Senin, 06 April 2009
Bukan Melupakan Tapi Mengikhlaskan
Egois jika aku memaksakan diri untuk memiliki. Meski asaku tak memungkiri keinginan itu, tapi aku selalu berusaha menepisnya. Aku ingin melihatmu bahagia, tertawa, merdeka dalam hidupmu. Aku selalu berharap terus mendengar apa pun tentangmu, agar kutahu bahwa kau tak bersedih.
Aku tak peduli seberapa tak acuh dirimu padaku, ataupun seberapa malas kau tahu tentangku. Yang aku pedulikan adalah dirimu, ketenanganmu tanpa aku.
Tak pernah habis kenangan tentangmu, tak pula pupus harapku untuk jejaki sisa hari. Tak pernah terhapus bayangmu, tak pula lengah pikiranku.
Aku, Aku, Aku... mengikhlaskanmu meski kau tak tahu untuk apa aku melakukannya. Meski kau tak peduli aku tetap terus berusaha mengikhlaskanmu.
Tak letih kusebut namamu dalam doaku,
Tak lelah pula kucari tahu kabarmu, karena aku ingin dengar kau selalu bahagia.
Bahagiamu, senyumku.
Kamis, 11 Desember 2008
Jika Kau Memberi, Gunakan Hatimu

Saat sedang menunggu ibu penjual membungkuskan pesananku berupa nasi kuning dan konco-konconya (lauknya geto), ada seorang ibu yang berumur sekitar 45 tahunan mendekatiku. Pakaiannya tak cukup pantas untuk kubilang lusuh, dia menenteng kresek hitam. Lalu saat itu, dia menadahkan tangan padaku. Aku diam, kemudian ibu tersebut bilang “Neng, minta sumbangan Neng” tapi kau tetap saja tak bergeming dari posisiku. Aku tak tergerak untuk mengulurkan tanganku. Sampai akhirnya ibu itu pergi, tanpa pemberian dariku atau pun orang-orang yang sedang ada bersamaku di dekat gerobak itu.
Setelah pesananku siap, aku membayarnya dengan tiga lembar uang ribuan yang aku taruh di anakan tasku. Lalu aku lanjutkan berjalan, tetap mepet dengan got-got bau itu. Sekitar 10 meter kakiku melangkah, aku kembali bertemu dengn ibu yang meminta-minta tadi. Hal yang sama sedang dia lakukan di depan sebuah tempat bimbel. Kuamati sebentar, tetap saja, orang-orang yang berada di