Be an Ordinary Person with Extraordinary Personality
Tampilkan postingan dengan label hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hati. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Maret 2009

Cinta... Dalam Ejaan Kata

Kueja kata

Kutulis Salinannya

Cinta
Cinta
Cinta
Cinta Cinta Cinta

Tak ada logika

Cinta
Cinta
Cinta
Cinta Cinta Cinta

Kata mereka: "Cinta Itu Urusan Hati"

Kamis, 08 Januari 2009

Rasa yang Tak Lagi Teraba

Meski sungguh kuakui bahwa hati ini merasa berat dengan sebuah realita yang terjadi, namun tak pernah kusesali karena itu adalah yang terbaik. Ada sebuah corak dalam hati ini yang tak bisa kuhapus, corak yang terlalu indah untuk dimaknai. Bahkan aku telah mengatakannya bahwa kulukis corak itu pada gelapnya langit malam supaya terlihat seperti bintang. ketika itu aku masih hidup dalam mimpiku bukan hidup dengan mimpi yang harus diperjuangkan. lalu aku tersadar akan sebuah kenyataan yang sebenarnya. Aku tersadar kala beberapa kata keluar dari mulut bijak itu....
"Dalam kondisi seperti apapun kamu harus mampu berdiri sendiri" ucapnya.
Air mataku telah mengembang tinggal menunggu pecahnya saja saat itu. Tak kuasa kudengar suara yang selama ini membuatku terus terpacu untuk tak diam menghadapi masalah. suara yang selama ini memberikan asaku terkembang. Jujur, aku tergagap mendengar kata-katanya yang terakhir itu. Apakah batas dari kesiapan hati telah tiba pada pintu gerbang yang sebenarnya?
Aku tak mengerti seperti apa perasaannya, yang pasti ada satu perasaan halus yang menyulut di dasar hati ini. Perasaan yang begitu lembut, terasa... meski rasa itu, mungkin tak lagi teraba.

Kamis, 11 Desember 2008

Ke Mana Pergimu Siang Itu?

Aku tak melihatmu siang itu

Siang di tengah guyuran hujan

Yang masih bersahabat dengan sang mentari

Aku tak melihatmu siang itu

Padahal biasanya kau telah ada

Sebelum aku datang ke tempat itu

Tempat di mana kau biasa berdiri bersamaku

Tempat yang tak pernah membedakan

Apa dan bagaimana keadaan kita

Kita bisa tetawa bersama

Sampai perut kaku

Kita juga bisa menangis

Sampai akhirnya tersenyum kembali

Tapi aku tak melihatmu siang itu

Ke mana pergimu?

Apa kau lupa bahwa hadirmu kunanti siang itu?

Kau selalu berjanji untuk datang

Namun kurasa kau telah lupa akan janjimu

Biasanya kau berdiri di tempat ini

Tempat kau jejakkan kaki

Saat ada rasa sesak begelayut di hatimu

Saat ada kebimbangan

Menghantui ruang jiwamu yang tak bisa kusebut kosong

Saat ada keraguan menari-nari dipelupuk matamu

Tapi kau tak ada siang itu

Apa berarti kau sedang bahagia?

Padahal bukan itu saja

Saat kau bahagia pun kau bagi denganku

Di saat siang yang berhari sama seperti siang itu

Tapi kau tak membagi kebahagianmu untukku

Apa kau lupa akan janjimu untuk menemuiku?

Lalu ke mana pergimu siang itu?

Jika Kau Memberi, Gunakan Hatimu


Suatu hari saat pulang kuliah, aku berjalan menyusuri jalanan yang tak bisa kusebut sebagai jalan raya. Ya sekitar setengah ukuran dari jalan raya yang sebenarnya. Beberapa angkot saling menyalib secara berlahan,membuatku harus benar-benar berjalan di pinggir dekat got-got yang tak terputus. Mengapa angkot-angkot itu tak mau mengalah sedikit saja? Apa karena kehidupan jalan penuh persaingan? Aku singgah sebentar menyambangi gerobak yang selalu mangkal di pinggir jalan setiap habis ashar. Gerobak nasi kuning yang kata temanku rasanya terenak di dunia. Aku mendekati setuju kana pernyataannya, walaupun cenderung terlalu hiperbolis. Tapi nasi kuningnya emang enak, murah, pokoknya kocek mahasiswa banget dah!!

Saat sedang menunggu ibu penjual membungkuskan pesananku berupa nasi kuning dan konco-konconya (lauknya geto), ada seorang ibu yang berumur sekitar 45 tahunan mendekatiku. Pakaiannya tak cukup pantas untuk kubilang lusuh, dia menenteng kresek hitam. Lalu saat itu, dia menadahkan tangan padaku. Aku diam, kemudian ibu tersebut bilang “Neng, minta sumbangan Neng” tapi kau tetap saja tak bergeming dari posisiku. Aku tak tergerak untuk mengulurkan tanganku. Sampai akhirnya ibu itu pergi, tanpa pemberian dariku atau pun orang-orang yang sedang ada bersamaku di dekat gerobak itu.

Setelah pesananku siap, aku membayarnya dengan tiga lembar uang ribuan yang aku taruh di anakan tasku. Lalu aku lanjutkan berjalan, tetap mepet dengan got-got bau itu. Sekitar 10 meter kakiku melangkah, aku kembali bertemu dengn ibu yang meminta-minta tadi. Hal yang sama sedang dia lakukan di depan sebuah tempat bimbel. Kuamati sebentar, tetap saja, orang-orang yang berada di sana juga sama sekali tak tergerak untuk mengulurkan tangan walau sekedarnya. Sama seperti apa yang kulakukan. Aku hanya mengamati sampai di situ dan aku kembali berjalan menuju rumah kontarakanku. Di perjalanan setelah itu, aku jadi berpikir tentang apa yang tadi aku lakukan terhadap ibu itu. Sesungguhny akau tak melakukan apa-apa. Bahkan aku empatiku mati rasa oleh pikiran bahwa pakaian ibu itu tak lusuh. Tak pantas untuk meminta-minta. Padahal keadaan orang lain siapa tahu? Harusnya kau ingat bahwa tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Tapi samasekali nuraniku tak tergerak. Pikiranku tertutupi oleh stereotype bahwa mereka yang meminta-minta tak selamanya benra-benar membutuhkan. Harusnya aku menggunakan hatiku agar aku mampu erempati. Seandainya kau yang berada di posisi ibu itu. Mungkin sebenarnya dia malu untuk meminta-minta, tapi keadaan mendesaknya. Harusnya aku bisa memberikan sebagian rejeki yang aku miliki, seandainya tadi aku menggunakan hatiku, bukan pikiranku semata.