Be an Ordinary Person with Extraordinary Personality
Tampilkan postingan dengan label sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sahabat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Mei 2011

AFTER WEDNESDAY

Belum lewat jam makan siang saat kuberanjak dari kediamanmu. Beberapa jam habiskan waktu bersama kemudian kembali berpisah, tapi biarlah, memang sebaiknya kita bertemu sesekali saja. Pertemuan itu manis, tapi kita tahu bahwa yang manispun jika terlalu sering bisa membuat kita batuk. Ada kalanya jiwa punya kepentingan untuk menelusuri ruang waktu sendiri, tanpa pertemuan. Jadi, aturan mainnya: Bertemu, berpisah, sejenak lupa, mengingat, rindu, kemudian bertemu kembali dengan suasana yang berbeda. Begitulah, aku seperti menemukan pola denganmu.

Aku selalu terlihat bodoh menghadapimu, merengek seperti anak kecil, dan selalu saja ritual kita adalah saling mengejek.

“Aku pergi dulu” kataku disusul dengan dua kecupan di pipi kanan dan kiri.

“Hati-hati, kamu jangan lupa makan siang” suaramu terdengar tanpa kulihat bagaimana caramu mengucapkannya. Aku berlalu, melenggang tanpa beban.

Aku ingat dialog itu, sedikit dialog yang muncul saat kita bertemu, kecuali ketika sedang begitu cerewet dan itu berarti kau sedang gundah. Kau kadang tak peduli apakah aku suka mendengarnya atau tidak, tapi aku selalu suka jika kau mengalirkan pembicaraanmu. Aku suka senyummu dan aku suka caramu memegang gelas, entah kenapa.

Cinta itu antara bertengkar dan diam, di posisi antara itu kah kita sekarang? Memilih untuk sekedar tersenyum simpul tanpa sepatah kata pun, mendekati diam. Aku tahu mencintaimu tak perlu banyak kata, tak perlu banyak tanya. Kau sudah cukup memberiku kebebasan untukku memilih apa yang aku ingin, kau mendengarkan setiap ocehanku, kau membiarkan diri ini untuk mencari setiap makna di kedalaman matamu.

“Jangan telat makan” aku hapal simpul bibirmu ketika kau ucapkan itu, meski pun rupamu tak nampak di hadapku. Hemm, setiap kali kudengar itu, aku akan sangat tersanjung dan berharap bahwa hanya aku lah yang mendapat perhatikan seperti itu. Ah sial, itu hanyalah arogansiku semata. Kau pasti tertawa saat mengetahuinya.
Setiap kali aku berhasil untuk mengenyahkanmu dari perasaan yang merongrong kesadaranku, maka seketika itu juga aku lari dari apa yang sedang dihadapi. Aku pergi untuk mengetahui sebenarnya cinta seperti apa yang kucari. Adakah yang lemah lembut dan selalu hadir dengan kesabaran? Atau sepertimu yang baru-baru ini datang dengan sapaan laksana teman. Sebelumnya kita akan saling berteriak dan kau selalu saja mengejekku. Aku selalu salah di matamu, tapi aku sangat suka ketika kau salahkan. Mengapa? Sebab ketika tiba-tiba kau memujiku, maka hal itu menjadi sangat istimewa. Berbeda jika aku mendapat pujianmu setiap hari, semua akan hambar bagaimana adanya.

Aku, boleh kau katakan berlebihan jika memang bagimu ini adalah sesuatu yang tidak seharusnya. Aku ingat semua detail pertemuan kita, dari awal hingga yang terakhir. Aku setia mengunjungi setiap jejak yang kau tinggalkan lewat tulisan-tulisanmu. Entah di diary online atau pun di situs jejaring sosial. Dari ratusan catatan yang aku bikin, kamu lah inspirasi terbesar. Di buku harian pun namamu yang paling banyak tercantum. Mengapa seperti itu? Karena mengagumimu, mencintaimu, adalah kesempatan yang mewah. Yang kudapatkan sepanjang waktu, meskipun tak pernah kamu tahu. Dan walau bagaimana pun, kamu tetap menjadi mimpiku, yang tersimpan di lembaran-lembaran hidupku. Mencintaimu tak bisa kulakukan terang-terangan, cukup bagiku tahu bahwa kamu baik-baik saja. Cukup bagiku tahu bahwa kamu cukup istirahat dan matamu tidak bengkak.

“Sayang”, itu adalah kata yang langka sekali kau ucapkan untukku. Aku tak peduli. Aku justru menyukainya. Menjadi suatu surprise yang sangat berharga, senyumku terkembang luar biasa saat kau mengucapkannya untukku sekali waktu. Meski entah apa maksudnya, aku suka. Itu kah jatuh cinta? Haha, kau juga jangan tertawa jika mengetahuinya, biarkan aku mentertawakan diriku sendiri.

Kamu masih satu, masih yang aku kagumi sejak rabu itu. Kau ingat rabu itu? Rabu yang mengawali kedekatan kita, rabu yang menciptakan rabu selanjutnya, selanjutnya, dan selanjutnya. Aku mengingat dan mencatat perdebatan, pujian, dan cercaan yang kadang muncul. Aku ingat paras gadis-gadismu, pujian-pujianmu untuk mereka. Berapa pun banyaknya jumlah mereka, tapi aku tetap saja aku yang mencintaimu, yang tak bisa mengenyahkanmu sejak rabu itu meski hampir tiga tahun berlalu.

Sabtu, 12 Maret 2011

Tentang Kematian

Beruntunglah mereka yang mati muda (Soe Hok Gie)

Aku termenung sebelum tidur setelah selesai menonton film Gie, malam itu. Mengingat satu kalimat yang terngiang di telinga. Keberuntungan yang diperoleh bagi seseorang yang mati muda. Mati mati mati mati. Kadang memang ada baiknya jika kematian menyambangi kita lebih awal, pikirku. Dan pikiranku tersebut pernah kutuangkan dalam status facebook meski tak terlintas lagi tanggal berapa aku tulis. Mati dan kematian, boleh sedikit aku ulas? Dead is no longer alive, and death means a permanent end or destruction of something. Mati berarti mengakhiri segalanya. Tapi tidak hanya sampai disitu, mati adalah persoalan pilihan.

Suatu hari, aku berdiskusi dengan salah seorang sahabat, Meda:

“Jika suatu saat kamu ingin dikenang, kamu ingin dikenang sebagai apa?” tanyaku.

“Aku ingin dikenang sebagai orang baik, cukuplah bagiku kebaikan.” Jawab sahabatku.

“Bagimu apa itu kebaikan? Karena kadang kita perlu menjelaskan derivat dari setiap jawaban yang kita utarakan.

“Tidak ada turunan dari kebaikan selain kebaikan itu sendiri. Bagiku kebaikan adalah puncak pencapaian, bahkan manifestasi iman. Maaf jika kamu tidak setuju dengan pernyataanku, tapi inilah keiinginanku. Suatu saat jika aku tiada, aku ingin dikenang karena kebaikanku. Aku ingin generasiku pun mendulang kebaikan yang aku tinggalkan.”

“Baiklah, apa makna dari kebaikanmu? Karena yang bagi kita baik belum tentu bagi orang lain pun baik.” Aku masih bersikeras mencari tahu tentang keinginan sahabatku.

“Kebaikan yang aku maksud adalah kebaikan yang universal, kebaikan yang diakui oleh banyak orang. Taat pada orang tua, berkata lemah lembut dan tidak menyakiti orang lain, menyayangi yang muda dan hormat pada yang tua, tidak berbuat curang, menahan marah, dan makna-makna lain yang jika dijabarkan tak cukup waktu seumur hidup kita. Karena mengizinkan semut untuk hidup pun kebaikan.” Kurasa sahabatku menjawab begitu sederhana, jawaban yang terlalu umum. Aku belum puas dengan jawabannya.

“Apa hubungannya dengan iman?” tanyaku.

Sahabatku menarik nafas.

“Yang aku pahami, di agama mana pun, dalam kitab-kitabnya, manusia tidak dianjurkan untuk merusak, berbuat serakah, berlaku curang, merugikan, dan lainnya. Semua agama mengajarkan supaya manusia berlomba-lomba dalam kebaikan. Percayalah, tuntunan itu universal. Aku bukan ahli kitab, bukan penghapal isi kitab, aku sekedar menafsirkan dari pemahamanku.”

“Ehmmm, kamu percaya tidak kalau orang yang mati muda adalah orang yang beruntung? Orang yang tidak dibebani dengan banyak dosa?”

“Sangat tidak adil sebenarnya jika percaya begitu saja, harus ada kroscek. Jika pertanyaanmu adalah suatu hipotesis, maka perlu kita uji terlebih dahulu.”

“Aku juga masih bingung dengan pernyataan “beruntung” itu. Sangat tidak adil bagi orang yang mati tua jika keberuntungan lebih diperoleh mereka yang mati muda.” Kataku.

Sahabatku mengambil salah satu buku di rak yag terletak pada salah satu sudut kamarnya. Aku memang terbiasa berlama-lama diskusi dengannya karena kurasa khasanah pengetahuannya membuat pikiranku terbuka.

“Bacalah..!” perintahnya sembari memberikan buku itu padaku.

Keningku berkerut, barangkali garis dahi ini sudah mulai menujukkan kapan aku mati juga meskipun aku tak tahu tepatnya. Manusia memang harus terus berhipotesis tentang perkara rezeki, jodoh, dan mati. Kusambut buku bersampul hitam yang nampak kelimis. Aku membuka halaman yang ditunjukkan olehnya, halaman yang tak berangka tapi berbatas pita merah kecil seperti dalam kitab.

Tuhan, aku percaya bahwa kebaikan adalah milikMu. Mencoba untuk terus bertahan dengan keyakinan atasMu, bukan karena agamaku, bukan pula karena banyaknya manusia yang meyakinimu. Aku ingin mendekatiMu karena keinginanku, bukan karena keinginan siapa pun. Tuhan, aku coba untuk memahami bahwa Engkau menjanjikan surga dan neraka untuk setiap akhlak yang kami lakukan. Surga itu kebaikan, dan neraka itu kejahatan. Aku tahu itu dari pengetahuan tentangMu, sejak aku mengaji dulu. Tapi rasa-rasanya aku tak puas dengan pengetahuan semata. Aku ingin membutikan bahwa surga dan neraka itu ada.

Bagaimana aku membuktikannya Tuhan? Sedang pengetahuanku tentang cara membuktikanya pun belum ada. Ajari aku, Tuhan.



“Mengapa kau menyuruhku membaca tulisanmu tentang Tuhan ini?” aku mencoba konfirmasi apa yang aku baca.

“Lanjutkan saja di halaman berikutnya.”

Suatu hari aku menjaga nenekku yang sedang sakit keras. Sakit tak bisa bergerak sejak setahun yang lalu. Dia hanya bisa bernapas, berkedip, dan teriak-teriak. Makannya masih lahap, dan kadang-kadang aku menungguinya disuapi. Tapi aku tak berani menyuapi, aku tak tega melihat rahangnya yang semakin menonjol, aku juga tak tahan mendengar teriakannya yang seperti bercanda.Berhari-hari selama satu tahun itu, ibuku menjaga nenekku seperti menjaga bayi.

Hari itu, malam jumat, sejak pagi aku diminta menjaga nenekku karena ibu sibuk memasak. Entah kenapa ada rasa berbeda yang aku rasakan, kamar nenek seperti lebih dingin dari biasanya. Nenekku tidak teriak-teriak lagi, matanya nanar memandang ke atas. Tangannya tiba-tiba bisa bergerak dan menggapai ke arah mukaku. Aku merinding, kucoba untuk berbicara dengannya. Kutawari apakah nenek mau mendengarku mengaji, dia mengangguk. Kulantunkan Yasin, Al Waqi’ah, Ar Rahman. Tak lupa kutuntun lafaz Allah, Allah, Allah, disela nafas nenekku yang tersengal-sengal. Sampai setengah hari aku lakukan itu. Kemudian kutemui ibu dan aku minta menggantikan tugasnya menjaga rumah, aku takut menjaga nenek. Nenek seperti sedang bernegosiasi dengan malaikat maut. Polahnya sangat berbeda dengan kemarin. Malamnya, nenekku meninggal.

Saat kutuliskan ini, aku usai salat asar, di akhir doaku kuungkap harapan yang ingin kutanam. Aku tidak ingin mati muda, aku ingin mati wajar di waktu yang tepat. Aku tidak ingin melihat ibuku merawat kematianku, aku ingin menjaga dan berbakti dulu pada orangtuaku. Kutahu, betapa susahnya menjaga orang yang mau mati, betapa sedihnya ditinggal mati. Aku tidak ingin ibuku sedih, aku tidak mau bapakku meneteskan air mata. Aku tidak mau adikku kehilangan sosok kakak.

-Tuhan, jika surga dan neraka adalah janjimu, biarkan aku belajar untuk tahu, dengan caraMu. Kematian adalah hal yang pasti karena itu janjiMu, tapi Tuhan, pilihkan waktu yang tepat untukku-



“Meda, jadi menurutmu?” tanyaku pada sahabatku setelah kubaca dua halaman buku hariannya.

“Ya” hanya kata itu yang keluar dari mulut sahabatku, Meda, sambil tersenyum dan mengambil kembali buku hitam kelimis yang aku pegang. Mungkin baginya aku akan cukup paham dengan penjelasan tersiratnya dari kata “ya”.

Orang yang beruntung adalah yang mati tepat pada waktunya. Setiap manusia dilahirkan dengan membawa misi menjadi perantara Tuhan di dunia ini. Mati saat balita, kanak-kanak, remaja, dewasa, tua bukanlah persoalan untung dan rugi. Mati adalah hal yang telah dipilih dan menjadi kesepakatan sebelum manusia lahir.
Setahun setelah diskusiku dengan Meda, dia dipanggil keharibaanNya. Aku menangis, sangat dalam. Ibunya menangis hingga pingsan, ayahnya pun meneteskan air mata. Sahabat-sahabatnya menangis dan sesungguhnya belum percaya perihal kepergian Meda. Tapi kurasa, Meda akan dikenang dengan kebaikannya. Tahun-tahun setelah kematiannya, dia banyak dikenang karena kebijaksanaannya. Aku tidak pernah merasa Meda mati, dalam usia yang masih pagi. Dia mati di usianya yang tepat. Tujuh belas tahun, sehari sebelum ulang tahunnya ke-18 dengan kebaikan-kebaikan yang dia wujudkan dalam hidupnya.

Setiap manusia dilahirkan dengan membawa misi menjadi perantara Tuhan, dan lagi-lagi aku berhipotesis bahwa salah satu misi hidup yang dibawa Meda adalah memberitahu padaku tentang persoalan kematian, kebaikan, dan hidup.
------------------------------------------------------------------------------------

Rasa kantuk menyerang setelah kuingat masa dimana aku masih bisa bergandeng tangan dengan Meda. Tanpa kusadari aku menangisi kembali kematian sahabatku. Dan, kurasa, aku belum siap untuk mati.


Bogor, 27 Februari 2011
22.20 WIB

Jumat, 04 September 2009

UNTUK LUNA

Aku persembahkan untuk seorang Luna (yang belum sempat aku berkenalan denganmu)

Aku tahu dirimu dari note seorang kawan. Dia bilang, kau cantik dengan cardigan putihmu. Hemm, barangkali warna putih memang sering membuat kesan cantik dan bersih. Meki warna putih itu sendiri terkadang membawa pikiranku pada kematian. Kafan.
Luna, adakah yang lebih membahagiakanmu selain kehidupan? Kubayangkan kau adalah seorang gadis yang manis dengan sifat patuh. Kau putih, Luna. Putih dalam dinding kesucian yang melindungimu dari jamahan. Kau tak liar Luna, meski aku belum sempat untuk berkenalan denganmu secara langsung. Kawanku mengagumimu meski dia membenci kekasihmu. Bukankah kau seorang wanita yang lembut Luna? Kau tak suka dengan kebencian bukan? Kutahu kau benci pada kebencian itu sendiri dan kau menentang permusuhan. Lalu apakah kau tahu bahwa kawanku membenci kekasihmu?
Maafkan aku Luna, telah ikut campur terlalu dalam sebelum aku sempat berkenalan denganmu. Bahkan sebelum aku tahu siapa dirimu yang sebenarnya. Aku tahu, kau perempuan. Kau punya sisi yang tak dimiliki laki-laki. Kepekaan. Maukah kau peka sedikit pada kekasihmu? Adakah yang dia sembunyikan darimu, tentang kawanku. Ah, sesungguhnya aku mencintai kalian semua. Mencintaimu, kekasihmu, dan kawanku. Bisakah kau membantuku mengobati luka hati kawanku? Terima kasih Luna.

Rabu, 19 Agustus 2009

HAMBALANG BERSATU

Hari-hari bersama kalian
Akan menjadi kenangan yang takkan terlupakan
Meski kita berbeda-beda
Bersama kita ciptakan persaudaraan dengan persahabatan
Abadilah persahabatan
Lantang kita gemakan
Agar seluruh dunia mendengar kisah
Napak tilas perjalanan kita
Gapai impian bersama

HAMBALANG... untuk sahabat-sahabatku yang mau menerimaku menjadi bagian dari mereka:
Zaenal: ketua yang sabar dan polos dengan jargon BIASA dang TENANG AE. Terima kasih siraman kopinya pagi-pagi itu.
Bagus : Sahabat yang berani dengan pendapatnya, berani dengan percaya dirinya. Kamu hebat... bagus dengan style baru rambutmu.
Ferdi : Ternyata kostan kita dekat, he he, maaf selalu meledek poni rambutmu... kapan dipotong? terima kasih sudah membangunkan untuk sholat subuh.
Taufan: sekali-kali boleh akur dong... hehe, thanks untuk pengertian mengenai perbedaan kecerdasan antara otak kiri dan otak kanan.
Dame : Deuh si pemikir... sensitifan ne orangnya. Calon ahli ekonomi yang mandiri, kamu negosiator yang cukup ulung apalagi kalo lagi nego harga sewa mobil bak dari pasir gedogan sampai tapos.
Ema' : Sufna yuna jalma luna halluna nadhor, suaramu bagus cuy... mantap deh di telinga. kalo jalan malam-malam gelap jangan takut lagi yahhh, he he. kamu adalah orang pertama yang kutemui dengan durasi sikat gigi paling lama.
Wari : Wariiii............ kukira pendiam, cihuy... ternyata he he. tetap makan yang banyak kawan... kamu polos dan jujur. Paling tahu di mana spot-spot warung yang jual jajanan.
Afifah: Kuuk kuuk kuuk, kuuk adalah salah satu... he he, wonder women deh untuk gadis yang satu ini. sering naik turun pasir gedogan hambalang. terima kasih pernah mengajukan diri menjadi pelampiasan emosiku.
Indah : Dede, makan yang banyak. jangan bandel.. thanks ya kamu sakit waktu itu (jahat banget gue?) kan jadi bisa nganter kamu ke poliklinik, beli jus sirsak, ubi goreng, dan ngerjain teman2 yang di tapos. ha ha...
Indi : Indy.. muah muah. terima kasih sobat, kau secara tidak langsung mengajariku sisi lembut wanita. huaaa
Anggun: kata Dawer, Manohara... Ah anggun kamu lucu. Maaf ya kalo pernah nggak sependapat waktu nentuin kepastian ada tidaknya diskusi pertanian.
Rika : Ini nih yang penting banget, thanks Rika dah minjemin uang buat ongkos pulang. masih suka telpon malam-malam? ah pasti masih siang malam, he he.
Ririn : Rin, kamu unik... semoga kisahmu dengannya langgeng ya... hua hua namanya siapa? keep fight girl.

Aku bahagia bertemu kalian (meskipun kadang kesel juga). Aku bangga bisa bekerjasama dengan kalian (uh lebayyyy).
Intinya,Chayo... KITA BISA!!!

Rabu, 05 Agustus 2009

MATA BIDADARI

Kulepas pergimu dengan senyum yang tak bisa kudefinisikan. Aku sendiri masih berpikir bahwa rasa ini sungguh kupaksakan. Karena sebuah alasan. Tapi kau, kau adalah mata bidadari, yang membuatku ingin meneteskan air mata jika tak sengaja memandangmu. Aku malu pada diriku juga padamu atas tingkahmu yang begitu santun padaku. Kau laksana cermin yang mampu menamparku dengan tindak-tanduk baikmu. Dan satu ketukan pintu di pagi hari olehmu, membuatku tersadar akan suasana dan kondisiku. Aku sudah terlalu lama merasa angkuh untuk sebuah hasrat untuk memiliki. Kupikir adalah sebuah keinginan untuk melindungi, ternyata setelah kucari jawaban lagi, hal itu adalah keserakahan untuk mengikat. Aku telah terlalu lama mengabaikan sisi lembutku untuk teguran. Aku terlalu sibuk dengan ambisi yang tak terjabarkan.

Terima kasih, kau sadarkanku dengan mata bidadarimu. Kau menarikku dari lorong waktu khayalan. Kau ingatkanku bahwa kita hidup di alam sadar dan kenyataan. Hati ini luluh dengan kesederhanaan dan rendah hatimu. Kau mampu tunjukkan padaku bahwa cinta itu membebaskan bukan mengikat. Melindungi meski tak memiliki.

Nuraniku menjerit dengan kedatanganmu yang tiba-tiba yang tak pernah kususun skenarionya. Mungkin diriku adalah penghayal akut yang sellau membuat imajinasi sendiri sekuat realita. Kuciptakan mimpi-mimpi sederhana dan kompleks, bahkan tentang detail seorang yang kuperjuangkan. Selama ini aku kuatkan hati untuk sebuah kenangan. Karena sebuah alasan . kupaksakan ikhlas untuk sebuah pengharapan, kupikir itu adalah pengorbanan. Ternyata aku justru makin terkubur dalam lumpur ketidakpastian. Hingga akhirnya kau datang menyapaku. Kau datang sadarkanku bahwa selama ini yang kuperjuangkan adalah kenisbian.

Mata bidadarimu, membuatku ingin meneteskan air mata dengan santun tingkahmu, dengan ikhlas senyummu, serta lembut perangaimu. Kau ajarkanku untuk kembali berpikir jernih.

*Untuk seorang sahabat yang mengajakku bertafakur atas hidup dan pencapaianku, kuucapkan terima kasih banyak. Ketidaksengajaan hadirmu membuatku tersadar.

Sabtu, 04 Juli 2009

SEPOTONG KISAH DALAM PERJALANAN

Suatu kali ada seorang wanita yang merasa dalam kurungan sunyi. Terjebak karena asa yang berlebih untuk bisa memiliki. Baginya, pria itu adalah semilir angin baginya saat sengat terik matahari membuatnya gerah. Baginya dia adalah biru laut yang menyejukkan mata dan hijau hujan yang melapangkan dada. Masih terbayang jelas dalam benak wanita itu bagaimana mereka berdua pernah bisa saling memandang dan memahami. Pernah juga dia merasa bahwa sebenarnya mereka saling membutuhkan. Menyebut namanya bukanlah sekedar guamma atau suara tak bermakna. Untuknya, ada rasa yang menyengat bergetar di sarafnya saat nama itu disebut.

Sampai sekarang wanita itu masih mengharap kan tibanya suatu masa dimana ia bisa menggandeng tangan atau sejenak memeluknya. Wanita itu memejamkan mata dan terhempas pada kenangan lalu saat dia damai menyandar pada pundak pria itu. Air matanya kini meleleh sedikit, hanya satu titik. Kemudian terus meleleh , mengalir sungai kehilangan. Entah dimana pujaannya itu Semarang.

"Tuhan, izinkan aku melihatnya" ucap wanita itu.

Semarang wanita itu sedang bersiap-siap untuk menjemput harap akan esok yang lebih pasti meski tanpa dia, pria itu. Pujaan hatinya. Meski sulit dan berat, tetap dia persiapkan dengan rapi penampilan optimis dan wajah semangat. Dia kenakan pakaian percata dirinya, dia sematkan pin kepastiannya. Lalu, dicarinya tas yang cukup untuk membawa semua kenangannya. Meski berat, Namur dia tak mau meninggalkan dengan sia-sia kenangannya bersama pria itu meski segores pena. Semarang dia sudah Sian. Tinggal dipakainya sepatu keyakinan utnuk melangkah. Sepatu itu dia temukan di sudut ruangan yang selama ini jarana dia rambah. Logikanya.

"Aku tak boleh murung!" katanya. Kemudian dia sapukan bedak keceriaan di wajahnya.

"Aku Siap!"

Wanita itu akan segera pergi membawa kenangannya. Dia akan melanjutkan perjalanan yang memang harus di tempuhnya. Meski sebenarnya dia masih ingin melihat pujaan hatinya, pria itu . Setidaknya sebelum dia benar-benar pergi dan sampai di tujuannya.

"Tuhan, izinkan aku untuk melihatnya sebelum aku benar-benar pergi membawa semua ini" doanya.

Langkah kakinya masih nampak ragu untuk menaiki mobil menuju Terminal keikhlasan. Tapi tetap dia paksakan. Wanita itu merasa yakin meski dengan perih. Ya, dia Semarang telah dudukdi mobil itu, siap untuk segera pergi.

Setengah perjalanan dia lalui.

Sebelum sampai ke Terminal ikhlasnya, dia kembali berdoa….

"Tuhan, izinkan aku untuk melihatnya sebelum aku benar-benar pergi membawa semua ini."

Dia tak kuasa untuk berpura-pura bahwa cinta itu telah sirna. Wanita itu, meski diam, namun setumpuk doa senantiasa dia panjatkan untuk pria itu. Harapannya tinggi, cintanya selalu ada walaupun dia tidak tahu bagaiman perasaan pria itu sebenarnya. Sesaat di dalam mobil yang mengantarnya, dia melihat ke luar jendela. Perjalanannya terhambat karena teriakan dan suara-suara di hatinya. Tiba-tiba saja perjalanannya terhenti. Dan saat itu....

"Tuhan… aku melihatnya" ucap wanita itu, "Pria itu bersama perempuannya."

HANYA DALAM ANGAN

“Berarti hampir sudah satu tahun lebih kau membina hubungan itu bukan?” tanyaku padamu. Kau diam saja sebagai tanda mengiyakan. Tak apa, itu hakku untuk bertanya dan hakmu untuk tidak menjawab. Kau menatapku dan kau katakan bahwa pertanyaanku tak berarti apa-apa dibanding kebersamaan kita berdua saat ini. Sebuah kesempatan yang sangat langka. Aku tersenyum kecut, adegan ini hanya di anganku.

Saat ini,kau tahu mungkin, aku sangat bahagia bisa melihatmu dari jarak dekat. Duduk lama dan bercerita denganmu. Waktu yang selalu kutunggu. Aku bahagia. Tapi di sisi lain luka kecil ini terbuka. Memoryku bersamamu terkuak melalui aliran ceritamu yang bagiku tak ada bedanya dengan sebuah penceritaan kembali. Aku pun kembali tersenyum kecut, adegan ini juga hanya di anganku.

APA KABAR?

Redaksi sudah menagih tulisanku, kujanjikan besok akan kukirim via e-mail. Harusnya sekarang aku sedang membenahi tulisan yang sedang kuedit menjadi berhuruf Trebuchet MS kemudian mengatur marginnya menjadi masing-masing dua senti. Tapi sejak tadi sore aku merindukanmu. Berkali-kali kucek handpohone dan memandangi nomormu meski aku masih benar-benar hapal 12 digit nomor itu. Ingin sekali kutekan tombol call agar aku bisa mendengar suaramu, ah tapi itu terlalu berani. Mungkin kau takkan menyukainya lalu memakiku dan menyuruhku untuk tidur cepat. Lalu kau akan bilang bahwa kau sedang tidak ingin membicarakan apa pun, kau akan menghubungiku jika kondisi hatimu telah membaik. Kadang, meski aku menerima tapi hatiku dongkol bukanmain. Kau selalu seenaknya saja menghubungiku dan kadang kau sandarkan keluhanmu padaku. Tapi kau tak mmeberi kesempatan padaku untuk sebentar saja mengeluh.

Namun aku berpikir positif saja, barangkali kau mau mengajariku dengan bahasamu bahwa aku harus bisa menghadapi persoalan apa pun. Hadapi sendiri jika memang masih bisa, jangan membuat orang lain terbebani. Mungkinkah begitu? aku tak tahu. Setelah aku urung menelponmu, aku ingin sms saja. Sudah kuketik kata salam, hallo, hai, met malam, tapi terus kuhapus lagi. Kupikir kau takkan sempat membalas sms ku karena kesibukanmu atau mungkin keenggananmu. Aku takut jika pesan itu terbaca , kau malah justru menjadi terdakwa karena prasangka. Kuingin kau baik-baik saja. Ah kau, membuatku terbelenggu dalam rindu.

Aku sering kesal padamu. Sungguh kesal, rasa-rasanya ingin kubunuh saja dirimu agar tak nampak lagi. Tapi aku takut kau menghantuiku, ha ha aku ngelantur. Kau hidup saja sudah membuat diriku terus memikirkanmu. Aku terus mencari kabarmu dari siapa saja dan dari mana saja karena kutahu bertemu denganmu secara sengaja merupakan sesuatu yang langka. Jadi lebih baik kutahu kau baik-baik saja dan hatiku tenang daripada aku bertemu denganmu tapi setelah itu aku kesal dan merutuki keinginanku untuk bisa terus bersamamu.

Tapi kau mungkin perlu tahu, aku belum pernah berhenti untuk menyayangimu. Sampai sekarang. Meski kadang rasa sakit dan cemburu kurasakan, tapi itu bisa kuterima. Aku bisa tersenyum mengingatmu, tingkahmu, dan kadang keanehanmu. Kau suka marah-marah padaku, nada suaramu tinggi, jarang tersenyum. Itu sikapmu. Tapi aku merindukanmu malam ini, sejak sore tadi. Sejak hari-hari yang lalu. Sejak kau tak pernah hadir lagi. Sekarang bagaimana kabarmu? Apakah kau pernah merindukanku juga?

FOR MY DREAM

Bantu aku membencimu

Kuterlalu mencintaimu

Dirimu begitu berarti untukku

(Laluna, Selepas Kau Pergi)

Aku terbayang sebuah tempat yang begitu sejuk. Sepertinya aku ingat sebuah perbukitan di suatu Pulau. Hijau dan lapang. Sebuah sabana yang indah, beberapa pohon rindang tumbuh merajai wilayah itu. Rimbun, bisa untuk berteduh dari sinar matahari atau saat hujan turun. Kutambahi dengan imajinasiku, banyak mawar tumbuh di sana. Segala warna dan sangat indah. Aku menyukai bunga. Oh ya aku belum sempat bercerita padamu bahwa ada satu kaktus cantik yang ingin kuberikan padamu tapi urung karena kau terburu pergi. Tapi tenanglah, kaktus itu masih kurawat untukmu, mungkin suatu hari. Aku tak peduli kau suka atau tidak, yang penting itu untukmu. Tetap untukmu.

Kemudian kubayangkan bahwa paru-paruku akan sangat lega berdiri di bukit itu. Apalagi kau menggandengku dan membuat hidupku merasa terlengkapi. Maaf, jika bayanganku terlalu berlebihan. Pasti terdengar lucu. Sebuah bukit di suatu pulau. Sekarang aku ingat nama pulaunya. Aku pernah menontonnya tayangannya di sebuah stasiun TV. Aku masih berusaha mengingat namanya. Nama pulau itu. Sebuah pulau yang sebenarnya terdiri dari empat pulau kecil di bagian timur Indonesia.

Kau mendekapku dengan tangan kirimu. Kau biarkan aku menyandar di dadamu, seperti anak dalam pelukan ayahnya. Kupejamkan mataku. Kurasakan ketenangan dan kebahagiaan melanda hatiku, karena kau di sampingku. Mungkinkah Tuhan menciptakanku dari tulang rusuk kirimu? Apakah musim yang indah itu akan hadir. Musim kupu dalam khayalanku bersamamu? Kuyakin, aku bisa bersamamu dalam masa yang lebih indah dari sekarang.