Be an Ordinary Person with Extraordinary Personality
Tampilkan postingan dengan label tujuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tujuan. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 April 2009

Bukan Melupakan Tapi Mengikhlaskan

Persoalannya bukanlah apakah aku bisa melupakanmu atau tidak. Permasalahannya bukan pada waktu yang memberi andil kesempatan sebuah pertemuan. Bukan pula jejak langkah yang pernah kita lalui bersama. Serta tak juga tangis tawa yang selalu ada untukmu. Barangkali yang lebih tepat adalah apakah aku bisa mengikhlaskanmu? untuk satu atau beberapa alasan?
Egois jika aku memaksakan diri untuk memiliki. Meski asaku tak memungkiri keinginan itu, tapi aku selalu berusaha menepisnya. Aku ingin melihatmu bahagia, tertawa, merdeka dalam hidupmu. Aku selalu berharap terus mendengar apa pun tentangmu, agar kutahu bahwa kau tak bersedih.
Aku tak peduli seberapa tak acuh dirimu padaku, ataupun seberapa malas kau tahu tentangku. Yang aku pedulikan adalah dirimu, ketenanganmu tanpa aku.
Tak pernah habis kenangan tentangmu, tak pula pupus harapku untuk jejaki sisa hari. Tak pernah terhapus bayangmu, tak pula lengah pikiranku.

Aku, Aku, Aku... mengikhlaskanmu meski kau tak tahu untuk apa aku melakukannya. Meski kau tak peduli aku tetap terus berusaha mengikhlaskanmu.

Tak letih kusebut namamu dalam doaku,
Tak lelah pula kucari tahu kabarmu, karena aku ingin dengar kau selalu bahagia.
Bahagiamu, senyumku.

Kamis, 26 Februari 2009

Tanyakan Padaku, Jawabnya Kuserahkan Pada Waktu

berawal dari mana? dari kesempatan.
dilanjutkan dengan apa? dengan pembicaraan.
tentang siapa? tentangnya yang hilang.
mengapa kau tanya? karena tak ada lagi yang tersisa.
Apakah harus sirna? ya, karena itu yang kuinginkan.
kejam? katakanlah begitu.
tega? biarkan saja orang menggerutu.
tak punya hati? apa pedulimu.
kau bodoh? tak seperti itu.

hening... memasung waktuku
ikhlas... kubisikkan pada hati
lepas... kucobakan untuk mengerti
puas... tak pernah kusadari

Selasa, 13 Januari 2009

KAU TELAH KEMBALI PADA HIDUPMU

(catatan untuk sesorang yang pernah mengajariku banyak hal tentang hidup: kau mengajariku untuk tersenyum dan selalu bersemangat. Kau meluruskan pandanganku tentang simbol, segala simbol yang baru kusadari, kau memberikanku pengertian bahwa dalam hidup ini tak ada yang linier, satu lagi yang takkan aku lupakan adalah pesanmu: DALAM KONDISI BAGAIMANAPUN KAMU HARUS BISA BERDIRI SENDIRI)untuk orang itu, terimakasih...

Aku menatap mata cokelatmu… ada kegalauan di sana. Kau tak bisa menyembunyikannya dariku. Tidak bisa. Kau tak pernah tahu seberapa jauh aku bisa menyelamimu selama aku mengenalmu. Guraumu hampa, senyummu tawar, pandanganmu kosong, nafasmu sesak, tanganmu getar, dan kutahu kau sedang bimbang. Aku tak berani memegang jemarimu meski sebenarnya aku ingin menggenggamnya untuk menenangkanmu dan mengurangi penat rasa yang menghinggapi dirimu.
Namun itu hanya di satu waktu, saat itu.
Sekarang guraumu bermakna, senyummu mengandung arti, pandanganmu pasti, nafasmu penuh kelegaan, tanganmu telah kembali kokoh. Kini kutahu kau telah kembali pada hidupmu yang penuh dengan semangat itu. Aku tak mau lagi untuk menggenggam jemarimu, menenangkanmu, mengurangi penat rasamu, karena kutahu kau lebih tegar dari yang kukira.

Jumat, 21 November 2008

Kita Mulai Dengan Akhir

Apakah sebuah akhir bisa untuk memulai? Kuyakin bisa, marilah kita mulai dengan akhir karena akhir adalah tujuan kita. Akhir adalah harapan dari akumulasi mimpi yang berada di cerebrum kita. Tapi akhirilah semua yang kau mau dengan bijaksana, dengan cara yang tak bisa membuat lupa. Dengan cara yang bersahaja sehingga membuatnya menjadi indah. Resiprok alam yang tak pernah bisa kita gugat adalah segala sesuatu yang senantiasa berlawanan. Semuanya tak bisa dipersalahkan karena hal yang salah pun mengandung kebenaran. Kebenaran bahwa hal itu salah. Bukankah begitu? Alam tak pernah berhenti mengajarkan bahwa ada aksi maka ada pula reaksi, jika kebaikan ada maka tak pelak kejahatan pun menjadi rivalnya, mencintai-membenci, menghormati-meremehkan, bahkan hingga hidup-mati. Semua itu tak pernah bisa kita gugat karena hal yang berlawanan itu hakiki. Sifat pencipta pasti berlawanan dengan yang dicipta.
Aku takkan menjadikan akhir itu sia-sia seperti kubangan air hujan yang dibiarkan tidak mengalir sehingga menjadi bau yang tak sedap. Aku takkan menjadikan akhir itu sia-sia seperti orang yang terserang maagh tetapi memakan asam sehingga membuatnya semakin tersiksa. Tapi aku akan menjadikan akhir itu sebagai akhir yang bijaksana, akhir yang indah, akhir yang bermakna. Akhir yang akan melahirkan harapan baru untuk sesuatu yang lebih baik.