Be an Ordinary Person with Extraordinary Personality
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Mei 2009

Menanti Embun

MENANTI EMBUN

Kuhirup napas panjang, mencoba menata kembali puzzle rasa di hati yang selama ini tercecer. Kubiarkan diafragma ini mengembang beberapa saat lalu kuhembuskan Karbondioksida itu keras-keras seperti orang yang sedang buang sial dari dalam dirinya. Sekarang, di detik yang terus berjalan aku terduduk di sini. Sendiri. Meski di luar sana hingar bingar hidup belum sepenuhnya dimulai, namun aku selalu ingin memulainya lebih awal dari siapa pun. Aku akan terus duduk sampai aku puas. Barangkali siapa pun yang melihatku akan heran dengan apa yang aku lakukan. Menatap lurus ke depan tanpa kata-kata dan sekali-sekali bergumam. Itu pun tanpa kata yang bisa mereka mengerti. Gumamanku hanya terlihat seperti komat-kamit tukang tarot.

Tapi seandainya kalian -atau kau- tahu, barangkali ada sedikit empati yang mampu muncul dari suara hati yang tak pernah mampu berbohong. Aku tak sekedar berkomat-kamit tak jelas. Sesungguhnya aku sedang menyampaikan gundah hati yang beberapa waktu ini tak tersampaikan. Sebuah cerita yang selama ini kuhanyutkan bersama rasa dan kesempatan yang kukira akan sirna begitu saja. Tapi tak semudah itu, dari hulu memang tampak hilang, namun ketika sampai ke muara aku menemukannya kembali.

Aku mulai berusaha menciptakan kesempatan seperti ini. Kesempatan yang tak terbayar, dan aku tak perlu teman bicara. Aku bisa menyampaikannya sesuka hatiku, menyampaikan dengan lirih suara tak terdengar. Lalu tiba-tiba aku menjadi berpikir apakah ini jeritan hati yang terlalu lelah atau pikiran yang mengaku kalah?

Aku sedikit menggeser posisi dudukku. Kuraih sebuah buku bersampul hitam yang selama ini setia menerima apapaun yang aku rasakan. Sebuah buku harian yang selama ini menjadi wakil semua telinga yang mampu mendengar jeritku. Buku itu, teman curhat yang tak pernah protes meski tusukan pena kadang “menyakitinya”. Setelah kudapat buku itu, aku kembali ke posisi dudukku semula. Kubuka lembar yang dibatasi sepotong pita merah. Sesosok wajah ada di salah satu lembar yang dibatasi itu. Wajah yang tercetak dalam foto ukuran 4R. Wajah yang senantiasa aku rindukan.

Mataku panas, entah mengapa setiap kali kupandangi mata di foto ini, degup kencang jantungku terpacu. Perih, sedih, luka menyambar-nyambar. Lalu disusul dengan bahagia, ceria, suka yang sekedar mampir sebentar. Aku mengusap wajah yang tak sesungguhnya itu. Wajah salah seorang yang paling berharga dalam hidupku, sumber kekuatan cintaku. Setiap kali, setiap pagi dalam beberapa waktu ini kulakukan itu. Berharap siang nanti kudapatkan kabar keberadaannya. Kudengar berita kepulangannya. Setiap hari –dalam beberapa waktu ini- harapan itu terkembang dan setiap hari –dalam beberapa waktu ini- pula harapan itu pupus.

Andai dia ada di sisiku saat ini, aku tak akan muluk-muluk bercerita. Aku hanya ingin menikmati waktu bersamanya. Namun, ketahuilah, aku tak pernah menganggapnya tiada. Setiap waktu, bagiku dia selalu ada bersamaku. Meski raganya entah berada di mana sekarang, namun rohnya selalu hidup dalam pikiranku. Siapa pun tak bisa menyalahkanku –tentang hal ini, tentangnya- karena aku hidup dengan sudut pandangku. Siapa pun hidup dengan sudut pandangnya masing-masing. Dan aku tak akan pernah membiarkan kehidupanku berjalan dengan sudut pandang yang sempit yang bisa membuatku bunuh diri.

“Aku ingin kau mengerti…” kata itu tiba-tiba meluncur dari mulut ini. Lalu mataku semakin panas dan tak kuasa lagi membendung telaga kecil yang beriak deras ini. Foto itu kudekap, imajinasiku melayang seakan aku sedang memeluk sosok sesungguhnya. Rasa-rasanya ada perasaan halus yang menelusup dan bisikan kecil menghampiri telingaku. Itu darinya, ya benar-benar darinya. Namun sekali lagi aku harus menyadari bahwa itu hanya imajinasiku. Aku menyayanginya bahkan benar-benar mencintainya.

Seandainya dia berada di sini, sekarang juga akan kuberitahukan padanya tentang dua waktu dimana aku sangat menyukai saat-saat itu. Waktu pagi ketika fajar putih menyingsing di langit timur, diiringi kokok ayam ricuh serta cicit tikus yang berhenti kudengar. Lalu ketika bola raksasa menyembul, masih di langit timur, dan seakan-akan berkata “dunia, aku kan menguasaimu”. Kemilau embun yang baunya masih basah menusuk hidungku dan membelai pernapasanku. Uapnya naik sedikit demi sedikit. Kunikmati detik-detik itu sampai wujud embun itu lenyap dari pandangan kasatku.

Jika hari telah beranjak siang, aku cukup kesal dan mengutuki waktu. Mengapa dia harus bergerak, merangkak, berjalan, berlari, hingga kejaranku tak sampai? Mengapa dia tak mau sejenak berhenti mengerti arti dari setiap jejak yang kucoba langkahi? Namun, akhirnya kusadar bahwa aku sama sekali tak bisa menyalahkan waktu. Apa yang bisa kusalahkan, aku pun tak nanpu mendefinisikannya secara pasti. Apa kalian tahu definisi waktu? Definisi pastinya, maksudku, jika tahu ceritakan padaku.

Mengapa aku mengutuki waktu siang yang sama sekali tak berasa? Semua ini tak lepas dari rasa kesalku terhadap praktek birokrasi di negeri ini. Negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi -pada faktanya memang seperti itu kuakui- namun kegemahannya bagiku seperti sepotong pizza yang hanya dapat dibeli oleh kalangan yang sudah cukup uang untuk membelinya. Tanpa tedeng aling-aling, orang miskin itu nggak perlu makan pizza dulu karena raskin (beras miskin) pun datangnya selalu ditunggu-tunggu. Ya, hanya orang yang punya tahta dan harta saja yang menikmati kekayaan negara. Sekalian saja sahkan undang-undang “pejabat anti melarat”. Sama saja biar pun labelnya pizza, baunya toh masih seperti Jengkol juga, hanya orang yang suka saja yang mau memakannya.

Kembali lagi pada birokrasi yang tak ayal bukan lagi sebagai sebuah bentuk organisasi paling ideal menurut Aristoteles, namun sekarang cenderung pada penyimpangan yang nyata. Gampangnya, birokrasi bereinkarnasi dan melahirkan kembali oknum pelaku birokratisme yang membuat hal mudah menjadi susah dan harus berpayah-payah mendapatkannya.

Kekesalanku bukan tak beralasan. Entah itu sebagai perwujudan ego mengenai hak warga negara atau memang rasa kehilangan yang membuat emosi ini tak terkendali. Dasar manusia! Birokrasi zaman ini terlalu banyak cingcong, sesuatu yang seharusnya menjadi “sekedar” namun akhirnya sukar dan membuat gusar.

Pikiranku terlalu berkelana sampai persoalan negara. Hanya karena sosok yang wajahnya tercetak dalam secarik kertas foto yang sekarang sedang kupegang. Kupastikan seandainya wajah ini berwujud di depanku sekarang, akan kupeluk dia dengan erat. Dia adalah hakku dari Tuhan. Aku tak mau kehilangan dirinya -sama sekali- meski kusadari kepemilikan di dunia ini tak ada yang kekal.

Kulirik jam weaker di atas meja berwarna cokelat tua di sebelah tempat tidur. Sudah lima belas menit aku duduk diam sembari memandangi foto ini. Aku tak ingin beranjak karena aku menggantungkan harapanku pada posisiku sekarang.

“Aku masih ingin kau tahu...” butiran yang leleh menetes di pipiku. Aku membenci siang karena semua bagian dari diriku begitu lelah mencari dan menemukanmu. Selain pagi, hanya waktu malam yang senyap bisa kunikmati meski sedikit. Itu sekarang. Dulu, malam tak ubahnya pagi dengan embunnya. Malam adalah gelap yang indah. Apalagi jika remang cahaya bulan menghias. Ditambah titik-titik bintang membuat corak rasi pari, biduk atau scorpio. Sekarang, meski kesadaranku terkikis oleh lelahnya pikiran, aku terus berusaha menikmatinya. Kutahu jika malam datang maka dia akan segera berakhir dan berganti pagi kembali. Lalu aku bisa berceloteh panjang tentang dirimu dalam hatiku. Tentang kebahagiaan dan harapan akan masa depan. Walau aku sadari, siang menanti jejakku untuk terus mencarimu.

Air mata ini menganak sungai, sebuah ironi tentang kenyataan lemahnya diriku. Tapi aku yakin kesempatan itu masih ada, terbentang seluas langit. Kau akan menghampiriku kembali dengan besarnya rasa cintamu itu. Kau akan datang padaku kemudian merangkul tubuh kecilku dalam dekapan tangan kokohmu. Kau akan tersenyum sambil mengacak-acak rambutku. Aku tahu kau akan berkata:

”Tanamkan jiwa ksatria di hatimu, meski kau perempuan, kau Srikandi dalam kehidupan ini. Nafas yang menjadikan kehidupan ini selaras dengan kelembutanmu. Kau adalah roh kartini yang senantiasa hidup dan jiwa bunda Theresa yang tak pernah mati.”

Aku terguguk mengingat kata-kata yang pernah kau ucapkan itu. Aku malu karena Srikandi , Kartini, dan bunda Theresa yang kau banggakan ini begitu rapuh.

”Kau bisa meraih mimpi-mimpimu. Bermimpilah gadisku, mimpi itu gratis. Bercita-citalah yang besar maka kau akan jadi orang besar. Kau harus berpandangan seluas langit dan memiliki pemikiran sedalam laut.”

Kembali kuhirup napas dalam-dalam. Kuresapi dengung kata-kata yang pernah kudengar itu dan tak akan terhapus dari memori jangka panjangku.

Seandainya kau ada di sini, sekarang, aku akan ceritakan tentang mimpi besarku. Kuyakin kau pasti menepuk pundakku seakan aku tak hanya sekedar sahabat karibmu. Barangkali kau juga takkan percaya, aku yang seperti ini, bermimpi untuk menggantikan Ibu Meutia Hatta di tahun 2040 kelak. Kurasa tidak terlalu tinggi jika aku ingin meneruskan perjuangan perempuan. Tapi kau tak ada di sini sekarang. Kau entah berada di mana. Di belahan bumi yang mana. Aku bingung. Jalan pikiranku buntu. Saat ini, jangankan menggantungkan cita-citaku sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan sebagai obsesi yang tinggi. Cita-cita tertinggiku hari ini -dan telah tiga hari yang lalu- adalah bertemu denganmu dan memelukmu.

Kakiku mulai kesemutan bersila selama 30 menit. Kusdari waktu merangkak dan terus berjalan. Saat yang kutunggu, tepatnya yang paling kususkai yaitu saat matahari terbit segera tiba. Raksasa bulat itu akan segera muncul memendarkan sinar kuning keemasan sebelum menjadi panas yang menusuk kulit. Pagi ini kembali kugantungkan harapanku pada-Nya, pada mereka, dan pada siapa pun yang mendengarkan. Pada semua orang yang mau mendoakan aku dan kami.

Hari baru setelah tiga hari yang lalu harus kujalani kembali. Mau tidak mau. Semoga harapan pagi ini tak tersiakan. Kuraih handphone yang kutaruh di atas meja cokelat kecil di dekat tempat tidur itu. Kutelpon seorang yang sedang menanti kabar dariku di seberang sana. Setelah itu kusimpan kembali foto ukuran 4R yang sedari tadi menemani celotehku.

Sekarang, pagi memang masih dingin. Tapi bukan bau basah embun. Bau amis yang membuatku mual. Bahkan di otakku yang pesan yang tersampaikan tak hanya bau amis, bau mayat. Sial! Aku tak boleh berpikir seperti itu. Huf, sepagi ini sudah sumpeg. Aku berada di tengah-tengah orang yang kondisinya sama sepertiku. Menanti.

Kudekati seseorang yang aku kenal sejak dua hari yang lalu.

”Bagaimana?” tanyaku padanya. Seorang pemuda bernama Sahar yang sedang menanti kabar tentang adiknya. Adik perempuan yang katanya sebaya denganku, 20 tahun. Dia hanya menggeleng. Kutahu, barangkali dia mau menangis tapi mungkin dia malu denganku. Aku menelan ludah, pahit. Lidahku kelu. Aku tak berniat menanyakan hal yang lain lagi padanya.

”Sebentar, aku mau ke pos. Mau ikut?” kupegang pundaknya dan kutatap dalam matanya. Pasti dia tidak tidur beberapa hari ini.

Sahar menggeleng, ”Aku sudah ke sana” jawabnya tawar.

Aku bergegas menjajak jalanan basah, tetap amis.

“Selamat pagi” sapaku pada seorang petugas yang mengenakan kaos bertuliskan SAR.

”Selamat pagi Mbak, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.

”Bagaimana perkembangannya Pak?” tanyaku. ”Ada kabar terbaru mengenai korban?”

”Sementara belum Mbak, masih sama seperti kemarin baru delapan orang yang ditemukan. Semuanya meninggal dan sudah diambil oleh keluarganya.” penjelasan itu hambar di telingaku.

Langkahku gontai namun kupaksakan tegap. Aku kembali menghampiri Sahar. Duduk di sebelahnya dan berusaha tersenyum. Aku jadi teringat pesan ibuku tadi pagi saat kutelpon.

”Isya, kalau memang hari ini tidak ada kabar juga tentang ayahmu, kau pulang saja Nak. Kita pasrah saja.” kini air mataku benar-benar tak bisa kutahan. Padahal aku telah banyak menangis selepas shalat subuh tadi pagi. Setidaknya setengah jam cukup membuat mataku bengkak. Tapi tetap saja sekarang tak bisa kutahan.

Pemuda di sampingku hanya diam. Kumaknai diamnya sebagai tanda bahwa apa yang sedang dirasakannya sama denganku. Tak perlu pelajaran tentang empati di sini, masing-masing dari kami telah punya. Di dekat pos yang barusan kuhampiri terjadi ribut adu mulut antara beberapa orang yang senasib denganku dengan petugas SAR. Refleks kutarik tangan Sahar dan bergegas menuju ke tempat keributan. Hanya sekitar 5 meter dari tempatku sebelumnya.

”Kami butuh kepastian Pak, tidak harus seperti ini kan Pak? Pencarian terus diulur dengan alasan perundingan petugas, belum ada perintah dari atasan, cuaca buruk. Apa lagi Pak? Apa bapak-bapak bisa menjamin keluraga kami masih ada? Hidup atau mati? Kami di sini punya harapan Pak. Bapak-bapak punya perlatan untuk menyelamatkan diri jika berda di tengah laut nanti. Tapi keluarga kami pak? Mereka tidak punya apa-apa di tengah laut. Bagi kami, tahu mereka selamat dan hidup itu mukjizat. Tapi jika tahu mereka mati tetapi tetap ditemukan itu pun anugerah Pak. Tolong jangan membuat kami gelap mata Pak, jika kami memang harus ikut mencari ke tengah laut, kami bersedia.” Ucapan salah seorang Bapak diiringi anggukan orang-oarang yang ada di sekitar itu.

“Tapi...” seorang petugas SAR tidak sampai melanjutkan kata-katanya karena terlanjur dipotong oleh seorang lagi yang berdiri di sebelah bapak yang bicara pertama.

“Tapi apa lagi Pak? Kekhawatiran kami telah memuncak. Selama empat hari ini terkatung-katung di sini hanya sekedar mendengar alasan dari petugas.” Suaranya lebih terdengar marah.

Gendang telingaku mengabaikan suara-suara mereka. Aku diam. Percuma juga ikut bersuara. Kutelungkupkan kedua telapak tanganku di wajah. Entahlah, hatiku kebas. Tak mengerti bagaimana menyeimbangkan rasa kehilangan yang mendalam ini dengan toleransi petugas dan cuaca. Aku terus diam sampai kudengar pemuda itu sesenggukan. Aku membawanya duduk di depan pos penjagaan.

“Isya, saya lelah” ucapnya lirih. Matanya tak lagi kering, air mata yang keluar tak dihiraukannya. “Adik saya satu-satunya kenapa harus ikut menjadi korban yang hilang dalam kecelakaan kapal ini. Yang paling saya khawatirkan adalah dia tidak bisa berenang. Dia tidak bisa menyelamatkan dirinya, Isya.” Aku tahu perasaan Sahar saat ini.

Tak beda dengannya. Hal yang sama pun kurasakan. Pahlawanku pun bernasib sama dengan adik Sahar. Tapi aku lebih optimis bahwa ayah akan selamat. Karena itu harapanku. Tapi aku hanya bisa berdoa saat ini, aku tak mungkin ikut mencari ke tengah lautan.pasti aku dilarang karena aku perempuan. Ayah kebetulan dinas di Sulawesi, beliau pulang untuk menghadiri acara penyerahan penghargaan Mahasiswa Berprestasi yang kuraih di kampusku di Jakarta. Saat itu satu minggu lagi, namun jika dihitung dari hari ini berrati tinggal tiga hari lagi. Tetapi kabar tentang ayah belum juga terdengar. Kusesali kenapa waktu itu ayah tidak naik pesawat saja? Ah tapi jika bencana mau melanda tak peduli kita berada di mana, di lubang semut pun pasti akan terkena.

Handphoneku berdering. Telpon dari adikku.

”Kak Isya, ibu pingsan-pingsan terus. Kakak pulang saja ya naik pesawat hari ini.” kata-kata Nuril adik laki-laki pertamaku membuatku bertambah kalut.

”Ril, kamu jaga ibu dulu ya, minta tolong sama Bibi dulu. Kakak bertahan satu hari lagi sampai besok. Kakak optimis kalau ayah akan selamat dari kecelakaan itu. Kamu yang sabar ya.” ucapku.

”Tapi bagaimana keadaan kakak?” tanya adikku itu.

”Kakak baik., kau jaga ibu sama Vita adikmu ya.” Telpon ditutup.

Akhirnya petugas dan beberapa kelurga yang menanti terjun untuk mencari korban, termasuk Sahar juga ikut dalam rombongan itu. Aku kembali dulu ke tempat menginapku membereskan pakaianku. Aku harus siap dengan kemungkinan yang akan terjadi. Ibu di rumah juga butuh kehadiranku, aku tak bisa seperti ini terus. Kalau hasilnya nanti nihil aku pun tetap harus melanjutkan hidupku tanpa ayah. Orang yang mendidikku dengan caranya. Meneguhkan setiap langkahku dengan nasehatnya. Tapi Tuhan, aku mohon, aku masih ingin mencium tangannya dan menyiapkan makanan untuknya. Jangan Kau ambil dia dariku.

Sore hari sekitar pukul 15.00 WIT. Aku kembali ke pelabuhan dekat pos penjagaan. Duduk, dengan memeluk tas ranselku. Orang bertambah banyak. Salah seorang petugas mengabarkan ada dua korban meninggal di temukan kembali dan satu orang selamat namun kondisinya sangat kritis. Sekitar setengah jam lagi petugas dan orang-orang yang sedang mencari akan tiba di pelabuhan. Aku miris mendengar pengumuman petugas itu. Satu orang selamat, tapi kondisinya kritis. Apa dia mampu bertahan lagi selama setengah jam? Jangan-jangan itu ayah? Tuhan, kutahu Kau dengar doaku, selamatkan ayah.

Tepat ketika tim SAR gabungan sampai di pelabuhan, bau mayat kembali menyeruak. Semua orang yang menanti tak sabar untuk tahu identitas ketiga korban yang ditemukan itu. Dua korban meningal langsung bisa dikenali dan kebetulan keluarganya ada di sana. Harapanku tinggal pada satu korban hidup. Aku berusaha menyeruak di kerumunan orang yang sesak. Kekuatanku terasa bertambah. Akhirnya aku berada tepat di depan korban selamat itu. Selang oksigen di hidungnya, dia tak sadarkan diri. Air mataku menetes. Kurasakan getar hidup baru saat ini. Kurasakan dunia hanya milikku satu-satunya.

”Ayah...” kuraih tandu yang sedang dibawa petugas. Kupeluk tubuh ayahku yang tak berdaya saat ini. Tuhan, kupercaya kuasa-Mu. Kau mendengar doa-doaku. Sahar yang melihatku tersenyum lega, meski kutahu sedihnya pasti akn masih terus berbekas karena adiknya belum ditemukan.

Aku mengikuti petugas masuk ke ambulance yang akan membawaku ke rumah sakit. Langsung kukabari Nuril dan Ibu. Aku katakan pada mereka bahwa aku kan pulang kembali bersama ayah setelah ayah pulih. Tak lagi kuhiraukan penghargaan Mahasiswa Berprestasi. Tak lagi kupikirkan bahwa aku akan disalami oleh Rektor. Yang paling penting sekarang adalah ayah.

Ayah, kau akan melihat Srikandimu ini tegar kembali menyaksikan embun pagi. Asa gadismu ini takkan pernah luntur seperti semangat Kartini. Kita akan bersama lagi berceloteh tentang mimpi. Merangkul Ibu, Nuril, dan Vita. Ayah, syukur kupanjatkan pada Tuhan yang telah banyak memberiku nikmat dan pelajaran berharga dengan perantaramu. Ayah, tak sabar kunanti embun esok pagi bersamamu.

NB:

Cerita ini kupersembahkan bagi setiap ayah yang senantiasa menjadi pahlawan bagi putra-putrinya.

Selasa, 18 November 2008

Selama Masih Sayang

Kejujuran hatinya Kerispatih mengalun lembut menggetarkan gendang telingaku. Tapi tak sekedar kudengar saja, hati ini mengakui kalau aku juga merasakan sesuatu yang membuatku seperti lepas dari diriku. Lepas dari obsesif, tapi aku malah menjadi tanpa arah. Lepas dari sikap egois tapi aku malah jadi cengeng.
Sial! Kubanting pintu kamarku. Tak peduli apa yang akan ibuku katakan melihatku seperti ini. Ya kuakui kalau aku bukan tipe cewek feminin yang doyan manja. Aku juga bukan cewek tomboy yang selalu aja pengen tampil beda dari umumnya cewek. Aku biasa saja. I’m myself. Boleh deh dicetak tebal digoresin pake tinta yang bisa nembus batu biar jadi prasasti sekalian. Aku selalu pengen jadi diriku sendiri. Aku selalu berusaha nampilin dan mempersembahkan kemampuanku. Aku selalu berusaha menunjukkan kepada mereka kalau aku bisa melakukannya.
Tapi untuk yang satu ini, aku sendiri nggak tahu kenapa bisa sampai terjadi sama aku. Tengsin banget rasanya. Nyebelin banget. Bikin sakit, bukan hanya sakit hati aja, tapi juga sakit kepala.
Tak semestinya aku yang terluka,karena diriku yang pertama mencintaimu. Tak seharusnya dia yang kau terima jadi milikmu jadi yang kau mau…. ….Aku terluka tanpa kau senagaja.
Langsung kupencet tombol stop di compact disk ku. Ah lirik lagu itu bikin aku semakin benci dengan perasaanku sendiri. Lagian aku juga tolol sih! Lho kok? Iya, biasanya aku paling benci dengar lagu mellow yang cengeng. Mending dengerin In the End nya Linkin Park atau juga Crash and Burn nya Simple Plan. Yah mungkin memang sudah takdir, nggak tahu kenapa aku langsung ngambil MP3 yang isinya lagu – lagu mellow punya kakakku dan mendadak kupingku minta dengerin punya Dea Mirella.
@@@
Tadi malam adalah malam minggu. Irfan sms aku, biasa dia anaknya motivator banget. Pasti ada – ada saja yang diomongin. Apalagi musim kayak gini. Bukan musim hujan tapi musim persiapan ujian nasional yang jadi momok buat semua kalangan. Dalam tanda kutip kalangan siswa, guru, maupun penjaga kantin. Lho kok? Penjaga kantin ikut disebut? Ah kayak nggak tahu saja. Mereka tuh jadi nambah stok makanan, kelebihan order jajanan, tersenyum menerima uang di atas kepanikan siswa yang merasa panik karena harga jajanannya mahal –mahal. Tapi itu nggak penting, yang penting sekarang adalah soal sms Irfan tadi malam.
Q hrs ket4 km jam brp?
Sent 18 : 41 : 28
Aku balas up to him aja. Aku nggak mau maksa – maksa dia. Aku capek dia apalagi. Aku pengin istirahat mungkin dia malah pengin tidur. Maklumin saja, kita berdua sama – sama jadi anak perantauan, aku tiap minggu pulang, kalau dia sebulan sekali, bukannya bawa uang tapi nglaporin pembukuan yang selalu kurang dana. Maklum aja deh, kita sama – sama nyari ilmu yang tempatnya lumayan jauh dari tempat tinggal kami. Oh God, I hope You always blesses us.
Ky’nya q ga jd ket4mu.
Q cpe’ bgt. Sry ya L
Qt ktmu bsk aja deh.
Sent 18 : 52 : 03
Aku balas up to him lagi, percaya kalau dia kecapekan, ngendarain motor hampir lima jam kan bikin pegel. Sebenarnya aku juga sediit malas ketemu dia. Ya malas aja. Pokoknya lagi badmood ( Ciee bahasanya rada keren dikit neeh ). Tapi sebagai cewek yang ngerasa kalau Irfan itu boyfriendku, tetep aja biarpun cuma sedikit, aku pengen cerita sama dia. Habisnya dia kayak psikolog banget. Asyik deh kalau ada masalah cerita sama dia.
@@@
Habis makan malam ala masakan bunda ( soalnya kalau di tempat kost masakannya itu – itu aja, ya…biasa, tumis kangkung sama tumis tempe. Paling banter sama telor. Apalagi kalau hampir sabtu, seringnya makan mie instant doang. Tapi kita enjoy aja. Yang belum pernah kost pasti penasaran?!) aku nongkrong di depan tv. Acaranya boring semua. Klise banget. Masak acara cuma nangis, pacaran, rebutan warisan, paling kerenan dikit kalau ada stasiun tv yang muterin film layar lebar. Aku pindah posisi. Nyalain XPku. Buka – buka file lagu yang lumayan merajai isi data – dataku.
Boleh dibilang aku ini maniak musik. Suka musik, tapi nggak gibol. Musik itu fresh, asyik, walaupun seleraku agak beda sama kebanyakan cewek. Musikku itu sesuai keadaan. Ya sesuai sikon gitu. Bukan sekedar easy listening, tapi yang pas di kuping. Band favoritku Linkin Park. Penyanyi solo yang keren Glen Fredly. Nasyid yang OK Justice Voice. Kalau yang cewek Melly Goeslow boleh tuh. Yap kira – kira lagu mereka yang sedang aku dengerin sekarang. Tapi dipikir – pikir cocoknya syair Saykoji deh “malam minggu kesepian dan sendirian”. Tapi kan aku bukan jomblo. Bosen juga dengerin lagu, aku men-turn of komputerku. Masuk kamar, nyentuh gitar, kupetik, kunikmati nadanya. Sambil komat – kamit nglantunin my immortalnya Evanescence. Capek! Kuraih selimut, kurebahkan diriku di tempat tidur yang hanya aku pakai seminggu sekali. Belum lima belas menit aku merem, HP bunyi. Sms dari Irfan.
Re, ntar klo mo tahajud
Q dbangunin ya.Coz
Q ky’nya tdr mlm.
Tmnq mnta aq nmnin dia
Wlo cm lwt tlpon.
Dia lg byk mslh. Bntu
Doain dia ya. Nmnya Ale.
Kubalas dengan kata – kata penyemangat. Ya iyalah! Dia kan mau bantu temannya yang lagi kesulitan. Aku bangga sama di ayang benar – benar peduli sama temannya. Apapun yang bisa dia lakuin buat teman, pasti dia lakuin. Bangga deh punya boyfriend seperti dia. Nggak lupa pula aku tulis kalau aku juga pengen kenal sama Ale temannya itu. Aku minta nomer HP Ale. Pokoknya aku ndukung Irfan supaya bisa bantu Ale semampu dia.
Ya aq jg pgn km knl ma dia
Orgnya baik, bijak, asik,
Pnter, setia kwn,humoris,
Inisiatif,hangat.
Bkn mksdq bandingin km
ma Ale. Q tulus syg ma km.
Heeeh! Illfeel deh. Irfan nggak sadar dia lagi sms sama siapa? Dia lagi sms aku. Rere, girlfriendnya. Masa dia muji - muji cewek. Gondok lagi. Aku percaya deh, bukan aku doang yang ngerasa sakit hati kalau cowoknya muji cewek lain. Akhirnya aku nggak mbalas sms dia. Nunggu mungkin dia mau minta maaf dan ngerasa salah karena dia sudah bikin aku bete, tapi nggak ada message yang masuk. Biarpun hati ini lagi pegel, aku paksain tidur. Nggak tahu ntar malam bangunin Irfan untuk tahajud apa nggak. Tapi aku sempetin deh, itu kan ibadah. Jangan campurin ibadah sama urusan yang lain. Setuju kan?!
@@@
Aku sadar kalau sedari tadi aku ingat – ingat kejadian tadi malam. Sebenarnya nggak sengaja tapi sudah membuat hatiku tergores sama pujian Irfan untuk Ale. Perasaan hampir dua tahun pacaran sama dia, belum pernah dia muji aku kayak gitu. Paling banter dia bilang aku beda dari kebanyakan cewek. Punya prinsip. Aku? Punya prinsip? Iya dong, hidup tanpa prinsip tuh cuma miliknya orang – orang imbisil sama orang gila. Aku pengen jadi yang normal, so hidupku harus berharga, bermakna, not only in this world but also I the here after.
Aku lihat jam, wah sudah hampir jam sembilan. Aku punya rencana mau ke warnet, ngilangin suntuk. Siapa tahu ada mail yang masuk ke inbox-ku. Yah ada sih beberapa dari teman – temanku di Semarang. Tapi aku masih tetap saja nggak tenang. Terus saja memikirkan Irfan dan Ale. Mungkin Ale hanya sekedar teman dekat Irfan. Tapi yang dekat kan kadang jadi lekat. Aku nggak sanggup kalau Irfan suka sama cewek lain. Dia memang selalu mengajarkan padaku untuk tidak berusaha supaya dicintai tapi berusahalah untuk mencintai. Karena kalau kita mencintai orang lain, InsyaAllah kta juga akan dicintai sama orang lain. Rasional banget.
Mau pulang ke rumah malas deh. Minggu, aku pengen refreshing, besok kan senin. And I think that I’m still hate Monday. Senin melelahkan. Lihat saja besok, aku harus mulai lagi berkutat dengan buku – buku tebal, belajar materi – materi eksak. Full deh. Aku mengambil HP di sakuku. Aku mulai nulis sms untuk Irfan. Aku minta ditemenin jalan – jalan. Ke mana saja lah! Asal jangan ke tempat yang nggak diperbolehin.
Bukan Irfan namanya, kalau nggak menuruti permintaanku. Belum lima belas menit aku tunggu, dia sudah nongol. Sesuai kesepakatan, aku sama dia nggak pergi ke mana – mana. Kita balik ke rumahku. Sebelumnya mampir ke rental dulu minjem CD film. Yah akhirnya mutusin untuk nonton deh. Nggak apa – apa lah, nonton sama Irfan kan asyik. Memang aku sudah lupa sms dia tadi malam? Belum. Aku Cuma nyoba melupakannya. Ngapain pusing – pusing. Kalau Irfan benar – benar sayang sama aku, pasti dia nggak bakalan berpaling. Itu sih harapanku. Tapi hari ini dia janji mau ngasih nomer HPnya Ale. Tuh kan inget Ale lagi…. Nggak, aku Cuma ingat tadi malam aku minta nomer HPnya, mau kenalan gitu. Kan asyik nambah satu teman.
@@@
Aku duduk nyantai sambil makan cemilan di sebelah Irfan. Filmnya asyik, sudah pernah nonton tapi tetap nggak bosen. Bintang Jatuh, yang dimainin sama Dian Sastro. Keren deh! Wah sudah basi ya? Bagi aku kisahnya OK.
Film selesai barengan dengan habisnya cemilan di stoples yang aku pegang. Irfan Cuma geleng – geleng doang. Senang rasanya lihat dia senyum sama aku. Manis. Habis itu, aku mulai cerita suka duka yang aku rasain selama nggak ketemu dia. Mulai dari yang kecil sampai yang rada gede dan yang benar – benar gede.
“Katanya gue mau dikasih nomernya Ale?” aku mengingatkan dia. Dia langsung ngeluarin HP dan memberikannya padaku. Aku men-save di HPku. Aku juga dilihatin sms Ale buat dia. Kubaca, ya hampir saja aku mau nangis. Sure, kayaknya mereka benar – benar akrab. Bisa dibaca dari cara mereka sms. Bahsanya renyah banget. Nggak salah kalau Irfan muji Ale. Mungkin memang Ale begitu sempurna. Beda sama aku yang rasanya terbatas banget.
“Re, kadang aku berpikir, kalau aku pengen….” Irfan tidak meneruskan kata –katanya karena aku sudah memotongnya dengan gurauan.
“Pengen putus?” tanyaku bercanda. Tapi dia mengangguk.
“Aku sering curhat sama Ale. Dulu sebelum sama kamu, aku nggak pernah curhat sama orang lain. Apalagi sama cewek. Baru setelah ketemu Ale aku mulai curhat. Soalnya dia bisa ngasih saran yang membangun banget. Dia selalu ngingetin aku, kalau jadi cowok harus prinsipil. Ya prinsipil. Dan prinsip aku untuk jatuh cinta adalah cuma satu kali saja. Dan itu adalah kamu. Jadi sekuatnya aku bakal mertahanin hubungan kita, betapapun pahitnya” Dia memandangku sambil tersenyum.
Memang pahit Fan. Pahit banget. Aku nggak akan siap untuk putus sama kamu. Aku jadi berpikir kalau Irfan suka sama Ale. Sedari tadi yang dia omongin Cuma Ale doang. Memangnya aku nggak pernah apa ngasih dia saran yang membangun? Nggak ngehargain banget. Ya minimal jaga perasaanku ngapa? Aku kan sensitif, seenaknya saja dia muji – muji cewek di depanku. Kemarin yang di sms aku masih maklumin. Tapi sekarang?
“Wah dia pasti asyik banget ya Fan? Umurnya sudah berapa?” Aku menutupi kekecewaan yang menohok perasaanku.
“Dia 19 tahun. Berpikirnya dah dewasa banget. Tapi nggak kaku. Dia asyik banget deh. Apalagi sikap humorisnya itu. Nggak bikin bosen” Irfan tersenyum, tidak memandangku. Tapi lebih tepatnya mungkin sedang membayangkan Ale.
“Dia cantik?” Tanyaku menahan mataku yang kian memanas.
Irfan mengangguk. Tuh kan…pasti Irfan suka sama Ale. Dia pasti mau mutusin aku. Aku takut dengan ketidakmungkinan yang sewaktu – waktu bisa menjadi mungkin. Mungkin sikap aku jauh dari Ale. Jauh dari kestandaran sikap cewek. Tapi memang aku nggak ingin jadi cewek standar yang bisanya itu – itu doang.
“Kenapa kamu nggak sama dia aja?” Kata – kata itu keluar juga dari mulutku. Irfan diam, menatapku, aku melihat nggak ada rasa bersalah sama sekali di pandangan matanya. Dia malah dengan santainya menjawab “Kan sudah ada kamu yang lain daripada yang lain”. Apa memang perasaan cowok sekebal itu? Aku nggak percaya, Irfan nggak merasa salah? Apa aku yang terlalu berlebihan menanggapi kata – kata Irfan? Nggak, aku nggak berlebihan. Perasaan nggak bisa dibohongi.
@@@
Minggu malam, aku sedang asyik nongkrong di depan computer ngerjain tugas. Besok aku sudah harus berangkat lagi ke sekolah. Tapi aku nggak konsen. Aku nggak tahu Ale seperti apa. Aku nyoba sms dia.
Met mlm, knlin aq Rere tmn Irfan
Dia srg crta ttg km. Keren deh!
Ktnya td mlm dia jg bgadang
Nunggu tlpn km?! Blz
Secepat smsku terkirim, secepat itu pula Ale membalasnya. Sungguh bisa aku terka dari gaya sms dia, dia begitu asyik. Sesuai dengan cerita Irfan.
Wah asyik…ale dpt tmn br
Hayoo tmn apa tmn?
Bnr cm ngaku tmn?Ga nyesel?
Nti klo ada yang lain ngaku
Lbh dr tm gmn?
Jujur aku membaca sms itu sambil tersenyum. Aku kagum, setegar itukah dia? Aku tahu kalau Ale itu suka sama Irfan. Kok aku bisa tahu? 6 bulan yang lalu aku sempat hampir putus sama Irfan. Penyebabnya datang dari aku. Aku langsung mutusin Irfan tanpa alasan. Ya waktu itu aku pikir nggak ada gunanya hubungan jarak jauh yang nggak ada konsekuensinya. Tapi selang tiga hari aku mutusin Irfan, kita baikan lagi alias jadian lagi setelah Irfan menjelaskan kalau hubungan kita tuh benar – benar ada konsekuensinya. Manusia, sesepele apapun harus punya cita – cita. Aku, kelas 3 sma nggak tabu menurutku kalau ngomongin pernikahan. Karena itu adalah ikatan suci. Dan nggak salah juga kalau aku sama Irfan punya cita – cita yang mulia itu. Walaupun pembicaraan itu masih terlalu dini bagi kami.
Irfan cerita kalau dia curhat sama Ale. Ale bilang kalau Irfan boleh mengambil keputusan sesuai kata hatinya. Tapi nggak selamanya kata hati harus dituruti. Yang jelas Ale ngasih saran supaya Irfan mengambil keputusan yang terbaik untuk kemaslahatannya. Dan akhirnya kita berdua jadian lagi. Setelah jadian, Irfan ngasih kabar Ale. Apa yang terjadi? Ale ngasih selamat sambil nangis. Nggak tahu tangisan apa? Yang jelas setelah itu dia langsung nutup telpon dan nggak pernah komunikasi sama Irfan lagi sampai akhirnya Irfan tahu dari Faizal, temannya.
Jadi nggak salah kan kalau aku punya konklusi, Irfan akan lebih bahagia kalau sama Ale?
Aku langsung sms Irfan setelah membaca balasan sms dari Ale.
Fan, td q dah sms Ale, bnr kt km
Dia asik bgt, aku ykn km akn lbh bhgia
Dgn Ale. Bkn sm cw’ yg nyebelin
Spt aq. Rere yg cm bs ngeluh
Cm bs blg cape’
Irfan mbalas dan entah kenapa aku langsung menumpahkan perasaanku dengan air mata. Aku sadar kalau aku nggak akan sanggup kehilangan Irfan.
Jjr Re, q tulus syg ma km.
Km jgn gmg gt lg ya…pliz
Km g spt Ale, krn km yg trbaik
Lht senyum km, aq bhgia
Aplg dgn klbhnmu yg lain.
Nggak sadar kalau aku malah semakin sedih membaca sms Irfan. Nggak mungkin aku sanggup menerima kenyataan kehilangan Irfan. Aku terlalu sayang sama dia.
Km th? Sdh lm aq ga nangis
N saat ini aq sdg nangis.
Km g th? Pujian km utk Ale
Lbh dr ckp utk skiti aq.
Aq ga mau km ninggalin aq,
Aq ga’ rela sm org lain.
Balasan Irfan selanjutnya melegakan hatiku. Aku yakin dia benar – benar sayang sama aku.
Pcya ma aq, km adlh anugrah
Buat aq. Q jg ga akn rela km
jd mlk org lain. Re, Allah Maha Tahu
B’doa agar Dia sll mjga kt.
@@@
Malam telah larut, aku sendiri bingung, nggak bisa tidur. Mau nelpin Irfan, pulsa limit. Tapi seperti ada kontak batin, dia nelpon aku.
“Re, maafin aku, aku nggak ada maksud apa – apa ngomongin Ale di depan kamu. Aku nggak sadar kalau itu nyakitin kamu” suara Irfan mengobati kegalauanku.
“Lain kali kamu jangan kayak gitu lagi ya Fan, aku tahu aku penuh keterbatasan. Tapi aku punya perasaan. Aku juga cewek yang sensitif, nggak bisa begitu saja nerima kata – kata kamu Cuma sekedar muji Ale”.
“Tapi aku sudah minta maaf. Kamu sayang sama aku?”
“Lebih dari yang kamu bayangkan mungkin Fan, Aku tidak sekedar sayang sama kamu dalam arti pacar saja. Tapi aku sayang dengan sikap kamu yang begitu baik sama setiap orang. Aku akan sulit menggantikanmu dengan orang lain. Mungkin juga nggak akan bisa”.
“Rere, I love you. You know that you’re my best choice. Not only in this world now, but also in the future, in the here after. Yeah…You’re my spirit. You never make me sad, but I always make you illfeel. Now, from the bottom of my heart, I wanna make you as someone who always beside me forever”.
“Ah…sok british lo!” Jawabku sambil tertawa.

I'm Sory

Senja bermega merah kunikmati ditepian rasa bebas dan bersalahku sama Dito. Sebenarnya aku tak menginginkan semua itu terjadi. Menyakiti seseorang sungguhlah bukan niatku. Mungkin aku yang terlalu egois dan terlalu gegabah menanggapi perasaanku yang selalu ingin menang sendiri dan merasa selalu benar. Hah…aku menghela nafas dalam – dalam. Memoriku menerawang pada kejadian dua hari yang lalu.
Saat itu aku sedang menjejali otakku dengan tumpukkan tugas dari sekolah. Walaupun malam itu adalah malam minggu, tapi aku bertekad ingin menyelesaikan tugasku, karena aku ingin refresh hari minggunya. Lagian selama empat hari aku akan dihadapkan dengan kegiatan sosial di luar kota, sehingga otomatis aku tidak masuk sekolah. Siang sepulang sekolah aku sudah mengatakan kalau malam ini aku nggak pengen ketemu, mau belajar. Dito bersikeras ingin menemuiku, walaupun aku sudah menjelaskan alasan mengapa aku tak ingin bertemu dengannya.
“Kenapa Al? yang ada di otak kamu itu cuma belajar, belajar dan belajar. Aku kamu anggap apa ? Aku udah sering ngalah menuruti semua keinginan kamu. Tapi kamunya selalu cuek sama aku” ucap Dito marah padaku.
“Lo ngungkit semua Dit? Kapan kamu pernah ngalah sama aku ? kapan kamu menuruti semua keinginanku? Cuma diajak ke perpustakaan aja kamu nolak. Sekarang saat aku bilang kalau aku nggak mau ketemu, kamu maksa, itu artinya kamu nggak ngalah sama aku” timpalku mengimbangi dia.
“Oke! Terserah kamu, mungkin kamu nggak secerdas kamu, jadi akunggak bisa terus ngikuti kemauan kamu untuk baca, belajar atau apalah yang kamu sebut dengan hobimu” suara Dito semakin marah.
“Ah ! bodo amat!” teriakku sambil berlalu.
Aku berusaha melupakan kejadian siang itu pada malam harinya. Ah…ternyata begitu mudah untuk dilupakan walau sebentar – sebentar aku memikirkannya, tapi seperti biasa CUEK. Kalau dipikir, putus aja kali ya? pikirku saat itu. Tapi apa gue nggak terlalu kejam kalau mutusin Dito cuma karena hal yang begitu sepele seperti itu. Mungkin perasaanku yang terlalu kebal dan nggak bisa mengerti perasaan Dito. Tapi memang diantara kita berdua nggak ada kecocokan, ego kita sama – sama keras. Padahal kita baru jadian satu bulan. Kata orang, kalau orang baru jadian itu bawaannya romantis terus. Tapi antara aku dan Dito rasanya nggak tuh. Malahan kita semakin sering bertengkar.
Tiba – tiba terdengar suara pintu depan diketuk. Aku pikir pasti teman ayah yang tadi nelfon dan bilang mau datang. Aku bergegas membuka pintu. Dan…bagiku ini adalah hal yang terburuk yang pernah terjadi dalam malam mingguku. Dito datang dengan membawa sekuntum bunga dan dia berucap maaf kepadaku. Rasanya perut ini mual dan ingin sekali memuntahkan isinya, hatiku rasanya gondok banget, adrenalinku langsung naik. Seandainya aku nggak ingat kalau aku sedang di rumah yang tentu saja aku ggak enak sama ayah dan ibu, aku pasti sudah memaki atau bahkan ngusir dia mentah – mentah. Untung aku masih sadar kalau aku ada di rumah.
“Ada apa ?” tanyaku ketus padanya.
“Jangan sewot dong Al, aku mau minta minta maaf sama kamu. Soal tadi siang, aku ngrasa aku yang salah. Selama ini aku nggak pernah ngertiin kamu” jawab Dito.
“Aku sudah maafin kamu kok!”
“Bener? Makasih…Al” jawab Dito begitu bersemangat.
Aku langsung berpikir bahwa malam inilah yang terbaik untuk meminta putus dari Dito. Walaupun mungkin keputusanku terlalu cepat tapi kuyakin inilah yang terbaik, bagiku maupun Dito. Aku mengajaknya masuk, dan tentu saja tamu adalah raja, aku buatin minum.
Aku ngajak dia ke ruang belajarku yang sekaligus adalah ruang perpustakaan pribadiku. Aku yakin Dito tak begitu suka kuajak kesini. Tapi itulah yang aku inginkan agar dia cepat pamit. Aku asyik mengerjakan tugas sekolah dan kubiarkan dia duduk gelisah di hadapanku. Rasanya aku ingin tertawa melihat dia yang seperti sudah nggak betah, dan semoga dia cepat berkata padaku bahwa dia sudah ingin pulang.
Hampir aku seperti menghitung tiap detik, tapi Dito nggak pamit – pamit. Aku sudah bosan menunggu dan rasa marahku padanya semakin memuncak. Akhirnya aku yang berbicara duluan padanya.
“Dit, kamu sayang sama aku?” tanyaku membuka.
“Ya iya dong Al!” jawab Dito sambil tersenyum padaku. Memuakkan.
“Kalau benar – benar lo sayang sama aku, bisa nggak…” ingin rasanya aku mengucapkan kata putus, tapi rasanya aku tidak sanggup. “Bisa nggak ngebiarin aku konsentrasi dengan pekerjaanku” aku melanjutkan kata – kataku, mengurungkan niatku untuk memutuskannya.
“Tapi Al, aku ke sini pengen ketemu kamu. Aku pengen ngejelasin semuanya sama kamu. Kenapa sih Al? kamu nggak bisa sedikit saja ngertiin perasaan aku?” Dito menjawab.
Heh, rasanya greget banget mendengar perkataan Dito. Aku menariknya keluar rumah. Aku ajak dia ke tempat dimana kita jadian tepatnya sebulan yang lalu. Aku duduk. Kami berdua sama – sama diam. Tapi otakku sedang berusaha keras untuk menata kata – kata yang tepat. Dit, aku minta maaf. Ah nggak cocok. Dit aku tahu hubungan kita nggak berarti apa – apa. Ah nggak pantas. Aha! Akhirnya ada juga yang bagiku pantas banget dan lumayan sopan.
“Dit, ingat nggak waktu kita jadian? Kamu bilang kamu bakal ngertiin aku, jaga aku…” aku mulai bicara. Dito mengangguk, memandangku. “Waktu itu aku bahagia banget mendengarnya.” Dito tersenyum padaku. Tapi semakin aku melihat senyumnya aku merasa muak.
“Alya aku juga ingat waktu itu kamu sampai nangis kan?” ucap Dito. Sialan! Batinku padanya. Masak dia buka kartu. Aku hanya mengangguk sambil menahan perasaan.
“Tapi Dit, kenyataannya?”
“Apa Al?”
“Kenyataannya lo nggak pernah ngertiin aku, lo ngak pernah jaga aku, nggak pernah merhatiin aku” aku emosi dan rasanya kata – kata itu keluar begitu saja alias bukan yang aku rancang.
“Alya!” Dito kaget mendengar perkataanku.
“Kamu nggak perlu heran Dit, aku paling benci dikekang, orang tuaku aja nggak pernah ngekang. Kamu? Aku cuma mau belajar Dit. Tugasku banyak. Empat hari aku harus nggak sekolah.”
“Gimana aku bisa tahu seabrek kegiatan kamu. Kamu nggak pernah ngasih aku waktu untuk tahu. Kamu selalu sibuk dengan urusanmu sendiri. Apa selama ini kamu juga pernah tahu apa saja urusanku? Apa saja masalahku? Enggak Al, nggak pernah. Dasar egois” aku nggak nyangka kalimat itu yang akan keluar dari mulut Dito.
“Apa penting Dit? Ada pentingnya ya kalau aku nanya kamu mau pergi ke mana sama teman – teman kamu? Selama aku sama kamu apakah kamu nggak berpikir untuk berubah? Aku ingin kamu berubah menjadi Dito yang sebenarnya. Bukan Dito yang urakan, bukan Dito yang merasa besar dengan nama gengnya.”
“Ah! Terserah lah. Aku memang nggak pernah bisa ngerti apa mau kamu” akhirnya Dito menjawab dan pergi meninggalkanku.
“Kamu memang nggak pernah ngerti apa mauku. Karena kamu nggak pernah mau tahu” aku berteriak. Tapi Dito sudah hilang ditelan keremangan malam. Aku kembali ke rumah menuju ruang belajarku. Marah, gondok, sebel, sedih, senang, bercampur jadi satu dalam benakku. Anehnya aku masih bisa konsentrasi melanjutkan mengerjakan tugasku. Bodo amat dengan semua yang baru terjadi.
***
Aku tersadar dari lamunanku tadi, nggak terasa ternyata sudah azan maghrib. Tanpa kusadari aku melamun hampir setengah jam.
“Alya ke masjid yok!” ajak Isna teman akrabku di OSIS yang saat ini sedang bersama melaksanakan kegiatan sosial dari sekolah di sebuah desa terpencil. Aku mengangguk dan berlari ke arahnya. Seusai salat, kami makan malam bersama di rumah kepala desa setempat. Aku memang pendiam, jadi aku hanya senyum kalau ada temanku yang membuat lelucon saat kami makan. Entah kenapa sejak aku melamun tadi pikiranku jadi terfokus pada Dito. Bahkan hingga saat ini.
“Kamu kenapa Al? dari tadi kulihat seperti ada yang sedang dipikirkan. Dito ya?” tanya Isna padaku selepas dari rumah pak kades. Aku mengangguk. “Sudahlah Al, pasti saat kamu pulang nanti sikapnya sudah berubah” hibur Asti padaku. Aku tersenyum, mungkin memang salahku kenapa aku mau jadi pacar Dito yang nota bene anggota geng yang sudah terkenal di sekolah dan suka bikin onar. Tapi aku ingin merubahnya, karena aku tahu dia sangat berpengaruh dalam geng itu.
Akhirnya saat tidur tiba. Dari tadi aku memang ingin merebahkan badanku, rasanya lelah banget seharian ini. Aku tertidur pulas setelah sebelumnya nelfon ayah sama ibu. Sekitar tengah malam aku terbangun karena handphone ku berdering.
“Halo, Assalamu’alaikum…” sapaku.
“Alya ya?” Tanya suara di seberang sana dengan tergesa – gesa.
“Iya” aku menjawab santai.
“Al, ini Adit teman Dito. Dito kecelakaan, dia terus mengigaukan nama kamu. Sekarang kamu di mana?” Tanya Adit.
Rasanya aku sudah tidak bisa bergerak lagi. Seluruh tubuhku lemas. Tak kuhiraukan lagi suara Adit yang kudengar dari handphone ku. Aku seperti setengah sadar, benar – benar seperti bermimpi ketika mendengar kalu Dito kecelakaan. Aku mulai menangis dan tak bisa kutahan sama sekali hingga sesenggukan. Suara tangisku menyebabkan Isna dan teman – teman cewek yang lain terbangun.
“Kamu kenapa Al?” tanya Isna panik melihat aku menangis.
“Dito, dia…” rasanya sulit sekali kukatakan karena tenggorokanku seperti tersumbat.
“Dia kenapa? Ngancam kamu?” tebak Isna.
“Dia kecelakaan, tadi Adit, temannya nelfon aku. Aku takut kalau semua ini gara – gara aku. Apalagi tadi Adit bilang kalau dia terus mengigaukan namaku. Aku harus ke sana Is.” Aku menceritakan tentang keadaan Dito pada Isna dan teman – teman yang lain. Isna memelukku dan menenangkan aku.
“Kamu boleh ke sana tapi besok saja ya, sekarang sudah tengah malam. Apalagi jalan yang dilalui adalah hutan. Pemukiman penduduk cuma ditemui delapan kilometer dari sini. Aku khawatir akan terjadi apa – apa.” Cegah Isna ketika aku memaksa untuk tetap pergi menjenguk Dito saat itu juga. Aku mencoba menuruti kata – kata Isna. Kemudian aku merebahkan tubuhku kembali. Tapi aku tetap nggak bisa untuk menahan sampai keesokan harinya. Aku takut sesuatu yang fatal bakal terjadi. Apalagi aku masih merasa bersalah pada Dito. Walaupun aku sempat benar – benar muak padanya, tapi aku toh pernah menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman dengannya. Jadi aku nggak mungkin membutakan mataku begitu saja untuk melupakannya. Mungkin sekarang Dito benar – benar membutuhkan kehadiranku.
Otakku masih berusaha keras untuk mencegah keinginan hatiku supaya pergi saat ini juga. Tiba – tiba handphone ku berdering lagi. Nomor yang sama, yang dipakai Adit kurang lebih setengah jam yang lalu.
“Hallo…” tenggorokanku tercekat begitu saja ketika menyapa panggilan tersebut.
“Ini Adit lagi. Please Al, kamu secepatnya ke sini. Keadaan Dito kritis banget. Dia sangat butuh kehadiran kamu” Adit memohon padaku. Aku tak menjawab. Langsung kututup panggilan itu. Keringat dinginku keluar deras. Aku langsung mengenakan jaket dan mencari kunci motorku. Tanpa pamitan pada semua teman – teman yang bersamaku. Aku pergi. Pikiranku benar – benar kalut, pamitan pun pasti tak diizinkan.
Aku mengendarai motor sendiri. Mencoba menerobos gelapnya malam dan dinginnya udara dini hari di tengah – tengah jalan yang berada diantara hutan lebat. Entah ada kekuatan dari mana, yang jelas dalam pikiranku saat ini hanya ada tentang Dito. Rasa bersalah dan takut kalau yang menyebabkan Dito kecelakaan adalah aku. Aku mngendarai motorku lebih kencang lagi. Tanpa terasa sudah separuh dari jalan yang dipagari hutan lebat kulalui. Tapi…rasanya aku ingin menangis dan ingin berteriak sekeras mungkin agar ada yang mendengarku. Bensinnya habis. Motorku tak dapat berjalan lagi. Mustahil untuk melanjutkan perjalanan tanpa kendaraan, pasalnya baru sepertiga perjalanan kutempuh. Aku hampir putus asa, apalagi aku berada seorang diri di tengah jalan yang dibentengi ribuan pohon. Aku merasa was – was.
Lalu tiba – tiba aku ingat kalau aku bawa handphone, kuraba saku celana, nggak ada, aku mulai panik, kubuka tas dan sungguh lega ternyata ada di dalam tas. Setidaknya dengan handphone ini aku dapat menghubungi seseorang. “Oh Good!” aku terperanjat, nggak ada signal sama sekali. Aku semakin panik, segala pikiran yang buruk tentang sesuatu yang agak mustahil merasuki otakku. Jangan – jangan ada sesuatu yang bakal menimpaku di tengah – tengah jalanan ini, atau juga jangan – jangan Dito nggak bisa bertahan. Walaupun aku mencoba menguatkan hatiku, tapi teramat berat.
***
Hampir dua jam aku berpikir keras dan mondar – mandir siapa tahu ada signal. Di sebelah barat, nggak ada. Sebelah timur, juga nggak ada. Sebelah utara nihil. Sebelah selatan, pupus sudah harapanku. Tapi, tiba – tiba ada deru suara motor dari arah utara. Aku takut dan buru – buru bersembunyi di balik pohon. Benar saja motor tersebut berhenti tepat di depan pohon dimana aku bersembunyi. Nafasku sudah tak karuan, apalagi pikiranku saat ini. Ah…penat rasanya ingin mati saja daripada mengalami sesuatu yang menakutkan.
“Alya…! Kamu dimana Al?” panggil seseorang.
Otakku mulai bekerja, berpikir suara siapa tadi yang memanggil. Setelah bolak – balik mikir disela – sela kepanikan, “Angga! Ya itu suara Angga” gumamku lirih setelah mengetahui kalau suara yang kudengar adalah suara Angga, ketua OSIS yang merupakan ketua rombongan dari acara kegiatan sosial yang aku ikuti.
“Alya…ini aku Angga, kamu dimana?” suara itu berulang.
Aku keluar dari persembunyianku. Mencoba menajamkan mataku melawan hitamnya malam supaya aku dapat memastikan bahwa suara tadi adalah suara Angga. “Syukurlah” ucapku lega ketika orang yang memanggilku benar – benar Angga.
“Angga” panggilku ketika aku berada di hadapannya.
“Alya, kenapa kamu nggak pamit? Lalu kenapa juga kamu berhenti di tengah – tengah jalan kayak gini? Bahaya Al…” Angga khawatir.
“Bensinku habis, aku nyoba hubungi Isna tadi tapi nggak ada signal di sini. Tadi aku sembunyi takut kamu tukang begal dan bakal membunuh aku” jawabku jujur.
“Harusnya kamu beritahu aku atau yang lain kalau mau pegi. Kita di sana itu panik banget mikirin kamu” ucap Angga sambil memegang pundakku.
“Maaf Ngga, tapi ini darurat. Aku pikir percuma saja aku pamit, pasti nggak akan diizinkan. Sekarang antar aku ke rumah sakit Ngga, aku nggak mau terlambat” pintaku pada Angga.
Akhirnya Angga mengantarku.
***
Azan subuh sudah berkumandang ketika aku tiba di rumah sakit. Aku langsung bertanya pada resepsionis. Di depan kamar tempat Dito dirawat terlihat sepi. Aku berjalan takut – takut. Kuintip dari pintu, di dalam begitu banyak orang. Orang tua Dito dan teman teman Dito se genk. Aku masuk dan semua mata tertuju padaku. Kulihat mama Dito menangis di pelukan papa Dito. Teman – temannya pun diam. Aku takut, was – was, bahkan aku tidak menghiraukan Angga yang mengantarku. Aku larut dalam perasaanku sendiri.
Ketika aku melihat Dito terbaring di bangsal dalam keadaan yang sangat memperihatinkan, aku tak kuasa menahan air mataku. Aku menghampiri Dito dari dekat, di sebelahnya. Dito tak sadarkan diri, tapi sesekali kudengar dia mengigaukan namaku. Air mataku mengalir semakin deras. Kupegang tangan Dito, aku berdoa agar dia segera sadar dan membuka matanya melihatku ada di sampingnya. Rasanya begitu lama aku menunggu Dito sadar, tapi kurasakan di telapak tanganku seperti suatu sentuhan. Jari Dito bergerak, dia sadar.
“Dito” ucapku lirih hampir tak terdengar bahkan oleh diriku sendiri.
“Al…ya” panggil Dito lemah. Belum sempat kujawab orang tua Dito sudah menghampiri. Aku biarkan Dito memegang tanganku, belum pernah kurasakan dia begitu kuat memegang tanganku seperti saat ini.
“Papa, Mama, Alya” ucap Dito
Aku mengangguk pelan sambil terus menangis. Mama dan papanya memeluk.
***
Walaupun keadaan Dito masih begitu kritis, tapi semua yang ada di situ termasuk aku merasa lega karena dia sudah sadar. Tapi tiba – tiba saja detak jantungnya lemah dan dia menggenggam tanganku semakin kuat.
“Al, maaf atas semua” ucapnya padaku sambil memandangku. Aku mengangguk miris melihat betapa sulitnya dia berbicara.
“Aku sayang sama kamu” itulah kata terakhir yang aku dengar keluar dari mulut Dito setelah dia sadar. Karena setelah itu dia kembali tak sadarkan diri.
Tim dokter langsung menanganinya, aku bahkan nunggu sampai siang. Hampir jam sepuluh siang ketika tim dokter keluar dari kamar rawat Dito. Benar – benar seperti petir yang menyambarku di siang bolong ketika kudengar bahwa Dito telah kembali ke pangkuanNya. Kakiku seperti lemas tak bertulang. Aku langsung terduduk dilantai tak menghiraukan teman – teman Dito yang menenangkanku. Aku merasa begitu bersalah, merasa bahwa yang menyebabkan semua ini adalah aku. Ternyata memang kata – kata yang terakhir Dito ucapkan benar – benar kata yang terakhir kudengar darinya. “Dito, maafkan aku” batinku. Setelah itu aku tak tahu apa yang terjadi karena aku pingsan. Bahkan aku tidak ikut ke pemakaman Dito. Yang aku tahu setelah aku sadar, banyak sekali orang di sekelilingku, mereka teman – temanku dan juga teman – teman Dito. Aku tak bisa berkata apapun karena aku masih teringat terus dengan Dito yang belum lama pergi.

***

Mimpi (Ketika Ajal Tak Pernah Berkompromi Dengan Waktu dan Rasa Takut)

Aku tersentak. Kaget. Tidak terlalu heboh sih, cuma si Bundel yang lorek abu – abu melompati tubuhku. Kucing peliharaanku itu seenaknya saja jumping. Padahal aku lagi asyik – asyiknya menikmati tayangan sinetron bersama ibu. Ah...dasar kucing! Nggak tahu orang lagi serius.
“Kau dilangkah kucing Mi?” tanya ibu padaku dengan raut wajah yang menurutku...aneh, aneh banget.
“Iya, kenapa memangnya Bu?” jawabku polos dan balik bertanya.
“Tidak apa- apa, makanya jangan sambil tiduran gitu” lalu ibuku tak berkata – kata lagi. Aku pun kembali enjoy menikmati sinetron favoritku itu.
Aku anak bungsu dan hanya punya satu kakak perempuan yang sekarang sedang kuliah. Di rumah aku tinggal bersama Bapak, Ibu, dan kakek yang biasa aku panggil Mbah Kakung.
Seperti biasa, setiap pagi ketika ayam berkokok dan cahaya putih di langit sudah mulai tampak, rumah ini mulai hangat dengan kesibukan penghuninya. Ibu sedang sibuk menanak nasi di pawon dan beriap – siap masak, juga menjerang air untuk mandi Mbah. Bapak pun sudah sibuk dengan ayam – ayamnya. Aku tak kalah sibuknya, setelah sholat subuh dan tadarus tadi, aku membaca buku pelajaran sebentar. Habisini aku akan membantu bapak sebentar makani ayam. Entah kenapa aku lebih suka berbaur dengan ayam – ayam yang diternakkan Bapak, berbaur dengan kotoran – kotorannya dan aku senang membersihkan kandang daripada masak di dapur bersama Ibu. Jika Mbah menegur, aku hanya menjawab “ doakan Umi menjadi insinyur ya Mbah”, kemudian akan kulihat Mbah tersenyum dan tangannya akan mengelus kepalaku.
Aku telah selesai mandi. Kukeluarkan sepeda ontel ke halaman. Ketika akan masuk kembali ke kamar untuk mengambil tas, samara – samara kudengar percakapan Ibu dan Mbah Kakung.
“Makanya Nur, anak itu dijaga yang hati – hati” suaraMbah Kakung terdengar sedikit murka.
“Wong Nuning ndak tahu Pak, kejadiannya tiba – tiba” takut – takut ibu mengeluarkan suara. Pernah juga ibu dimarahi sama Mbah karena waktu itu mengungkapkan niatnya untuk merenovasi rumah yang kami diami.
“Pokoknya sekali tidak ya tidak Ning, ingat umur rumah ini sudah tua. Terlalu beresiko bila kau mau merubahnya. Penunggunya pasti akan marah” Mbah berkata dengan suara keras.
“Tapi bukan merubah Pak, hanya memperbaiki bagian yang dirasa perlu. Jika tidak diperbaiki malah akan lebih beresiko karena banyak tiangnya yang keropos dimakan rayap” tapi lagi – lagi ibu dibentak. Sejak saat itu aku tak pernah mendengar lagi ibu menyampaikan niatnya tersebut. Apalagi Bapakku, aku belum pernah mendengar beliau menyampaikan uneg – unegnya pada Mbah. Jika berbicara pada Mbah juga dengan nada yang sangat halus dan hati – hati.
Diam – diam aku menguping diskusi Mbah dan Ibu pagi ini. Kutempelkan telingaku pada dinding kamar yang terbuat dari kayu yang kian hari kian termakan usia.
“Dia itu cucu yang paling aku sayangi. Biarpun ada Nurul mbakyunya, tapi Umi yang paling aku sayangi” ucap Mbah. Aku tak mendengar ibu bicara dan sepi, mereka tidak bicara lagi.
Aku tak meneruskan aksi pengupingan itu, biarlah apapun yang dibicarakan tadi, mungkin memang tentangku. Biar nanti kutanyakan pada Ibu.
Aku pamit. Kukayuh sepedaku menuju sekolah yang jaraknya kurang lebih 3 kilo dari rumahku. Bersama teman – teman, aku melewati jalan desa yang di kanan kirinya terdapat kebun jeruk dan melati. Kadang – kadang ketika musim panen jeruk tiba, kami diberi jeruk oleh pemiliknya. Satu – satu tiap anak. Luar biasa bahagia ketika kami ulurkan tangan untukmenerima jeruk tersebut. Biasanya ketika pulang sekolah kami memang sudah benar – benar haus dan lapar. Hal ini tak mungkin bisa kulupakan dan tertanam di memoriku selama hayat.
“Pak tadi malam Umi mimpi ketemu almarhum Mbah Putri” aku bercerita pada Bapak ketika bersama – sama dengan beliau membersihkan kandang, minggu pagi.
“Wah...seneng dong Mi, disun ndak sama Mbah?” Bapakku yang senang bergurau menanggapi.
“Ya iya Pak, wong Umi sampai sungkem segala. Soalnya mimpi Umni ketemu Mbah Putri tadi malam karena Umi nikah.
“Kecil – kecil kok ngimpinya nikah” bapakku tertawa.
“Wong hanya mimpi” jawabku.
Tiba – tiba Mbah Kakung muncul dan bertanya padaku apa yang tadi aku perbincangkan dengan Bapak. Kujawab seperti yang kuceritakan pada Bapak. Mata cekung Mbah yang sudah hampir enam lima itu membelalak hampir melompat keluar. Pipi kempotnya menegang. Kemudian Mbah masuk ke dalam rumah dan memanggil ibu.
“Kenapa sih Pak, akhir –akhir ini Mbah sering marah sama ibu? Tanyaku polos.
“Ndak apa – apa Mi, Mbahmu itu kan sudah usia lanjut, jadi maklum saja lah!” jawab Bapak sambil mengelus kepalaku yang terbalut jilbab kaos.
“O iya Pak, kemarin surat kiriman dari Mbak Nurul datang. Tapi Umi lupa belum memberitahu Bapak sama Ibu. Masih rapi di tas Umi” aku memberitahu Bapak tentang kedatangan surat Mbakyuku , Nurul Fatimah, yang saat ini sedang kuliah di STAN. Alhamdulillah sudah tingkat tiga dan sebentar lagi wisuda. Setelah itu aku tidak tahu Mbak Nurul akan ditugaskan di mana. Tapi yang membuatku bangga adalah dia sudah janji akan membiayai kuliahku setelah aku lulus dari Aliyah, insya Allah setenagh tahun lagi.
“Aduh, kamu kok baru bilang Mi? Bapak sudah kangen sekali sama Nurul, ayo mana suratnya?” Bapak meletakkan sapu yang sedari tadi beliau genggam dan menarik tanganku, kemudian melangkah ke dalam rumah.
Di rumahku sedang sangat ramai. Beberapa ibu tetangga membantu masak. Nanti malam akan ada yasinan dalam rangka memperingati nyedekah atau nyewu dina almarhum Mbah Putri. Entahlah kenapa Bapak sama Ibu yang mengerti syariat islam kok sampai mengadakan nelung dina, mitung dina, matang puluh, nyatus, dan nyedekah. Suatu acara selamatan untuk orang yang sudah meninggal. Mungkin karena adat desaku yang seperti itu. Jikalau ada keluarga yang tidak mengadakan acara selamatan itu maka akan dianggap tidak menghormati arwah. Begitulah kiranya pemahaman Mbah Kakung juga.
Aku sendiri heran, entah norma sosial apa yang mereka terapkan. Masak kalau ada orang mati yang tidak diselamati, banyak warga yang bilang “ pengen mlarat apa? Arwah kok ndak dihormati!” Ah...warga di sini terlalu percaya takhayul. Aku senang bila bulan Ramadhan tiba. Karena biasanya ada anak – anak dari pesantren yang mandah di sini selama hampir satu bulan. Setidaknya mereka akan memberi penegertian kepada masyarakat di desaku tentang agama dan juga mengajari anak – nak serta remaja mengaji Al- Qur’an.
Aku menghampiri Mbah Kakung yang sedang menikmati lintingan tembakau. Dihisapnya dalam – dalam kemudian dikepulkan asap denagn bau tembakau dari mulutnya yang sudah ramping karena giginya tinggal beberapa. Walau kadang beliau aneh, tapi Mbah KAkung adalah sosok yang aku kagumi. Mbah rajin beribadah, Tapi anehnya kenapa Mbah masih percaya dengan hal – hal yang berbau takhayul. Masih ingat kan ketika ibu menyampaikan rencananya untuk merenovasi rumah ini? Mbah bersikukuh tidak memperbolehkannya karena beliau bilang rumah ini ada penunggunya. Ya... bagiku memang ada penunggunya yakni Aku, Bapak, Ibu, Mbah Kakung, dan Mbak Nurul kalau kebetulan sedang di rumah. Dulu ada juga Mbah Putri sebelum beliau kembali ke rahmatullah.
Sebelum aku sampai di tempat duduk Mbah Kakung, beliau sudah mengetahui kedatanganku. Kemudian suara tuanya memanggilku. Aku duduk di depan beliau.
“Cah ayu, kamu ada kejadian aneh ndak setelah ngimpi jadi manten minggu lalu?” Mbah memandangku lekat – lekat. Kuyakin ada suatu hal yang serius.
“Maksud Mbah?” tanyaku menyiratkan ketidakmudenganku.
“Waktu itu ibumu bilang kalau kamu dilangkahi sama kucing sewaktu nonton TV. Kamu juga bercakap sama bapakmu kalau kamu ngimpi ketemu Mbah Putri karena dalam mimpi itu kamu jadi manten” jelas sosok enam puluh lima tahun yang masih saja menikmati lintingannya dan tidak menghiraukan aku yang tidak nyaman dengan asapnya.
“Iya Mbah, tapi Umi tambah tidak paham degan pertanyaan Mbah. Tapi selama ini Umi ndak pernah ngalami hal – hal yang aneh “ aku justru bertambah bingung dengan pertanyaan Mbah.
“Ya syukur lah Mi, kalau kamu ndak ngalami yang aneh – aneh ya sudah, sekarang bantu ibumu nyiapi tempat” suara tua Mbah terdengar lega tapi justru membuatku penasaran. Masak hanya soal dilangkahi kucing sama mimpi ketemu Mbah Putri saja kok jadi masalah buat Mbah.
Sepulang sekolah keesokan harinya aku baru mengerti kenapa akhir – akhir ini Mbah berlebihan memperhatikanku. Aku baru menyadari ternyata Mbah Kakung terlalu memaknai apa yang aku alami. Tentang kucing yang melangkahiku, tentang mimpi jadi manten. Ah...Mbah terlalu paranoid. Beliau terlalu percaya takhayul. Padahal, setelah kejadian itu pun aku sama sekali tidak pernah mengalami peristiwa aneh. Aku baru tahu kenapa Mbah sering uring – uringan terhadap ibu. Bicara ini itu tentang aku. Tentang cara memperhatikan cucu. Mbah, Mbah, kau begitu sayng padaku sampai – sampai kepercayaanmu itu membuatmu tak tenang memikirkanku.
Menurut kepercayaan orang – orang di desaku kalau ada orang yang dijatuhi cicak, maka orang itu akan sial. Kalau ada kupu – kupu yang masuk rumah, mereka percaya kalau akan ada tamu berkunjung. Jika mimpi melihat ular, katanya akan dapat rejeki. Nah, apa yang akau alami yakni kelangkahan kucing dan mimpi jadi manten...menurut kepercayaan orang – orang termasuk Mbah Kakung, katanya...tanda – tanda kalau kita sudah dekat dengan ajal alias mati! Setidaknya begitulah kata – kata sahabatku, Ratmi, yang menjelaskan tentang semua itu padaku saat di sekolah.
Aneh! Bagiku benar – benar sesuatu yang diluar nalar. Ada – ada saja kepercayaan mereka itu. Bukankah rezeki, jodoh, dan kematian itu adalah rahasia Allah swt. Kita hanya menjalankan apa yang Dia perintahkan dan menjauhi laranganNya.
Aku sudah berkeliling rumah, tapi begitu sepi. Kuketuk pintu dan kuucap salam beberapa kali, tapi tak ada sahutan dari dalam. Biasanya jam pulang sekolah seperti ini Ibu di rumah. Bapak juga biasanya sudah pulang dari sawah. Kenapa sih?
“Mi, ada titipan kunci dari ibumu. Ibu sama Bapakmu tadi nyewa mobil buat ngantar Mbahmu ke rumah sakit. Tiba – tiba tadi Mbahmu mengerang kesakitan” jelas Pak Roso, tetanggaku, sambil menyerahkan kunci rumah. Aku masih agak kurang percaya kalau ibu sama bapak sedang mengantar Mbah ke rumah sakit.
“Matur nuwun Pak” ucapku sambil menerima kunci rumahku.
Langsung kuganti seragam sekolahku dengan baju biasa. Setelah itu, kembali kukayuh sepedaku menuju terminal. Aku akan menyusul ke rumah sakit. Kata Pak Roso tadi, Mbah dibawa ke rumah sakit islam. Terminal masih cukup ramai. Kutitipkan sepedaku di salah satu toko yang aku kenal baik pemiliknya adalah orang tua salah satu sahabatku di Aliyah.
Kulangkahkan kakiku cepat disepanjang lorong rumah sakit yang hanya ada bau obat, membuatku mual. Tempat seperti ini kok laris habis. Uh...sempat – sempatnya ditengah – tengah kepanikan aku masih berpikir tentang rumah sakit ini. Kulihat ibuku dengan kerudung birunya duduk di samping Bapak. Semakin kupercepat langkah.
“Ada apa Bu?” tanyaku tak sabar ingin tahu kronologi yang sebenarnya.
“Mbahmu tiba – tiba mengerang kesakitan” suara ibu terdengar lemah ditelingaku. Bapak hanya diam. Aku mengintip ke dalam sebentar. Dokter sedang memeriksa keadaan Mbah. Ah...wajah Mbah tampak tenang. Aku tak melihat tanda – tanda sakit. Selama ini Mbah juga tak pernah sakit. Jangan – jangan....
Dokter yang memeriksa kondisi Mbah keluar. Aku langsung mengikuti ibu dan bapak menghampirinya.
“Maaf Bu, kami sudah berusaha” suara Dokter tertahan.
Sekitarku gelap.
Aku hanya mampu menelan ludah dan membiarkan tangisku berurai. Mbah yang begitu menyayangiku. Melebihi sayangnya pada Mbak Nurul. Mbah yang begitu memperhatikan keselamatanku. Mencemaskan kematianku, tapi ternyata ajal itu telah menjemputnya lebih dulu. Mbah kini telah mempunyai rumah abadi di sana. Di bawah gundukan merah yang baru saja kutinggalkan.
Mbah, apakah saat kau mengerang sakit, kau sedang menyaksikan malaikat Izrail sedang mengahamparkan kain kafan untukmu?

Rabu, 12 November 2008

Feel

Barangkali rasa cinta merupakan suatu anugerah yang membahagiakan bagi sebagian orang. Mencinta dan dicinta adalah fitrah manusia. Sebenarnya aku benci bercerita tentang cinta yang tanpa arah. Karenaa rasa cinta ini membuat aku tersiksa. Dia tak pernah tahu kalau aku mencintainya. Cinta…cinta! Kenapa sih pakai membuatku hampir gila? Padahal seharusnya aku tak boleh seperti ini. Melamun, membayangkan seandainya dia tahu, bahkan kadang – kadang aku menangis membayangkan teganya dia yang tak pernah mengerti perasaanku. Padahal sering dia menyapa aku, bertanya keadaanku, tapi justru semua itu membuatku semakin sakit. Sungguh sakit serasa tercabik kenyataan yang tak bisa aku hadapi.

Seperti hari ini aku pun merasa sakit melihatnya bercanda dengan teman – teman ceweknya di depan kelasnya. Dia terlihat begitu bahagia. Tapi aku? Ah…dia begitu tega padaku. Tapi kalau aku pikir – pikir dia memang nggak salah, toh dia nggak tahu kalau aku mencintainya. Aku memang benar – benar bodoh diperbudak rasa yang menggilakan ini.

“Ta! Boleh minjem buku PR lo nggak?” pinta Tia teman super akrabku. Soalnya dimana ada aku pasti ada dia, begitupun sebaliknya. Namun aku tak pernah menceritakan kalau aku suka sama Fandi anak IPA 1. Bukannya nggak percaya sama teman tapi hati orang siapa tahu. Aku berusaha menyimpan perasaan ini sedalam – dalamnya. Ibaratnya di dasar hati. Biarpun benar – benar menyiksa, tapi aku berusaha menikmatinya.

“Ambil di tas gue” jawabku singkat.

“Lo ngelamun lagi ya? Hobi kok ngelamun! Kalau ada sesuatu yang bikin lo nggak konsen atau bikin lo bingung, cerita dong sama aku. Kita kenal kan sudah lama. Bukan kemarin – kemarin Ta! Bukan sehari dua hari, tapi sudah hampir dua tahun kita selalu bareng” saran Tia padaku.

“Nyantai aja lagi…gue bukan lagi ngelamun tapi lagi merenung. Lagian kalau lagi ada masalah gue pasti bakal cerita sama lo” jawabku menutupi yang sebenarnya.

“Ya udah…tapi bener kan nggak ada apa – apa?”

“Bener! Swear Baby!” jawabku lagi sambil mencubit pipi Tia karenaa gemas. Habisnya dia nanya kayak wartawan aja. Sepeninggal Tia dari tempat dudukku, aku kembali menatapi kelas Fandi, tapi ternyata dia sudah nggak terlihat. Ternyata guru juga sudah masuk kelas gue. Ah…hilangin dulu tentangFandi, sekarang konsen sama pelajaran.

Sepulang sekolah ketika aku sedang menuju perpustakan, ada suara memanggil namaku. Ketika aku menengok, ternyata itu adalah Fandi. Kaget juga sih! Tapi aku berusaha nggak salting biar nggak dikirain yang tidak – tidak.

“Ada apa Fan?” tanyaku akrab dengan salam renyah.

“Ta, bisa nggak antar aku ke toko buku. Lo kan hobi baca, gue mau cari referensi buat bikin makalah” pintanya padaku.

“Wah kata siapa gue hobi mbaca?” aku mencoba bercanda. Padahal memang kenyataannya sejak aku menyukai Fandi hobiku berubah menjadi melamun.

“Vita…Vita ternyata lo masih sama seperti waktu kelas satu,suka merendah. Ternyata jagonya ilmu padi. Jelas – jelas lo kutu buku. Makanya gue mau minta tolong sama lo. Please ya…!” Fandi memohon sambil menarik aku ke tempat parkir. Aku menurut saja, bagiku kalau melihat Fandi senang, ya aku ikut senang juga.

Hampir dua jam aku ngantar Fandi muter – muter book store buat cari referensinya. Akhirnya…nemu juga buku yang dicari.

“Makasih ya Ta! Sudah nemenin aku, nyariin buku yang tepat. Sebagai tanda terima kasih gue ke lo, gue mau traktir lo. Mau kan?”

“Bisa…bisa yang penting gue dianterin pulang dan kalau bisa makan di warung soto yang dekat sekolah kita aja ya?! soalnya sudah lama aku nggak makan soto di sana” pintaku.

“Ta, kamu tahu Natan kan?” Tanya Fandi padaku ketika sudah sampai di tempat makan. Aku mikir sebentar, kayaknya aku sudah pernah dengar nama itu. Tapi siapa ya?

“Natan siapa?” tanyaku santai dan tak begitu terobsesi siapa Natan. Karenaa hari ini aku bahagia. Setidaknya bisa bersama Fandi walau sekejap.

“Natan yang biasa sama aku kalau di sekolah” jawab Fandi.

“O…Jonatan! Kirain siapa, memangnya ada apa?”

“Bener mau tahu?”

“Ah…Nggak lah, Nggak penting. Lagian nggak ada hubungannya sama aku” jawabku cuek.

Selesai makan aku langsung pulang diantar sama Fandi. Ya…hitung – hitung hari ini dewi fortuna sedang berpihak pada gue. Gue bersyukur banget, karenaa gue nggak bakal tahu kapan lagi gue bisa bareng sama dia, dapet ucapan terima kasih dari dia. Karenaa setahu gue, bukan hanya gue yang suka sama dia. Tapi banyak cewek lain yang menyukai Fandi karenaa dia baik, supel, smart, dan tentu saja coker.

Malamnya aku nggak bisa tidur, terus membayangkan moment tak terlupakan bersama Fandi tadi siang. Memang sepertinya terlalu berlebihan apabila kuanggap pergi ke toko buku dan makan soto bareng aja moment tak terlupakan. Tapi pikir aja deh, biarpun Cuma dikasih senyum sama orang yang kita sukai, pasti itu kita anggap sebagai suatu yang luar biasa.

Ringtone ponselku berdering. Wow! Fandi nelfon. Bakal ada titik terang nih! Pikirku terbang.

“Iya Fan?”

“Malem Ta! Belum tidur kan? Pasti lagi belajar, Vita gitu loh!” ucap Fandi.

“Gue belum tidur, tumben nelfon, ada yang penting?” tanyaku penasaran. Karenaa ini pertama kali Fandi nelfon aku, biasanya paling – paling sms, itu pun kalau nanya PR.

“Iya Ta, ini ada temen gue yang pengen ngomong sama lo!” jawab Fandi sambil tertawa. Tiba – tiba suara sudah berubah bukan suara Fandi. Sebenarnya aku agak akrab dengan suara ini tapi siapa ya?

“Malem Ta! Sori ganggu” Sapa suara itu.

“Ini siapa sih?” tanyaku penasaran.

“Wah…kamu nggak kenal sama suaraku ya? Ini Natan! Jonatan Apriansyah” jawab suara yang ternyata adalah suara Jonatan, teman Fandi yang sudah cukup aku kenal. Sebenarnya dia memang termasuk coker, supel, baik, dan juga smart. Tapi bagi gue yang memenuhi criteria itu Cuma Fandi. Entah kenapa kalau tentang Fandi semuanya terasa terbius bagiku. Tak sadar untuk memuja dan mencinta.

“O…kamu tumben ada apa? Nggak ada angin nggak ada hujan kamu nelpon. Pakai nomernya Fandi lagi. Kamu memang di rumah Fandi apa?”

“Iya gue tidur di rumah Fandi. Ini lagi ngerjain makalah. Ta…!”sapa Natan lagi.

“Iya…!”

“Besok pulang sekolah kamu ada acara apa nggak?”

“Nggak!” jawabku singkat.

“Mau nggak ke Perpustakaan Umum? Aku tungguin disana” ajak Natan.

“Boleh…kebetulan aku juga mau ngembaliin buku” aku menerima ajakan Natan. Akhirnya telpon ditutup. Tanpa memikirkan apa maksud Natan, aku beranjak ke tempat tidur,sudah ngantuk. Apa yang akan terjadi besok, ya…biarlah terjadi. Paling – paling nggak beda kayak Fandi, minta dicariin buku. Memoryku berangsur – angsur membuyar, dan aku terlelap dalam buaian dan dekapan sang malam yang kan menemani hidupku malam ini. Aku berharap semoga besok perasaanku untuk Fandi telah hilang sehingga aku tak selalu merasa tersiksa dan terhantui bayangnya setiap detik dalam nafasku.

Pulang sekolah aku terus menuju perpustakaan umum yang terletak di depan sekolahku. Ternyata Natan memang sudah ada di sana. Dia juga tidak sendiri, tapi bareng sama Fandi, dan yang aku aneh sudah ada Tia, itu lho teman akrabku. Dari kejauhan kupandangi Tia dan Fandi yang begitu akrab bercerita. Rasanya aku iri yang tak bisa seperti itu pada Fandi. Tia melambaikan tangan padaku. Kubalas lambaiannya dengan senyum untuknya, Fandi dan juga Natan yang juga ikut melambai ke arahku.

“Ada apa nih…? Tumben banget ngumpul kayak gini!” Perasaanku nggak enak. Takut kalau hari ini aku bakal dapet berita buruk dari mereka. Jangan – jangan Fandi mau ngabarin kalau dia sudah jadian sama Tia, Karenaa aku lihat tadi mereka berdua bercerita begitu akrab.

“Aku nganterin Natan, katanya da pentingan sama kamu” jawab Fandi sambil tersenyum, menampakkan kebahagiaan terpancar dari arti senyum itu.

“Kalau aku tadi diajak sama mereka berdua, katanya disuruh nemenin kamu” jelas Tia sambil menunjuk Fandi dan Natan. “ Eh…gue mau baca – baca dulu. Katanya Natan mau bicara penting sama kamu. Takutnya gue ganggu” ucap Tia sambil beranjak berdiri dari tempat duduk. Fandi pun melakukan hal yang sama. Ternyata dia mencari tempat baca yang berlainan denganTia. Hatiku agak lega, setidaknya disaat aku penasaran ini aku tak merasa sakit melihat kedekatan Tia sama Fandi.

“Ta!” ucap Natan memecahakn kediamanku.

“Ya!” jawabku rada salting juga sih…karenaa tak biasanya Natan ngajak aku bicara. Cuma berdua lagi. Oh My God I hope no mistake! Doaku saat ini.

“ Sebelumnya Gue minta maaf sama lo. Mungkin lo kaget tiba – tiba gue yang nggak begitu akrab sama longajak lo ke sini. Gue tahu tentang lo dari fandi. Semakinaku Tanya sama dia, aku semakin tertarik sama kamu. Sekarang gue pengen ngugkapin perasaan gue sama lo. Semua persepsi gue sama lo, rasa suka gue sama lo. Ta mau nggak lo jadi cewek gue?” To teh point Natan berujar seperti itu. Terang aja gue salting banget. Semua diluar bayangan gue. Dan ini juga bukan yang gue harapin. Tentunya yang aku harapin berkata seperti ini padaku adalah Fandi. Sekarang saat semuanya jelas, bahwa kenyataan berkat lain, Fandi tak menyukaiku. Dia nanya semua tentang aku, karenaa dia solider pada Natan. Ah…rasanya hatiku semakin hancur.

“Natan, makasih banget, gue seneng kalu lo suka sama gue. Tapi gue belum bisa ngasih jawaban sesuai harapan lo, karenaa gue menyukai orang lain. Gue takut kalau gue nerima lo, gue takut kalau lo cuma gue jadiin pelarian perasaan gue. Jadi sory banget” Jawabku sepelan mungkin, mencoba mengatasi perasaanku dan juga perasan Natan.

“Gue yang seharusnya minta maaf kok Ta! Gue nggak tahu diri, seharusnya gue nggak langsung bilang ke lo. Seharusnya gue konfirmasi dulu, ada nggak cowok yang lo suka. Tapi gue berharap dengan kejadian ini, kita bisa menjadi teman dan bisa berbagi perasaan” Jawab Natan begitu dewasa membuatku merasa begitu bersalah.

Aku tak kuasa menahan tangisku,tak peduli begitu banyak orang yang melihatku, aku berlari keluar ruang Perpustakaan. Fandi dan Tia tak melihatku karenaa tempat duduk mereka terhalang oleh sekat. Natan mengejarku.

“Vita, gue tahu gue salah, tapi gue nggak mau lo nangis, gue merasa bersalah banget kalau lo seperti ini” suara Natan terdengar begitu panik. Aku jadi merasa iba, rasanya dia begitu tulus. Otakku berpikir begitu keras mencari jalan keluar yag tepat agar tak menyakitkan bagiku ataupun Natan.”Tan beri aku waktu untuk berpikir, aku mohon jangan dulu tarik kata – katamu” akhirnya kata – kata itulah yang keluar dari mulutku. Natan mendekapku begitu erat seakan dia begitu bahagia mendengar pertimbanganku dan tak mau melepasku. Tapi hatiku berontak, Fandi…teganya dia padaku.

Beberapa hari aku berpikir keras, haruskah aku menerima Natan? Atau tetap menunggu Fandi tanpa kepastian. Tiba – tiba ada sms masuk ke ponselku. Tia ngirim pesan.

Vit Gue lagi bahagia banget. Hari ini Fandi nembak gue, dan gue jadian sama dia.Blz

Pesan itu bagaikan petir yang sekejap membuat tubuhku kaku. Fandi…jadian sama Tia. Sahabat akrabku, dan aku tak mungkin untuk mengatakan pada Tia kalau sebenarnya cowok yang gue suka adalah Fandi. Ah…rasanya dunia ini menjadi begitu sempit, menjepit diriku, membuat otakku begitu penat, ingin berhenti berpikir. Tia…fandi… Natan. Namun, aku begitu sayang pada Tia, sahabat yang selalu ada bila kubutuhkan. Lebih baik aku kehilangan Fandi daripada Tia. Biarpu susah rasanya, aku mecoba mengetikkan kata – kata untuk membalas sms Tia. Tapi tak ada kata yang bisa aku ketik. Malahan air mataku mengalir begitu deras. Kuputuskan untuk menelfon Tia saja nanti kalau aku sudah tenang.

Kupencet tombol ponsel, menelpon Tia yang pasti sedang begitu bahagia.”Hallo!” sapaku.

“Hallo…Vit kok pesanku nggak dibalas?” tanyanya begitu mencerminkan bahagia.

“Sory deh, tadi gue baru nganter nyokap ke Supermarket dan ponselku nggak dibawa. Ini aja baru gue buka. Selamat ya…” aku berbohong menutupi kesedihanku, mencoba terdengar tegar dan bahagia ditelinga Tia. Tapi ketika mengucapkan kata selamat, air mataku langsung terjatuh.

“Lo nangis ya?” Tanya Tia

“ Enggak…ini lagi Bantu nyokap motong bawang, dia dapet pesenan catering” jawabku berbohong lagi. Setelah kututup telpon, aku terisak. Aku berharap aku bisa lega dengan menangis Semoga besok di sekolah aku bisa menerima kenyataan dan bisa menganggap Fandi adalah sekedar angin yang berhembus sebentar.

Keesokan paginya, aku berangkat ke sekolah lebih pagi. Biasa jadwalnya buat piket. Kalau nggak datang pagi bisa kena semprot classleader yang killer dan super nyebelin. Rasanya aku menjadi pembuka gerbang, soalnya sekolah masih begitu sepi. Kubuka pintu kelas, dan aku terperanjat karenaa Fandi sudah ada di situ. Aku pikir dia pasti nunggui Tia, aku cuek, karenaa sakit hatiku belum bisa hilang juga.

“Pagi Ta!” sapanya.

“Pagi” jawabku singkat sambil menuju tempat sapu.

“Gue mo nanya sama lo”

“Tentang Tia? Kenapa nggak nanya langsung sama dia aja. Kalian kan sudah resmi pacaran ngapain pake sembunyi – sembunyi nanya sama orang lain” jawabku sewot karenaa marah.

“Kok lo sewot banget sih, gue Cuma dititipi pesan sama Natan, kalau nanti siang dia mau ketemu kamu sepulang sekolah di kelas ini. Sebenarnya lo mau jawab apa sih? Natan udah nggak sabar tuh, penasaran lo mau nerima dia apa nggak. Nggak ada hubungannya sama Tia, jadi jangan sewot gitu dong” jelas Fandi.

Tiba – tiba saja hatiku merasa panas. Kulempar sapu yang sudah kupegang, dan aku berlari keluar. Fandi bingung melihat sikapku. Aku terus berlari menuju ke salah satu sudut sekolahku. Untung hari masih pagi, sehingga belum banyak yang datang ke sekolah. Aku terisak sambil merangkul kakiku erat. Ternyata Fandi mengejarku dan dia mendekatiku.

“Lo kenapa? Vita, nggak biasanya kamu kayak gini. Kamu ada masalah? Sama Natan? Tia? Atau aku ada salah sama kamu?’ Tanya Fandi lembut.

“Buat apa lo cari tahu, toh kalau aku ada masalah pun lo nggak mungkin peduli. Aku bukan apa – apa lo. Kita juga nggak pernah akrab banget. Jadi lo nggak perlu sok perhatian sama aku” jawabku sambil menunduk.

“Lo bicara apa?” tanyaa Fandi, namun tak kujawab karenaa nggak tahu aku harus bilang apa. Haruskah aku bilang kalau orang yang aku cintai itu dia, bukan Nata? Haruskah aku begitu egois dan mengorbankan persahabatanku dengan Tia? Tidak. Tapi pada kenyataannya aku tak bisa terus menerus membohongi perasanku. Akhirnya aku meninggalkan Fandi yang masih bingung dengan sikapku. Aku menuju ruang piket dan minta izin untuk tidak sekolah dengan alasan sakit.

Jam istirahat Tia menelponku. Tapi tak kuangkat. Biarlah, mungkin dia sudah diberi tahu oleh Fandi. Tapi bagaiman dengan Natan? Hari ini aku berjanji untuk menjawab. Kuputuskan untuk mengundangnya ke rumahku sepulang sekolah.

Natan, ntar pulang sekolah ke rumahku, sendiri.

Begitu singkat pesan yang aku kirimkan padanya.

Bel pintu berbunyi, kupikir itu pasti Natan, karenaa ini adalah jam pulang sekolah. Benar saja itu memang dia, sendiri. Perasaanku cukup lega setidaknya aku bisa bebas berbicara padanya.

“Ta…kita ke luar aja yuk!” ajaknya padaku, nggak enak kalau ngomongin masalah itu di rumah kamu. Aku mengiyakannya, hitung – hitung buat refresing.

“Kenapa tadi kamu nggak jadi sekolah?” Tanya Natan diperjalanan.

“Tadi…nggak apa – apa kok, aku lagi boring aja!”

“Kita mau kemana?”

“Ada deh”.

Ternyata Natan mengajakku ke sebuah tempat yang begitu sejuk, perkebunan teh. Aku merasa fresh di situ. Tapi rasa tenangku tiba – tiba hilang karenaa ternyata fandi dan Tia sudah ada di sana lebih dulu. Mereka berdua menghampiriku, sambil tersenyum.

Suasana menjadi begitu hening, hingga angin yang berhembus seperti terdengar derunya. “Aku mau ke warung di seberang itu, mau beli makanan. Tia anterin aku yuk” Ucap natan sambil mengajak Tia memecahkan keheningan diantara kita berempat.

“Sama aku aja Tan” ucapku menawarkan diri. Tapi Natan malah menyuruh aku duduk saja, karenaa katanya aku terlihat capek. Tapi aku merasa enggan, karenaa di situ hanya ada Fandi. “Udah…kamu di sini aja, aku sama Tia kok! Biar Fandi yang emenin kamu di sini”.

“Gimana kalau Tia aja yang di sini” pintaku, tapi malah Natan tertawa.

“Kalau aku sama Fandi yang beli makanan takut milihnya yang nggak enak dan kamu nggak suka. Kalau Tia kan tahu selera kamu” Tia mengangguk mendengar Natan berujar seperti itu.

Akhirnya aku diam, dan Natan pergi bersama Tia. Fandi duduk mendekat aku. Tapi aku bergeser.Hampir aku berdiri, namun dengan sigap tangan Fandi menarik tamganku. “Kamu ini kenapa?Ta…kamu aneh banget tahu ga?” ucap Fandi ketika dengan kasar aku melepaskan tangannya.

“Fan, gue sudah bilang tadi pagi, buat apa kamu acuh dengan keadaanku. Kita nggak pernah terlalu akarab dan aku kira ini nggak penting buat kamu”.

“Tapi aku heran dengan perubahan sikap kamu ke aku. Aku rasa ada yang lain. Ditambah lagi hanya karenaa tadi pagia aku bilang Cuma seperti itu saja kamu pake nggak jadi sekolah”.

“Yang jelas, aku benci Fan sama kamu. Sekarang aku benci sama kamu” ucapku sambil berdiri. Tak terasa air mataku telah jatuh.

“Kamu benci sama aku? Kenapa?” Tanya Fandi sambil berdiri di hadapanku.

Kupalingkan wajahku dari pandangannya “Fan, lo kok tega banget sih? Lo nanya semua tentang aku, kesukaan aku, pokoknya yang berhubungan sama diri aku, dan ternyata semua itu Cuma buat lo omongin sama sahabata lo, natan. Gue nggak nyangka lo bakal setega itu sama aku”.

“Apa itu salah? Justru karenaa Natan tahu pribadi kamu, dia jadi suka sama kamu” jawab Fandi tanpa nada bersalah sedikitpun.

“Cerita lo memang nggak salah, dan persaan Natan pun ta patut dipersalahkan. Tapi lo kenapa nggak pernah bilang kalau semua itu akan kamu ceritakan pada Natan?”

“Waktu kita habis dari book store, gue sebenarnya pengen cerita tapi lo sendiri yang bilang kalau itu nggak penting dan nggak ada hubungannya sama lo”.

Sejenak aku teringat ketika Fandi menanyakan apakah aku tahu Natan apa tidak. Ternyata dia akan cerita seperti itu.” Mungkin memang aku yang salah Fan, aku yang bodoh mengapa aku tak bertanya dulu padamu” jawabku sambil terus berusaha meredakan emosiku yag semakin menyala.

“Jadi lo sudah nggak marah lagi?”

“Tapi gue tetep vbenci sama lo. Gue benci…” jawabku sambil sedikit berteriak.

“Kenapa Ta? Kenapa lo benci sama gue?” Tanya Fandi dengan nada datar seakan tak menyadari betapa marahnya aku.

“Karena gue sayang banget sama lo dan gue nggak mau kehilangan lo” tiba – tiba kata – kata itu yang keluar dari mulutku. Aku langsung terdiam. Tapi rasanya perasaan ini menjadi begitu lega. Tanpa kusadari Fandi memelukku erat dan membisikkan kata yang benar – benar membuatku serasa baru keluar daris sesuatu yang begitu menyesakkan “Aku juga sayang banget sama kamu, dan aku nggak mau kehilangan kamu’.

Namun langsung ku lepas pelukannya.” Dasar cowok, mau lo tangkap dua sekaligus? Sadar fa, lo sedang pacaran sama Tia. Gue bukan tipe perampas”Ucapku begitu marah.

Namun Fandi menarikku dan mendekapku dalam pelukannya. Aku berontak ingin lepas, tapi dia semakin erat memelukku.” Kata siapa aku pacaran sama Tia? Jonatan sama Tia lah yang Bantu aku memainkan skenario ini supaya aku bisa tahu kalau kamu memang benar – benar saynag sama aku. Swear, aku cuma sayang sama kamu, dan benar – benar pengen ngelindungi kamu” terang Fandi Padaku. Dengan pelan dia melepaskan pelukannya dan menyaeka air ataku. Bersamaan dengan itu terlihat Natan dan Tia bertepuk tangan.

“Mana makanannya?” tanyaku pada mereka berdua yang tampak tersenyum kepadaku dan Fandi.

“Makanannya ada di warung, soalnya kita tadi nggak ke warung, kita ngintip di balik pohon teh itu” jawab Tia sambil menunjuk serumpunpohon teh.

“Kalian jahat baget sama aku!” ucapku. Lalu tiba – tiba tanganku hangat, Fandi menggandengku.”Vita, sekarang di depan Tia dan Natan, aku mau mengatakan kalau aku sayang banget sama kamu. Maukah kamu jadi pacarku?” aku tak menjawab apa – apa karena saking bahagianya. Aku hanya mengangguk.

“Ye…akhirnya kita nggak jomblo lagi” sorak Tia

“Lho kok kita?” tanyaku heran.

“Ya iya lah kita, kamu sama Fandi, gue sama Natan” jawab Tia genit. Aku mencubitnya “Kamu bertiga memang tega!” teriakku sambil tertawa, hilang sudah kesediahan dan kegelisahanku.

“habisnya kamu nggak mau cerita kalau kamu suka sama Fandi. Kebetulan pas waktu itu aku minjem buku PR kamu, aku nggak sengaja buka diary kamu, yang di situ tertulis kalau kamu sayang banget sama Fandi. Ya udah, gue pikir dari pada terus – terusan lo ngelamun, gue pikir lebih baik Fandi tahu. Eh…pas gue bilang sama dia ternyata dia juga sudah punya rencana buat nembak kamu. Dengan bantuanku sma Natan Jadilah deh cerita seperti ini. Tapi kamu seneng kan?” jawab Tia sambil tertawa.,

Akhirnya kita semua tertawa, Fandi menggandenga tanganku erat dan kita berdua bercerita bnyak tentang perasaan kita masing – masig. Aku tak menyangka perasaanku yang selalu tersiksa dulu, kini menjadi lega luar biasa. Terima kasih Tuhan, terima kasih Tia.

Aku dan Fandi tersenyum sambil memandangi langit sore yang bermega nan cerah. Cerahnya menggmbarkan perasaanku yang sedang begitu bahagia.

“Kata – kata kadang tak berarti jika kita tak dapat memaknainya. Berpikir adalah kunci menemukan suatu arti. Demikian pun kehidupan”