Be an Ordinary Person with Extraordinary Personality
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Mei 2011

Dongeng Sebelum Mati

Aku sendu aroma melati,
tertatih dalam jingga warna sedih
merunduk pada pilu yang mengantarku ingin segera mati

Hai, itukah kau di sana?
Aku menunggumu sedari tadi
Aku tak sabar melihat rupa wajahmu,
hatiku terburu-buru ingin melihat semewah apa jubahmu

Aku sendu aroma melati
yang membuatku ingin segera mati

Kenapa kau lama sekali?
kerongkongku telah begitu sakit, dan aku makin sakit dengan tangisan mereka

Kenapa kau lama sekali?

Aku sendu aroma melati
membuatku ingin cepat mati

Tapi langkahmu enggan mendekatku
aku juga tak mendapati warna jubahmu,
akankah hitam kelam seperti yang mereka katakan?

Aku sendu aroma melati,
dan kau cepatlah datang
aku ingin cepat mati

Bogor, 18 Mei 2011. sebuah perbincangan

Selasa, 23 November 2010

???

Ini seperti remah-remah busuk
Bertahan di lautan beton
Bacin!
Ini seperti layu-layu basah
Kerap tak terjamah karena sampah
Bukankah waktu yang menebarkan aromanya?

Rasa, menuai makna sepihak penuh sesak
Dan gigi gertak menahan amarah yang ditimpa lara
Ini memang busuk, basah, dan sampah
Tapi hanya sepihak

Bogor, Oktober 2010

Minggu, 07 November 2010

Saudaraku, di Lereng Merapi

Ya Allah, untuk saudara-saudaraku disana, di lereng Merapi
Aku minta maaf tidak bisa memberikan kontribusi apa pun
Hanya iringan doa yang bisa kuhaturkan padaMu
Terserah padaMu, Engkau Yang Maha Mengatur segala kejadian
Engkau yang menentukan setiap kehidupan

Ya Allah, bukankah janjiMu nyata?
Setelah ada kesusahan akan ada kebahagiaan
Semoga Ya Allah, Tuhanku
Aku miris dan tersayat melihat wajah-wajah itu, wajah yang tersaput abu vulkanik
Bulu romaku tegak tatkala tangisan pilu seorang anak yang kehilangan ayahnya pecah

Kau sedang menguji hambaMu, wahai Rabbi?
Jika ini adalah ujian, maka naikkan derajat mereka yang begitu tabah menerima cobaanMu
Jika ini azab, ampuni dosa dan kesalahan kami
Jadikan kami manusia yang mampu belajar dari setiap kejadian
Belajar dari kemarahan alam
Belajar dari ujian-ujianMu

Rabu, 04 Agustus 2010

ELEGI

Malam, biarkan aku mengendusmu
Sampai kutemukan titik temu
Biarkanku menahan napas, menikmatimu
Bersandar nyaman di bahu lelapmu

Minggu, 04 Oktober 2009

ODE UNTUK AYAH

Kau menopangku dengan kuatmu
Memapahku dengan caramu
Bersihkan lukaku dengan ikhlasmu
Suapkan kebajikan untuk tegapnya langkahku
Membantuku terus berdiri menantang terik
Melindungi tubuhku dari serangan dingin

Kau menuntunku
Kuatkanku
Sadarkanku
Mendidikku

Betapa kusadari kini,
Bahwa aku sangat mencintaimu
Berhasrat terus membahagiakanmu

AYAHKU...

WAKTU

Tik tok
Tik tok
Tik tok
Tik tok
Tik tok
Tik tok
Tik tok
Terus berjalan

Rabu, 19 Agustus 2009

MARHABAN YA RAMADHAN

Allah Ya Rabbi
Puji atas-Mu untuk anugerah ini
Bersua kembali dengan bulan suci
Yang Kau turunkan wahai Al-Qudsi

Allah ya Salam
Kau wajibkan shiam
Berbuka di saat malam

Allah Ya Rahman
17 Ramadhan
Kau wahyukan Al-Qur’an
Petunjuk kehidupan
Kepada Rasul penutup zaman

Allah Ya Jabbar
Berkahilah Lailatul Qadar
Dengan pahala dan syafaat yang memancar
Ampuni dosa kami Ya Ghoffar

Marhaban Ya Ramadhan
Marhaban Ya syahro Shiam

Rabu, 05 Agustus 2009

KEPADA BULAN

Apakah bulan itu mendengarku?
Mendengar panggilku dalam lirih danjerit suara hati
Terhantar oleh desir angin malam
Untuk sebuah mimpi
Mengenangmu,
Melepaskanmu dalam semangat yang paling unggul

KOTAK MUSIK

Dalam kotak kenanganku
Masih tersusun rapi
Setiap detail memori
Tentang pertemuan dan perbincangan
Suara-suara itu, suara kita
Terekam dalam kotak musik di hatiku

Aku mendengarkannya sesukaku,
Setiap waktu
Bisikanmu membelaiku
Membuatku tersenyum simpul
Suaramu tenangkanku
Tentramkan sendi-sendi lelahku

SI SI SI SI HIDUP

Aku diizinkan untuk bertemu dengan banyak orang.

Dengan si lembut hati penyayang.

Dengan si idealis penyabar.

Dengan si jutek pemarah,

serta lusinan si yang lain.

Aku tak tahu hal serupa apa yang akan dikatakan oleh para si itu terhadapku.

Apakah si buruk rupa, si jahat, si baik hati atau si apa?

Beragam cara pandang kudapati dari perspektif hidupku.

Si apa aku, menurutku

Si apa aku, menurutmu

Si apa kamu, menurutmu

Si apa kamu, menurutku

Sabtu, 04 Juli 2009

SEBENTUK HARAP

Buatlah diriku mengerti

Melalui kata-kata yang bisa kumaknai

Dengan laku yang mampu ku hargai

Bukan dengan kebisuan yang bungkam

Bukan dengan henti yang tak mampu kurenguh

Cinta, Kutahu Dirimu

Sekarang, aku tahu bahwa cinta tak terbatas pada gambar waru

Aku tahu cinta tak sekedar kata I love you

Aku tahu cinta tak sekejap kedipan mata pada pandangan pertama

Sekarang, aku tahu bahwa cinta juga bisa tanpa kata-kata

Sabtu, 23 Mei 2009

Cerita Tentang Cara

Ada setitik rasa hampa saatku mengartikan bahasa matamu

Binar-binar bahagiamu mengantarku pada segores pedih tak berupa

Kau tersenyum dalam kalutku

Kau lambaikan lunglai tanganmu dengan angkuh, tak biasa

Aku hanya bisa diam, tak mampu menjawab lambaianmu

Sekarang ada tangan kokoh penopang ringkihmu

Telah ada senyum tulus yang kau nanti menjadi penyejuk penatmu

Kesetian baru hadir menyertaimu, dia mimpi-mimpimu

Mimpi indahmu

Aku kehilangan

Tapi setelah kupikir lagi, untuk apa begitu

Harusnya aku lega dan rela terhadapmu

Aku tak perlu risau lagi melepasmu

Sambut pagi dengan langkah pasti

Songsong siang dengan ayunan asa

Menjamu sore dengan sinar yang masih memancar

Memeluk malam dengan dekap keikhlasan

Memang aku sempat kecewa

Merasa

Tercabik saat kehilangan kikik tawamu

Namun setelah kusadari semuanya adalah harapmu selama ini

Maka syukur tak terperi kututurkan


Kau bebas

Saatnya terus kau gandeng tangan kokoh penopangmu

Agar mampu kau kuatkan tiap tiang yang kau tancap

*Sahabatku, tetap sisakan ruang di hatimu untukku dan untuk mereka. Meski kau hidup di satu masa, namun banyak cerita yang mengiringinya.

Tak Berjadwal

Jeritanku tak ada yang mengerti

Aku tak tahu mengapa hadirmu dengan cara yang seperti ini?

Datang, datang, datang, datang

Pergi, datang, pergi, datang, pergi

Datang, datang, pergi, pergi

Datang lagi

Harus dengan cara apa aku jelaskan

Jiwa ini meradang garang

Aku tak henti menyebut namamu di setiap pejam dan jagaku

Kau tahu?

Aku pernah berteriak mengusirmu sebagai pelampiasan harapku

Kau abaikan begitu saja

Kau congkak

Angkuhmu biarkanku menjerit sakit

Datang pergi silih berganti seperti jadwal kereta malam

Aku bukan sekolah yang berjadwal

Apalagi bioskop yang bisa kau datangi kapan saja

Sampai kapan?

Datang pergi silih berganti seperti kereta malam?

Berita Malam

Malam berkabut
Derai tawa sirna tak berbekas
Ada satu hal lagi yang terlupakan
Tentang bisikan nurani di masa yang telah tertelan

Simponi rindu berubah menjadi petikan gitar kematian
Tak mau kusentuh sedikit saja
Menjadi gesekan dawai berirama canda
Yang tersisa hanya tangis tragis
Tak ada berita lain
Kecuali tentang peti mati

Waru

Jika ada satu hati berduka

Merubah segala cinta menjadi luka

Kadang atau barangkali

Pernah kau gambarkan bahwa cinta seperti daun waru

Tapi kau tak pernah tunjukan seperti apa waru itu padaku

Otakku abstrak

Kau bicara dalam mata yang terbaca

Cinta itu tak berbentuk

Cinta itu halus

Hanya saja,

Otakku mencerca

Di mana halusnya cinta?

Bukankah dia kasar dan kejam

Meski membelaiku namun menyakitkan

Seperti belati panas dalam luka koreng

Manumisio*

Terkadang aku ingin menjadi matamu,

Agar aku bisa membaca setiap seni di hidupmu

Tapi biarlah setiap tubuh menikmati

Setiap seni yang mewarnai hidupnya

Yang mengalir dalam darahnya

Termasuk dirimu

Seni,

Meski tak terlihat

Namun geraknya selaras dengan nyanyian rindu

Meski tak terdengar

Namun suaranya begitu merdu

Meski tak terbaca

Namun bahasanya begitu syahdu

Katakan pada seni di hidupmu

’Aku ingin menikmatimu,

Menjadi roh dalam kehidupanmu’

Padamu,

Jiwa yang menggeliat dalam galau penat

Temukan seni

Lalu jadilah api

*Pendewasaan pemikiran anak-anak (dengan surat)

Minggu, 19 April 2009

Sahabatku, Sampaikan Pada Teman Manismu

Sahabatku,

Sampaikan pada teman manismu

Kau memang tak sempurna

Tapi kau tak pernah berupaya membuatnya cacat

Sahabatku,

Sampaikan pada teman manismu

Rasa sekaratmu telah berakhir

Meski sempat kau rasa akhir yang bagimu tragis, saat itu

Tapi semuanya telah lunas dengan tangis

Sahabatku,

Sampaikan pada teman manismu

Kau anggap dia malaikat di matamu

Dan selamanya dia tetap malaikat, sekali lagi di matamu

Meski sesungguhnya kau pun sadari

Sebenarnya, teman manismu

Malaikat di khayalmu

Dalam khayal imajimu

Sahabatku,

Sampaikan pada teman manismu

Dia adalah dia

Manusia bertajuk malaikat dalam otakmu

Tapi dia tetap dia, manusia

Yang kadang senyumnya pun tersekat

Sahabatku,

Sampaikan pada teman manismu

Dia akan selalu terasa sempurna di hadapmu

Sampaikan pada teman manismu

Yakinkan dia

Bahwa kau memang tak bisa sempurna di matanya

Tapi kau tetap ada

Bukan untuk dia teman manismu saja

Sajak DUA

Aku ingin menangis

Hingga air mata ini habis

Aku ingin berteriak

Hingga suaraku serak

Aku ingin berontak

Meski tubuhku terasa luluh lantak

Sepi, sakit, penat

Kupikir, apakah aku sekarat?

Aku jenuh dengan kehidupan

Panas, pengap, jahat

Membuat napasku semakin mampat

Lelah aku dengan realita

Menusukku

Setajam belati

Panas

Tercelup bara api