Malam,
Saat kupinjam gelapmu agar aku terus tertidur dalam pulas dekapmu
Kau mengiyakan dengan lantunan angin syahdu
Tapi ternyata kau membohongiku
Buktinya siang datang melambaikan tangan angkuh ke arahku
Katanya, aku akan kalah jika aku terus dalam buaimu
Malam, biarkan kusisakan luka ini
Jangan kau pinta aku tuk berhenti
Sebentar saja biarkan aku menghayati suatu janji yang sempat termuntahkan
Supaya aku tetap bisa mengingat dan menjemput harap dengan setitik luka sunyi itu
Malam, kau pun mengiyakanku lagi
Kau buatku sibuk dengan angan tuk tak berlari meraih
Hanya sekedar duduk berkata lirih
Aku kecewa lagi, kau kembali dengan dustamu
Buktinya siang meningkahiku dengan ribuan bisik tentang jalan panjang untuk melangkah
Katanya, aku tak harus terus lirih terkungkung dalam buai ketidakmungkinan
Aku punya hak untuk berteriak tingkah
Siang akan menopangku jika aku merasa lelah
Siang membujukku untuk berangsur tak pasrah
Siang memelukku dengan erat dan ucapkan kata-kata di telingaku
"Kejarlah apa yang ingin kau raih"
Malam, mana yang harus kuikuti?
Siang, mana yang harus kujalani?
Tampilkan postingan dengan label mimpi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mimpi. Tampilkan semua postingan
Jumat, 10 April 2009
Rabu, 25 Maret 2009
Bukan Mimpi Tapi IMPIAN
Suatu kali dalam hidupku yang demikian indah (boleh bukan kukatakan begitu?) rasaku hancur oleh sebuah komentar "STOP MIMPI". Aku berusaha memahaminya bahwa komentar itu keluar karena emosi yang berlebih (mungkin). Tapi tetap saja, sampai terbawa tidur juga. memang kalau kuingat itu jadi tertawa sendiri. masa sih cuma gara-gara perkataan seperti itu? iya, kok bisa ya? saat aku menuturkan cerita ini pun aku sembari membayangkan ekspresiku di suatu tempo dalam hidupku itu. 19 tahun, bukan waktunya lagi untuk mempersoalkan hal sepele. Ada misi yang jauh lebih penting untuk menjadi terus berkembang.
Kembali pada apqa yang ingin aku bahas, "STOP MIMPI". Aku merenunginya sampai di penghujung malam utnuk mencoba mengerti makna terdalam dari dua kata itu. suatu saat akan aku paparkan untuk kalian. boleh saja tertawakanku, tapi kenyataannya saat itu asmaku kambuh sampai dua hari. Bodoh benar aku ini waktu itu. Sebenarnya bukan masalah siapa yang menyampaikan, tapi apa yang disampaikan begitu krusial bagiku. Mimpi... berpuluh jumlahnya kutulis. dan sekali waktu jika tercapai aku pun akan memberi check list. Mimpi itu suatu kebahagiaan bagiku. Kenapa? karena apa yang kucapai sekarang adalah sebagian dari mimpiku dulu.
"STOP MIMPI". Aku tak pernah mengiyakan atau pun memberontak menanggapi komentar itu. Hanya kusampaikan, jika aku tidak bermimpi hari ini lalu apa yang bisa kusisakan untuk esok hari? Mimpi seperti tengadah doa bagiku saat malam tiba dan esok pagi kutapaki tangga untuk mencapainya.
Telah kusampaikan tadi bahwa aku sampai merenungi kata-kata itu sampai di penghujung malam. mungkin sebenarnya aku tak bisa memejamkan mata karena napasku yang aneh, seperti orang hampir mati kalau kata temanku. karena itu aku tak mau lagi berda dalam kondisi merenungi kata-kata itu terlalu lama. Sampai suatu pagi kusampaikan pada hatiku...
"Aku boleh bermimpi?" tanyaku pada hatiku.
"Boleh... karena mimpi itu jembatan." jawabnya tenang di seberang gelombang suara.
"Mimpi itu gratis kan?" terusku lagi.
"Kuyakin kau lebih tahu hal itu, kau lebih ahli untuk merenunginya."
"Apa aku punya kewajiban ketika aku bermimpi?"
"Jika mimpimu baik, kau tanamkan pada dirimu untuk mewujudkannya."
"Lalu... apa orang lain berhak mengehntikan mimpiku?" aku ragu-ragu menanyakan hal itu.
"Boleh!!!! supaya kau lebih membumi." aku kaget dengan jawaban itu. apa maksudnya lebih membumi? apa aku selama ini terlalu tamak dengan apa yang ingin kucapai.
Membumi... membumi... membumi, agaknya itu teguran buatku agar aku memuliakan sesama. aku tak boleh egois hanya karena ingin mencapai mimpi memiliki apa yang aku inginkan.
Sampai saat ini aku pun masih suka bermimpi... tapi mimpi itu sekedar selingan. yang lebih mantap dalam diriku sekarang adalah impian yang harus segera aku WUJUDKAN.
Kembali pada apqa yang ingin aku bahas, "STOP MIMPI". Aku merenunginya sampai di penghujung malam utnuk mencoba mengerti makna terdalam dari dua kata itu. suatu saat akan aku paparkan untuk kalian. boleh saja tertawakanku, tapi kenyataannya saat itu asmaku kambuh sampai dua hari. Bodoh benar aku ini waktu itu. Sebenarnya bukan masalah siapa yang menyampaikan, tapi apa yang disampaikan begitu krusial bagiku. Mimpi... berpuluh jumlahnya kutulis. dan sekali waktu jika tercapai aku pun akan memberi check list. Mimpi itu suatu kebahagiaan bagiku. Kenapa? karena apa yang kucapai sekarang adalah sebagian dari mimpiku dulu.
"STOP MIMPI". Aku tak pernah mengiyakan atau pun memberontak menanggapi komentar itu. Hanya kusampaikan, jika aku tidak bermimpi hari ini lalu apa yang bisa kusisakan untuk esok hari? Mimpi seperti tengadah doa bagiku saat malam tiba dan esok pagi kutapaki tangga untuk mencapainya.
Telah kusampaikan tadi bahwa aku sampai merenungi kata-kata itu sampai di penghujung malam. mungkin sebenarnya aku tak bisa memejamkan mata karena napasku yang aneh, seperti orang hampir mati kalau kata temanku. karena itu aku tak mau lagi berda dalam kondisi merenungi kata-kata itu terlalu lama. Sampai suatu pagi kusampaikan pada hatiku...
"Aku boleh bermimpi?" tanyaku pada hatiku.
"Boleh... karena mimpi itu jembatan." jawabnya tenang di seberang gelombang suara.
"Mimpi itu gratis kan?" terusku lagi.
"Kuyakin kau lebih tahu hal itu, kau lebih ahli untuk merenunginya."
"Apa aku punya kewajiban ketika aku bermimpi?"
"Jika mimpimu baik, kau tanamkan pada dirimu untuk mewujudkannya."
"Lalu... apa orang lain berhak mengehntikan mimpiku?" aku ragu-ragu menanyakan hal itu.
"Boleh!!!! supaya kau lebih membumi." aku kaget dengan jawaban itu. apa maksudnya lebih membumi? apa aku selama ini terlalu tamak dengan apa yang ingin kucapai.
Membumi... membumi... membumi, agaknya itu teguran buatku agar aku memuliakan sesama. aku tak boleh egois hanya karena ingin mencapai mimpi memiliki apa yang aku inginkan.
Sampai saat ini aku pun masih suka bermimpi... tapi mimpi itu sekedar selingan. yang lebih mantap dalam diriku sekarang adalah impian yang harus segera aku WUJUDKAN.
Sabtu, 31 Januari 2009
Sempat Rasa Ini Jadi Milikmu
Dulu di suatu waktu, di titian masa, dalam belenggu realita
Aku mencintaimu serupa aku membencimu
Aku membencimu serupa aku mencintaimu
sempat, sekali sua, lalu jumpa selanjutnya
kuungkap suatu makna, menjadi sesuatu yang susah kuartikan
sempat, pada kesempatan di depan sosokmu, di depan wajahmu, aku menatap
adakah kesempatan itu ikut kau ciptakan?
Dulu, di suatu waktu, di titian masa, dalam belenggu realita
rasa, menetap di dasar hati dan enggan untuk beranjak
kuusir namun mengejar
rasa, mengoyak logika namun kunikmati
kuobati namun justru bersarang
adakah rasa itu pernah kau cerna?
Dulu, di suatu waktu, di titian masa, dalam belenggu realita
ini, kuartikan sebagai cinta
ini, kuartikan sebagai buah rasa
ini, kuartikan sebagai proses
ini, kuartikan sebagai pelajaran
ini, kuartikan sebagai rencana
ini, kuartikan sebagai mimpi
ini, kuartikan sebagai bencana
ini, kuartikan sebagai kebohongan
ini, kuartikan sebagai penantian
ini, kuartikan sebagai kebodohan
ini, kuartikan sebagai pembuka pikiran
adakah kau sempat mengartikan semua ini?
Dulu di suatu waktu, di titian masa, dalam belenggu realita
jadi, kunikmati apa yang kusebut cinta
jadi, kucicipi apa yang kusebut buah rasa
jadi, kupahami apa yang kusebut pelajaran
jadi, kupelajari apa yang kusebut rencana
jadi, kugapai apa yang kusebut mimpi
jadi, kuantisipasi apa yang kusebut bencana
jadi, kuungkap apa yang kusebut kebohongan
jadi, kuberdoa untuk apa yang kusebut penantian
jadi, kusesali apa yang kusebut kebodohan
jadi, kusaring apa yang kusebut sebagai pembuka pikiran
adakah kau menjadikannya sama denganku?
Dulu di suatu waktu, di titian masa, dalam belenggu realita
milikmu, rasa itu
milikmu, keputusan itu
milikmu, jawab itu
dan aku? aku hanya diam dan berkata dalam hati "SEMPAT RASA INI JADI MILIKMU"
Aku mencintaimu serupa aku membencimu
Aku membencimu serupa aku mencintaimu
sempat, sekali sua, lalu jumpa selanjutnya
kuungkap suatu makna, menjadi sesuatu yang susah kuartikan
sempat, pada kesempatan di depan sosokmu, di depan wajahmu, aku menatap
adakah kesempatan itu ikut kau ciptakan?
Dulu, di suatu waktu, di titian masa, dalam belenggu realita
rasa, menetap di dasar hati dan enggan untuk beranjak
kuusir namun mengejar
rasa, mengoyak logika namun kunikmati
kuobati namun justru bersarang
adakah rasa itu pernah kau cerna?
Dulu, di suatu waktu, di titian masa, dalam belenggu realita
ini, kuartikan sebagai cinta
ini, kuartikan sebagai buah rasa
ini, kuartikan sebagai proses
ini, kuartikan sebagai pelajaran
ini, kuartikan sebagai rencana
ini, kuartikan sebagai mimpi
ini, kuartikan sebagai bencana
ini, kuartikan sebagai kebohongan
ini, kuartikan sebagai penantian
ini, kuartikan sebagai kebodohan
ini, kuartikan sebagai pembuka pikiran
adakah kau sempat mengartikan semua ini?
Dulu di suatu waktu, di titian masa, dalam belenggu realita
jadi, kunikmati apa yang kusebut cinta
jadi, kucicipi apa yang kusebut buah rasa
jadi, kupahami apa yang kusebut pelajaran
jadi, kupelajari apa yang kusebut rencana
jadi, kugapai apa yang kusebut mimpi
jadi, kuantisipasi apa yang kusebut bencana
jadi, kuungkap apa yang kusebut kebohongan
jadi, kuberdoa untuk apa yang kusebut penantian
jadi, kusesali apa yang kusebut kebodohan
jadi, kusaring apa yang kusebut sebagai pembuka pikiran
adakah kau menjadikannya sama denganku?
Dulu di suatu waktu, di titian masa, dalam belenggu realita
milikmu, rasa itu
milikmu, keputusan itu
milikmu, jawab itu
dan aku? aku hanya diam dan berkata dalam hati "SEMPAT RASA INI JADI MILIKMU"
Selasa, 18 November 2008
Mimpi (Ketika Ajal Tak Pernah Berkompromi Dengan Waktu dan Rasa Takut)
Aku tersentak. Kaget. Tidak terlalu heboh sih, cuma si Bundel yang lorek abu – abu melompati tubuhku. Kucing peliharaanku itu seenaknya saja jumping. Padahal aku lagi asyik – asyiknya menikmati tayangan sinetron bersama ibu. Ah...dasar kucing! Nggak tahu orang lagi serius.
“Kau dilangkah kucing Mi?” tanya ibu padaku dengan raut wajah yang menurutku...aneh, aneh banget.
“Iya, kenapa memangnya Bu?” jawabku polos dan balik bertanya.
“Tidak apa- apa, makanya jangan sambil tiduran gitu” lalu ibuku tak berkata – kata lagi. Aku pun kembali enjoy menikmati sinetron favoritku itu.
Aku anak bungsu dan hanya punya satu kakak perempuan yang sekarang sedang kuliah. Di rumah aku tinggal bersama Bapak, Ibu, dan kakek yang biasa aku panggil Mbah Kakung.
Seperti biasa, setiap pagi ketika ayam berkokok dan cahaya putih di langit sudah mulai tampak, rumah ini mulai hangat dengan kesibukan penghuninya. Ibu sedang sibuk menanak nasi di pawon dan beriap – siap masak, juga menjerang air untuk mandi Mbah. Bapak pun sudah sibuk dengan ayam – ayamnya. Aku tak kalah sibuknya, setelah sholat subuh dan tadarus tadi, aku membaca buku pelajaran sebentar. Habisini aku akan membantu bapak sebentar makani ayam. Entah kenapa aku lebih suka berbaur dengan ayam – ayam yang diternakkan Bapak, berbaur dengan kotoran – kotorannya dan aku senang membersihkan kandang daripada masak di dapur bersama Ibu. Jika Mbah menegur, aku hanya menjawab “ doakan Umi menjadi insinyur ya Mbah”, kemudian akan kulihat Mbah tersenyum dan tangannya akan mengelus kepalaku.
Aku telah selesai mandi. Kukeluarkan sepeda ontel ke halaman. Ketika akan masuk kembali ke kamar untuk mengambil tas, samara – samara kudengar percakapan Ibu dan Mbah Kakung.
“Makanya Nur, anak itu dijaga yang hati – hati” suaraMbah Kakung terdengar sedikit murka.
“Wong Nuning ndak tahu Pak, kejadiannya tiba – tiba” takut – takut ibu mengeluarkan suara. Pernah juga ibu dimarahi sama Mbah karena waktu itu mengungkapkan niatnya untuk merenovasi rumah yang kami diami.
“Pokoknya sekali tidak ya tidak Ning, ingat umur rumah ini sudah tua. Terlalu beresiko bila kau mau merubahnya. Penunggunya pasti akan marah” Mbah berkata dengan suara keras.
“Tapi bukan merubah Pak, hanya memperbaiki bagian yang dirasa perlu. Jika tidak diperbaiki malah akan lebih beresiko karena banyak tiangnya yang keropos dimakan rayap” tapi lagi – lagi ibu dibentak. Sejak saat itu aku tak pernah mendengar lagi ibu menyampaikan niatnya tersebut. Apalagi Bapakku, aku belum pernah mendengar beliau menyampaikan uneg – unegnya pada Mbah. Jika berbicara pada Mbah juga dengan nada yang sangat halus dan hati – hati.
Diam – diam aku menguping diskusi Mbah dan Ibu pagi ini. Kutempelkan telingaku pada dinding kamar yang terbuat dari kayu yang kian hari kian termakan usia.
“Dia itu cucu yang paling aku sayangi. Biarpun ada Nurul mbakyunya, tapi Umi yang paling aku sayangi” ucap Mbah. Aku tak mendengar ibu bicara dan sepi, mereka tidak bicara lagi.
Aku tak meneruskan aksi pengupingan itu, biarlah apapun yang dibicarakan tadi, mungkin memang tentangku. Biar nanti kutanyakan pada Ibu.
Aku pamit. Kukayuh sepedaku menuju sekolah yang jaraknya kurang lebih 3 kilo dari rumahku. Bersama teman – teman, aku melewati jalan desa yang di kanan kirinya terdapat kebun jeruk dan melati. Kadang – kadang ketika musim panen jeruk tiba, kami diberi jeruk oleh pemiliknya. Satu – satu tiap anak. Luar biasa bahagia ketika kami ulurkan tangan untukmenerima jeruk tersebut. Biasanya ketika pulang sekolah kami memang sudah benar – benar haus dan lapar. Hal ini tak mungkin bisa kulupakan dan tertanam di memoriku selama hayat.
“Pak tadi malam Umi mimpi ketemu almarhum Mbah Putri” aku bercerita pada Bapak ketika bersama – sama dengan beliau membersihkan kandang, minggu pagi.
“Wah...seneng dong Mi, disun ndak sama Mbah?” Bapakku yang senang bergurau menanggapi.
“Ya iya Pak, wong Umi sampai sungkem segala. Soalnya mimpi Umni ketemu Mbah Putri tadi malam karena Umi nikah.
“Kecil – kecil kok ngimpinya nikah” bapakku tertawa.
“Wong hanya mimpi” jawabku.
Tiba – tiba Mbah Kakung muncul dan bertanya padaku apa yang tadi aku perbincangkan dengan Bapak. Kujawab seperti yang kuceritakan pada Bapak. Mata cekung Mbah yang sudah hampir enam lima itu membelalak hampir melompat keluar. Pipi kempotnya menegang. Kemudian Mbah masuk ke dalam rumah dan memanggil ibu.
“Kenapa sih Pak, akhir –akhir ini Mbah sering marah sama ibu? Tanyaku polos.
“Ndak apa – apa Mi, Mbahmu itu kan sudah usia lanjut, jadi maklum saja lah!” jawab Bapak sambil mengelus kepalaku yang terbalut jilbab kaos.
“O iya Pak, kemarin surat kiriman dari Mbak Nurul datang. Tapi Umi lupa belum memberitahu Bapak sama Ibu. Masih rapi di tas Umi” aku memberitahu Bapak tentang kedatangan surat Mbakyuku , Nurul Fatimah, yang saat ini sedang kuliah di STAN. Alhamdulillah sudah tingkat tiga dan sebentar lagi wisuda. Setelah itu aku tidak tahu Mbak Nurul akan ditugaskan di mana. Tapi yang membuatku bangga adalah dia sudah janji akan membiayai kuliahku setelah aku lulus dari Aliyah, insya Allah setenagh tahun lagi.
“Aduh, kamu kok baru bilang Mi? Bapak sudah kangen sekali sama Nurul, ayo mana suratnya?” Bapak meletakkan sapu yang sedari tadi beliau genggam dan menarik tanganku, kemudian melangkah ke dalam rumah.
Di rumahku sedang sangat ramai. Beberapa ibu tetangga membantu masak. Nanti malam akan ada yasinan dalam rangka memperingati nyedekah atau nyewu dina almarhum Mbah Putri. Entahlah kenapa Bapak sama Ibu yang mengerti syariat islam kok sampai mengadakan nelung dina, mitung dina, matang puluh, nyatus, dan nyedekah. Suatu acara selamatan untuk orang yang sudah meninggal. Mungkin karena adat desaku yang seperti itu. Jikalau ada keluarga yang tidak mengadakan acara selamatan itu maka akan dianggap tidak menghormati arwah. Begitulah kiranya pemahaman Mbah Kakung juga.
Aku sendiri heran, entah norma sosial apa yang mereka terapkan. Masak kalau ada orang mati yang tidak diselamati, banyak warga yang bilang “ pengen mlarat apa? Arwah kok ndak dihormati!” Ah...warga di sini terlalu percaya takhayul. Aku senang bila bulan Ramadhan tiba. Karena biasanya ada anak – anak dari pesantren yang mandah di sini selama hampir satu bulan. Setidaknya mereka akan memberi penegertian kepada masyarakat di desaku tentang agama dan juga mengajari anak – nak serta remaja mengaji Al- Qur’an.
Aku menghampiri Mbah Kakung yang sedang menikmati lintingan tembakau. Dihisapnya dalam – dalam kemudian dikepulkan asap denagn bau tembakau dari mulutnya yang sudah ramping karena giginya tinggal beberapa. Walau kadang beliau aneh, tapi Mbah KAkung adalah sosok yang aku kagumi. Mbah rajin beribadah, Tapi anehnya kenapa Mbah masih percaya dengan hal – hal yang berbau takhayul. Masih ingat kan ketika ibu menyampaikan rencananya untuk merenovasi rumah ini? Mbah bersikukuh tidak memperbolehkannya karena beliau bilang rumah ini ada penunggunya. Ya... bagiku memang ada penunggunya yakni Aku, Bapak, Ibu, Mbah Kakung, dan Mbak Nurul kalau kebetulan sedang di rumah. Dulu ada juga Mbah Putri sebelum beliau kembali ke rahmatullah.
Sebelum aku sampai di tempat duduk Mbah Kakung, beliau sudah mengetahui kedatanganku. Kemudian suara tuanya memanggilku. Aku duduk di depan beliau.
“Cah ayu, kamu ada kejadian aneh ndak setelah ngimpi jadi manten minggu lalu?” Mbah memandangku lekat – lekat. Kuyakin ada suatu hal yang serius.
“Maksud Mbah?” tanyaku menyiratkan ketidakmudenganku.
“Waktu itu ibumu bilang kalau kamu dilangkahi sama kucing sewaktu nonton TV. Kamu juga bercakap sama bapakmu kalau kamu ngimpi ketemu Mbah Putri karena dalam mimpi itu kamu jadi manten” jelas sosok enam puluh lima tahun yang masih saja menikmati lintingannya dan tidak menghiraukan aku yang tidak nyaman dengan asapnya.
“Iya Mbah, tapi Umi tambah tidak paham degan pertanyaan Mbah. Tapi selama ini Umi ndak pernah ngalami hal – hal yang aneh “ aku justru bertambah bingung dengan pertanyaan Mbah.
“Ya syukur lah Mi, kalau kamu ndak ngalami yang aneh – aneh ya sudah, sekarang bantu ibumu nyiapi tempat” suara tua Mbah terdengar lega tapi justru membuatku penasaran. Masak hanya soal dilangkahi kucing sama mimpi ketemu Mbah Putri saja kok jadi masalah buat Mbah.
Sepulang sekolah keesokan harinya aku baru mengerti kenapa akhir – akhir ini Mbah berlebihan memperhatikanku. Aku baru menyadari ternyata Mbah Kakung terlalu memaknai apa yang aku alami. Tentang kucing yang melangkahiku, tentang mimpi jadi manten. Ah...Mbah terlalu paranoid. Beliau terlalu percaya takhayul. Padahal, setelah kejadian itu pun aku sama sekali tidak pernah mengalami peristiwa aneh. Aku baru tahu kenapa Mbah sering uring – uringan terhadap ibu. Bicara ini itu tentang aku. Tentang cara memperhatikan cucu. Mbah, Mbah, kau begitu sayng padaku sampai – sampai kepercayaanmu itu membuatmu tak tenang memikirkanku.
Menurut kepercayaan orang – orang di desaku kalau ada orang yang dijatuhi cicak, maka orang itu akan sial. Kalau ada kupu – kupu yang masuk rumah, mereka percaya kalau akan ada tamu berkunjung. Jika mimpi melihat ular, katanya akan dapat rejeki. Nah, apa yang akau alami yakni kelangkahan kucing dan mimpi jadi manten...menurut kepercayaan orang – orang termasuk Mbah Kakung, katanya...tanda – tanda kalau kita sudah dekat dengan ajal alias mati! Setidaknya begitulah kata – kata sahabatku, Ratmi, yang menjelaskan tentang semua itu padaku saat di sekolah.
Aneh! Bagiku benar – benar sesuatu yang diluar nalar. Ada – ada saja kepercayaan mereka itu. Bukankah rezeki, jodoh, dan kematian itu adalah rahasia Allah swt. Kita hanya menjalankan apa yang Dia perintahkan dan menjauhi laranganNya.
Aku sudah berkeliling rumah, tapi begitu sepi. Kuketuk pintu dan kuucap salam beberapa kali, tapi tak ada sahutan dari dalam. Biasanya jam pulang sekolah seperti ini Ibu di rumah. Bapak juga biasanya sudah pulang dari sawah. Kenapa sih?
“Mi, ada titipan kunci dari ibumu. Ibu sama Bapakmu tadi nyewa mobil buat ngantar Mbahmu ke rumah sakit. Tiba – tiba tadi Mbahmu mengerang kesakitan” jelas Pak Roso, tetanggaku, sambil menyerahkan kunci rumah. Aku masih agak kurang percaya kalau ibu sama bapak sedang mengantar Mbah ke rumah sakit.
“Matur nuwun Pak” ucapku sambil menerima kunci rumahku.
Langsung kuganti seragam sekolahku dengan baju biasa. Setelah itu, kembali kukayuh sepedaku menuju terminal. Aku akan menyusul ke rumah sakit. Kata Pak Roso tadi, Mbah dibawa ke rumah sakit islam. Terminal masih cukup ramai. Kutitipkan sepedaku di salah satu toko yang aku kenal baik pemiliknya adalah orang tua salah satu sahabatku di Aliyah.
Kulangkahkan kakiku cepat disepanjang lorong rumah sakit yang hanya ada bau obat, membuatku mual. Tempat seperti ini kok laris habis. Uh...sempat – sempatnya ditengah – tengah kepanikan aku masih berpikir tentang rumah sakit ini. Kulihat ibuku dengan kerudung birunya duduk di samping Bapak. Semakin kupercepat langkah.
“Ada apa Bu?” tanyaku tak sabar ingin tahu kronologi yang sebenarnya.
“Mbahmu tiba – tiba mengerang kesakitan” suara ibu terdengar lemah ditelingaku. Bapak hanya diam. Aku mengintip ke dalam sebentar. Dokter sedang memeriksa keadaan Mbah. Ah...wajah Mbah tampak tenang. Aku tak melihat tanda – tanda sakit. Selama ini Mbah juga tak pernah sakit. Jangan – jangan....
Dokter yang memeriksa kondisi Mbah keluar. Aku langsung mengikuti ibu dan bapak menghampirinya.
“Maaf Bu, kami sudah berusaha” suara Dokter tertahan.
Sekitarku gelap.
Aku hanya mampu menelan ludah dan membiarkan tangisku berurai. Mbah yang begitu menyayangiku. Melebihi sayangnya pada Mbak Nurul. Mbah yang begitu memperhatikan keselamatanku. Mencemaskan kematianku, tapi ternyata ajal itu telah menjemputnya lebih dulu. Mbah kini telah mempunyai rumah abadi di sana. Di bawah gundukan merah yang baru saja kutinggalkan.
Mbah, apakah saat kau mengerang sakit, kau sedang menyaksikan malaikat Izrail sedang mengahamparkan kain kafan untukmu?
“Kau dilangkah kucing Mi?” tanya ibu padaku dengan raut wajah yang menurutku...aneh, aneh banget.
“Iya, kenapa memangnya Bu?” jawabku polos dan balik bertanya.
“Tidak apa- apa, makanya jangan sambil tiduran gitu” lalu ibuku tak berkata – kata lagi. Aku pun kembali enjoy menikmati sinetron favoritku itu.
Aku anak bungsu dan hanya punya satu kakak perempuan yang sekarang sedang kuliah. Di rumah aku tinggal bersama Bapak, Ibu, dan kakek yang biasa aku panggil Mbah Kakung.
Seperti biasa, setiap pagi ketika ayam berkokok dan cahaya putih di langit sudah mulai tampak, rumah ini mulai hangat dengan kesibukan penghuninya. Ibu sedang sibuk menanak nasi di pawon dan beriap – siap masak, juga menjerang air untuk mandi Mbah. Bapak pun sudah sibuk dengan ayam – ayamnya. Aku tak kalah sibuknya, setelah sholat subuh dan tadarus tadi, aku membaca buku pelajaran sebentar. Habisini aku akan membantu bapak sebentar makani ayam. Entah kenapa aku lebih suka berbaur dengan ayam – ayam yang diternakkan Bapak, berbaur dengan kotoran – kotorannya dan aku senang membersihkan kandang daripada masak di dapur bersama Ibu. Jika Mbah menegur, aku hanya menjawab “ doakan Umi menjadi insinyur ya Mbah”, kemudian akan kulihat Mbah tersenyum dan tangannya akan mengelus kepalaku.
Aku telah selesai mandi. Kukeluarkan sepeda ontel ke halaman. Ketika akan masuk kembali ke kamar untuk mengambil tas, samara – samara kudengar percakapan Ibu dan Mbah Kakung.
“Makanya Nur, anak itu dijaga yang hati – hati” suaraMbah Kakung terdengar sedikit murka.
“Wong Nuning ndak tahu Pak, kejadiannya tiba – tiba” takut – takut ibu mengeluarkan suara. Pernah juga ibu dimarahi sama Mbah karena waktu itu mengungkapkan niatnya untuk merenovasi rumah yang kami diami.
“Pokoknya sekali tidak ya tidak Ning, ingat umur rumah ini sudah tua. Terlalu beresiko bila kau mau merubahnya. Penunggunya pasti akan marah” Mbah berkata dengan suara keras.
“Tapi bukan merubah Pak, hanya memperbaiki bagian yang dirasa perlu. Jika tidak diperbaiki malah akan lebih beresiko karena banyak tiangnya yang keropos dimakan rayap” tapi lagi – lagi ibu dibentak. Sejak saat itu aku tak pernah mendengar lagi ibu menyampaikan niatnya tersebut. Apalagi Bapakku, aku belum pernah mendengar beliau menyampaikan uneg – unegnya pada Mbah. Jika berbicara pada Mbah juga dengan nada yang sangat halus dan hati – hati.
Diam – diam aku menguping diskusi Mbah dan Ibu pagi ini. Kutempelkan telingaku pada dinding kamar yang terbuat dari kayu yang kian hari kian termakan usia.
“Dia itu cucu yang paling aku sayangi. Biarpun ada Nurul mbakyunya, tapi Umi yang paling aku sayangi” ucap Mbah. Aku tak mendengar ibu bicara dan sepi, mereka tidak bicara lagi.
Aku tak meneruskan aksi pengupingan itu, biarlah apapun yang dibicarakan tadi, mungkin memang tentangku. Biar nanti kutanyakan pada Ibu.
Aku pamit. Kukayuh sepedaku menuju sekolah yang jaraknya kurang lebih 3 kilo dari rumahku. Bersama teman – teman, aku melewati jalan desa yang di kanan kirinya terdapat kebun jeruk dan melati. Kadang – kadang ketika musim panen jeruk tiba, kami diberi jeruk oleh pemiliknya. Satu – satu tiap anak. Luar biasa bahagia ketika kami ulurkan tangan untukmenerima jeruk tersebut. Biasanya ketika pulang sekolah kami memang sudah benar – benar haus dan lapar. Hal ini tak mungkin bisa kulupakan dan tertanam di memoriku selama hayat.
“Pak tadi malam Umi mimpi ketemu almarhum Mbah Putri” aku bercerita pada Bapak ketika bersama – sama dengan beliau membersihkan kandang, minggu pagi.
“Wah...seneng dong Mi, disun ndak sama Mbah?” Bapakku yang senang bergurau menanggapi.
“Ya iya Pak, wong Umi sampai sungkem segala. Soalnya mimpi Umni ketemu Mbah Putri tadi malam karena Umi nikah.
“Kecil – kecil kok ngimpinya nikah” bapakku tertawa.
“Wong hanya mimpi” jawabku.
Tiba – tiba Mbah Kakung muncul dan bertanya padaku apa yang tadi aku perbincangkan dengan Bapak. Kujawab seperti yang kuceritakan pada Bapak. Mata cekung Mbah yang sudah hampir enam lima itu membelalak hampir melompat keluar. Pipi kempotnya menegang. Kemudian Mbah masuk ke dalam rumah dan memanggil ibu.
“Kenapa sih Pak, akhir –akhir ini Mbah sering marah sama ibu? Tanyaku polos.
“Ndak apa – apa Mi, Mbahmu itu kan sudah usia lanjut, jadi maklum saja lah!” jawab Bapak sambil mengelus kepalaku yang terbalut jilbab kaos.
“O iya Pak, kemarin surat kiriman dari Mbak Nurul datang. Tapi Umi lupa belum memberitahu Bapak sama Ibu. Masih rapi di tas Umi” aku memberitahu Bapak tentang kedatangan surat Mbakyuku , Nurul Fatimah, yang saat ini sedang kuliah di STAN. Alhamdulillah sudah tingkat tiga dan sebentar lagi wisuda. Setelah itu aku tidak tahu Mbak Nurul akan ditugaskan di mana. Tapi yang membuatku bangga adalah dia sudah janji akan membiayai kuliahku setelah aku lulus dari Aliyah, insya Allah setenagh tahun lagi.
“Aduh, kamu kok baru bilang Mi? Bapak sudah kangen sekali sama Nurul, ayo mana suratnya?” Bapak meletakkan sapu yang sedari tadi beliau genggam dan menarik tanganku, kemudian melangkah ke dalam rumah.
Di rumahku sedang sangat ramai. Beberapa ibu tetangga membantu masak. Nanti malam akan ada yasinan dalam rangka memperingati nyedekah atau nyewu dina almarhum Mbah Putri. Entahlah kenapa Bapak sama Ibu yang mengerti syariat islam kok sampai mengadakan nelung dina, mitung dina, matang puluh, nyatus, dan nyedekah. Suatu acara selamatan untuk orang yang sudah meninggal. Mungkin karena adat desaku yang seperti itu. Jikalau ada keluarga yang tidak mengadakan acara selamatan itu maka akan dianggap tidak menghormati arwah. Begitulah kiranya pemahaman Mbah Kakung juga.
Aku sendiri heran, entah norma sosial apa yang mereka terapkan. Masak kalau ada orang mati yang tidak diselamati, banyak warga yang bilang “ pengen mlarat apa? Arwah kok ndak dihormati!” Ah...warga di sini terlalu percaya takhayul. Aku senang bila bulan Ramadhan tiba. Karena biasanya ada anak – anak dari pesantren yang mandah di sini selama hampir satu bulan. Setidaknya mereka akan memberi penegertian kepada masyarakat di desaku tentang agama dan juga mengajari anak – nak serta remaja mengaji Al- Qur’an.
Aku menghampiri Mbah Kakung yang sedang menikmati lintingan tembakau. Dihisapnya dalam – dalam kemudian dikepulkan asap denagn bau tembakau dari mulutnya yang sudah ramping karena giginya tinggal beberapa. Walau kadang beliau aneh, tapi Mbah KAkung adalah sosok yang aku kagumi. Mbah rajin beribadah, Tapi anehnya kenapa Mbah masih percaya dengan hal – hal yang berbau takhayul. Masih ingat kan ketika ibu menyampaikan rencananya untuk merenovasi rumah ini? Mbah bersikukuh tidak memperbolehkannya karena beliau bilang rumah ini ada penunggunya. Ya... bagiku memang ada penunggunya yakni Aku, Bapak, Ibu, Mbah Kakung, dan Mbak Nurul kalau kebetulan sedang di rumah. Dulu ada juga Mbah Putri sebelum beliau kembali ke rahmatullah.
Sebelum aku sampai di tempat duduk Mbah Kakung, beliau sudah mengetahui kedatanganku. Kemudian suara tuanya memanggilku. Aku duduk di depan beliau.
“Cah ayu, kamu ada kejadian aneh ndak setelah ngimpi jadi manten minggu lalu?” Mbah memandangku lekat – lekat. Kuyakin ada suatu hal yang serius.
“Maksud Mbah?” tanyaku menyiratkan ketidakmudenganku.
“Waktu itu ibumu bilang kalau kamu dilangkahi sama kucing sewaktu nonton TV. Kamu juga bercakap sama bapakmu kalau kamu ngimpi ketemu Mbah Putri karena dalam mimpi itu kamu jadi manten” jelas sosok enam puluh lima tahun yang masih saja menikmati lintingannya dan tidak menghiraukan aku yang tidak nyaman dengan asapnya.
“Iya Mbah, tapi Umi tambah tidak paham degan pertanyaan Mbah. Tapi selama ini Umi ndak pernah ngalami hal – hal yang aneh “ aku justru bertambah bingung dengan pertanyaan Mbah.
“Ya syukur lah Mi, kalau kamu ndak ngalami yang aneh – aneh ya sudah, sekarang bantu ibumu nyiapi tempat” suara tua Mbah terdengar lega tapi justru membuatku penasaran. Masak hanya soal dilangkahi kucing sama mimpi ketemu Mbah Putri saja kok jadi masalah buat Mbah.
Sepulang sekolah keesokan harinya aku baru mengerti kenapa akhir – akhir ini Mbah berlebihan memperhatikanku. Aku baru menyadari ternyata Mbah Kakung terlalu memaknai apa yang aku alami. Tentang kucing yang melangkahiku, tentang mimpi jadi manten. Ah...Mbah terlalu paranoid. Beliau terlalu percaya takhayul. Padahal, setelah kejadian itu pun aku sama sekali tidak pernah mengalami peristiwa aneh. Aku baru tahu kenapa Mbah sering uring – uringan terhadap ibu. Bicara ini itu tentang aku. Tentang cara memperhatikan cucu. Mbah, Mbah, kau begitu sayng padaku sampai – sampai kepercayaanmu itu membuatmu tak tenang memikirkanku.
Menurut kepercayaan orang – orang di desaku kalau ada orang yang dijatuhi cicak, maka orang itu akan sial. Kalau ada kupu – kupu yang masuk rumah, mereka percaya kalau akan ada tamu berkunjung. Jika mimpi melihat ular, katanya akan dapat rejeki. Nah, apa yang akau alami yakni kelangkahan kucing dan mimpi jadi manten...menurut kepercayaan orang – orang termasuk Mbah Kakung, katanya...tanda – tanda kalau kita sudah dekat dengan ajal alias mati! Setidaknya begitulah kata – kata sahabatku, Ratmi, yang menjelaskan tentang semua itu padaku saat di sekolah.
Aneh! Bagiku benar – benar sesuatu yang diluar nalar. Ada – ada saja kepercayaan mereka itu. Bukankah rezeki, jodoh, dan kematian itu adalah rahasia Allah swt. Kita hanya menjalankan apa yang Dia perintahkan dan menjauhi laranganNya.
Aku sudah berkeliling rumah, tapi begitu sepi. Kuketuk pintu dan kuucap salam beberapa kali, tapi tak ada sahutan dari dalam. Biasanya jam pulang sekolah seperti ini Ibu di rumah. Bapak juga biasanya sudah pulang dari sawah. Kenapa sih?
“Mi, ada titipan kunci dari ibumu. Ibu sama Bapakmu tadi nyewa mobil buat ngantar Mbahmu ke rumah sakit. Tiba – tiba tadi Mbahmu mengerang kesakitan” jelas Pak Roso, tetanggaku, sambil menyerahkan kunci rumah. Aku masih agak kurang percaya kalau ibu sama bapak sedang mengantar Mbah ke rumah sakit.
“Matur nuwun Pak” ucapku sambil menerima kunci rumahku.
Langsung kuganti seragam sekolahku dengan baju biasa. Setelah itu, kembali kukayuh sepedaku menuju terminal. Aku akan menyusul ke rumah sakit. Kata Pak Roso tadi, Mbah dibawa ke rumah sakit islam. Terminal masih cukup ramai. Kutitipkan sepedaku di salah satu toko yang aku kenal baik pemiliknya adalah orang tua salah satu sahabatku di Aliyah.
Kulangkahkan kakiku cepat disepanjang lorong rumah sakit yang hanya ada bau obat, membuatku mual. Tempat seperti ini kok laris habis. Uh...sempat – sempatnya ditengah – tengah kepanikan aku masih berpikir tentang rumah sakit ini. Kulihat ibuku dengan kerudung birunya duduk di samping Bapak. Semakin kupercepat langkah.
“Ada apa Bu?” tanyaku tak sabar ingin tahu kronologi yang sebenarnya.
“Mbahmu tiba – tiba mengerang kesakitan” suara ibu terdengar lemah ditelingaku. Bapak hanya diam. Aku mengintip ke dalam sebentar. Dokter sedang memeriksa keadaan Mbah. Ah...wajah Mbah tampak tenang. Aku tak melihat tanda – tanda sakit. Selama ini Mbah juga tak pernah sakit. Jangan – jangan....
Dokter yang memeriksa kondisi Mbah keluar. Aku langsung mengikuti ibu dan bapak menghampirinya.
“Maaf Bu, kami sudah berusaha” suara Dokter tertahan.
Sekitarku gelap.
Aku hanya mampu menelan ludah dan membiarkan tangisku berurai. Mbah yang begitu menyayangiku. Melebihi sayangnya pada Mbak Nurul. Mbah yang begitu memperhatikan keselamatanku. Mencemaskan kematianku, tapi ternyata ajal itu telah menjemputnya lebih dulu. Mbah kini telah mempunyai rumah abadi di sana. Di bawah gundukan merah yang baru saja kutinggalkan.
Mbah, apakah saat kau mengerang sakit, kau sedang menyaksikan malaikat Izrail sedang mengahamparkan kain kafan untukmu?
Langganan:
Komentar (Atom)