Aku mendengar suaramu dalam gelombang tak terlihat, malam ini, baru saja. Saat bulan penuh. Kemudian kau mengangkat kelelahanku dengan nadamu yang mendamaikan. Aku begitu merindukanmu, sejak empat tahun yang lalu. Sejak di samping kananmu ada seorang yang kau sematkan cincin di jari manisnya. Sejak kau tersenyum padaku dalam bahagiamu bersamanya. Aku hanya tersenyum getir melihatmu. Meneteskan air mata dalam pahit kehilangan jejakmu. Kau yang memarahiku saat aku mencoba untuk melangkah bersama sahabatmu. Kau yang menegurku tiap kali aku melewati bayanganmu. Di tahun pertama.
Aku menulis namamu. Aku tahu nilai ulangan sejarahmu. Aku mendeskripsikan ketololanmu. Aku dan segala sesuatu tentangmu. Hari ulang tahunmu, sebentar lagi.... tak pernah kulupa satu tanggal yang pernah membuatku terjatuh karena tak bisa ucapkan semoga panjang umur atasmu. Kau istimewa dengan caramu. Aku masih ingat lagu yang kau nyanyikan:
Denting piano kala jemari menari
Nada merambat pelan, di kesunyian malam
Saat datang rintik hujan
Bersama sebuah bayangan yang pernah terlupakan
Hati kecil berbisik, untuk kembali padanya
Seribu kata menggoda, seribu sesal didepan mata
Seperti menjelma
Waktu aku tertawa, kala memberimu dosa
Oh maafkanlah, oh maafkanlah
Rasa sesal di dasar hati
Diam tak mau pergi
Haruskah aku lari dari kenyataan ini
Pernah 'ku mencoba 'tuk sembunyi
Namun senyummu tetap mengikuti
Rasa sesal di dasar hati
Diam tak mau pergi
Haruskah aku lari dari kenyataan ini
Pernah 'ku mencoba 'tuk sembunyi
Namun senyummu tetap mengikuti
Rasa sesal di dasar hati
Diam tak mau pergi
Haruskah aku lari dari kenyataan ini
Rasa sesal di dasar hati
Diam tak mau pergi
Haruskah aku lari dari kenyataan ini
Pernah 'ku mencoba 'tuk sembunyi
Namun senyummu tetap mengikuti*
Senyummu memang terus mengikuti, selama ratusan hari kebersamaan kita. Tapi kau tak pernah mengkhianati persahabatan kita. Sampai malam ini, ketika aku mulai lelah mencari tahu kabarmu. Kau hadir, dan mengangkat lelahku. Entah, kenapa aku begitu bahagia? Ini saat pertamaku benar-benar lega setelah kepingan memori puluhan hari silam menelanku dalam lubang hitam ketidakpastian.
Kau masih mengingatku? Dulu, kau selalu memainkan jari-jari tanganmu untuk menghiburku di dalam kelas. Pulangnya, kau pun membukakan pintu supaya aku keluar lebih dulu. Tapi kau curang, kau tak pernah mau piket. Selalu saja aku menggantikan tugasmu. Tapi, kau menumbuhkan semangatku untuk terus berusaha. Kau membuatku bisa menyelesaikan cerpenku selama dua jam. Dan tadi, kau masih mengingatku.
Kau masih menyusun rapi puzzle kebersamaan kita dulu. Aku ingat, saat kau menghadapkan wajah kekasihmu padaku. Kau pegang tangannya, dan kau memintaku untuk menuntaskan gelisahnya. Aku hanya sanggup mengangguk dalam dorongan yang tak tentu. Antara dirimu dan ketidakmungkinan. Sampai saat kita berpisah setelah tahun ketiga, aku tahu kau dikhianatinya. Hingga aku tak ingin tahu lagi apa-apa tentangmu.
Tapi kau kembalikan memori masa-masa putih. Ketika kepolosan menjadi lagu-lagu kita. Ketika seulas senyum begitu bermakna. Kau, masihkah bersama bola basketmu? Yang memantul seirama dengan detak harapanku dulu? Masih adakah rompi merah marunmu yang biasa kau kenakan saat musim hujan? Sudah berapa trik jari tangan yang kau kuasai sekarang? Kau masih suka Iwan Fals? Sepatumu? Dan satu lagi, apa sekarang kau sudah mau difoto bukan untuk ijazahmu?
Nadamu, mengangkat lelahku malam ini....
*Lirik lagu Yang Terlupakan Iwan Fals
Tampilkan postingan dengan label kenangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kenangan. Tampilkan semua postingan
Selasa, 15 September 2009
HATI-HATI DENGAN TELINGA
Aku merasa seperti berputar-putar di sebuah labirin tua, sempit. Tak berbatas perdu atau semak yang cukup longgar, tapi aku terhimpit rumpun bambu liar yang membentuk alur buntu. Tak tahu ke mana harus kujejak. Semua buntu. Di saat seperti ini kupikir semua indraku tak berfungsi dengan baik. Tak cukup gaung jika aku berteriak, tak kan ada yang mendengarku. Kakiku pun sudah terlalu lemas untuk kuseret, pasrah. Jika memang Tuhan berkehendak helaan terakhir napasku adalah di tempat terkutuk ini, maka semoga esok hari ada yang menemukanku dan menguburku dengan layak. Pandangan ini sudah semakin kabur, tak ada cahaya, tak ada harapan meski hanya melihat bayangan tubuhku sendiri.
Tubuh ini tergoncang hebat ketika secercah cahaya menusuk retina mata. Ternyata labirin itu hanya mimpi. Tapi mengapa labirin? Mengapa buntu? Mengapa bambu liar? Berbagai tanda tanya agung membentuk stempel di otakku.
Kemesraan ini....
Janganlah cepat berlalu,
Hatiku damai,
Jiwaku tentram di sisimu*
Kini bukan lagi rasa sadarku yang berada di daerah ambang, tapi telingaku mendengar gumam lagu bertajuk kemesraan yang sempat kau dendangkan untukku. Aku baru saja tersadar dari mimpi tapi sepertinya harus kembali tersungkur ke lama bawah sadar itu lagi.
Tubuh ini tergoncang hebat ketika secercah cahaya menusuk retina mata. Ternyata labirin itu hanya mimpi. Tapi mengapa labirin? Mengapa buntu? Mengapa bambu liar? Berbagai tanda tanya agung membentuk stempel di otakku.
Kemesraan ini....
Janganlah cepat berlalu,
Hatiku damai,
Jiwaku tentram di sisimu*
Kini bukan lagi rasa sadarku yang berada di daerah ambang, tapi telingaku mendengar gumam lagu bertajuk kemesraan yang sempat kau dendangkan untukku. Aku baru saja tersadar dari mimpi tapi sepertinya harus kembali tersungkur ke lama bawah sadar itu lagi.
Jumat, 04 September 2009
HIJAU DAN PUTIH
‘Aku mau hijau’ kataku.
‘Putih saja’ katamu.
‘Hijau’
‘Putih’
‘Hijau’
‘Putih’
Jangan katakan bahwa itu hanya perkara selera yang remeh temeh. Hijau. Putih. Bukan hal aku miopi atau hipermetropi, apalagi kotok ayam. Itu adalah persoalan hidup dan mati. Hijau. Putih. Adalah persoalan hidup dan mati, bagi persepsiku. Kau bilang... aku mengubur otakku dengan pikiranku. Barangkali saat kau mengatakannya, kau tak terbersit apa-apa. Tapi terlintas dalam bayangku. Kuburan itu, kematian itu. Mungkin lebih menyenangkan.
Aku mau hijau. Kau lantangkan putih saja. Apa kau pikir putih itu suci? simbol dari dinding ketidakterjamahan? Apa yang bisa kau kuatkan tentang putih. Apa akan kau sebutkan bahwa gigiku putih, mataku putih, tulangku putih, rambutku akan memutih. Kau punya banyak alasan putih, Sayang. Tapi aku tak menerimanya. Aku tak suka putihmu. Putihku kematian. Putihku kafan, Sayang. Semakin kau menunjukkanku pada putih berarti kau menginginkanku dekat pada mati. Kau mau aku mati, Sayang?
Hijau, sayang. Hijau saja. Hijau itu hidup. Kehidupan. Aku takkan disebut sendiri. Daun-daun hijau. Takkan disebut gigiku, tulangku, atau ubanku. Kodok hijau, ulat hijau, ular hijau, ribuan fitoplankton hijau. Sayang, banyak yang hijau. Bahkan tai manusia juga juga terkadang hijau. Bukankah tai adalah bukti kehidupan lewat berlangsungnya metabolisme? Apa artinya putih? Gigi, tulang, uban, mata... akan tetap putih meski pun mati kecuali jika belatung telah menggerogoti.
Sayang, aku mau hijau saja. Aku belum mau putih.
‘Putih saja’ katamu.
‘Hijau’
‘Putih’
‘Hijau’
‘Putih’
Jangan katakan bahwa itu hanya perkara selera yang remeh temeh. Hijau. Putih. Bukan hal aku miopi atau hipermetropi, apalagi kotok ayam. Itu adalah persoalan hidup dan mati. Hijau. Putih. Adalah persoalan hidup dan mati, bagi persepsiku. Kau bilang... aku mengubur otakku dengan pikiranku. Barangkali saat kau mengatakannya, kau tak terbersit apa-apa. Tapi terlintas dalam bayangku. Kuburan itu, kematian itu. Mungkin lebih menyenangkan.
Aku mau hijau. Kau lantangkan putih saja. Apa kau pikir putih itu suci? simbol dari dinding ketidakterjamahan? Apa yang bisa kau kuatkan tentang putih. Apa akan kau sebutkan bahwa gigiku putih, mataku putih, tulangku putih, rambutku akan memutih. Kau punya banyak alasan putih, Sayang. Tapi aku tak menerimanya. Aku tak suka putihmu. Putihku kematian. Putihku kafan, Sayang. Semakin kau menunjukkanku pada putih berarti kau menginginkanku dekat pada mati. Kau mau aku mati, Sayang?
Hijau, sayang. Hijau saja. Hijau itu hidup. Kehidupan. Aku takkan disebut sendiri. Daun-daun hijau. Takkan disebut gigiku, tulangku, atau ubanku. Kodok hijau, ulat hijau, ular hijau, ribuan fitoplankton hijau. Sayang, banyak yang hijau. Bahkan tai manusia juga juga terkadang hijau. Bukankah tai adalah bukti kehidupan lewat berlangsungnya metabolisme? Apa artinya putih? Gigi, tulang, uban, mata... akan tetap putih meski pun mati kecuali jika belatung telah menggerogoti.
Sayang, aku mau hijau saja. Aku belum mau putih.
Rabu, 19 Agustus 2009
HAMBALANG BERSATU
Hari-hari bersama kalian
Akan menjadi kenangan yang takkan terlupakan
Meski kita berbeda-beda
Bersama kita ciptakan persaudaraan dengan persahabatan
Abadilah persahabatan
Lantang kita gemakan
Agar seluruh dunia mendengar kisah
Napak tilas perjalanan kita
Gapai impian bersama
HAMBALANG... untuk sahabat-sahabatku yang mau menerimaku menjadi bagian dari mereka:
Zaenal: ketua yang sabar dan polos dengan jargon BIASA dang TENANG AE. Terima kasih siraman kopinya pagi-pagi itu.
Bagus : Sahabat yang berani dengan pendapatnya, berani dengan percaya dirinya. Kamu hebat... bagus dengan style baru rambutmu.
Ferdi : Ternyata kostan kita dekat, he he, maaf selalu meledek poni rambutmu... kapan dipotong? terima kasih sudah membangunkan untuk sholat subuh.
Taufan: sekali-kali boleh akur dong... hehe, thanks untuk pengertian mengenai perbedaan kecerdasan antara otak kiri dan otak kanan.
Dame : Deuh si pemikir... sensitifan ne orangnya. Calon ahli ekonomi yang mandiri, kamu negosiator yang cukup ulung apalagi kalo lagi nego harga sewa mobil bak dari pasir gedogan sampai tapos.
Ema' : Sufna yuna jalma luna halluna nadhor, suaramu bagus cuy... mantap deh di telinga. kalo jalan malam-malam gelap jangan takut lagi yahhh, he he. kamu adalah orang pertama yang kutemui dengan durasi sikat gigi paling lama.
Wari : Wariiii............ kukira pendiam, cihuy... ternyata he he. tetap makan yang banyak kawan... kamu polos dan jujur. Paling tahu di mana spot-spot warung yang jual jajanan.
Afifah: Kuuk kuuk kuuk, kuuk adalah salah satu... he he, wonder women deh untuk gadis yang satu ini. sering naik turun pasir gedogan hambalang. terima kasih pernah mengajukan diri menjadi pelampiasan emosiku.
Indah : Dede, makan yang banyak. jangan bandel.. thanks ya kamu sakit waktu itu (jahat banget gue?) kan jadi bisa nganter kamu ke poliklinik, beli jus sirsak, ubi goreng, dan ngerjain teman2 yang di tapos. ha ha...
Indi : Indy.. muah muah. terima kasih sobat, kau secara tidak langsung mengajariku sisi lembut wanita. huaaa
Anggun: kata Dawer, Manohara... Ah anggun kamu lucu. Maaf ya kalo pernah nggak sependapat waktu nentuin kepastian ada tidaknya diskusi pertanian.
Rika : Ini nih yang penting banget, thanks Rika dah minjemin uang buat ongkos pulang. masih suka telpon malam-malam? ah pasti masih siang malam, he he.
Ririn : Rin, kamu unik... semoga kisahmu dengannya langgeng ya... hua hua namanya siapa? keep fight girl.
Aku bahagia bertemu kalian (meskipun kadang kesel juga). Aku bangga bisa bekerjasama dengan kalian (uh lebayyyy).
Intinya,Chayo... KITA BISA!!!
Akan menjadi kenangan yang takkan terlupakan
Meski kita berbeda-beda
Bersama kita ciptakan persaudaraan dengan persahabatan
Abadilah persahabatan
Lantang kita gemakan
Agar seluruh dunia mendengar kisah
Napak tilas perjalanan kita
Gapai impian bersama
HAMBALANG... untuk sahabat-sahabatku yang mau menerimaku menjadi bagian dari mereka:
Zaenal: ketua yang sabar dan polos dengan jargon BIASA dang TENANG AE. Terima kasih siraman kopinya pagi-pagi itu.
Bagus : Sahabat yang berani dengan pendapatnya, berani dengan percaya dirinya. Kamu hebat... bagus dengan style baru rambutmu.
Ferdi : Ternyata kostan kita dekat, he he, maaf selalu meledek poni rambutmu... kapan dipotong? terima kasih sudah membangunkan untuk sholat subuh.
Taufan: sekali-kali boleh akur dong... hehe, thanks untuk pengertian mengenai perbedaan kecerdasan antara otak kiri dan otak kanan.
Dame : Deuh si pemikir... sensitifan ne orangnya. Calon ahli ekonomi yang mandiri, kamu negosiator yang cukup ulung apalagi kalo lagi nego harga sewa mobil bak dari pasir gedogan sampai tapos.
Ema' : Sufna yuna jalma luna halluna nadhor, suaramu bagus cuy... mantap deh di telinga. kalo jalan malam-malam gelap jangan takut lagi yahhh, he he. kamu adalah orang pertama yang kutemui dengan durasi sikat gigi paling lama.
Wari : Wariiii............ kukira pendiam, cihuy... ternyata he he. tetap makan yang banyak kawan... kamu polos dan jujur. Paling tahu di mana spot-spot warung yang jual jajanan.
Afifah: Kuuk kuuk kuuk, kuuk adalah salah satu... he he, wonder women deh untuk gadis yang satu ini. sering naik turun pasir gedogan hambalang. terima kasih pernah mengajukan diri menjadi pelampiasan emosiku.
Indah : Dede, makan yang banyak. jangan bandel.. thanks ya kamu sakit waktu itu (jahat banget gue?) kan jadi bisa nganter kamu ke poliklinik, beli jus sirsak, ubi goreng, dan ngerjain teman2 yang di tapos. ha ha...
Indi : Indy.. muah muah. terima kasih sobat, kau secara tidak langsung mengajariku sisi lembut wanita. huaaa
Anggun: kata Dawer, Manohara... Ah anggun kamu lucu. Maaf ya kalo pernah nggak sependapat waktu nentuin kepastian ada tidaknya diskusi pertanian.
Rika : Ini nih yang penting banget, thanks Rika dah minjemin uang buat ongkos pulang. masih suka telpon malam-malam? ah pasti masih siang malam, he he.
Ririn : Rin, kamu unik... semoga kisahmu dengannya langgeng ya... hua hua namanya siapa? keep fight girl.
Aku bahagia bertemu kalian (meskipun kadang kesel juga). Aku bangga bisa bekerjasama dengan kalian (uh lebayyyy).
Intinya,Chayo... KITA BISA!!!
Rabu, 05 Agustus 2009
MATA BIDADARI
Kulepas pergimu dengan senyum yang tak bisa kudefinisikan. Aku sendiri masih berpikir bahwa rasa ini sungguh kupaksakan. Karena sebuah alasan. Tapi kau, kau adalah mata bidadari, yang membuatku ingin meneteskan air mata jika tak sengaja memandangmu. Aku malu pada diriku juga padamu atas tingkahmu yang begitu santun padaku. Kau laksana cermin yang mampu menamparku dengan tindak-tanduk baikmu. Dan satu ketukan pintu di pagi hari olehmu, membuatku tersadar akan suasana dan kondisiku. Aku sudah terlalu lama merasa angkuh untuk sebuah hasrat untuk memiliki. Kupikir adalah sebuah keinginan untuk melindungi, ternyata setelah kucari jawaban lagi, hal itu adalah keserakahan untuk mengikat. Aku telah terlalu lama mengabaikan sisi lembutku untuk teguran. Aku terlalu sibuk dengan ambisi yang tak terjabarkan.
Terima kasih, kau sadarkanku dengan mata bidadarimu. Kau menarikku dari lorong waktu khayalan. Kau ingatkanku bahwa kita hidup di alam sadar dan kenyataan. Hati ini luluh dengan kesederhanaan dan rendah hatimu. Kau mampu tunjukkan padaku bahwa cinta itu membebaskan bukan mengikat. Melindungi meski tak memiliki.
Nuraniku menjerit dengan kedatanganmu yang tiba-tiba yang tak pernah kususun skenarionya. Mungkin diriku adalah penghayal akut yang sellau membuat imajinasi sendiri sekuat realita. Kuciptakan mimpi-mimpi sederhana dan kompleks, bahkan tentang detail seorang yang kuperjuangkan. Selama ini aku kuatkan hati untuk sebuah kenangan. Karena sebuah alasan . kupaksakan ikhlas untuk sebuah pengharapan, kupikir itu adalah pengorbanan. Ternyata aku justru makin terkubur dalam lumpur ketidakpastian. Hingga akhirnya kau datang menyapaku. Kau datang sadarkanku bahwa selama ini yang kuperjuangkan adalah kenisbian.
Mata bidadarimu, membuatku ingin meneteskan air mata dengan santun tingkahmu, dengan ikhlas senyummu, serta lembut perangaimu. Kau ajarkanku untuk kembali berpikir jernih.
*Untuk seorang sahabat yang mengajakku bertafakur atas hidup dan pencapaianku, kuucapkan terima kasih banyak. Ketidaksengajaan hadirmu membuatku tersadar.
Terima kasih, kau sadarkanku dengan mata bidadarimu. Kau menarikku dari lorong waktu khayalan. Kau ingatkanku bahwa kita hidup di alam sadar dan kenyataan. Hati ini luluh dengan kesederhanaan dan rendah hatimu. Kau mampu tunjukkan padaku bahwa cinta itu membebaskan bukan mengikat. Melindungi meski tak memiliki.
Nuraniku menjerit dengan kedatanganmu yang tiba-tiba yang tak pernah kususun skenarionya. Mungkin diriku adalah penghayal akut yang sellau membuat imajinasi sendiri sekuat realita. Kuciptakan mimpi-mimpi sederhana dan kompleks, bahkan tentang detail seorang yang kuperjuangkan. Selama ini aku kuatkan hati untuk sebuah kenangan. Karena sebuah alasan . kupaksakan ikhlas untuk sebuah pengharapan, kupikir itu adalah pengorbanan. Ternyata aku justru makin terkubur dalam lumpur ketidakpastian. Hingga akhirnya kau datang menyapaku. Kau datang sadarkanku bahwa selama ini yang kuperjuangkan adalah kenisbian.
Mata bidadarimu, membuatku ingin meneteskan air mata dengan santun tingkahmu, dengan ikhlas senyummu, serta lembut perangaimu. Kau ajarkanku untuk kembali berpikir jernih.
*Untuk seorang sahabat yang mengajakku bertafakur atas hidup dan pencapaianku, kuucapkan terima kasih banyak. Ketidaksengajaan hadirmu membuatku tersadar.
Langganan:
Komentar (Atom)