Kamis, 26 Februari 2009
Tanyakan Padaku, Jawabnya Kuserahkan Pada Waktu
dilanjutkan dengan apa? dengan pembicaraan.
tentang siapa? tentangnya yang hilang.
mengapa kau tanya? karena tak ada lagi yang tersisa.
Apakah harus sirna? ya, karena itu yang kuinginkan.
kejam? katakanlah begitu.
tega? biarkan saja orang menggerutu.
tak punya hati? apa pedulimu.
kau bodoh? tak seperti itu.
hening... memasung waktuku
ikhlas... kubisikkan pada hati
lepas... kucobakan untuk mengerti
puas... tak pernah kusadari
Jumat, 28 November 2008
Tanpa Judul (Karena Sebuah Kebimbangan)
Dan kelak, di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu
Dan kau tak tahu jalan mana yang harus kau ambil, janganlah memilihnya dengan asal saja, tetapi duduklah dan tunggulah sesaat.
Tariklah napas dalam dalam, dengan penuh kepercayaan, seperti saat kau bernapas di hari pertamamu di dunia ini, jangan biarkan apa pun mengalihkan perhatianmu, tunggulah dan tunggulah lebih lama lagi. Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarkanlah hatimu. Lalu ketika hatimu bicara, beranjaklah, dan pergilah kemana hati membawamu.
(Tamaro, 2004:215)
Aku sedang membuat suatu keputusan untuk mundur. mundur untuk melunturkan rasa. mundur selangkah untuk maju tiga langkah atau bahkan lebih. tapi ternyata itu tak mudah. Banyak yang mengusikku... banyak yang membuatku bimbang....
Sebenarnya mudah saja jika aku mampu dengan begitu saja tapi kenyataannya aku masih belum mampu.