yang sedang menanti kabar dariku di seberang sana. Setelah itu kusimpan kembali foto ukuran 4R yang sedari tadi menemani celotehku.

Sekarang, pagi memang masih dingin. Tapi bukan bau basah embun. Bau amis yang membuatku mual. Bahkan di otakku yang pesan yang tersampaikan tak hanya bau amis, bau mayat. Sial! Aku tak boleh berpikir seperti itu. Huf, sepagi ini sudah sumpeg. Aku berada di tengah-tengah orang yang kondisinya sama sepertiku. Menanti.

Kudekati seseorang yang aku kenal sejak dua hari yang lalu.

”Bagaimana?” tanyaku padanya. Seorang pemuda bernama Sahar yang sedang menanti kabar tentang adiknya. Adik perempuan yang katanya sebaya denganku, 20 tahun. Dia hanya menggeleng. Kutahu, barangkali dia mau menangis tapi mungkin dia malu denganku. Aku menelan ludah, pahit. Lidahku kelu. Aku tak berniat menanyakan hal yang lain lagi padanya.

”Sebentar, aku mau ke pos. Mau ikut?” kupegang pundaknya dan kutatap dalam matanya. Pasti dia tidak tidur beberapa hari ini.

Sahar menggeleng, ”Aku sudah ke sana” jawabnya tawar.

Aku bergegas menjajak jalanan basah, tetap amis.

“Selamat pagi” sapaku pada seorang petugas yang mengenakan kaos bertuliskan SAR.

”Selamat pagi Mbak, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.

”Bagaimana perkembangannya Pak?” tanyaku. ”Ada kabar terbaru mengenai korban?”

”Sementara belum Mbak, masih sama seperti kemarin baru delapan orang yang ditemukan. Semuanya meninggal dan sudah diambil oleh keluarganya.” penjelasan itu hambar di telingaku.

Langkahku gontai namun kupaksakan tegap. Aku kembali menghampiri Sahar. Duduk di sebelahnya dan berusaha tersenyum. Aku jadi teringat pesan ibuku tadi pagi saat kutelpon.

”Isya, kalau memang hari ini tidak ada kabar juga tentang ayahmu, kau pulang saja Nak. Kita pasrah saja.” kini air mataku benar-benar tak bisa kutahan. Padahal aku telah banyak menangis selepas shalat subuh tadi pagi. Setidaknya setengah jam cukup membuat mataku bengkak. Tapi tetap saja sekarang tak bisa kutahan.

Pemuda di sampingku hanya diam. Kumaknai diamnya sebagai tanda bahwa apa yang sedang dirasakannya sama denganku. Tak perlu pelajaran tentang empati di sini, masing-masing dari kami telah punya. Di dekat pos yang barusan kuhampiri terjadi ribut adu mulut antara beberapa orang yang senasib denganku dengan petugas SAR. Refleks kutarik tangan Sahar dan bergegas menuju ke tempat keributan. Hanya sekitar 5 meter dari tempatku sebelumnya.

”Kami butuh kepastian Pak, tidak harus seperti ini kan Pak? Pencarian terus diulur dengan alasan perundingan petugas, belum ada perintah dari atasan, cuaca buruk. Apa lagi Pak? Apa bapak-bapak bisa menjamin keluraga kami masih ada? Hidup atau mati? Kami di sini punya harapan Pak. Bapak-bapak punya perlatan untuk menyelamatkan diri jika berda di tengah laut nanti. Tapi keluarga kami pak? Mereka tidak punya apa-apa di tengah laut. Bagi kami, tahu mereka selamat dan hidup itu mukjizat. Tapi jika tahu mereka mati tetapi tetap ditemukan itu pun anugerah Pak. Tolong jangan membuat kami gelap mata Pak, jika kami memang harus ikut mencari ke tengah laut, kami bersedia.” Ucapan salah seorang Bapak diiringi anggukan orang-oarang yang ada di sekitar itu.

“Tapi...” seorang petugas SAR tidak sampai melanjutkan kata-katanya karena terlanjur dipotong oleh seorang lagi yang berdiri di sebelah bapak yang bicara pertama.

“Tapi apa lagi Pak? Kekhawatiran kami telah memuncak. Selama empat hari ini terkatung-katung di sini hanya sekedar mendengar alasan dari petugas.” Suaranya lebih terdengar marah.

Gendang telingaku mengabaikan suara-suara mereka. Aku diam. Percuma juga ikut bersuara. Kutelungkupkan kedua telapak tanganku di wajah. Entahlah, hatiku kebas. Tak mengerti bagaimana menyeimbangkan rasa kehilangan yang mendalam ini dengan toleransi petugas dan cuaca. Aku terus diam sampai kudengar pemuda itu sesenggukan. Aku membawanya duduk di depan pos penjagaan.

“Isya, saya lelah” ucapnya lirih. Matanya tak lagi kering, air mata yang keluar tak dihiraukannya. “Adik saya satu-satunya kenapa harus ikut menjadi korban yang hilang dalam kecelakaan kapal ini. Yang paling saya khawatirkan adalah dia tidak bisa berenang. Dia tidak bisa menyelamatkan dirinya, Isya.” Aku tahu perasaan Sahar saat ini.

Tak beda dengannya. Hal yang sama pun kurasakan. Pahlawanku pun bernasib sama dengan adik Sahar. Tapi aku lebih optimis bahwa ayah akan selamat. Karena itu harapanku. Tapi aku hanya bisa berdoa saat ini, aku tak mungkin ikut mencari ke tengah lautan.pasti aku dilarang karena aku perempuan. Ayah kebetulan dinas di Sulawesi, beliau pulang untuk menghadiri acara penyerahan penghargaan Mahasiswa Berprestasi yang kuraih di kampusku di Jakarta. Saat itu satu minggu lagi, namun jika dihitung dari hari ini berrati tinggal tiga hari lagi. Tetapi kabar tentang ayah belum juga terdengar. Kusesali kenapa waktu itu ayah tidak naik pesawat saja? Ah tapi jika bencana mau melanda tak peduli kita berada di mana, di lubang semut pun pasti akan terkena.

Handphoneku berdering. Telpon dari adikku.

”Kak Isya, ibu pingsan-pingsan terus. Kakak pulang saja ya naik pesawat hari ini.” kata-kata Nuril adik laki-laki pertamaku membuatku bertambah kalut.

”Ril, kamu jaga ibu dulu ya, minta tolong sama Bibi dulu. Kakak bertahan satu hari lagi sampai besok. Kakak optimis kalau ayah akan selamat dari kecelakaan itu. Kamu yang sabar ya.” ucapku.

”Tapi bagaimana keadaan kakak?” tanya adikku itu.

”Kakak baik., kau jaga ibu sama Vita adikmu ya.” Telpon ditutup.

Akhirnya petugas dan beberapa kelurga yang menanti terjun untuk mencari korban, termasuk Sahar juga ikut dalam rombongan itu. Aku kembali dulu ke tempat menginapku membereskan pakaianku. Aku harus siap dengan kemungkinan yang akan terjadi. Ibu di rumah juga butuh kehadiranku, aku tak bisa seperti ini terus. Kalau hasilnya nanti nihil aku pun tetap harus melanjutkan hidupku tanpa ayah. Orang yang mendidikku dengan caranya. Meneguhkan setiap langkahku dengan nasehatnya. Tapi Tuhan, aku mohon, aku masih ingin mencium tangannya dan menyiapkan makanan untuknya. Jangan Kau ambil dia dariku.

Sore hari sekitar pukul 15.00 WIT. Aku kembali ke pelabuhan dekat pos penjagaan. Duduk, dengan memeluk tas ranselku. Orang bertambah banyak. Salah seorang petugas mengabarkan ada dua korban meninggal di temukan kembali dan satu orang selamat namun kondisinya sangat kritis. Sekitar setengah jam lagi petugas dan orang-orang yang sedang mencari akan tiba di pelabuhan. Aku miris mendengar pengumuman petugas itu. Satu orang selamat, tapi kondisinya kritis. Apa dia mampu bertahan lagi selama setengah jam? Jangan-jangan itu ayah? Tuhan, kutahu Kau dengar doaku, selamatkan ayah.

Tepat ketika tim SAR gabungan sampai di pelabuhan, bau mayat kembali menyeruak. Semua orang yang menanti tak sabar untuk tahu identitas ketiga korban yang ditemukan itu. Dua korban meningal langsung bisa dikenali dan kebetulan keluarganya ada di sana. Harapanku tinggal pada satu korban hidup. Aku berusaha menyeruak di kerumunan orang yang sesak. Kekuatanku terasa bertambah. Akhirnya aku berada tepat di depan korban selamat itu. Selang oksigen di hidungnya, dia tak sadarkan diri. Air mataku menetes. Kurasakan getar hidup baru saat ini. Kurasakan dunia hanya milikku satu-satunya.

”Ayah...” kuraih tandu yang sedang dibawa petugas. Kupeluk tubuh ayahku yang tak berdaya saat ini. Tuhan, kupercaya kuasa-Mu. Kau mendengar doa-doaku. Sahar yang melihatku tersenyum lega, meski kutahu sedihnya pasti akn masih terus berbekas karena adiknya belum ditemukan.

Aku mengikuti petugas masuk ke ambulance yang akan membawaku ke rumah sakit. Langsung kukabari Nuril dan Ibu. Aku katakan pada mereka bahwa aku kan pulang kembali bersama ayah setelah ayah pulih. Tak lagi kuhiraukan penghargaan Mahasiswa Berprestasi. Tak lagi kupikirkan bahwa aku akan disalami oleh Rektor. Yang paling penting sekarang adalah ayah.

Ayah, kau akan melihat Srikandimu ini tegar kembali menyaksikan embun pagi. Asa gadismu ini takkan pernah luntur seperti semangat Kartini. Kita akan bersama lagi berceloteh tentang mimpi. Merangkul Ibu, Nuril, dan Vita. Ayah, syukur kupanjatkan pada Tuhan yang telah banyak memberiku nikmat dan pelajaran berharga dengan perantaramu. Ayah, tak sabar kunanti embun esok pagi bersamamu.

NB:

Cerita ini kupersembahkan bagi setiap ayah yang senantiasa menjadi pahlawan bagi putra-putrinya.

Minggu, 19 April 2009

Untuk “K”, dan “K”

Kusadari bahwa waktu tak pernah membohongiku, tak berhenti menyambangiku dengan cerca tak terduga tentang hati, tentang rasa. Kadang kurasakan memang diriku begitu mencintaimu, bahkan hingga saat ini, hingga (mungkin) kau baca coretan ini, semoga. Aku tak pernah memungkiri bahwa rasa ini kubiarkan saja tumbuh tak pernah kucoba untuk menyianginya. Rasa ini bukan gulma, meski kadang aku tersiksa dibuatnya. Cinta, anak kecil kok ngomong cinta.

Satu waktu dalam hidupku, kuakui, yang paling kusesali adalah mengenalmu. Mengapa saat itu telah tiba dan telah tertelan dilibas masa? Ribuan kata mungkin menjejali otakku. Mungkin seandainya..., mungkin jika..., mungkin bila..., mungkin aku..., mungkin keadaannya..., dan mungkin-mungkin yang lain yang kuciptakan sendiri dalam dunia imajiku. Kau, mengapa Tuhan menggariskan hidupku untuk bertemu denganmu? Aku hanya sanggup mengatakan, bahwa Dia mempunyai rencana untukku. Untuk hidupku, ilmuku, pengabdianku, bahkan sampai nanti,matiku. Namamu tertulis dalam diary kehidupanku, kau ada di sebagian langkahku. Mengapa aku menyesal mengenalmu? Karena kau mampu membuat hati ini terpaku pada sisi yang tak seharusnya. Pada sisi yang tak wajar.

Sekuat mungkin berusaha kubenahi rasaku, berusaha ku singkirkan egoku. Bahkan kucoba buang muka di hadapmu. Tapi apa yang kudapat? Rasa sesak saat aku menyadari bahwa aku begitu pengecut menghadapimu, menghadapi kenyataan.

Aku sering berkhayal, seandainya tak ada orang sepertimu di dunia ini pasti hidupku tak seperti sekarang. Terbelenggu rasa, rasa yang barangkali kuciptakan sendiri. Tapi saat kusadari bahwa khayalanku terlalu normal, biasa, maka kuhapus khayalan itu dari otakku. Dan pada akhirnya, kupikir, hidup ini takkan berwarna tanpa orang-orang sepertimu. Karena kau indah di hidupku.

Sahabatku, Sampaikan Pada Teman Manismu

Sahabatku,

Sampaikan pada teman manismu

Kau memang tak sempurna

Tapi kau tak pernah berupaya membuatnya cacat

Sahabatku,

Sampaikan pada teman manismu

Rasa sekaratmu telah berakhir

Meski sempat kau rasa akhir yang bagimu tragis, saat itu

Tapi semuanya telah lunas dengan tangis

Sahabatku,

Sampaikan pada teman manismu

Kau anggap dia malaikat di matamu

Dan selamanya dia tetap malaikat, sekali lagi di matamu

Meski sesungguhnya kau pun sadari

Sebenarnya, teman manismu

Malaikat di khayalmu

Dalam khayal imajimu

Sahabatku,

Sampaikan pada teman manismu

Dia adalah dia

Manusia bertajuk malaikat dalam otakmu

Tapi dia tetap dia, manusia

Yang kadang senyumnya pun tersekat

Sahabatku,

Sampaikan pada teman manismu

Dia akan selalu terasa sempurna di hadapmu

Sampaikan pada teman manismu

Yakinkan dia

Bahwa kau memang tak bisa sempurna di matanya

Tapi kau tetap ada

Bukan untuk dia teman manismu saja

Sajak DUA

Aku ingin menangis

Hingga air mata ini habis

Aku ingin berteriak

Hingga suaraku serak

Aku ingin berontak

Meski tubuhku terasa luluh lantak

Sepi, sakit, penat

Kupikir, apakah aku sekarat?

Aku jenuh dengan kehidupan

Panas, pengap, jahat

Membuat napasku semakin mampat

Lelah aku dengan realita

Menusukku

Setajam belati

Panas

Tercelup bara api

Sajak SATU

Aku merasa sepi, sendiri

Lelah dengan realita

Rasionalitasku tak mampu memecah galau

Tak urung untukku merenungi masa

Di kalungan umurku yang kian berkurang

Kian mencekik dan mendekat ajal

Aku menelusuri lorong – lorong gelap

Hitam dan tajam

Hampir memotong urat leherku

Kamis, 16 April 2009

KLAKSON

Sore hari gerimis sehabis hujan lebat. Aku pulang dari kampus menuju kostan sendirian. Sebelumnya aku mampir ke sebuah warung makan di ujung Bara (Babakan Raya), sebuah tempat yang pasti tak asing bagi mahasiswa IPB. Karena jalan sendirian, kau putuskan untuk menghentikan angkot, nggak apa keluar duit seribu daripad ajalan sendirian, becek lagi. Aku naik ke angkot yang barusan aku hentikan. Hanya ada satu orang penumpang di dalamnya, ibu-ibu yang usianya kuperkirakan sekitar kepala empat. Dalam hatiku bersorak, lega. Kemudian angkot itu berjalan lambat-lambat. Pasti sambil mencari penumpang, pikirku. Kuamati sopirnya yang mungkinmasih seumuran denganku kok gelisah. Ada apa ya? Aku tak berpikir ada yang aneh. Tapi sopir itu benar-benar terlihat gelisah. Kan heran jadinya. Setelah berjalan cukup jauh, seperempat perjalanan menuju kostanku, baru kupikir kok angkot jalannya lelelt banget. Barangkali kalau aku jalan pasti sudah hampir sampai kostan.

Di depan sebuah mini market angkot yang aku tumpangi berhenti. Baru kusadari bahwa sejak pertama kali angkot itu jalan sampai berhenti sekarang klaksonnya tak berhenti bunyi. Bunyiiiiiiiiiiiiiiiiii teruuuuuussssss. Mungkin lemotnya aku sampai nggak sadar. Setelah kusadari, ternyata memang nggak enak banget, berisik. Dan bayangkan, angkot yang aku tumpangi membuat macet jalan. Deuh deuh… jadi tambah lama. Kesel juga sama sopirnya. Usut punya usut ternyata sopirnya masih pemula dan nggak tahu letak sumber suara klakson tersebut. Bingung mana yang mau dicabut. Terus saja dicoba-coba, tapi masih aja klaksonnya kentut sepanjang jalan. Distarter klaksonnya bunyi, terus begitu. sebenarnya nggak betah di dalam tapi sudah terlanjur naik.

Sampai akhirnya aku bisa kembali bernapas lega. Akhirnya ditemukan juga di mana sumber suaranya itu. Haaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhh…. Tapi kau merasa benar-benar bersyukur sore itu. Tuhan mengajariku satu analogi nyata tentang kehidupan. Ada satu pertanyaan yang muncul di otakku setelah klakson itu tak kentut lagi. Kapankah saat yang tepat klakson harus berbunyi? Kemudian muncullah asumsi menganai kapan seharusnya klakson tersebut berbunyi. Kujawab, di saat dan di waktu yang tepat dengan cara yangtepat pula. Di saat yangtepat berubungan dengan fungsi klakson sebagai sebuah bentuk simbol komunikasi. Saat yang tepat adalah di kesempatan-kesempatan tertentu yang memang membutuhkan klakson seperti ketika menyapa sesama pengendara atau menyapa pejalan kaki. Di waktu yang tepat berhubungan dengan situasi, kalau memang jalanan lengang dan tidak perlu penggunaan klakson maka tak perlu difungsikan. Dengan cara yang tepat artinya sewajarnya saja dan sesuai porsinya. Sesuai kebutuhan atau tidak berlebihan. Jika hanya butuh dengan nada do maka tak perlu menggunakan nada sol.

Itu serba-serbi klakson yang berbunyi bukan disaat yang tepat, lalu apa hubungannya dengan manusia? Jika hanya dipikirkan sebatas persoalan berisik dan mengganggu kelancaran lalu lintas sore itu, bagiku itu terlalu sempit. mengapa? Ada sebuah pelajaran berharga yangbisa disimpulkan dari pengalamanku itu. Bayangkanlah klakson yangterus berbunyi tanpa kenal waktu itu sebuah mulut, mulut manusia. Seandainya mulut manusia terus berbunyi tanpa tahu saat, waktu, dan cara yang tepat apa jadinya? Pasti rasa kesal dan jengkel yang berlebih bagi pendengarnya. Maka dari itu, ibarat harta, maka mulut memang benar-benar harus di jaga. Kapan harus bicara, kapan harus diam, semua ada waktunya. Bicara di saat yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan cara yang tepat. Karena semua memiliki proporsi ideal masing-masing. Pastinya tidak mau kan jika dianggap menyebalkan seperti klakson yang bunyi sepanjang jalan tanpa tau aturannya?

Senin, 13 April 2009

Semua Indah Pada Waktunya

Kumat melankolis pagi ini, nggak terelakkan lagu-lagu Samson gw putar di winamp. Romansa Cinta, Kenangan Terindah, Bukan Diriku terus diulang sampai waktu habis mau berangkat kuliah.

Di jalan, minggir-minggir ngehindarin angkot malah mau muntah liat tikus mati.

Di kelas, nggak ada kuliah akhirnya ngobrolin message appeal pesan partai sama seorang teman.

Tapi bukan itu intinya, hal yang lalu sebagai 'sejarah' telah lewat sebagai sebuah pelajaran, tinggal bagaimana kita mengambil ibrahnya. Ternyata tetap saja, untuk menguatkan hati dan menerima semuanya tak semudah membuat jus alpukat atau makan ice cream. Ada berbagai ganjalan yang menerpa, entah tangis atau pun tawa. Entah gila atau bijaksana. semua beradu satu dalam otakku ingin memenangkan posisinya masing-masing seperti Caleg yang rebutan kursi di parlemen. Mau dikata capek, wong ini proses hidup ya harus ada lika-likunya. Mau dibilang enjoy, ya gimana buntut-buntutnya kagak tahan tumpah juga.

Sebenarnya, ada satu keyakinan yang mendalam tentang sesuatu jika dijalani dengan ikhlas maka baik pahit, asin, asem, manis, sepet, hambar akan menjadi formulasi rasa yang enak. karena kita tak akan merasakan pahit selama kita belum tahu gimana itu manis. Dan terus begitu sebagai sebuah kausalitas. Buat apa ada tangis tawa? ada suka duka? ada sedih ceria? ada warna-warna? ada normal gila? ada benci cinta? kalo bukan sebagai sarana manusia untuk berpikir?

Jadi, mengapa kusampaikan lagu Samson yang melow, tikus mati yang bau, sampai persoalan materi kuliah? bagiku itu analogi yang cukup untuk menggambarkan bahwa di satu waktu saja manusia berpikir tentang banyak hal. Dan bukan hanya untuk satu manusia, tapi semua. Jadi, jika sejarah atau masa lalu dikatakan berat, maka katakan TIDAK untuk sebuah masa depan yang lebih baik. Pada hakekatnya memang manusia cenderung untuk selalu berpikir. Mengapa begini, mengapa begitu, ini itu, ini lagi, itu lagi. Heboh. Apa yang telah kita alami, atau sedang kita jalani, atau mimpi-mimpi masa depan yang sangat berarti, pada saatnya akan menjadi cetak biru yang indah bagi kehidupan kita. Tak perlu salahkan waktu, tak perlu salahkan keadaan (nebeng liriknya Drive 'Melepasmu') karena semua indah pada waktunya.

Jumat, 10 April 2009

Dilema Malam dan Siang

Malam,
Saat kupinjam gelapmu agar aku terus tertidur dalam pulas dekapmu
Kau mengiyakan dengan lantunan angin syahdu
Tapi ternyata kau membohongiku
Buktinya siang datang melambaikan tangan angkuh ke arahku
Katanya, aku akan kalah jika aku terus dalam buaimu

Malam, biarkan kusisakan luka ini
Jangan kau pinta aku tuk berhenti
Sebentar saja biarkan aku menghayati suatu janji yang sempat termuntahkan
Supaya aku tetap bisa mengingat dan menjemput harap dengan setitik luka sunyi itu
Malam, kau pun mengiyakanku lagi
Kau buatku sibuk dengan angan tuk tak berlari meraih
Hanya sekedar duduk berkata lirih

Aku kecewa lagi, kau kembali dengan dustamu
Buktinya siang meningkahiku dengan ribuan bisik tentang jalan panjang untuk melangkah
Katanya, aku tak harus terus lirih terkungkung dalam buai ketidakmungkinan
Aku punya hak untuk berteriak tingkah
Siang akan menopangku jika aku merasa lelah
Siang membujukku untuk berangsur tak pasrah
Siang memelukku dengan erat dan ucapkan kata-kata di telingaku
"Kejarlah apa yang ingin kau raih"

Malam, mana yang harus kuikuti?
Siang, mana yang harus kujalani?

Senin, 06 April 2009

Bukan Melupakan Tapi Mengikhlaskan

Persoalannya bukanlah apakah aku bisa melupakanmu atau tidak. Permasalahannya bukan pada waktu yang memberi andil kesempatan sebuah pertemuan. Bukan pula jejak langkah yang pernah kita lalui bersama. Serta tak juga tangis tawa yang selalu ada untukmu. Barangkali yang lebih tepat adalah apakah aku bisa mengikhlaskanmu? untuk satu atau beberapa alasan?
Egois jika aku memaksakan diri untuk memiliki. Meski asaku tak memungkiri keinginan itu, tapi aku selalu berusaha menepisnya. Aku ingin melihatmu bahagia, tertawa, merdeka dalam hidupmu. Aku selalu berharap terus mendengar apa pun tentangmu, agar kutahu bahwa kau tak bersedih.
Aku tak peduli seberapa tak acuh dirimu padaku, ataupun seberapa malas kau tahu tentangku. Yang aku pedulikan adalah dirimu, ketenanganmu tanpa aku.
Tak pernah habis kenangan tentangmu, tak pula pupus harapku untuk jejaki sisa hari. Tak pernah terhapus bayangmu, tak pula lengah pikiranku.

Aku, Aku, Aku... mengikhlaskanmu meski kau tak tahu untuk apa aku melakukannya. Meski kau tak peduli aku tetap terus berusaha mengikhlaskanmu.

Tak letih kusebut namamu dalam doaku,
Tak lelah pula kucari tahu kabarmu, karena aku ingin dengar kau selalu bahagia.
Bahagiamu, senyumku.

Jumat, 03 April 2009

Nada Untuk Dunia

Ruh kataku berbicara
Terus bersuara
Meski tak terdengar lugas telinga

Hatiku beradu bisik makna-makna
Dalam sekotak kado untuk dunia
Terbungkus kertas bercorak doa
Berhiaskan pita asa-asa

Aku persembahkan untuk dunia
Dengan tangis dan tawa
Dalam tarikan napas simponi biola

Kubisikkan doa untuk dunia
Dalam kotak kado berhiaskan pita

Kita menjadi satu dalam lembut getar dawai gitar
Kita tak perlu beradu
Karena not balok tak pernah sarankan permusuhan

Kita tak butuh senjata atau bom molotof
Apalagi tank-tank tentara
Kita hanya butuh satu tuts piano
Untuk alunkan melodi perdamaian pada dunia

Kita tak butuh genderang perang
Beri saja kesempatan
Untuk satu tabuhan drum
Maka kita sanggup jalankan
Misi perdamaian untuk dunia

Doaku untuk dunia,
Tak tinggi, tak muluk, tak angkuh
Hanya sebuah nada untuk dunia

Rabu, 25 Maret 2009

Bukan Mimpi Tapi IMPIAN

Suatu kali dalam hidupku yang demikian indah (boleh bukan kukatakan begitu?) rasaku hancur oleh sebuah komentar "STOP MIMPI". Aku berusaha memahaminya bahwa komentar itu keluar karena emosi yang berlebih (mungkin). Tapi tetap saja, sampai terbawa tidur juga. memang kalau kuingat itu jadi tertawa sendiri. masa sih cuma gara-gara perkataan seperti itu? iya, kok bisa ya? saat aku menuturkan cerita ini pun aku sembari membayangkan ekspresiku di suatu tempo dalam hidupku itu. 19 tahun, bukan waktunya lagi untuk mempersoalkan hal sepele. Ada misi yang jauh lebih penting untuk menjadi terus berkembang.

Kembali pada apqa yang ingin aku bahas, "STOP MIMPI". Aku merenunginya sampai di penghujung malam utnuk mencoba mengerti makna terdalam dari dua kata itu. suatu saat akan aku paparkan untuk kalian. boleh saja tertawakanku, tapi kenyataannya saat itu asmaku kambuh sampai dua hari. Bodoh benar aku ini waktu itu. Sebenarnya bukan masalah siapa yang menyampaikan, tapi apa yang disampaikan begitu krusial bagiku. Mimpi... berpuluh jumlahnya kutulis. dan sekali waktu jika tercapai aku pun akan memberi check list. Mimpi itu suatu kebahagiaan bagiku. Kenapa? karena apa yang kucapai sekarang adalah sebagian dari mimpiku dulu.

"STOP MIMPI". Aku tak pernah mengiyakan atau pun memberontak menanggapi komentar itu. Hanya kusampaikan, jika aku tidak bermimpi hari ini lalu apa yang bisa kusisakan untuk esok hari? Mimpi seperti tengadah doa bagiku saat malam tiba dan esok pagi kutapaki tangga untuk mencapainya.

Telah kusampaikan tadi bahwa aku sampai merenungi kata-kata itu sampai di penghujung malam. mungkin sebenarnya aku tak bisa memejamkan mata karena napasku yang aneh, seperti orang hampir mati kalau kata temanku. karena itu aku tak mau lagi berda dalam kondisi merenungi kata-kata itu terlalu lama. Sampai suatu pagi kusampaikan pada hatiku...
"Aku boleh bermimpi?" tanyaku pada hatiku.
"Boleh... karena mimpi itu jembatan." jawabnya tenang di seberang gelombang suara.
"Mimpi itu gratis kan?" terusku lagi.
"Kuyakin kau lebih tahu hal itu, kau lebih ahli untuk merenunginya."
"Apa aku punya kewajiban ketika aku bermimpi?"
"Jika mimpimu baik, kau tanamkan pada dirimu untuk mewujudkannya."
"Lalu... apa orang lain berhak mengehntikan mimpiku?" aku ragu-ragu menanyakan hal itu.
"Boleh!!!! supaya kau lebih membumi." aku kaget dengan jawaban itu. apa maksudnya lebih membumi? apa aku selama ini terlalu tamak dengan apa yang ingin kucapai.

Membumi... membumi... membumi, agaknya itu teguran buatku agar aku memuliakan sesama. aku tak boleh egois hanya karena ingin mencapai mimpi memiliki apa yang aku inginkan.

Sampai saat ini aku pun masih suka bermimpi... tapi mimpi itu sekedar selingan. yang lebih mantap dalam diriku sekarang adalah impian yang harus segera aku WUJUDKAN.

Jumat, 06 Maret 2009

Tiba-Tiba Aku Merindukanmu

Sebelumnya aku tak merasa sesepi malam ini. Rinduku rasanya tak terperi. Aku butuh teman untuk sekedar mendegarkan kesahku yang kian hari kian memuncak. Ada satu hal yang sedemikian mengganjal hati ini, terus menerus menggerogoti keseimbangan pikiranku. Aku merindukanmu, bukan karena satu hal itu. BUKAN. Aku merindukanmu karena aku ingin kau mendengarkanku sebentar saja.

Ah... tak bisa ya? ya aku maklumi itu. Kau sedang sibuk dengan urusanmu. Tak apa, itu jauh lebih penting daripada kau mendengarkan aku mengoceh. Tidak teman, suatu hari jika sudah punya waktu luang, sisakan sedikit waktu saja untukku. Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu.

Selasa, 03 Maret 2009

KPM Ceriaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

Perkembangan Komputer

PERKEMBANGAN KOMPUTER

Komputer modern yang ada saat ini berkembang dari suatu k0onsep computer serba guna pada tahun 1930. Pada tahun 1937, Alan Turin seorang ahli matematika bangsa Inggris membuat analisis teoritis dari kemungkinan pengembangan computer yang serba guna. Perkembangan perangkat keras (hardware) mengalami perubahan bentuk dan fungsinya, dan perkembangan perangkat lunak (software) mengalami perkembangan penggunaannya menjadi program yang mudah digunakan.
A. PERKEMBANGAN HARDWARE
Teknologi yang dibuat oleh manusia telah mengubah bentuk dan fungsi computer dalam beberapa generasi, yaitu:
1. Komputer Generasi Pertama
-Ciri-ciri komputer generasi pertama:
a. Ukuran fisiknya besar.
b. Kecepatan proses lambat.
c. Cepat panas.
d. Membutuhkan listrik yang besar.
e. Membutuhkan tabung hampa udara (vaccum tube).
f. Memorinya menggunakan Magnetic Core Storage.
g. Masih menggunakan bahasa mesin (Machine Language).
h. Menggunakan konsep Stored Program.
-Contoh komputer generasi pertama: MARK I, MARK II, IBM 702, IBM 704, IBM 709, UNIV AC II, ENIAC, SEC, Damatic 1000, NCR 102A, NCR 102D.
2. Komputer Generasi Kedua
-Ciri-ciri komputer generasi kedua:
a. Komponen telah menggunakan transisitor.
b. Kecepatan prosesnya lebih cepat dari komputer generasi pertama.
c. Tidak cepat panas.
d. Membutuhkan listrik lebih sedikit.
e. Memori yang digunakan lebih besar.
f. telah menggunakan bahasa tingkat tinggi (high level language).
g. Sudah dapat digunakan untuk real time dan time sharing.

-Contoh komputer generasi kedua: IBM 7070, IBM 7080, IBM 1400, IBM 1600, Honeywell 400, Honeywell 800, Burroughs 200, GE 635, GE 645, GE 200, UNIV AC III, UNIV AC SS80, UNIV AC SS90, UNIV AC 110, NCR 300.


3. Komputer Generasi Ketiga
-Ciri-ciri komputer generasi ketiga:
a. Komponen telah menggunakan IC (Integrated Circuit).
b. Lebih cepat dibanding komputer generasi I dan II.
c. Membutuhkan listrik lebih hemat.
d. Memori yang disimpan lebih besar.
e. dapat digunakan untuk multi processing atau multi programming.
f. Telah dibuat alat input-output dengan menggunakan visual display terminal.

-Contoh komputer generasi ketiga: GE 600, GE 235, Burroughs 5700, Burroughs 7700, UNIV AC 1108, UNIV AC 9000.

4. Komputer Generasi Keempat
-Ciri-ciri komputer generasi keempat:
a. Telah menggunakan LSI (Large Scale Integration), penggabungan ribuan IC.
b. LSI dikembangkan menjadi VLSI (Very Large Scale Integration) yang dapat
memuat 150 ribu transistor yang dipadatkan.
c. Chip yang digunakan telah berbentuk segi empat yang memuat rangkaian-
rangkaian terpadu.

-Contoh komputer generasi keempat: IBM 370, APPLE II.

Untuk komputer generasi selanjutnya banyak menggunakan sensor-sensor untuk mepermudah dan mempercepat pekerjaan. Hal ini dapat terwujud dengan adanya materi kecerdasan buatan, yaitu suatu peralatan yang dibuat untuk dapat bekerja seperti manusia.

B. PERKEMBANGAN SOFTWARE

1. Bahasa Generasi Pertama
-Masih menggunakan bahsa mesin (machine language), merupakan bahasa tingkat
rendah.
2. Bahasa Generasi Kedua
-Digunakan bahasa rakitan (assembly language), bahasa rakitan hampir sama dengan
bahasa mesin, hanya penulisannya sudah berupa sesuatu yang dapat dibaca. Bahasa
rakitan dikenal bahasa generasi kedua.
3. Bahasa generasi ketiga
-Dibuat bahsa tingkat tinggi seperti COBOL, FORTRAN, PL/1, PASCAL, BASIC,
dan ALGOL.
4. Bahasa generasi keempat
-Pembuatan generasi keempat ditujukan untuk memudahkan pengguna pada proses pengambilan keputusan. Contoh: FOCUS, RPG, MANTIS, MARK V, DYNAMO, GASP, IFPS, SLAM, SIMSCRIPT, dan MODEL.
5. Bahasa generasi kelima
-Pada generasi kelima disebutkan bahasa pemrograman yang digunakan pada expert
system. Expert system dibuat untuk memudahkan seorang programmer dalam membuat suatu program. Contoh: LISP dan Prolog.

Referensi: Setiawan, Agung. 2003. Pengantar Sistem Komputer. Bandung: Informatika.

Cinta... Dalam Ejaan Kata

Kueja kata

Kutulis Salinannya

Cinta
Cinta
Cinta
Cinta Cinta Cinta

Tak ada logika

Cinta
Cinta
Cinta
Cinta Cinta Cinta

Kata mereka: "Cinta Itu Urusan Hati"

Biru, Merah Jambu, Kelabu

Aku sempat terlena dalam bayang semu
Oase biru
Bukan, bukan! katanya merah jambu
Bodoh!
Itu hanya mendung kelabu

Mana telingamu? tuli kau
Tak cukupkah detik meretas realita?

Mencintai = Peduli

Cemooh panjang kudengar bak sembilu
Tangus haru tiada lagi hiasi malamku
Hanya saja, aku tahu
Kau tak lagi untukku

165 hari, hanya itu
Kenanganku tak terbatas
Rindu ini selalu meretas
Tak akan tuntas

Kau kini menggenggam seribu janji
Untuk satu hati
Tak cukup waktu untuk mengingkari
Satu saja, untuk diri...
Hanya slogan puisi yang mati

Untukmu, cintamu, pedulimu
Bukanku, cintaku, peduliku

Tentangmu

Fotomu tak kupajang di meja belajarku
Namamu tak kutulis dalam buku diaryku
Kabarmu hanya terdengar sayup kelu
Senyummu hanya terpendar di saat lalu
Tentangmu, tak ada apa-apa padaku

Salam Dari Alam

Dulu embun pagi beraroma basah
Lembayung senja berona jingga memerah
Angin memutar kitiran para bocah
Hujan pun suatu anugerah
Semua berkah

Kini embun pagi beraroma oli
Senja hitam kelam
Angin meracau kacau
Hujan deras ganas
Aku ngenas

Ingin rasanya kembali saja ke masa lalu
Sebeleum Aceh diterjang tsunami
Sebelum Talaud disapa maut
Sebelum Kuta disapu badai
Semua indah, aku damai

Kurasa bumi semakin sekarat
Mungkin alam sudah ingin istirahat
Benar juga jika dunia sudah dekat kiamat
Tuhan,
Barangkali aku hambamu, munafik
Meracau kacau saat kuasaMu disalamkan melalui alam
Tapi aku tak cukup sadar untuk arif terhadapnya
Tuhan,
Sungguh tak terperi rasa takut ini
Jika Kau tak lagi izinkanku menikmati keindahan, alamMu
Tuhan,
Benarkah dunia sudah dekat kiamat?

Kamis, 26 Februari 2009

Tanyakan Padaku, Jawabnya Kuserahkan Pada Waktu

berawal dari mana? dari kesempatan.
dilanjutkan dengan apa? dengan pembicaraan.
tentang siapa? tentangnya yang hilang.
mengapa kau tanya? karena tak ada lagi yang tersisa.
Apakah harus sirna? ya, karena itu yang kuinginkan.
kejam? katakanlah begitu.
tega? biarkan saja orang menggerutu.
tak punya hati? apa pedulimu.
kau bodoh? tak seperti itu.

hening... memasung waktuku
ikhlas... kubisikkan pada hati
lepas... kucobakan untuk mengerti
puas... tak pernah kusadari

Senin, 09 Februari 2009

Apakah Kamu si Pelancong Nekat?

Apakah Kamu Si Pelancong Nekat?

Sekali dalam hidup kamu, pasti pernah dong punya
pengalaman gapsa alias gagap berbahasa. Bisa aja
pengalaman kamu lucu, mengharukan, atau bahkan mengenaskan.
Nah, sekarang saatnya kamu menggali lagi ingatan kamu
akan pengalaman-pengalaman itu, menuliskannya,
lalu mengirimkannya ke Kuis Pelancong Nekat Bukune.
Pengalaman bahasa ini boleh bercerita ketika kamu
berbahasa asing atau berbahasa daerah. Pokoknya,
semua jenis bahasa. Syaratnya….

- Peserta berusia 14-29 tahun.
- Tulisan minimal 2 lembar A4, spasi 1, dengan
karakter huruf times new roman 12pt.
- Kirimkan cerita kamu ke redaksi@bukune.com
dengan subyek "Kuis Pelancong Nekat Bukune"
paling lambat 28 Februari 2009.
- Mengisi serta menyertakan: formulir, pernyataan
keaslian karya, dan kesediaan untuk diterbitkan
yang bisa didapatkan di www.bukune.com.
- Penilaian dalam sayembara ini adalah keaslian ide,
cara penuturan, dan kreativitas.
- Jangan lewatkan pengumuman pemenangnya di
www.bukune.com tanggal 6 Maret 2009.
- Karya yang dikirim menjadi milik panitia.
- Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.

Lima belas pemenang akan bersanding dengan para
penulis Bukune dalam buku kumpulan pengalaman
berbahasa. Masing-masing pemenang berhak mendapat hadiah
uang sejumlah Rp250.000, paket buku senilai
Rp200.000, dan dua buah nomor lepas
buku dari BUkune.

Untuk men-download formulir silakan klik link
terkait di bawah ini:
http://bukune.com/index.php?option=
com_content&task=view&id=131&Itemid=1

VALENTINE’S DAY BUKAN TRADISI ISLAM

Dalam memilih jalan hidup terdapat konsekuensinya sendiri baik di dunia maupun di akherat. Tidak terkecuali dalam memilih budaya dan tradisi. Bila hal itu sesuai dengan sunnah Rasulullah maka akan diridhai Allah SWT. Namun, bila sebaliknya dan sekedar ikut – ikutan maka akan mendapat murka Allah SWT. Sebagaimana dalam Al – Qur’an Allah berfirman :
“Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya dan Kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk – buruk tempat kembali.”
(Q.S. An – Nisa’:115)

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
(Q.S. Al – Isra’:36)

Valentine’s Day yang biasa dirayakan orang pada bulan Februari, khususnya di perkotaan, dengan berbagai kesibukan untuk menyambutnya. Beraneka ragam Greeting card’s dengan kata – kata romantis bertemakan cinta untuk Valentine’s Day biasanya banyak memenuhi bookstore. Berbagai tempat hiburan dan media masa mempersembahkan sajian khusus di hari Valentine.
Valentine’s Day merupakan saat yang dinanti – nantikan terutama oleh para kaum muda. Saat itu mereka saling mengungkapkan cintanya kepada rekan atau orang yang mereka kasihi. Kesemuaannya itu ternyata tidak hanya dikonsumsi oleh kaum Nasrani saja, yang memperihatinkan banyak umat Islam yang melibatkan diri. Padahal jelas – jelas itu bukan tradisi Islam. Budaya itu berasal dan dibudayakan oleh orang – orang Nasrani. Namun mengapa banyak orang Islam ikut andil meramaikan suasana ?
Sebagai obyek hidup yang secara sadar terlibat di dalamnya dengan segala dampak dan implikasi wajar atas pergaulan dan budaya dengan produsen peradaban, tentunya kita tidak begitu saja menerima Valentine’s Day sebagai budaya yang logis. Untuk itu perlu kiranya bagi kita untuk mengetahui apa dan siapa Valentine itu ? Mengapa sampai diperingati ?

Sekilas Sejarah Valentine’s Day
1.Tanggal 14 Februari, diperingati dalam suatu perayaan yang menghormati Santo Valentino yang dihukum mati tahun 270 M.
2.Suatu hari dimana orang yangsedang dilanda cinta secara tradisi saling mengirimkan pesan cinta dan hadiah.

Siapakah Santo Valentino ?
Santo Valentino adalah nama seorang pendeta Kristen yang dianggap pelindung orang bercinta. Dia dihukum mati karena melanggar peraturan yang dibuat oleh Emperior Cladius II. Sang Emperior melarang pemuda – pemuda berstatus bujangan untukl menikah. Dia menganggap tentara yang masih single jauh lebih berprestasi ketimbang yang sudah beristri. Hal ini tidak disetujui oleh Valentino. Tanpa sepengetahuan sang penguasa ia menikahkan sepasang pemuda – pemudi. Pendeta tersebut dipenggal di Roma tahun 270 M dan dikuburkan di tepi jalan Flaminia. Lucunya, pihak gereja malahan menobatkan dia sebagai pahlawan yang telah melindungi orang bercinta.
Hari Valentine yang jatuh pada tanggal 14 Februari selalu dikaitkan dengan hari kasih saying. Benarkah hari Valentine itu hari untuk menyebarkan kasih saying ? Bila diteliti lebih lanjut, VALENTINE’S DAY SEBUAH UPACARA KEAGAMAAN ROMAWI YANG MENYEMBAH DEWA LUPERCUS ( dewa kesuburan, padang rumput, dan hewan ternak ), juga dihubungkan dengan PENYEMBAHAN DEWA FAUNUS ( dewa alam semesta dan pemberi wahyu ) dan diadakan di bukit Valentine.
Upacara dimulai dengan mengobarkan beberapa ekor kambing dan seekor anjing. Lalu dua pemuda dibawa ke sebuah altar. Sebuah pisau yang berlumuran darah disentuhkan di kening mereka dan mereka harus tertawa. Setelah itu darah di kening dibersihkan dengan kain wol yang dicelupkan ke dalam susu.. Kemudian mereka dibagi menjadi dua kelompok dan berlari kea rah yang berlawanan mengelilingi bukit dan tembok kota Falatine. Mereka mencambuki wanita yang dijumpai guna mengembalikan kesuburannya. Namun para wanita itu dengan senang hati menerima cambukan tersebut.
Baru pada masa Kaisar Constantine (280 – 337 M) upacara tersebut mendapat tambahan. Kaisar pertama pemeluk agama Nasrani ini memberi peluang kepada gereja untuk memberi pengaruhnya. Acara tambahannya dimulai dari pesan – pesan cinta yang disampaikan oleh para gadis dan diletakkan dalam sebuah jambangan kemudian diambil oleh para pemuda. Setelah itu mereka berpasangan dan berdansa yang diakhiri dengan tidur bersama lengkap dengan perzinahannya.
Pada tahun 494 M, Dewan Gereja dipimpin oleh Paus Galasium I mengubah upacara tersebut dengan porofikasi ( Pembersih Dosa ). Paus juga mengubah upacara Lupercalia itu dari tanggal 15 menjadi tanggal 14 Februari yang pada tahun 496 M ditetapkan sebagai Valentine’s Day sekaligus untuk menghormati Santo Valentino.
Jadi kesimpulannya :
1.Valentine’s Day berakar dari upacara keagamaan ritual Romawi kuno untuk menyembah dewa mereka yang dilakukan dngan penuh kemusyrikan.
2.Upacara yang biasa dilaksanakan pada tanggal 15 Februari tersebut, pada tahun 496 M oleh Paus Galasium I diubah menjadi 14 Februari.
3.Agar masyarakat dunia itu tahu da menerima, hari itu disebarluaskan dengan dalih “ Hari Kasih Sayang “ yang kini telah tersebar diberbagai negeri yang mayoritas penduduknya Muslim.

Sekarang telah jelas bahwa Valentine hanyalh tradisi Nasrani yang bila ditelusuri ternyata berakar dari kebudayaan Romawi purba. Lalu benarkah hari Valentine itu hari untuk menyebarkan kasih sayang dan menyatakan cinta ?
Memperihatinkan ! bukankah dengan demikian seolah Islam tidak mengenal cinta kasih. Padahal dalam Islam ajaran cinta kasih memiliki kedudukan tersendiri dengan skala prioritas sebagaiman yang tercantum dalam QS Al Maidah : 54, Al Baqoroh :165, At Taubah :24, Al Fath : 29.
Kelihaian dan kelicikan musuh Islam patut kita acungi jempol. Valentine’s Day yang berbau syirik tersebut bisa terbungkus dan terpoles rapi, hingga diminati dan digandrungi oleh generasi muda Islam yang tidak memiliki Furqon. Oleh karena itulah penting bagi kita untuk menjauhkan diri dari budaya yang seperti itu agar tidak terpedaya oleh musuh – musuh Islam dan hanyut dalam peniruan yang membabi buta kepada mereka tentang hal yang membahayakan, bukan bermanfaat. Firman Allah SWT :
“Orang – orang asrani dan Yahudi tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka”.
( Q.S. Al Baqoroh :120 )

Sabda Nabi SAW :
“Sungguh kamu akan mengikuti sunnah ( acara – acara, tradisi, sikap, kebiasaan ) orang – orang sebelum kamu, selangkah demi selangkah, sehingga mereka masuk lubang biawak pun kamu akan memasukinya”. Para sahabat bertanya “Yahudi dan Nasrani?”, “Lalu siapa lagi!” jawab Rasulullah SAW.
(HR Bukhari Muslim)

Tidak terlalu berlebihan bila permasalahan ini agaknya menjadi permasalahna yang penting bagi umat. Khususnya generasi muda Islam. Dalam arti masalah ini mendesak dicarikan jalan keluar. Betapa tidak ? Karena budaya yang merasuki generasi muda Islam ternyata sangat potensial untuk menghambat gerak perjuangan umat untuk menegakkan agama. Oleh karena itu kita tidak boleh terkecoh dengan kemasan Valentine’s Day yang tidak lain merupakan piranti – piranti efektif musuh Islam untuk menjauhkan, menggerogoti akidah dan mengoyak akhlak serta tali ikatan generasi muda Muslim dengan Tuhannya.
Jelaslah Valentine’s Day merupakan budaya non-Islam. Mengikutinya berarti menghidupkan dan melestarikan budaya Jahiliyah. Dan semua itu nyata – nyata bertentangan dengan syariat Islam.

Sabda Rasulullah SAW :
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia tergolong kaum itu”.
( HR Ahmad dan Abu Dawud )


Sumber : Fiqih Kontemporer dalam Buletin Rohis SMANSA BARA

Menghindarkan Diri Dari Perbuatan Dusta

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri dan senantiasa merlukan keberadaan orang dalam kesehariannya. Dalam kehidupsehari-hari, interaksi dengan oaring lain kadang-kadang tejadi kesalahpahaman atau percekcokan dikarenakan perkataan yang keluar dari mulut kita. Jika diibaratkan, kata-kata memang biasa lebih tajam dari pedang. Luka karena tersayat masih mudah disembuhkan, namun luka karena perkataan kadang membekas dan sukar untuk disembuhkan. Perkataan yang keluar dari mulut kita merupakan salah satu alat untuk berkomunikasi dengan orang lain dan itu tidak boleh seenaknya sendiri untuk dikeluarkan. Harus sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku serta tidak menyakiti perasaan orang lain.
Salah satu perkataan yang akibatnya bisa fatal dan mengganggu keharmonisan hubungan kita dengan orang lain adalah dusta. Berdusata termasuk salah satu penyelewengan lidah. Dusta merupakan penyakit yang jika tidak segera disembuhkan maka dampak negatifnya sukar untuk ditanggulangi. Jika kejujuran merupakan cerminan orang yang beriman maka dusta adalah cerminan orang munafik.
“Ada empat hal, barangsiapa yang memiliki semuanya, maka dia munafik sejati. Dan barangsiapa yang memiliki salah satu diantaranya, berarti dia mempunyai satu jenis sifat munafik hingga dia meninggalkannya. Yaitu bila diamanati dia khianat, bila berkata dia dusta, bila berjanji dia mengingkari, dan bila berselisih dia membongkar rahasia.” (H.R. Muttafaq ‘Alaih)

Pengaruh Buruk Dusta
Dusta mempunyai bebrapa pengaruh buruk. Seandainya hal ini disadari oleh para pendusta, pasti mereka akan meninggalkan kebiasaan dustanya. Pengaruh buruk tersebut antara lain:
1.Menyebarkan keraguan diantara manusia
2.Terjerumusnya seseorang ke dalam salah satu tanda munafik
3.Tercabutnya barokah ketika berniaga
4.Hilangnya kepercayaan
5.Memutarbalikkan kebenaran

Bentuk-Bentuk Dusta
Semua dusta itu buruk, dan segala bentuk keburukan akan mendapat imbalan yang setimpal dari Allah SWT. Beberapa bentuk dusta antara lain:
1.Bersumpah palsu agar dagangannya laris
2.Mengambil harta orang muslim dengan jalan sumpah palsu
3.Berdusta dalam hal mimpi

Cara Meninggalkan Dusta
Menyadari bahwa dampak negative dari dusta bisa merusak kondisi hubungan yang harmonis, menutupi kebenaran,maka dusta harus benar-benar dihindari. Di bawah ini disebutkan beberapa cara meninggalkan dusta:
1.Kita harus mampu menghadirkan keagungan Allah SWT dan memantapkannya. Dusta umumnya disebbakan oleh rasa takut terhadap hilangnya suatu kepentingan yang dijanjikan oleh syaitan. Sedangakn keyakinan kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya akan mampu menghilangkan rasa takut ini.
2.Memiliki keyakinan yang mantap bahwa kerugian yang telah ditakdirkan untuk kita, mau tidak mau, akan terjadi, khususnya dalam urusan dunia yang membuat kita tamak dan bernafsu utnuk mengumpulkannya, sehingga menimbulkan dusta. Akan tetapi yakinilah bahwa kerugian dan keuntungan telah ditakdirkan Allah bagi kita.
3.Melatih jiwa, membiasakan diri melakukan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan untuk kita. Jangan berputus asa dan malas untuk memulai hal tersebut, karena segala urusan membutuhkan kesabaran. Cobalah hal itu untuk menghilangkan kebiasaan buruk dalam berdusta.

Demikian beberapa hal tentang dusta. Sesuatau yang sepertinya kecil namun akibatnya mampu menggerogoti sendi-sendi kehidupan kita. Okleh karena itu, untuk tetap mempertahankan eksistensi keimanan kita, hal tersebut harus dihindari.
(sumber: Bin Jaarullah, Abdullah. 1993. Awas! Bahaya Lidah. Gema Insani Press: Jakarta.)

Minggu, 01 Februari 2009

Sikat Gigi dalam Bak Mandi

malam semakin sepi tanpa gumamnya lagi
seperti sekeping compact disk yang tak bisa diputar lagi
hening, sepi
hanya ada aku dan semua pikiranku
sekedar pikiranku
terbersit sedikit makana akan arti kehilangan
makna yang seketika muncul
seperti sikat gigi yang tak bisa tenggelam di dalam bak mandi
makana itu adalah rasa
tak lagi melayang
karena itu terlalu jauh
hanya bisa mengapung, sendiri
sampai suatu waktu kutahu
bahwa kau tak bergumam lagi

Biarkan Aku Mengoceh Pada Sisi Ketidakberdayaanku

Apa saat ini kau tak bisa lagi untuk kuajak berbagi?
telingamu tak mau lagi mendengar keluhku
matamu tak lagi berbinar dan sendu maknai tangisku
tanganmu tak mau lagi menggenggam pedihku
kau benar-benar pergi meninggalkan jejak di belakangmu
padahal, aku ingin kau memelukku sejenak
membiarkan aku mengoceh pada sisi ketidakberdayaanku

namun kau meninggalkanku dengan kebisuan
sama seperti diriku yang mencintaimu dalam bisu
atau ada rencana lain yang ingin kau sisakan untuk esok hari?
agar pertemuan kita lebih bermakna?

Sabtu, 31 Januari 2009

Sempat Rasa Ini Jadi Milikmu

Dulu di suatu waktu, di titian masa, dalam belenggu realita
Aku mencintaimu serupa aku membencimu
Aku membencimu serupa aku mencintaimu
sempat, sekali sua, lalu jumpa selanjutnya
kuungkap suatu makna, menjadi sesuatu yang susah kuartikan
sempat, pada kesempatan di depan sosokmu, di depan wajahmu, aku menatap
adakah kesempatan itu ikut kau ciptakan?

Dulu, di suatu waktu, di titian masa, dalam belenggu realita
rasa, menetap di dasar hati dan enggan untuk beranjak
kuusir namun mengejar
rasa, mengoyak logika namun kunikmati
kuobati namun justru bersarang
adakah rasa itu pernah kau cerna?

Dulu, di suatu waktu, di titian masa, dalam belenggu realita
ini, kuartikan sebagai cinta
ini, kuartikan sebagai buah rasa
ini, kuartikan sebagai proses
ini, kuartikan sebagai pelajaran
ini, kuartikan sebagai rencana
ini, kuartikan sebagai mimpi
ini, kuartikan sebagai bencana
ini, kuartikan sebagai kebohongan
ini, kuartikan sebagai penantian
ini, kuartikan sebagai kebodohan
ini, kuartikan sebagai pembuka pikiran
adakah kau sempat mengartikan semua ini?

Dulu di suatu waktu, di titian masa, dalam belenggu realita
jadi, kunikmati apa yang kusebut cinta
jadi, kucicipi apa yang kusebut buah rasa
jadi, kupahami apa yang kusebut pelajaran
jadi, kupelajari apa yang kusebut rencana
jadi, kugapai apa yang kusebut mimpi
jadi, kuantisipasi apa yang kusebut bencana
jadi, kuungkap apa yang kusebut kebohongan
jadi, kuberdoa untuk apa yang kusebut penantian
jadi, kusesali apa yang kusebut kebodohan
jadi, kusaring apa yang kusebut sebagai pembuka pikiran
adakah kau menjadikannya sama denganku?

Dulu di suatu waktu, di titian masa, dalam belenggu realita
milikmu, rasa itu
milikmu, keputusan itu
milikmu, jawab itu
dan aku? aku hanya diam dan berkata dalam hati "SEMPAT RASA INI JADI MILIKMU"

Selasa, 13 Januari 2009

KAU TELAH KEMBALI PADA HIDUPMU

(catatan untuk sesorang yang pernah mengajariku banyak hal tentang hidup: kau mengajariku untuk tersenyum dan selalu bersemangat. Kau meluruskan pandanganku tentang simbol, segala simbol yang baru kusadari, kau memberikanku pengertian bahwa dalam hidup ini tak ada yang linier, satu lagi yang takkan aku lupakan adalah pesanmu: DALAM KONDISI BAGAIMANAPUN KAMU HARUS BISA BERDIRI SENDIRI)untuk orang itu, terimakasih...

Aku menatap mata cokelatmu… ada kegalauan di sana. Kau tak bisa menyembunyikannya dariku. Tidak bisa. Kau tak pernah tahu seberapa jauh aku bisa menyelamimu selama aku mengenalmu. Guraumu hampa, senyummu tawar, pandanganmu kosong, nafasmu sesak, tanganmu getar, dan kutahu kau sedang bimbang. Aku tak berani memegang jemarimu meski sebenarnya aku ingin menggenggamnya untuk menenangkanmu dan mengurangi penat rasa yang menghinggapi dirimu.
Namun itu hanya di satu waktu, saat itu.
Sekarang guraumu bermakna, senyummu mengandung arti, pandanganmu pasti, nafasmu penuh kelegaan, tanganmu telah kembali kokoh. Kini kutahu kau telah kembali pada hidupmu yang penuh dengan semangat itu. Aku tak mau lagi untuk menggenggam jemarimu, menenangkanmu, mengurangi penat rasamu, karena kutahu kau lebih tegar dari yang kukira.

Selamat Ulang Tahun

Tak ada kejutan yang bisa kuberikan apalagi sebuah hadiah berharga untukmu. Tak ada kata yang terucap untukmu meski sekedar mengatakan “selamat ulang tahun”. Lidahku kelu dan seperti kebas pada rasa bahagia yang harus kau rasakan. Meski begitu, doa ini masih terus mengalun dalam hati. Dengan kesungguhan kututurkan di setiap malamnya, untukmu, untuk kita. Aku bisa tersenyum ringan saat kubayangkan kau juga sedang mendoakanku di sana. Di tepian rasa yang mungkin kau sendiri sulit untuk memaknainya.
Kenapa, kau mengajakku untuk meniti jalan yang berbeda? Kau pilih aku untuk merasakan sesuatu yang kadang kusesalkan, cinta dan kasih sayang untukmu. Meski seperti itu, namun kuyakin, tujuan yang lebih indah dan mulia akan kucapai. Kau mengajariku banyak hal yang membutku sadar bahwa hidup tidak hanya sekedar untuk diperjuangkan. Tapi hidup adalah perjalanan yang harus benar-benar diperjuangkan dalam tiap titian waktu. Kita mulai menjalani hidup dengan cara kita. Karena hidup adalah cara.

Cintaku


Cintaku laksana kembara
Yang telah temukan tujuannya
Walau tanpa kata
Namun ada sekelumit doa di dalamnya

Cintaku laksana bunga
Yang telah tersirami
Meski tanpa semerbak
Namun kuncupnya selalu rekah

Cintaku laksana angina
Yang telah tahu ke mana arahnya
Meski tak terasa hembusannya
Namun ia selalu ada

Akhir Perjalanan


Maafkan jika khilaf ini,

Belum mampu membaca kaidah nurani

Belum mampu membaca sang rasa

Yang masih ingin selalu memuji

Namun, sungguh

Aku telah mencari

Di mana pelabuhan hati

Di mana perapatan perahu

Yang kudayung ini

Sungguh,

Aku telah mencari cermin di lautan itu

Agar aku mampu

Melihat bayang sang mentari

Sebagai penunjuk sang waktu

Sampai aku tahu

Dimana tepian kenisbian

Agar mampu kutemukan

Jalan keluar dari kefanaan

Sehungga kudapat sebuah kepastian

Tentang akhir perjalanan

Kamis, 08 Januari 2009

Rasa yang Tak Lagi Teraba

Meski sungguh kuakui bahwa hati ini merasa berat dengan sebuah realita yang terjadi, namun tak pernah kusesali karena itu adalah yang terbaik. Ada sebuah corak dalam hati ini yang tak bisa kuhapus, corak yang terlalu indah untuk dimaknai. Bahkan aku telah mengatakannya bahwa kulukis corak itu pada gelapnya langit malam supaya terlihat seperti bintang. ketika itu aku masih hidup dalam mimpiku bukan hidup dengan mimpi yang harus diperjuangkan. lalu aku tersadar akan sebuah kenyataan yang sebenarnya. Aku tersadar kala beberapa kata keluar dari mulut bijak itu....
"Dalam kondisi seperti apapun kamu harus mampu berdiri sendiri" ucapnya.
Air mataku telah mengembang tinggal menunggu pecahnya saja saat itu. Tak kuasa kudengar suara yang selama ini membuatku terus terpacu untuk tak diam menghadapi masalah. suara yang selama ini memberikan asaku terkembang. Jujur, aku tergagap mendengar kata-katanya yang terakhir itu. Apakah batas dari kesiapan hati telah tiba pada pintu gerbang yang sebenarnya?
Aku tak mengerti seperti apa perasaannya, yang pasti ada satu perasaan halus yang menyulut di dasar hati ini. Perasaan yang begitu lembut, terasa... meski rasa itu, mungkin tak lagi teraba.

THE SPIRIT CARRIES ON (Lirik LAgu Dream Theater)

Where did we come from?
Why are we here?
Where do we go when we die?
What lies beyond
And what lay before?
Is anything certain in life?

They say, life is too short,
The here and the now
And youre only given one shot
But could there be more,
Have I lived before,
Or could this be all that weve got?

If I die tomorrow
Id be allright
Because I believe
That after were gone
The spirit carries on

I used to be frightened of dying
I used to think death was the end
But that was before
Im not scared anymore
I know that my soul will transcend

I may never find all the answers
I may never understand why
I may never prove
What I know to be true
But I know that I still have to try

If I die tomorrow
Id be allright
Because I believe
That after were gone
The spirit carries on

Victoria:
Move on, be brave
Dont weep at my grave
Because I am no longer here
But please never let
Your memory of me disappear

Nicholas:
Safe in the light that surrounds me
Free of the fear and the pain
My questioning mind
Has helped me to find
The meaning in my life again
Victorias real
I finally feel
At peace with the girl in my dreams
And now that Im here
Its perfectly clear
I found out what all of this means

If I die tomorrow
Id be allright
Because I believe
That after were gone
The spirit carries on

Senin, 05 Januari 2009

MENGEMBANGKAN TECHNOPRENEURSHIP MELALUI GRASSROOT INNOVATION MANAGEMENT (tulisanku di rubrik technopreneur majalah TECHNOMAGZ FATETA IPB edisi 2)

Biodata

Nama : Prof.Dr.Ir. Endang Gumbira MA.Dev

Agama : Islam

TTL : Subang, 21 Mei 1955

Pendidikan : S1 Teknologi Hasil Pertanian, 1978 (Institut pertanian Bogor)

S2 Food Chemistry and Microbiology, 1983 (University of Ghent)

S3 Teknik Kimia, 1992 (University of Queensland)

Seperti kata pepatah “ilmu padi semakin berisi semakin merunduk”, begitulah sosok bersahaja Prof.Dr.Ir. Endang Gumbira MA.Dev . Bapak yang biasa disapa Egum ini adalah salah satu Guru Besar di Institut Pertanian Bogor. Beliau mempunyai prinsip bahwa orang yang baik adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Prinsip ini mengantarkan beliau untuk menggagas sebuah pemikiran yakni pengembangan Research and Development melalui Grassroot Innovation Management. Pemikiran ini telah dipresentasikan di Bappenas. Sebenarnya Grassroot Innovation Management bertitik tolak dari bagaimana mengisi perkembangan ekonomi Indonesia di tahun 2030. jika dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Brazil, Rusia, India, China, Meksiko dan Thailand, Indonesia memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang banyak. Sehingga untuk memajukan perekonomian Indonesia dapat dilakukan dengan pengembangan dan pemanfaatan sumber daya alam dengan basis pertanian dan pembinaan sumber daya manusia menjadi technopreneurship.

Pada dasarnya technopreneurship dibagi ke dalam tiga komponen yaitu agrotourism, agroindustry, dan agribisnis. Dengan agrotourism, Indonesia bisa dikemas semakin cantik dengan sumber daya yang ada dimanfaatkan menjadi daerah wisata. Melalui agrotourism ini akan diperoleh suatu kepuasan rohani bagi para wisatawan. Selain itu Indonesia akan semakin terkenal baik dari segi geografis maupun budayanya. Agroindustry berfokus pada berbagai produk bernilai tambah tinggi, mutu produk yang tinggi, serta energi untuk biofuel. Semua itu akan memberikan dampak positif bagi pendapatan negara atau devisa. Selanjutnya adalah agribisnis, jenis technopreneurship yang ketiga ini fokus pada produksi dan produktivitas suatu komoditas. Agribisnis lari pada ketahanan pangan dan energi.

Technopreneurship dibentuk oleh 2 komponen yaitu universitas dan industriawan. Universitas mendapakan hasil penelitian, dalam hal ini disebut sebagai technologipus. Sedangkan Industriawan disebut sebagai marketpull. Belum bisa dikatakan sebagai technopreneur jika hanya menjadi technologipus atau marketpull saja, keduanya harus saling mendukung. Karena suatu produk tidak akan berkembang jika tidak dipasarkan atau dikomersialkan.

Sosok yang pernah memimpin Magister Management IPB selama 10 tahun ini ingin melakukan research tentang technopreneurship melaui UKM (Usaha Kecil dan Menengah) dengan membangkitkan tiga komponen technopreneurship yang telah disebutkan untuk meningkatkan devisa. Saat ini beliau tengah membantu UNESCO membuat modul tentang GRIM (Grassroot Innovation Management). “Supaya Indonesia dan juga IPB lebih terdengar di luar negeri” tuturnya mengenai pembuatan modul untuk UNESCO ini. Menurut Pak Egum, Grassroot Innovation Management cocok diterapkan di Indonesia.

Dalam prosesnya, research berlanjut pada development (pengembangan) kemudian ganda skala (pengadaan dalam jumlah banyak) dan diakhiri dengan komersialisasi. Namun kenyataan yang terjadi, terutama di Indonesia, masih lemah pada tahap ganda skala. Untuk peningkatan tahap ini diperlukan pengadaan bengkel kerja atau workshop. Di bengkel kerja tersebut akan dibentuk para technopreneur yang handal yang tidak sekedar mengasai teknologi saja tetapi bisa berinovasi dan memasarkannya. Begitu juga untuk IPB, workshop harus dikembangkan supaya bisa terus mengembangkan sesuatu yang kecil untuk menjadi juara. Tidak berhenti pada penelitian semata.

Research and Development harus diisi oleh orang-orang terbaik” ucap pak Egum penuh semangat. Menurut beliau, mahasiswa sekarang harus bisa menjadi lebih baik dan mengejar yang terbaik karena telah mendapatkan pelajaran tentang technopreneur lebih banyak. Hal tersebut harus dimanfaatkan agar mahasiswa tidak sekedar menjadi entrepreneur yang ‘sekedar’ mencari peluang, tapi menjadi technopreneur yang bisa menguasai teknologi dan mempunyai standar inovasi yang tinggi.

Guru besar yang karyanya sudah banyak dipublikasikan ini masih merasa belum berhasil sehingga beliau selalu berpikir untuk terus belajar dan mereview berbagai fenomena yang terjadi. Beliau mempunyai keinginan untuk mengubah image tentang LITBANG yang selama ini diplesetkan menjadi lembaga yang sulit berkembang akan bisa diubah menjadi lembaga yang elit dan membanggakan. Hal ini akan terwujud jika lembaga tersebut diiisi oleh orang-orang yang terbaik.

Terakhir, ketika ditanya tentang parameter keberhasilan menurut beliau, ada beberapa hal yang disampaikan. Untuk bisa menjadi orang yang berhasil jika ditilik dari sudut pandang manajemen maka kita harus fokus, efektif, dan efisien. Sedangkan jika seorang technopreneur ingin berasil dalam menciptakan kerajaan bisnis, maka dia harus fokus, kerja keras, dan rasional. Setiap tindakan harus dilakukan dengan niat yang benar, bersungguh-sungguh dan ulet dalam menggelutinya, serta masuk akal (bekerja dibarengi dengan doa). Kiranya kita semua dapat memetik beberapa tangkai pelajaran dari pengagum Nabi Muhammad saw, Prof. Norman Bourloug, Prof. Muhammad Yunus, dan Nelson Mandela tersebut. Beliau begitu semangat untuk belajar dan terus mengembangkan Research and Development untuk memajukan Indonesia. (ash)

3 Doa 3 Cinta (the last movie i saw)

Sekilas saya berpikir, film ini akan begitu fenomenal dengan kabar bahwa lebih dahulu duputar di luar negeri. Sampai teman-teman satu kostan menunggu saat diputar di bioskop. Saya mendahului mereka menontonnya. Interpretasi yang hadir saat mata saya fokus pada layar lebar di bioskop XXI adalah film ini ukup bagus dari segi alur yang maju mundur. Menceritakan perbedaan islam garis keras dan batasnya dengan paham yang damai. Menggambarkan kehidupan pesantren yang sederhana. Dari segi pengambilan gambar, film ini bagus dan cocok disebut sebagi film ‘ruang’ yang kadang begitu lama menampilkan suatu tempat. Seperti ketika menshoot pintu masuk makam, penonton sampai bosan menunggu ganti scene yang baru.

Tidak disesali 3 doa 3 cinta merupakan karya yang unik, hanya saja iklan yang terlalu mengekspos Dian Sasto memberi bias harapan bagi para penonton bahwa nantinya Dian Sastro akan banyak muncul. Tapi lepas dari hal itu, film ini unik. Susah ditebak. Kisah perjalanan 3 sahabat yang mempunyai doa yang berbeda-beda. Huda yang ingin menemukan ibunya, Ryan yang ingin menjadi pembuat film, dan Syahid yang mengharapkan bisa mati Syahid. Mungkin iklannya lebih tepat jika ketiga sahabat itu yang ditampilkan.