Be an Ordinary Person with Extraordinary Personality
Tampilkan postingan dengan label harapan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label harapan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 September 2009

HIJAU DAN PUTIH

‘Aku mau hijau’ kataku.
‘Putih saja’ katamu.
‘Hijau’
‘Putih’
‘Hijau’
‘Putih’

Jangan katakan bahwa itu hanya perkara selera yang remeh temeh. Hijau. Putih. Bukan hal aku miopi atau hipermetropi, apalagi kotok ayam. Itu adalah persoalan hidup dan mati. Hijau. Putih. Adalah persoalan hidup dan mati, bagi persepsiku. Kau bilang... aku mengubur otakku dengan pikiranku. Barangkali saat kau mengatakannya, kau tak terbersit apa-apa. Tapi terlintas dalam bayangku. Kuburan itu, kematian itu. Mungkin lebih menyenangkan.

Aku mau hijau. Kau lantangkan putih saja. Apa kau pikir putih itu suci? simbol dari dinding ketidakterjamahan? Apa yang bisa kau kuatkan tentang putih. Apa akan kau sebutkan bahwa gigiku putih, mataku putih, tulangku putih, rambutku akan memutih. Kau punya banyak alasan putih, Sayang. Tapi aku tak menerimanya. Aku tak suka putihmu. Putihku kematian. Putihku kafan, Sayang. Semakin kau menunjukkanku pada putih berarti kau menginginkanku dekat pada mati. Kau mau aku mati, Sayang?

Hijau, sayang. Hijau saja. Hijau itu hidup. Kehidupan. Aku takkan disebut sendiri. Daun-daun hijau. Takkan disebut gigiku, tulangku, atau ubanku. Kodok hijau, ulat hijau, ular hijau, ribuan fitoplankton hijau. Sayang, banyak yang hijau. Bahkan tai manusia juga juga terkadang hijau. Bukankah tai adalah bukti kehidupan lewat berlangsungnya metabolisme? Apa artinya putih? Gigi, tulang, uban, mata... akan tetap putih meski pun mati kecuali jika belatung telah menggerogoti.

Sayang, aku mau hijau saja. Aku belum mau putih.

Rabu, 25 Maret 2009

Bukan Mimpi Tapi IMPIAN

Suatu kali dalam hidupku yang demikian indah (boleh bukan kukatakan begitu?) rasaku hancur oleh sebuah komentar "STOP MIMPI". Aku berusaha memahaminya bahwa komentar itu keluar karena emosi yang berlebih (mungkin). Tapi tetap saja, sampai terbawa tidur juga. memang kalau kuingat itu jadi tertawa sendiri. masa sih cuma gara-gara perkataan seperti itu? iya, kok bisa ya? saat aku menuturkan cerita ini pun aku sembari membayangkan ekspresiku di suatu tempo dalam hidupku itu. 19 tahun, bukan waktunya lagi untuk mempersoalkan hal sepele. Ada misi yang jauh lebih penting untuk menjadi terus berkembang.

Kembali pada apqa yang ingin aku bahas, "STOP MIMPI". Aku merenunginya sampai di penghujung malam utnuk mencoba mengerti makna terdalam dari dua kata itu. suatu saat akan aku paparkan untuk kalian. boleh saja tertawakanku, tapi kenyataannya saat itu asmaku kambuh sampai dua hari. Bodoh benar aku ini waktu itu. Sebenarnya bukan masalah siapa yang menyampaikan, tapi apa yang disampaikan begitu krusial bagiku. Mimpi... berpuluh jumlahnya kutulis. dan sekali waktu jika tercapai aku pun akan memberi check list. Mimpi itu suatu kebahagiaan bagiku. Kenapa? karena apa yang kucapai sekarang adalah sebagian dari mimpiku dulu.

"STOP MIMPI". Aku tak pernah mengiyakan atau pun memberontak menanggapi komentar itu. Hanya kusampaikan, jika aku tidak bermimpi hari ini lalu apa yang bisa kusisakan untuk esok hari? Mimpi seperti tengadah doa bagiku saat malam tiba dan esok pagi kutapaki tangga untuk mencapainya.

Telah kusampaikan tadi bahwa aku sampai merenungi kata-kata itu sampai di penghujung malam. mungkin sebenarnya aku tak bisa memejamkan mata karena napasku yang aneh, seperti orang hampir mati kalau kata temanku. karena itu aku tak mau lagi berda dalam kondisi merenungi kata-kata itu terlalu lama. Sampai suatu pagi kusampaikan pada hatiku...
"Aku boleh bermimpi?" tanyaku pada hatiku.
"Boleh... karena mimpi itu jembatan." jawabnya tenang di seberang gelombang suara.
"Mimpi itu gratis kan?" terusku lagi.
"Kuyakin kau lebih tahu hal itu, kau lebih ahli untuk merenunginya."
"Apa aku punya kewajiban ketika aku bermimpi?"
"Jika mimpimu baik, kau tanamkan pada dirimu untuk mewujudkannya."
"Lalu... apa orang lain berhak mengehntikan mimpiku?" aku ragu-ragu menanyakan hal itu.
"Boleh!!!! supaya kau lebih membumi." aku kaget dengan jawaban itu. apa maksudnya lebih membumi? apa aku selama ini terlalu tamak dengan apa yang ingin kucapai.

Membumi... membumi... membumi, agaknya itu teguran buatku agar aku memuliakan sesama. aku tak boleh egois hanya karena ingin mencapai mimpi memiliki apa yang aku inginkan.

Sampai saat ini aku pun masih suka bermimpi... tapi mimpi itu sekedar selingan. yang lebih mantap dalam diriku sekarang adalah impian yang harus segera aku WUJUDKAN.

Kamis, 08 Januari 2009

Rasa yang Tak Lagi Teraba

Meski sungguh kuakui bahwa hati ini merasa berat dengan sebuah realita yang terjadi, namun tak pernah kusesali karena itu adalah yang terbaik. Ada sebuah corak dalam hati ini yang tak bisa kuhapus, corak yang terlalu indah untuk dimaknai. Bahkan aku telah mengatakannya bahwa kulukis corak itu pada gelapnya langit malam supaya terlihat seperti bintang. ketika itu aku masih hidup dalam mimpiku bukan hidup dengan mimpi yang harus diperjuangkan. lalu aku tersadar akan sebuah kenyataan yang sebenarnya. Aku tersadar kala beberapa kata keluar dari mulut bijak itu....
"Dalam kondisi seperti apapun kamu harus mampu berdiri sendiri" ucapnya.
Air mataku telah mengembang tinggal menunggu pecahnya saja saat itu. Tak kuasa kudengar suara yang selama ini membuatku terus terpacu untuk tak diam menghadapi masalah. suara yang selama ini memberikan asaku terkembang. Jujur, aku tergagap mendengar kata-katanya yang terakhir itu. Apakah batas dari kesiapan hati telah tiba pada pintu gerbang yang sebenarnya?
Aku tak mengerti seperti apa perasaannya, yang pasti ada satu perasaan halus yang menyulut di dasar hati ini. Perasaan yang begitu lembut, terasa... meski rasa itu, mungkin tak lagi teraba.

Jumat, 28 November 2008

Harapan Untuk Terus Berproses Atau Berhenti

Suatu malam saat sinyal tiba-tiba hilang, aku smsan dengan seorang yang kupanggil Kakak. Awalnya hanya obrolan ringan aja, tapi kelanjutannya cukup bermakna...

A: “Kayaknya Tuhan nggak mengizinkan supaya aku ngajak Kk’ jomblo, he he, buktinya tiba-tiba aja sinyal ilang.”

L:”Artinya kamu nggak bisa jomblo terus... harus mengejar cintamu yang nggak pernah nyakitin. Iqra’ dan raih....”

A:”Cinta yang nggak pernah nyakitin itu kalau kita kembalikan cinta tersebut pada yang di atas. Aku harus belajar semua itu, kalau cinta pada manusia pasti ada sakitnya. Apalagi bawa perasaan.”

L:”Hakikatnya cinta nggak pernah menyakiti, ketiadaan ikhlas yang menyakiti kita. Ikhlas di hatiku juga sedikit luntur, tapi itu yang membuat aku sedikit kuat. Aku yakin ada sebuah kejadian besar yang siap menungguku di depan.”

A:”Banyak ‘kejadian besar’ yang menunggu di depan. Kita hanya bisa meyakininya karena kita bukan Tuhan. Jika berbicara ikhlas, setiap orang pasti pernah merasa tidak ikhlas untuk kehilangan, karena itu butuh kesiapan.”

L:”Kehendak Tuhan sudah terturunkan pada manusia yang mengerti, tentang sejauh apa manusia itu berproses. BERHENTI/selesai atau terus berPROSES. Semakin baik input dan proses sudah dapat dijamin outputnya bagus.”

A:”Jika aku disuruh untuk memilih, maka aku memilih untuk terus berPROSES. Karena Tuhan merancang kehidupan sebagai sebuah proses. Seperti pohon yang tumbuh dan selalu berujung pada sebuah titik saat segala sesuatu akan berhenti.”

L:”Iya, tergantung bagaimana kamu mengartikulasikan apa itu proses, proses nggak ada yang muda, butuh banyak air mata dan kesabaran untuk mendapat kebahagiaan hidup.”

A:”Kk’ bisa berbicara seperti itu, lalu kenapa Kk’ menganggap diri Kk’ jahat dan hancur?”

L:”He he he... itu membuatku semangat, aku berucap tapi aku tahu apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Banyak sekali yang nggak tahu karakterku. Aku nggak akan mati sebelum aku buat sesuatu yang besar dan baik. Aku hidup untuk itu, kamu De’?”

A:”Mottoku, hidup nggak sekedar menunggu mati tapi hidup untuk berprestasi. Prestasiku adalah ketika aku bisa bermanfaat dan membahagiakan orang lain. Aku akan mati dan orang akan mengenangku sebagai bagian dari kebaikan mereka.”

L:”Aku berdoa untukmu dan kutunggu prestasimu. Aku orang pertama yang akan kasih selamat.... Jiwa seperti itu yang kuharap darimu.”

A:”Makasih ya K’ karena harapan itu membantu untuk mengubah mimpiku menjadi kenyataan. Aku janji nggak akan menjadikan harapan itu sia-sia. Karena aku telah dipercaya, kepercayaan itu tidak mudah didapat.”

Sekilas itu hanyalah hal biasa saja yang mungkin banyak orang bisa mendiskusikannya kapan pun mereka inginkan. Tapi bagiku... ada semangat yang tersirat dalam setiap karakter yang diketikkan dalam pesan itu. Bisakah kau temukan maknanya?