Suatu kali dalam hidupku yang demikian indah (boleh bukan kukatakan begitu?) rasaku hancur oleh sebuah komentar "STOP MIMPI". Aku berusaha memahaminya bahwa komentar itu keluar karena emosi yang berlebih (mungkin). Tapi tetap saja, sampai terbawa tidur juga. memang kalau kuingat itu jadi tertawa sendiri. masa sih cuma gara-gara perkataan seperti itu? iya, kok bisa ya? saat aku menuturkan cerita ini pun aku sembari membayangkan ekspresiku di suatu tempo dalam hidupku itu. 19 tahun, bukan waktunya lagi untuk mempersoalkan hal sepele. Ada misi yang jauh lebih penting untuk menjadi terus berkembang.
Kembali pada apqa yang ingin aku bahas, "STOP MIMPI". Aku merenunginya sampai di penghujung malam utnuk mencoba mengerti makna terdalam dari dua kata itu. suatu saat akan aku paparkan untuk kalian. boleh saja tertawakanku, tapi kenyataannya saat itu asmaku kambuh sampai dua hari. Bodoh benar aku ini waktu itu. Sebenarnya bukan masalah siapa yang menyampaikan, tapi apa yang disampaikan begitu krusial bagiku. Mimpi... berpuluh jumlahnya kutulis. dan sekali waktu jika tercapai aku pun akan memberi check list. Mimpi itu suatu kebahagiaan bagiku. Kenapa? karena apa yang kucapai sekarang adalah sebagian dari mimpiku dulu.
"STOP MIMPI". Aku tak pernah mengiyakan atau pun memberontak menanggapi komentar itu. Hanya kusampaikan, jika aku tidak bermimpi hari ini lalu apa yang bisa kusisakan untuk esok hari? Mimpi seperti tengadah doa bagiku saat malam tiba dan esok pagi kutapaki tangga untuk mencapainya.
Telah kusampaikan tadi bahwa aku sampai merenungi kata-kata itu sampai di penghujung malam. mungkin sebenarnya aku tak bisa memejamkan mata karena napasku yang aneh, seperti orang hampir mati kalau kata temanku. karena itu aku tak mau lagi berda dalam kondisi merenungi kata-kata itu terlalu lama. Sampai suatu pagi kusampaikan pada hatiku...
"Aku boleh bermimpi?" tanyaku pada hatiku.
"Boleh... karena mimpi itu jembatan." jawabnya tenang di seberang gelombang suara.
"Mimpi itu gratis kan?" terusku lagi.
"Kuyakin kau lebih tahu hal itu, kau lebih ahli untuk merenunginya."
"Apa aku punya kewajiban ketika aku bermimpi?"
"Jika mimpimu baik, kau tanamkan pada dirimu untuk mewujudkannya."
"Lalu... apa orang lain berhak mengehntikan mimpiku?" aku ragu-ragu menanyakan hal itu.
"Boleh!!!! supaya kau lebih membumi." aku kaget dengan jawaban itu. apa maksudnya lebih membumi? apa aku selama ini terlalu tamak dengan apa yang ingin kucapai.
Membumi... membumi... membumi, agaknya itu teguran buatku agar aku memuliakan sesama. aku tak boleh egois hanya karena ingin mencapai mimpi memiliki apa yang aku inginkan.
Sampai saat ini aku pun masih suka bermimpi... tapi mimpi itu sekedar selingan. yang lebih mantap dalam diriku sekarang adalah impian yang harus segera aku WUJUDKAN.
Tampilkan postingan dengan label asa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label asa. Tampilkan semua postingan
Rabu, 25 Maret 2009
Kamis, 08 Januari 2009
Rasa yang Tak Lagi Teraba
Meski sungguh kuakui bahwa hati ini merasa berat dengan sebuah realita yang terjadi, namun tak pernah kusesali karena itu adalah yang terbaik. Ada sebuah corak dalam hati ini yang tak bisa kuhapus, corak yang terlalu indah untuk dimaknai. Bahkan aku telah mengatakannya bahwa kulukis corak itu pada gelapnya langit malam supaya terlihat seperti bintang. ketika itu aku masih hidup dalam mimpiku bukan hidup dengan mimpi yang harus diperjuangkan. lalu aku tersadar akan sebuah kenyataan yang sebenarnya. Aku tersadar kala beberapa kata keluar dari mulut bijak itu....
"Dalam kondisi seperti apapun kamu harus mampu berdiri sendiri" ucapnya.
Air mataku telah mengembang tinggal menunggu pecahnya saja saat itu. Tak kuasa kudengar suara yang selama ini membuatku terus terpacu untuk tak diam menghadapi masalah. suara yang selama ini memberikan asaku terkembang. Jujur, aku tergagap mendengar kata-katanya yang terakhir itu. Apakah batas dari kesiapan hati telah tiba pada pintu gerbang yang sebenarnya?
Aku tak mengerti seperti apa perasaannya, yang pasti ada satu perasaan halus yang menyulut di dasar hati ini. Perasaan yang begitu lembut, terasa... meski rasa itu, mungkin tak lagi teraba.
"Dalam kondisi seperti apapun kamu harus mampu berdiri sendiri" ucapnya.
Air mataku telah mengembang tinggal menunggu pecahnya saja saat itu. Tak kuasa kudengar suara yang selama ini membuatku terus terpacu untuk tak diam menghadapi masalah. suara yang selama ini memberikan asaku terkembang. Jujur, aku tergagap mendengar kata-katanya yang terakhir itu. Apakah batas dari kesiapan hati telah tiba pada pintu gerbang yang sebenarnya?
Aku tak mengerti seperti apa perasaannya, yang pasti ada satu perasaan halus yang menyulut di dasar hati ini. Perasaan yang begitu lembut, terasa... meski rasa itu, mungkin tak lagi teraba.
Langganan:
Komentar (Atom)