Belum lewat jam makan siang saat kuberanjak dari kediamanmu. Beberapa jam habiskan waktu bersama kemudian kembali berpisah, tapi biarlah, memang sebaiknya kita bertemu sesekali saja. Pertemuan itu manis, tapi kita tahu bahwa yang manispun jika terlalu sering bisa membuat kita batuk. Ada kalanya jiwa punya kepentingan untuk menelusuri ruang waktu sendiri, tanpa pertemuan. Jadi, aturan mainnya: Bertemu, berpisah, sejenak lupa, mengingat, rindu, kemudian bertemu kembali dengan suasana yang berbeda. Begitulah, aku seperti menemukan pola denganmu.
Aku selalu terlihat bodoh menghadapimu, merengek seperti anak kecil, dan selalu saja ritual kita adalah saling mengejek.
“Aku pergi dulu” kataku disusul dengan dua kecupan di pipi kanan dan kiri.
“Hati-hati, kamu jangan lupa makan siang” suaramu terdengar tanpa kulihat bagaimana caramu mengucapkannya. Aku berlalu, melenggang tanpa beban.
Aku ingat dialog itu, sedikit dialog yang muncul saat kita bertemu, kecuali ketika sedang begitu cerewet dan itu berarti kau sedang gundah. Kau kadang tak peduli apakah aku suka mendengarnya atau tidak, tapi aku selalu suka jika kau mengalirkan pembicaraanmu. Aku suka senyummu dan aku suka caramu memegang gelas, entah kenapa.
Cinta itu antara bertengkar dan diam, di posisi antara itu kah kita sekarang? Memilih untuk sekedar tersenyum simpul tanpa sepatah kata pun, mendekati diam. Aku tahu mencintaimu tak perlu banyak kata, tak perlu banyak tanya. Kau sudah cukup memberiku kebebasan untukku memilih apa yang aku ingin, kau mendengarkan setiap ocehanku, kau membiarkan diri ini untuk mencari setiap makna di kedalaman matamu.
“Jangan telat makan” aku hapal simpul bibirmu ketika kau ucapkan itu, meski pun rupamu tak nampak di hadapku. Hemm, setiap kali kudengar itu, aku akan sangat tersanjung dan berharap bahwa hanya aku lah yang mendapat perhatikan seperti itu. Ah sial, itu hanyalah arogansiku semata. Kau pasti tertawa saat mengetahuinya.
Setiap kali aku berhasil untuk mengenyahkanmu dari perasaan yang merongrong kesadaranku, maka seketika itu juga aku lari dari apa yang sedang dihadapi. Aku pergi untuk mengetahui sebenarnya cinta seperti apa yang kucari. Adakah yang lemah lembut dan selalu hadir dengan kesabaran? Atau sepertimu yang baru-baru ini datang dengan sapaan laksana teman. Sebelumnya kita akan saling berteriak dan kau selalu saja mengejekku. Aku selalu salah di matamu, tapi aku sangat suka ketika kau salahkan. Mengapa? Sebab ketika tiba-tiba kau memujiku, maka hal itu menjadi sangat istimewa. Berbeda jika aku mendapat pujianmu setiap hari, semua akan hambar bagaimana adanya.
Aku, boleh kau katakan berlebihan jika memang bagimu ini adalah sesuatu yang tidak seharusnya. Aku ingat semua detail pertemuan kita, dari awal hingga yang terakhir. Aku setia mengunjungi setiap jejak yang kau tinggalkan lewat tulisan-tulisanmu. Entah di diary online atau pun di situs jejaring sosial. Dari ratusan catatan yang aku bikin, kamu lah inspirasi terbesar. Di buku harian pun namamu yang paling banyak tercantum. Mengapa seperti itu? Karena mengagumimu, mencintaimu, adalah kesempatan yang mewah. Yang kudapatkan sepanjang waktu, meskipun tak pernah kamu tahu. Dan walau bagaimana pun, kamu tetap menjadi mimpiku, yang tersimpan di lembaran-lembaran hidupku. Mencintaimu tak bisa kulakukan terang-terangan, cukup bagiku tahu bahwa kamu baik-baik saja. Cukup bagiku tahu bahwa kamu cukup istirahat dan matamu tidak bengkak.
“Sayang”, itu adalah kata yang langka sekali kau ucapkan untukku. Aku tak peduli. Aku justru menyukainya. Menjadi suatu surprise yang sangat berharga, senyumku terkembang luar biasa saat kau mengucapkannya untukku sekali waktu. Meski entah apa maksudnya, aku suka. Itu kah jatuh cinta? Haha, kau juga jangan tertawa jika mengetahuinya, biarkan aku mentertawakan diriku sendiri.
Kamu masih satu, masih yang aku kagumi sejak rabu itu. Kau ingat rabu itu? Rabu yang mengawali kedekatan kita, rabu yang menciptakan rabu selanjutnya, selanjutnya, dan selanjutnya. Aku mengingat dan mencatat perdebatan, pujian, dan cercaan yang kadang muncul. Aku ingat paras gadis-gadismu, pujian-pujianmu untuk mereka. Berapa pun banyaknya jumlah mereka, tapi aku tetap saja aku yang mencintaimu, yang tak bisa mengenyahkanmu sejak rabu itu meski hampir tiga tahun berlalu.
Tampilkan postingan dengan label catatan kecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan kecil. Tampilkan semua postingan
Minggu, 22 Mei 2011
Minggu, 15 Mei 2011
Menulis Cinta
Sayang, sekarang sudah terlalu malam untuk kita berdiskusi. Biarkan badan kita rebah dan menikmati selimut malam. Besok ada harapan yang harus kita songsong dengan semangat, mari rehat dan siapkan energi untuk hari esok. Diri ini menghendaki cinta yang tak pernah terputus, bahkan ketika kita tidur.
Sayang, berhari-hari kita jaga kemesraan, menikmati kebersamaan yang berjarak ruang. Berhari-hari pula tak pupus kata cinta menghiasi perjalanan kita.
Sayang, bahasa cinta itu milik kita, milik semua orang yang mencinta. Kita tidak pernah tahu parafrase, majas, maupun diksinya. Karena bahasa cinta terlampau universal. Yang jelas, bahasa cinta selalu menjadi obat ketika kita sakit, pelepas dahaga ketika kita haus, dan pembawa senyum ketika kita sedih. Bahasa cinta adalah bahasa yang paling alami dalam hidup ini. Bayi pun ketika baru lahir telah tahu, sebuah bahasa cinta yang terwujud melalui tangis sebagai kabar gembira untuk ibunda dan keluarganya.
Sayang, berhari-hari kita jaga kemesraan, menikmati kebersamaan yang berjarak ruang. Berhari-hari pula tak pupus kata cinta menghiasi perjalanan kita.
Sayang, bahasa cinta itu milik kita, milik semua orang yang mencinta. Kita tidak pernah tahu parafrase, majas, maupun diksinya. Karena bahasa cinta terlampau universal. Yang jelas, bahasa cinta selalu menjadi obat ketika kita sakit, pelepas dahaga ketika kita haus, dan pembawa senyum ketika kita sedih. Bahasa cinta adalah bahasa yang paling alami dalam hidup ini. Bayi pun ketika baru lahir telah tahu, sebuah bahasa cinta yang terwujud melalui tangis sebagai kabar gembira untuk ibunda dan keluarganya.
Rabu, 04 Mei 2011
A Touch, A Cloud
Hal yang paling syahdu adalah saat kita merasakan bahwa ruh dan jiwa menyatu dengan semesta. Menjejakkan kaki di atas tanah yang baru dicumbui hujan, membaui aromanya, kemudian mencecap kepuasan batin. Lalu, mendongaklah kepala kita memandangi langit malam yang menjanjikan kesempatan pada mentari untuk muncul esok hari. Banyak tebaran bintang membentuk rasi biduk maupun pari, memberi petunjuk pada penggarap ladang untuk melanjutkan aktivitasnya seusai subuh esok pagi.
Pagi hari, ketika kabut mampu kau sentuh, kau akan merasakan bahwa Tuhan begitu dekat.
Pagi hari, ketika kabut mampu kau sentuh, kau akan merasakan bahwa Tuhan begitu dekat.
CERACAU
Apa saja yang bisa kamu lakukan sekarang, lakukanlah. Keberhasilan itu akan terwujud dengan ketekunan. Sesekali kejenuhan itu mendatangi dan menggerogoti semangat hidup, namun ketika kita bisa menaklukkannya, maka jenuh itu akan tunduk dan bosan menyambangi. Bukankah begitu hidup?
Dieng, 14 April 2011 saat udara (mungkin) di bawah 15 0 C.
“Saat jenuh menghampiri, apa yang akan kamu lakukan? Menyerah dengan rasa? Kemudian jauh tertinggal di belakang?”
“Untuk apa rasa sakit yang selama ini mengiringi perjalanan hingga sampai di tempat ini? Bukankah tujuanmu adalah kemenangan menuju kebijaksanaan?”
“Bergeraklah, karena dengan bergerak kau akan tahu bahwa waktu dan ilmu itu sama-sama berharga.”
Kita tidak pernah menentukan apa yang terjadi, tapi kita menentukan apa yang seharusnya terjadi. Sewaktu-waktu saat jenuh, ingatlah tujuanmu menjadi ‘guru’ untuk mengamalkan ilmumu. Ingat rencana-rencana besarmu. BERGERAKLAH!!
Dieng, 14 April 2011 saat udara (mungkin) di bawah 15 0 C.
“Saat jenuh menghampiri, apa yang akan kamu lakukan? Menyerah dengan rasa? Kemudian jauh tertinggal di belakang?”
“Untuk apa rasa sakit yang selama ini mengiringi perjalanan hingga sampai di tempat ini? Bukankah tujuanmu adalah kemenangan menuju kebijaksanaan?”
“Bergeraklah, karena dengan bergerak kau akan tahu bahwa waktu dan ilmu itu sama-sama berharga.”
Kita tidak pernah menentukan apa yang terjadi, tapi kita menentukan apa yang seharusnya terjadi. Sewaktu-waktu saat jenuh, ingatlah tujuanmu menjadi ‘guru’ untuk mengamalkan ilmumu. Ingat rencana-rencana besarmu. BERGERAKLAH!!
Minggu, 13 Maret 2011
Ketika Lelaki Menangis
Ketika lelaki menangis, katanya seperti hujan yang tiba-tiba turun saat matahari sedang bersinar begitu cerah. Barangkali tak seironis itu, setiap jiwa punya batas rasa, kupikir. Laki-laki atau pun wanita punya cara untuk meluapkan emosi, dan jika menangis bisa membuat kita tergerak untuk lebih baik, maka jika laki-laki menangis, itu bukan hal yang tabu. Menangislah, sahabatku, karena menangis itu menandakan bahwa kamu punya hati yang lembut, hati yang peka dengan peristiwa di sekitarmu.
Jika suatu waktu kamu perlu bahuku untuk sandarkan tangismu, kamu tak perlu ragu untuk memintanya. Kau pun boleh menangis semaumu, asal setelah itu kamu tersenyum seperti biasa. Kamu tahu kan? Bahwa senyum adalah pesan terhangat yang begitu cepat sampai dan cepat mendapat feedback. Ketika air mata jatuh dari pelupuk matamu, tak perlu segan menunjukkan padaku. Kau sedang membasuh hatimu yang terasa gersang. Setelah ini kau akan mendapatkan kelegaan dan kerelaan akan sesuatu yang kau hadapi. Yah, kau boleh jadikan aku sebagai katalisator untuk menetralisir perasaan sedihmu.
Ini malam, saat aku bertemu denganmu, seperti sebuah ketiba-tibaan yang kita rencanakan. Kamu masih dengan senyum sperti biasa, senyum sahaja yang menenangkan. Kutepuk bahumu, berharap bahwa satu tepukan itu mampu membuatmu tahu bahwa aku ada, sebagai sahabatmu dan siap mendengar kesahmu.
“Santai” kataku.
“Aku sedang tidak bisa santai untuk saat ini” jawabanmu datar.
“Baiklah, aku tak memaksamu, ini saran” aku miris mendengar jawabanmu.
Hemm, kau tersenyum lagi, simpul temali yang masih kuat. Kau masih dengan jiwa dan kharismamu. Kau tahu? Betapa membahagiakannya ketika kita bertemu dengan orang yang tersenyum tulus pada kita? Dan aku begitu bahagia melihat senyummu.
Aku berbeda denganmu, karena kamu lelaki yang barangkali tak suka dengan cara perempuan menyelesaikan gundah. Hanya saja, justru aku yang ketakutan menjadi teman bicaramu, kurasa kita berbeda cara dalam menyikapi semua ini. Aku terlalu santai, kau tahu kan sikapku yang tak pernah mau ambil pusing? Maafkan aku, bukannya aku ingin membuatmu menjadi gusar, hanya saja aku berharap kau takkan mematikan kreativitasmu karena persoalan ini.
“Jika ujianmu berat, maka kamu memang pantas untuk mendapatkannya” aku mencoba beretorika di hadapanmu.
“Tapi kadang kita belum siap menerima ujian ini” kau masih lesu menanggapinya.
“Siapa yang tahu batas kesiapan?” tanyaku sembari mencari selidik di balik nada suaramu.
“Tidak tahu!” kau terdengar ketus, maafkan aku.
“Kamu!” suaraku tiba-tiba meninggi.
“Bukan, aku belum siap!” jawabanmu lunglai, barangkali cermin hatimu yang sedang gelisah.
Baiklah, maafkan aku, terlalu kasar perkataanku tadi. Sahabatku, kadang kesempatan seperti menjauh dan tidak berpihak pada kita. Tapi bukankah ketika satu pintu kesempatan tertutup, maka pintu kesempatan yang lain akan terbuka? Sekali lagi maafkan aku, bukan sedang mendiktemu, aku sedang mengajari diriku, jika kau mau mendengar aku sangat bersyukur.
“Kesempatanku tertutup” Itu katamu.
“Bukan, kenyataannya memang begitu” aku ketus.
Sudah sudah, aku muak mendengar ocehanmu yang seperti jiwa sakaratul maut. Kau tahu kan? Hidup tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan. Jangan memaksakan keadaan. Kau tahu, kau diberi kesempatan lebih awal untuk bisa menghadapi semua ini. Apa kau yakin kau akan siap ketika cobaan itu datang esok hari?
“Kau yakin kau siap jika hal ini terjadi pada dirimu esok hari?” aku sudah mulai menurunkan intonasiku.
Kau menggeleng, tertunduk, dan tak punya jawaban.
Hidup ini adalah bersiap-siap untuk menghadapi ketidakmungkinan yang pasti akan terjadi. Hanya ada satu hal yang pasti dalam hidup, yaitu mati. Selebihnya adalah pertimbangan-pertimbangan logis dan emosional untuk kepentingan kita. Tendensimu tentang masalah ini baik, untukmu dan menurutmu. Tapi apa kau sadari di sekitarmu banyak orang begitu khawatir dengan kondisimu?
Kau menetesekan air mata. Ini kali pertama aku melihatmu menangis.
“Boleh kupinjam bahumu? Aku ingin menangis” matamu berkaca-kaca.
“Menangislah, karena dengan menangis hatimu akan menjadi lembut.”
Bogor, kosan Fauziah 00:13
17 Februari 2011
Sabtu, 12 Maret 2011
Tentang Kematian
Beruntunglah mereka yang mati muda (Soe Hok Gie)
Aku termenung sebelum tidur setelah selesai menonton film Gie, malam itu. Mengingat satu kalimat yang terngiang di telinga. Keberuntungan yang diperoleh bagi seseorang yang mati muda. Mati mati mati mati. Kadang memang ada baiknya jika kematian menyambangi kita lebih awal, pikirku. Dan pikiranku tersebut pernah kutuangkan dalam status facebook meski tak terlintas lagi tanggal berapa aku tulis. Mati dan kematian, boleh sedikit aku ulas? Dead is no longer alive, and death means a permanent end or destruction of something. Mati berarti mengakhiri segalanya. Tapi tidak hanya sampai disitu, mati adalah persoalan pilihan.
Suatu hari, aku berdiskusi dengan salah seorang sahabat, Meda:
“Jika suatu saat kamu ingin dikenang, kamu ingin dikenang sebagai apa?” tanyaku.
“Aku ingin dikenang sebagai orang baik, cukuplah bagiku kebaikan.” Jawab sahabatku.
“Bagimu apa itu kebaikan? Karena kadang kita perlu menjelaskan derivat dari setiap jawaban yang kita utarakan.
“Tidak ada turunan dari kebaikan selain kebaikan itu sendiri. Bagiku kebaikan adalah puncak pencapaian, bahkan manifestasi iman. Maaf jika kamu tidak setuju dengan pernyataanku, tapi inilah keiinginanku. Suatu saat jika aku tiada, aku ingin dikenang karena kebaikanku. Aku ingin generasiku pun mendulang kebaikan yang aku tinggalkan.”
“Baiklah, apa makna dari kebaikanmu? Karena yang bagi kita baik belum tentu bagi orang lain pun baik.” Aku masih bersikeras mencari tahu tentang keinginan sahabatku.
“Kebaikan yang aku maksud adalah kebaikan yang universal, kebaikan yang diakui oleh banyak orang. Taat pada orang tua, berkata lemah lembut dan tidak menyakiti orang lain, menyayangi yang muda dan hormat pada yang tua, tidak berbuat curang, menahan marah, dan makna-makna lain yang jika dijabarkan tak cukup waktu seumur hidup kita. Karena mengizinkan semut untuk hidup pun kebaikan.” Kurasa sahabatku menjawab begitu sederhana, jawaban yang terlalu umum. Aku belum puas dengan jawabannya.
“Apa hubungannya dengan iman?” tanyaku.
Sahabatku menarik nafas.
“Yang aku pahami, di agama mana pun, dalam kitab-kitabnya, manusia tidak dianjurkan untuk merusak, berbuat serakah, berlaku curang, merugikan, dan lainnya. Semua agama mengajarkan supaya manusia berlomba-lomba dalam kebaikan. Percayalah, tuntunan itu universal. Aku bukan ahli kitab, bukan penghapal isi kitab, aku sekedar menafsirkan dari pemahamanku.”
“Ehmmm, kamu percaya tidak kalau orang yang mati muda adalah orang yang beruntung? Orang yang tidak dibebani dengan banyak dosa?”
“Sangat tidak adil sebenarnya jika percaya begitu saja, harus ada kroscek. Jika pertanyaanmu adalah suatu hipotesis, maka perlu kita uji terlebih dahulu.”
“Aku juga masih bingung dengan pernyataan “beruntung” itu. Sangat tidak adil bagi orang yang mati tua jika keberuntungan lebih diperoleh mereka yang mati muda.” Kataku.
Sahabatku mengambil salah satu buku di rak yag terletak pada salah satu sudut kamarnya. Aku memang terbiasa berlama-lama diskusi dengannya karena kurasa khasanah pengetahuannya membuat pikiranku terbuka.
“Bacalah..!” perintahnya sembari memberikan buku itu padaku.
Keningku berkerut, barangkali garis dahi ini sudah mulai menujukkan kapan aku mati juga meskipun aku tak tahu tepatnya. Manusia memang harus terus berhipotesis tentang perkara rezeki, jodoh, dan mati. Kusambut buku bersampul hitam yang nampak kelimis. Aku membuka halaman yang ditunjukkan olehnya, halaman yang tak berangka tapi berbatas pita merah kecil seperti dalam kitab.
Tuhan, aku percaya bahwa kebaikan adalah milikMu. Mencoba untuk terus bertahan dengan keyakinan atasMu, bukan karena agamaku, bukan pula karena banyaknya manusia yang meyakinimu. Aku ingin mendekatiMu karena keinginanku, bukan karena keinginan siapa pun. Tuhan, aku coba untuk memahami bahwa Engkau menjanjikan surga dan neraka untuk setiap akhlak yang kami lakukan. Surga itu kebaikan, dan neraka itu kejahatan. Aku tahu itu dari pengetahuan tentangMu, sejak aku mengaji dulu. Tapi rasa-rasanya aku tak puas dengan pengetahuan semata. Aku ingin membutikan bahwa surga dan neraka itu ada.
Bagaimana aku membuktikannya Tuhan? Sedang pengetahuanku tentang cara membuktikanya pun belum ada. Ajari aku, Tuhan.
“Mengapa kau menyuruhku membaca tulisanmu tentang Tuhan ini?” aku mencoba konfirmasi apa yang aku baca.
“Lanjutkan saja di halaman berikutnya.”
Suatu hari aku menjaga nenekku yang sedang sakit keras. Sakit tak bisa bergerak sejak setahun yang lalu. Dia hanya bisa bernapas, berkedip, dan teriak-teriak. Makannya masih lahap, dan kadang-kadang aku menungguinya disuapi. Tapi aku tak berani menyuapi, aku tak tega melihat rahangnya yang semakin menonjol, aku juga tak tahan mendengar teriakannya yang seperti bercanda.Berhari-hari selama satu tahun itu, ibuku menjaga nenekku seperti menjaga bayi.
Hari itu, malam jumat, sejak pagi aku diminta menjaga nenekku karena ibu sibuk memasak. Entah kenapa ada rasa berbeda yang aku rasakan, kamar nenek seperti lebih dingin dari biasanya. Nenekku tidak teriak-teriak lagi, matanya nanar memandang ke atas. Tangannya tiba-tiba bisa bergerak dan menggapai ke arah mukaku. Aku merinding, kucoba untuk berbicara dengannya. Kutawari apakah nenek mau mendengarku mengaji, dia mengangguk. Kulantunkan Yasin, Al Waqi’ah, Ar Rahman. Tak lupa kutuntun lafaz Allah, Allah, Allah, disela nafas nenekku yang tersengal-sengal. Sampai setengah hari aku lakukan itu. Kemudian kutemui ibu dan aku minta menggantikan tugasnya menjaga rumah, aku takut menjaga nenek. Nenek seperti sedang bernegosiasi dengan malaikat maut. Polahnya sangat berbeda dengan kemarin. Malamnya, nenekku meninggal.
Saat kutuliskan ini, aku usai salat asar, di akhir doaku kuungkap harapan yang ingin kutanam. Aku tidak ingin mati muda, aku ingin mati wajar di waktu yang tepat. Aku tidak ingin melihat ibuku merawat kematianku, aku ingin menjaga dan berbakti dulu pada orangtuaku. Kutahu, betapa susahnya menjaga orang yang mau mati, betapa sedihnya ditinggal mati. Aku tidak ingin ibuku sedih, aku tidak mau bapakku meneteskan air mata. Aku tidak mau adikku kehilangan sosok kakak.
-Tuhan, jika surga dan neraka adalah janjimu, biarkan aku belajar untuk tahu, dengan caraMu. Kematian adalah hal yang pasti karena itu janjiMu, tapi Tuhan, pilihkan waktu yang tepat untukku-
“Meda, jadi menurutmu?” tanyaku pada sahabatku setelah kubaca dua halaman buku hariannya.
“Ya” hanya kata itu yang keluar dari mulut sahabatku, Meda, sambil tersenyum dan mengambil kembali buku hitam kelimis yang aku pegang. Mungkin baginya aku akan cukup paham dengan penjelasan tersiratnya dari kata “ya”.
Orang yang beruntung adalah yang mati tepat pada waktunya. Setiap manusia dilahirkan dengan membawa misi menjadi perantara Tuhan di dunia ini. Mati saat balita, kanak-kanak, remaja, dewasa, tua bukanlah persoalan untung dan rugi. Mati adalah hal yang telah dipilih dan menjadi kesepakatan sebelum manusia lahir.
Setahun setelah diskusiku dengan Meda, dia dipanggil keharibaanNya. Aku menangis, sangat dalam. Ibunya menangis hingga pingsan, ayahnya pun meneteskan air mata. Sahabat-sahabatnya menangis dan sesungguhnya belum percaya perihal kepergian Meda. Tapi kurasa, Meda akan dikenang dengan kebaikannya. Tahun-tahun setelah kematiannya, dia banyak dikenang karena kebijaksanaannya. Aku tidak pernah merasa Meda mati, dalam usia yang masih pagi. Dia mati di usianya yang tepat. Tujuh belas tahun, sehari sebelum ulang tahunnya ke-18 dengan kebaikan-kebaikan yang dia wujudkan dalam hidupnya.
Setiap manusia dilahirkan dengan membawa misi menjadi perantara Tuhan, dan lagi-lagi aku berhipotesis bahwa salah satu misi hidup yang dibawa Meda adalah memberitahu padaku tentang persoalan kematian, kebaikan, dan hidup.
------------------------------------------------------------------------------------
Rasa kantuk menyerang setelah kuingat masa dimana aku masih bisa bergandeng tangan dengan Meda. Tanpa kusadari aku menangisi kembali kematian sahabatku. Dan, kurasa, aku belum siap untuk mati.
Bogor, 27 Februari 2011
22.20 WIB
Aku termenung sebelum tidur setelah selesai menonton film Gie, malam itu. Mengingat satu kalimat yang terngiang di telinga. Keberuntungan yang diperoleh bagi seseorang yang mati muda. Mati mati mati mati. Kadang memang ada baiknya jika kematian menyambangi kita lebih awal, pikirku. Dan pikiranku tersebut pernah kutuangkan dalam status facebook meski tak terlintas lagi tanggal berapa aku tulis. Mati dan kematian, boleh sedikit aku ulas? Dead is no longer alive, and death means a permanent end or destruction of something. Mati berarti mengakhiri segalanya. Tapi tidak hanya sampai disitu, mati adalah persoalan pilihan.
Suatu hari, aku berdiskusi dengan salah seorang sahabat, Meda:
“Jika suatu saat kamu ingin dikenang, kamu ingin dikenang sebagai apa?” tanyaku.
“Aku ingin dikenang sebagai orang baik, cukuplah bagiku kebaikan.” Jawab sahabatku.
“Bagimu apa itu kebaikan? Karena kadang kita perlu menjelaskan derivat dari setiap jawaban yang kita utarakan.
“Tidak ada turunan dari kebaikan selain kebaikan itu sendiri. Bagiku kebaikan adalah puncak pencapaian, bahkan manifestasi iman. Maaf jika kamu tidak setuju dengan pernyataanku, tapi inilah keiinginanku. Suatu saat jika aku tiada, aku ingin dikenang karena kebaikanku. Aku ingin generasiku pun mendulang kebaikan yang aku tinggalkan.”
“Baiklah, apa makna dari kebaikanmu? Karena yang bagi kita baik belum tentu bagi orang lain pun baik.” Aku masih bersikeras mencari tahu tentang keinginan sahabatku.
“Kebaikan yang aku maksud adalah kebaikan yang universal, kebaikan yang diakui oleh banyak orang. Taat pada orang tua, berkata lemah lembut dan tidak menyakiti orang lain, menyayangi yang muda dan hormat pada yang tua, tidak berbuat curang, menahan marah, dan makna-makna lain yang jika dijabarkan tak cukup waktu seumur hidup kita. Karena mengizinkan semut untuk hidup pun kebaikan.” Kurasa sahabatku menjawab begitu sederhana, jawaban yang terlalu umum. Aku belum puas dengan jawabannya.
“Apa hubungannya dengan iman?” tanyaku.
Sahabatku menarik nafas.
“Yang aku pahami, di agama mana pun, dalam kitab-kitabnya, manusia tidak dianjurkan untuk merusak, berbuat serakah, berlaku curang, merugikan, dan lainnya. Semua agama mengajarkan supaya manusia berlomba-lomba dalam kebaikan. Percayalah, tuntunan itu universal. Aku bukan ahli kitab, bukan penghapal isi kitab, aku sekedar menafsirkan dari pemahamanku.”
“Ehmmm, kamu percaya tidak kalau orang yang mati muda adalah orang yang beruntung? Orang yang tidak dibebani dengan banyak dosa?”
“Sangat tidak adil sebenarnya jika percaya begitu saja, harus ada kroscek. Jika pertanyaanmu adalah suatu hipotesis, maka perlu kita uji terlebih dahulu.”
“Aku juga masih bingung dengan pernyataan “beruntung” itu. Sangat tidak adil bagi orang yang mati tua jika keberuntungan lebih diperoleh mereka yang mati muda.” Kataku.
Sahabatku mengambil salah satu buku di rak yag terletak pada salah satu sudut kamarnya. Aku memang terbiasa berlama-lama diskusi dengannya karena kurasa khasanah pengetahuannya membuat pikiranku terbuka.
“Bacalah..!” perintahnya sembari memberikan buku itu padaku.
Keningku berkerut, barangkali garis dahi ini sudah mulai menujukkan kapan aku mati juga meskipun aku tak tahu tepatnya. Manusia memang harus terus berhipotesis tentang perkara rezeki, jodoh, dan mati. Kusambut buku bersampul hitam yang nampak kelimis. Aku membuka halaman yang ditunjukkan olehnya, halaman yang tak berangka tapi berbatas pita merah kecil seperti dalam kitab.
Tuhan, aku percaya bahwa kebaikan adalah milikMu. Mencoba untuk terus bertahan dengan keyakinan atasMu, bukan karena agamaku, bukan pula karena banyaknya manusia yang meyakinimu. Aku ingin mendekatiMu karena keinginanku, bukan karena keinginan siapa pun. Tuhan, aku coba untuk memahami bahwa Engkau menjanjikan surga dan neraka untuk setiap akhlak yang kami lakukan. Surga itu kebaikan, dan neraka itu kejahatan. Aku tahu itu dari pengetahuan tentangMu, sejak aku mengaji dulu. Tapi rasa-rasanya aku tak puas dengan pengetahuan semata. Aku ingin membutikan bahwa surga dan neraka itu ada.
Bagaimana aku membuktikannya Tuhan? Sedang pengetahuanku tentang cara membuktikanya pun belum ada. Ajari aku, Tuhan.
“Mengapa kau menyuruhku membaca tulisanmu tentang Tuhan ini?” aku mencoba konfirmasi apa yang aku baca.
“Lanjutkan saja di halaman berikutnya.”
Suatu hari aku menjaga nenekku yang sedang sakit keras. Sakit tak bisa bergerak sejak setahun yang lalu. Dia hanya bisa bernapas, berkedip, dan teriak-teriak. Makannya masih lahap, dan kadang-kadang aku menungguinya disuapi. Tapi aku tak berani menyuapi, aku tak tega melihat rahangnya yang semakin menonjol, aku juga tak tahan mendengar teriakannya yang seperti bercanda.Berhari-hari selama satu tahun itu, ibuku menjaga nenekku seperti menjaga bayi.
Hari itu, malam jumat, sejak pagi aku diminta menjaga nenekku karena ibu sibuk memasak. Entah kenapa ada rasa berbeda yang aku rasakan, kamar nenek seperti lebih dingin dari biasanya. Nenekku tidak teriak-teriak lagi, matanya nanar memandang ke atas. Tangannya tiba-tiba bisa bergerak dan menggapai ke arah mukaku. Aku merinding, kucoba untuk berbicara dengannya. Kutawari apakah nenek mau mendengarku mengaji, dia mengangguk. Kulantunkan Yasin, Al Waqi’ah, Ar Rahman. Tak lupa kutuntun lafaz Allah, Allah, Allah, disela nafas nenekku yang tersengal-sengal. Sampai setengah hari aku lakukan itu. Kemudian kutemui ibu dan aku minta menggantikan tugasnya menjaga rumah, aku takut menjaga nenek. Nenek seperti sedang bernegosiasi dengan malaikat maut. Polahnya sangat berbeda dengan kemarin. Malamnya, nenekku meninggal.
Saat kutuliskan ini, aku usai salat asar, di akhir doaku kuungkap harapan yang ingin kutanam. Aku tidak ingin mati muda, aku ingin mati wajar di waktu yang tepat. Aku tidak ingin melihat ibuku merawat kematianku, aku ingin menjaga dan berbakti dulu pada orangtuaku. Kutahu, betapa susahnya menjaga orang yang mau mati, betapa sedihnya ditinggal mati. Aku tidak ingin ibuku sedih, aku tidak mau bapakku meneteskan air mata. Aku tidak mau adikku kehilangan sosok kakak.
-Tuhan, jika surga dan neraka adalah janjimu, biarkan aku belajar untuk tahu, dengan caraMu. Kematian adalah hal yang pasti karena itu janjiMu, tapi Tuhan, pilihkan waktu yang tepat untukku-
“Meda, jadi menurutmu?” tanyaku pada sahabatku setelah kubaca dua halaman buku hariannya.
“Ya” hanya kata itu yang keluar dari mulut sahabatku, Meda, sambil tersenyum dan mengambil kembali buku hitam kelimis yang aku pegang. Mungkin baginya aku akan cukup paham dengan penjelasan tersiratnya dari kata “ya”.
Orang yang beruntung adalah yang mati tepat pada waktunya. Setiap manusia dilahirkan dengan membawa misi menjadi perantara Tuhan di dunia ini. Mati saat balita, kanak-kanak, remaja, dewasa, tua bukanlah persoalan untung dan rugi. Mati adalah hal yang telah dipilih dan menjadi kesepakatan sebelum manusia lahir.
Setahun setelah diskusiku dengan Meda, dia dipanggil keharibaanNya. Aku menangis, sangat dalam. Ibunya menangis hingga pingsan, ayahnya pun meneteskan air mata. Sahabat-sahabatnya menangis dan sesungguhnya belum percaya perihal kepergian Meda. Tapi kurasa, Meda akan dikenang dengan kebaikannya. Tahun-tahun setelah kematiannya, dia banyak dikenang karena kebijaksanaannya. Aku tidak pernah merasa Meda mati, dalam usia yang masih pagi. Dia mati di usianya yang tepat. Tujuh belas tahun, sehari sebelum ulang tahunnya ke-18 dengan kebaikan-kebaikan yang dia wujudkan dalam hidupnya.
Setiap manusia dilahirkan dengan membawa misi menjadi perantara Tuhan, dan lagi-lagi aku berhipotesis bahwa salah satu misi hidup yang dibawa Meda adalah memberitahu padaku tentang persoalan kematian, kebaikan, dan hidup.
------------------------------------------------------------------------------------
Rasa kantuk menyerang setelah kuingat masa dimana aku masih bisa bergandeng tangan dengan Meda. Tanpa kusadari aku menangisi kembali kematian sahabatku. Dan, kurasa, aku belum siap untuk mati.
Bogor, 27 Februari 2011
22.20 WIB
Senin, 21 Februari 2011
AFTER THE PHONE
Dalam riuh rendah perasaan ini, aku mencoba untuk tetap percaya dengan cinta yang kau ajukan. Aku tidak ingin menjadi yang terpilih karena permintaanku, aku ingin menjadi terpilih karena kapasitasku-karena aku memang pantas untukmu-. Tapi kita hanya perencana, tak bisa menggugat kenyataan jika suatu waktu habis kesempatan kita untuk saling bermanja sebagai sepasang kekasih. Tuhan punya rencana yang jauh lebih indah dari jangkauan kita, dan yakinlah bahwa apapun yang kita usahakan adalah sebuah cara atas keyakinan kita pada kekuasaanNya.
Berhari-hari aku memanggilmu dengan panggilan sayang, penuh cinta, dan semangat. Berhari-hari pula aku merasa terisi dengan keramahan dan keceriaanmu. Berhari-hari kunikmati persaan yang Dia anugerahkan dengan sukacita dan senyum semangat. Dan, aku belajar, bahwa semua itu harus dibumbui dengan tangis, penyesuaian, pertengkaran kecil, bahkan saling diam.
Kau tak perlu mengukur seberapa besar cinta dan sayang ini, tak perlu pula merajuk memintaku mengatakan ‘i love you’. Dalam diam pun ingin kusandingkan doa terbaik untukmu bersama tasbih dan tahmid yang terlantun setelah curhatku dengan Tuhan. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kecukupan yang biasa, bukan kemewahan yang menjadikan kita buta.
Saat aku menuliskan ini, jarum panjang sudah hampir menunjukkan pukul tiga dini hari, dan aku belum sedikit pun berminat untuk memejamkan mata. Perbincangan denganmu empat jam yang lalu, membuatku memunculkan empati yang mengantarkan rasaku untuk semakin jatuh pada cintamu. Pada ketulusan yang hangat, pada setiap kejujuranmu yang memikat. Aku terpacu untuk menuliskan banyak hal tentangmu, tentang kesederhanaanmu yang membuatku mencinta terus menerus. Dan, kuharap, kita bisa menghadapi semua ini dengan segenap kesungguhan hati yang membuat kita kuat dan yakin: terus untuk menghadapi semua ini bersama adalah pilihan kita.
Berhari-hari aku memanggilmu dengan panggilan sayang, penuh cinta, dan semangat. Berhari-hari pula aku merasa terisi dengan keramahan dan keceriaanmu. Berhari-hari kunikmati persaan yang Dia anugerahkan dengan sukacita dan senyum semangat. Dan, aku belajar, bahwa semua itu harus dibumbui dengan tangis, penyesuaian, pertengkaran kecil, bahkan saling diam.
Kau tak perlu mengukur seberapa besar cinta dan sayang ini, tak perlu pula merajuk memintaku mengatakan ‘i love you’. Dalam diam pun ingin kusandingkan doa terbaik untukmu bersama tasbih dan tahmid yang terlantun setelah curhatku dengan Tuhan. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kecukupan yang biasa, bukan kemewahan yang menjadikan kita buta.
Saat aku menuliskan ini, jarum panjang sudah hampir menunjukkan pukul tiga dini hari, dan aku belum sedikit pun berminat untuk memejamkan mata. Perbincangan denganmu empat jam yang lalu, membuatku memunculkan empati yang mengantarkan rasaku untuk semakin jatuh pada cintamu. Pada ketulusan yang hangat, pada setiap kejujuranmu yang memikat. Aku terpacu untuk menuliskan banyak hal tentangmu, tentang kesederhanaanmu yang membuatku mencinta terus menerus. Dan, kuharap, kita bisa menghadapi semua ini dengan segenap kesungguhan hati yang membuat kita kuat dan yakin: terus untuk menghadapi semua ini bersama adalah pilihan kita.
Sabtu, 29 Januari 2011
A MONOLOGUE
Rasa bersalahku semakin membuncah, di satu sisi aku menyayangimu, merasa bahwa kau adalah cinta pertama yang tak lekang oleh waktu. Berkali-kali aku coba menjalin hubungan dengan cinta yang baru, tapi namamu yang masih saja terpatri jelas. Namun, sayang ini seperti berbatas keadaan. Aku seperti hilang arah dan memiliki beban begitu berat ketika mengatakan “aku menyayangimu”. Meski perasaan tak bisa dibohongi, tapi beginilah keadaannya. Rasanya aku ingin pergi saja dari kehidupanmu.
Aku sudah bilang akan pergi darimu, berangsur-angsur kunikmati kesendirian dan keadaan tanpamu.
Aku terbiasa bersamamu saat itu. Banyak impian yang kita ciptakan bersama, membaca buku-buku yang sama, mendengar lagu-lagu yang sama, menyukai warna yang sama, dan menikmati kesempatan. Begitu banyak tentangmu, hingga aku tak tahu bagaimana cara menghapusnya satu persatu. Mungkin, jika kau tanyakan padaku seberapa banyak aku mengingatmu, aku jawab terlalu banyak hingga aku tak sadar bahwa aku pun sampai membandingkan orang lain denganmu.
Aku terbiasa menunggumu di sini, pada petang hari. Di kursi panjang berwarna cokelat. Masih dengan setumpuk kertas yang kudekap di dada, muka lusuh bekas aktivitas seharian, juga badan yang sudah remuk redam akibat begadang semalaman. Kau muncul dari balik gedung itu dengan gayamu yang biasa saja. Meski tanpa lambaian tangan namun senyummu sumringah. Kelegaan yang kudapat ketika aku yakin bahwa kau tersenyum padaku.
Tapi cinta bukan kesamaan, bukan pula senyum yang muncul saat pertemuan. Karena itu, akhirnya aku benar-benar pergi, maafkan aku. Aku tak cukup tangguh untuk mengikuti segala keinginanmu, aku ingin menjadi diriku sendiri.
-------------------------------------------------------------------------------------
Kau sama sekali hilang tak berkabar sekarang, meskipun aku tak mencemaskanmu tapi kuharap kau baik-baik juga. Terlebih lagi, semoga sudah kau temukan apa yang selama ini kau cari (aku juga tak tahu pasti apa yang ingin kau raih). Itu urusanmu, itu hak dan kewajiban untuk hidup yang dianugerahkan kepadamu. Setiap kita punya selera sendiri untuk menentukan kemana arah yang akan kita ikuti, dan memang dari dulu nampaknya kita berbeda. Tapi kupikir kita masih bisa untuk saling toleran dan menghormati bukan tanpa kabar seperti ini.
Tidak ada salahnya untuk memberi kabar, maka kusampaikan bahwa aku baik-baik saja. Sangat menikmati hidup, menikmati kebersamaan, menikmati kesendirian dan perenungan, juga menikmati pencarian. Kuharap kau juga. Tidak mau bertemu denganmu bukan berarti aku mengabaikanmu atau tak menghormatimu. Hanya saja, aku ingin kita baik-baik saja, kutahu jika pertemuan terjadi bukan tidak mungkin kita akan saling diam. Canggung untuk menentukan siapa dulu yang berhak bicara, padahal kita tidak sedang memperebutkan hak atau harus melaksanakan kewajiban, kita hanya butuh waktu senggang untuk berpikir. Dan aku: MENIKMATI KEBEBASAN.
Aku sudah bilang akan pergi darimu, berangsur-angsur kunikmati kesendirian dan keadaan tanpamu.
Aku terbiasa bersamamu saat itu. Banyak impian yang kita ciptakan bersama, membaca buku-buku yang sama, mendengar lagu-lagu yang sama, menyukai warna yang sama, dan menikmati kesempatan. Begitu banyak tentangmu, hingga aku tak tahu bagaimana cara menghapusnya satu persatu. Mungkin, jika kau tanyakan padaku seberapa banyak aku mengingatmu, aku jawab terlalu banyak hingga aku tak sadar bahwa aku pun sampai membandingkan orang lain denganmu.
Aku terbiasa menunggumu di sini, pada petang hari. Di kursi panjang berwarna cokelat. Masih dengan setumpuk kertas yang kudekap di dada, muka lusuh bekas aktivitas seharian, juga badan yang sudah remuk redam akibat begadang semalaman. Kau muncul dari balik gedung itu dengan gayamu yang biasa saja. Meski tanpa lambaian tangan namun senyummu sumringah. Kelegaan yang kudapat ketika aku yakin bahwa kau tersenyum padaku.
Tapi cinta bukan kesamaan, bukan pula senyum yang muncul saat pertemuan. Karena itu, akhirnya aku benar-benar pergi, maafkan aku. Aku tak cukup tangguh untuk mengikuti segala keinginanmu, aku ingin menjadi diriku sendiri.
-------------------------------------------------------------------------------------
Kau sama sekali hilang tak berkabar sekarang, meskipun aku tak mencemaskanmu tapi kuharap kau baik-baik juga. Terlebih lagi, semoga sudah kau temukan apa yang selama ini kau cari (aku juga tak tahu pasti apa yang ingin kau raih). Itu urusanmu, itu hak dan kewajiban untuk hidup yang dianugerahkan kepadamu. Setiap kita punya selera sendiri untuk menentukan kemana arah yang akan kita ikuti, dan memang dari dulu nampaknya kita berbeda. Tapi kupikir kita masih bisa untuk saling toleran dan menghormati bukan tanpa kabar seperti ini.
Tidak ada salahnya untuk memberi kabar, maka kusampaikan bahwa aku baik-baik saja. Sangat menikmati hidup, menikmati kebersamaan, menikmati kesendirian dan perenungan, juga menikmati pencarian. Kuharap kau juga. Tidak mau bertemu denganmu bukan berarti aku mengabaikanmu atau tak menghormatimu. Hanya saja, aku ingin kita baik-baik saja, kutahu jika pertemuan terjadi bukan tidak mungkin kita akan saling diam. Canggung untuk menentukan siapa dulu yang berhak bicara, padahal kita tidak sedang memperebutkan hak atau harus melaksanakan kewajiban, kita hanya butuh waktu senggang untuk berpikir. Dan aku: MENIKMATI KEBEBASAN.
Sabtu, 15 Januari 2011
A Right for Happiness

Kemana kamu seharian sayang? Aku menunggumu di sini: di sudut hati yang was-was dengan pernyataan “aku menyayangimu” yang kau ucapkan tempo hari. 11 Januari. Momen itu seperti sebuah kesempatan yang membuat kita menata keping-keping haru akan cinta yang telah terserak selama enam tahun lewat. Waktu yang tidak singkat untuk akhirnya kita bertemu kembali di sebuah kesempatan yang tidak pernah tertebak. Dan seharian ini, menunggu kau berkata-kata terasa jauh lebih lama daripada waktu enam tahun itu.
Hari-hariku sekarang dipenuhi dengan keinginan untuk segera menemuimu dan menceritakan banyak hal. Lucu memang, karena tradisi kita bukanlah saling bercerita. Sebelumnya sapaan adalah hal mahal yang jarang kita bagi. Lalu, ketika kita mengingat masa-masa di awal kita jumpa dulu, kau begitu puas menertawai tingkahku yang kau bilang begitu tak acuh. Aku menjadi begitu rindu dengan tingkahmu, dengan sapaan dan nasehatmu. Kupikir, aku jatuh cinta.
Sudah berapa banyak perubahan kita Sayang? Sejauh kita mencari arti dan saling menghargai untuk beberapa waktu ini, kurasa kau makin matang dengan kemandirianmu. Meskipun tetap saja, kau ucapkan bahwa kau ingin selalu menjadi anak kecil, karena dengan begitu kau akan selalu merasakan kebahagiaan. Sayang, kebahagiaan itu sebuah pilihan, mari kita berbahagia tanpa harus kembali ke masa kecil kita dulu. Bukankah kita bisa ciptakan hari-hari penuh senyum dengan kebersamaan kita? Kita bisa wujudkan mimpi-mimpi kita bersama mulai dari sekarang, dan itu bisa kita raih dengan perasaan yang bahagia, bukan dengan lilitan kesedihan. Ingatkah malam itu? Ketika kau tanyakan padaku sebuah kalimat “bahwa satu detik dari sekarang adalah masa depan”, maka jika kita ingin masa depan kita bahagia, mari kita sajikan detik-detik yang penuh dengan syukur atas segala yang terjadi. Dan, aku ingin menapaki masa yang tersisa ini bersamamu, Sayang. Dengan rasa syukur yang tak pernah terputus.
Rainy

Aku mencintai hujan, karena itu adalah bagian dari sebuah momen yang mampu menggugah hatiku. Aku selalu mengingat masa-masa di mana hujan menemaniku dalam pedih atau perih, dalam canda maupun rasa tak tega. Masa dengan diriku, dengan ayah ibuku, dengan adikku, dengan sahabat-sahabatku, seseorang yang pernah melekat di hatiku, atau pun denganmu. Ya denganmu. Hujan, kala itu. Aku memberi makna hanya sebatas waktu dan kondisi cuaca. Pikiranku justru menerawang masa di mana aku belum mengenalmu. Jangankan kenal, ada bayangan bertemu denganmu saja tak pernah sama sekali terbersit.
Saat itu hujan, aku mampu berteriak sekencang-kencangnya mengungkap rasa sedihku. Ya dengan cara itu, aku meninggalkan seseorang yang pernah mengisi sebagian ruang di hatiku. Aku harus menitipkan pilu pada gudang rasa di hatiku, saat itu. Setiap kali aku menemuinya, rasa itu menakutkan. Aku tahu akan ada dua manusia yang tak setuju atas langkahku bersamanya. Tapi karena hujan, aku jadi merasa ada wakil dari perasaanku,. Dalam hujan, bagiku, ada gigil yang tak dingin. Ada lelah namun terarah. Ada luka namun tak menganga. Saat hujan, tak peduli seberapa deras mata air mata kita. Tak peduli seberapa keras tertawa kita. Tak peduli sebagus apa busana kita. Tak peduli sejelata apa kondisi kita. Yang jelas timpaannya sama.Hujan. Aku mencintainya.
Sampai di suatu persimpangan aku menemuimu tak sengaja. Maka dengan sigap tak perlu kutunggu rintik hujan untukku merasakan semuanya. Mulai kuartikan satu persatu rasa yang menggelikan ini. Tak lagi kupedulikan rasa pilu yang kutitipkan di gudang rasaku. Yang aku usahakan adalah menyisipkan bahagia di setiap gelak tawa pahit yang kadang aku benci. Tawa topeng yang sungguh mengenaskan. Namun, karenamu, aku tak perlu lagi memakai topeng. Kau melepaskannya. Dan kau pasti mengerti kapan kau melepaskan penutup wajah rasaku itu. Kau ingat? Saat hujan. Dari situ, kupikir sekarang hujan tak hanya milikku, orang tuaku, adikku, sahabatku, orang itu, tapi juga milikmu. Aku bangga pada hujan yang menyatukan perasaan.
Lurus terus kita berjalan, bergandeng tangan, berdua. Mengesampingkan cercaan orang yang menganggap kita tabu, karena kau bukan milikku. Kau miliknya. Tapi aku tak menyalahkanmu, kuanggap itu wajar. Perasaanku wajar, perbuatanmu pun jadi wajar. Meski kelak, semuanya menjadi salah ajar. Kau tetap bersamanya, namun kau menggandeng tanganku ketika berjalan. Aku jadi berpikir bahwa kau lebih memilihku.
Sampai akhirnya kutahu semuanya hanya sekedar permainan tak berjudul. Bahkan sekalipun kucoba untuk menyusun beberapa huruf untuk menamainya, aku justru semakin terlihat seperti peserta terbodoh dalam perlombaan scrable. Meski demikian aku semakin mencandu pada games itu. Terus mencoba setiap waktu tak peduli apakah saat itu aku akan menang atau kalah. Hanya saja, yang aku tahu, aku semakin mencintaimu dan membutuhkanmu.
Tapi aku mulai ragu, apakah cinta itu kebutuhan? Apakah karena aku membutuhkanmu lalu aku mencintaimu? Bahkan hingga hari ini pun aku tak mengerti maumu sebenarnya. Kau membuatku nyaman dengan semua gerak-gerikmu.
Senin, 03 Januari 2011
Thank You for Ever Hurting Me, I Learn a Lot
Dini hari 01.57 wib
2 januari 2010
“Jika kenyataan berjalan tidak sesuai dengan yang kita harapkan, maka belajarlah untuk tidak menyalahkan apapun dan siapapun.”
Sederet kalimat itu seperti menjadi salah satu pijakan langkah yang kutentukan. Gagal bukan berarti akhir, tapi tidak semerta-merta diartikan bahwa kegagalan adalah awal dari kesuksesan. Kita bisa belajar dari banyak hal, dari banyak sumber, dan setiap waktu. Termasuk belajar dari kegagalan, dari rasa sakit dan penderitaan, serta belajar bagaimana meraih kesuksesan ditengah-tengah rasa yang oleh kebanyakan orang diratapi.
“Thank you for ever hurting me, i learn a lot...”
Seorang sahabat mengupdate statusnya di facebook kurang lebih sembilan menit yang lalu. Terima kasih pernah menyakitiku, aku belajar banyak. Seketika saya tertarik untuk sedikit mengulasnya disela rasa jenuh mengerjakan studi pustaka untuk syarat penelitian di program studi yang saya ambil. Saya tidak tahu dari mana rasa sakit itu bersumber dan bagaimana prosesnya, yang jelas penggalan status itu membuat saya berpikir bahwa kehidupan itu tidak menjanjikan kepastian. Sesuatu yang kadang sudah dibangun dengan susah payah, penuh dengan perjuangan, dan mengorbankan banyak hal seketika bisa runtuh begitu saja. Itulah ketidakpastian. Kemudian kekecewaan muncul dan mendera perasaan, dunia seakan runtuh dan menimpa diri yang sedang ditimpa kesusahan. Heart break!
Menjadi bijak untuk menyikapi kondisi yang tidak pasti adalah sebuah pilihan, termasuk untuk menjadikan rasa sakit sebagai sebuah pelajaran berharga. Dengan sakit, berarti kita belajar untuk menghargai kebahagiaan, belajar untuk mensyukuri kenikmatan senang.
Thank you
Terima kasih, thank you, adalah sebuah ungkapan syukur yang seringkali menjadi hal sangat berharga. Ketika sakit mendera, ungkapan itu juga bisa ikut terkubur dan samar hingga tak diucapkan lagi. Padahal dengan mengucapkan terima kasih, kita bisa membuka satu pintu kelegaan untuk ikhlas menerima kondisi yang ada, baik yang sedang maupun yang telah terjadi.
For ever hurting me
Bagi saya ini adalah kata-kata yang sulit untuk diucapkan. Serupa serapah apabila tidak divokalkan dengan intonasi yang baik. Pada dasarnya yang menjadikan kita merasa bahagia, rindu, sakit, sedih, kecewa, atau perasaan lainnya adalah interaksi yang selama ini terbentuk dalam kehidupan. Melukai dan menyakiti seseorang juga kerap kali terjadi baik secara sengaja maupun tidak. Hanya saja, yang perlu diingat adalah setiap orang –sekuat apapun- pasti dia pernah sakit hati, pernah menyakiti dan merasa disakiti. Jadi, dunia tidak akan runtuh dia atas tubuh kita ketika rasa sakit itu menimpa. Manusia adalah ciptaan yang memiliki kekuatan untuk melawan keadaan.
Learn a lot
Andreas Harefa memberikan sebuah qoute yang bisa menginspirasi banyak orang, bahwa dewasa adalah growing up not growing older. Menjadi dewasa adalah sebuah ihwal yang juga merupakan pilihan. Untuk bisa belajar dari rasa sakit, belajar dari kegagalan, bersikap dan berpikir dewasa itu menjadi penting. Masalah memang perlu dihadapi sesuai porsinya, namun ketika kita bisa bersikap dan berpikir dewasa (growing up) maka permasalahan itu bisa dihadapi dengan adil. Menjadi dewasa adalah sebuah keniscayaan untuk belajar. Belajar lebih banyak untuk membuat manusia bisa memanusiakan dirinya sendiri. Sebab akal bercokol dalam diri manusia maka kita bisa menentukan cara untuk bersikap, menghadapi masalah dan rasa sakit sebagai sebuah pembelajaran.
Mari belajar untuk memetik hikmah dari setiap peristiwa. Tidak ada satu pun situasi yang tercipta tanpa solusi. Manusia adalah makhluk unggul, ketika kita bisa memanusiakan keunggulan kita maka semoga kita sedang belajar. Karena belajar adalah proses, hasil dari belajar adalah bonus.
2 januari 2010
“Jika kenyataan berjalan tidak sesuai dengan yang kita harapkan, maka belajarlah untuk tidak menyalahkan apapun dan siapapun.”
Sederet kalimat itu seperti menjadi salah satu pijakan langkah yang kutentukan. Gagal bukan berarti akhir, tapi tidak semerta-merta diartikan bahwa kegagalan adalah awal dari kesuksesan. Kita bisa belajar dari banyak hal, dari banyak sumber, dan setiap waktu. Termasuk belajar dari kegagalan, dari rasa sakit dan penderitaan, serta belajar bagaimana meraih kesuksesan ditengah-tengah rasa yang oleh kebanyakan orang diratapi.
“Thank you for ever hurting me, i learn a lot...”
Seorang sahabat mengupdate statusnya di facebook kurang lebih sembilan menit yang lalu. Terima kasih pernah menyakitiku, aku belajar banyak. Seketika saya tertarik untuk sedikit mengulasnya disela rasa jenuh mengerjakan studi pustaka untuk syarat penelitian di program studi yang saya ambil. Saya tidak tahu dari mana rasa sakit itu bersumber dan bagaimana prosesnya, yang jelas penggalan status itu membuat saya berpikir bahwa kehidupan itu tidak menjanjikan kepastian. Sesuatu yang kadang sudah dibangun dengan susah payah, penuh dengan perjuangan, dan mengorbankan banyak hal seketika bisa runtuh begitu saja. Itulah ketidakpastian. Kemudian kekecewaan muncul dan mendera perasaan, dunia seakan runtuh dan menimpa diri yang sedang ditimpa kesusahan. Heart break!
Menjadi bijak untuk menyikapi kondisi yang tidak pasti adalah sebuah pilihan, termasuk untuk menjadikan rasa sakit sebagai sebuah pelajaran berharga. Dengan sakit, berarti kita belajar untuk menghargai kebahagiaan, belajar untuk mensyukuri kenikmatan senang.
Thank you
Terima kasih, thank you, adalah sebuah ungkapan syukur yang seringkali menjadi hal sangat berharga. Ketika sakit mendera, ungkapan itu juga bisa ikut terkubur dan samar hingga tak diucapkan lagi. Padahal dengan mengucapkan terima kasih, kita bisa membuka satu pintu kelegaan untuk ikhlas menerima kondisi yang ada, baik yang sedang maupun yang telah terjadi.
For ever hurting me
Bagi saya ini adalah kata-kata yang sulit untuk diucapkan. Serupa serapah apabila tidak divokalkan dengan intonasi yang baik. Pada dasarnya yang menjadikan kita merasa bahagia, rindu, sakit, sedih, kecewa, atau perasaan lainnya adalah interaksi yang selama ini terbentuk dalam kehidupan. Melukai dan menyakiti seseorang juga kerap kali terjadi baik secara sengaja maupun tidak. Hanya saja, yang perlu diingat adalah setiap orang –sekuat apapun- pasti dia pernah sakit hati, pernah menyakiti dan merasa disakiti. Jadi, dunia tidak akan runtuh dia atas tubuh kita ketika rasa sakit itu menimpa. Manusia adalah ciptaan yang memiliki kekuatan untuk melawan keadaan.
Learn a lot
Andreas Harefa memberikan sebuah qoute yang bisa menginspirasi banyak orang, bahwa dewasa adalah growing up not growing older. Menjadi dewasa adalah sebuah ihwal yang juga merupakan pilihan. Untuk bisa belajar dari rasa sakit, belajar dari kegagalan, bersikap dan berpikir dewasa itu menjadi penting. Masalah memang perlu dihadapi sesuai porsinya, namun ketika kita bisa bersikap dan berpikir dewasa (growing up) maka permasalahan itu bisa dihadapi dengan adil. Menjadi dewasa adalah sebuah keniscayaan untuk belajar. Belajar lebih banyak untuk membuat manusia bisa memanusiakan dirinya sendiri. Sebab akal bercokol dalam diri manusia maka kita bisa menentukan cara untuk bersikap, menghadapi masalah dan rasa sakit sebagai sebuah pembelajaran.
Mari belajar untuk memetik hikmah dari setiap peristiwa. Tidak ada satu pun situasi yang tercipta tanpa solusi. Manusia adalah makhluk unggul, ketika kita bisa memanusiakan keunggulan kita maka semoga kita sedang belajar. Karena belajar adalah proses, hasil dari belajar adalah bonus.
Jumat, 31 Desember 2010
HAPPY NEW YEAR 2011
Penghujung tahun adalah momentum spesial yang berusaha diciptakan oleh banyak orang - dengan caranya masing-masing. Sebenarnya setiap hari adalah sama, hanya namanya saja yang dibeda-bedakan. Barangkali untuk memudahkan manusia memilah dan mengatur jadwal. Senin-Minggu adalah hapalan nama hari yang bahkan semenjak kita kanak-kanak telah dijejalkan ke otak. Istilah weekend, I hate Monday, atau Friday is freeday adalah kesimpulan manusia yang disebabkan bertumpuknya aktivitas dalam hidupnya. Tapi tahun baru -1 Januari- seems different, ada yang istimewa di waktu ini. Tidak peduli jatuh di hari apa pun, yang muncul adalah kesukacitaan yang secara sengaja dibuat. New Year.
Berbagai ucapan selamat tahun baru dari sahabat-sahabatku baik melalui sms, facebook, atau pun face to face terasa begitu melegakan. Semuanya bernada positif dan penuh semangat. Andai setiap hari adalah tahun baru, maka dunia ini akan penuh dengan manusia yang optimis dan bahagia. Banyak orang membuat resolusi di penghujung tahun dan berusaha mewujudkannya di tahun berikutnya. Resolusi seperti sebuah keniscayaan. Target dilist sedemikian rupa, menampakkan euforia tahun yang baru.
Setiap hari adalah hari yang baik, dan beruntunglah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin
Kesukacitaan dalam menyambut tahun baru baiknya menjadi perenungan, capaian apa yang telah kita raih dari resolusi tahun sebelumnya? Apakah capaian itu memberikan manfaat bagi banyak orang termasuk alam sekitar? Tolak ukur apa yang dijadikan indikator keberhasilan capaian? Hal itu menjadi penting supaya resolusi yang dibuat selanjutnya bisa lebih mengarah kepada kebaikan dan manfaat.
Catatan ini adalah sekelumit tentang tahun baru, tentang hari baru yang menjadi salah satu bagian instrumen kebahagiaan untuk mayoritas manusia. Makna tahun baru sendiri berbeda masing-masing individu, tapi seperti semangat yang tersulut, tahun baru adalah membuka pintu untuk hadirnya pengalaman dan pembelajaran yang terus menerus.
HAPPY NEW YEAR!!!
Berbagai ucapan selamat tahun baru dari sahabat-sahabatku baik melalui sms, facebook, atau pun face to face terasa begitu melegakan. Semuanya bernada positif dan penuh semangat. Andai setiap hari adalah tahun baru, maka dunia ini akan penuh dengan manusia yang optimis dan bahagia. Banyak orang membuat resolusi di penghujung tahun dan berusaha mewujudkannya di tahun berikutnya. Resolusi seperti sebuah keniscayaan. Target dilist sedemikian rupa, menampakkan euforia tahun yang baru.
Setiap hari adalah hari yang baik, dan beruntunglah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin
Kesukacitaan dalam menyambut tahun baru baiknya menjadi perenungan, capaian apa yang telah kita raih dari resolusi tahun sebelumnya? Apakah capaian itu memberikan manfaat bagi banyak orang termasuk alam sekitar? Tolak ukur apa yang dijadikan indikator keberhasilan capaian? Hal itu menjadi penting supaya resolusi yang dibuat selanjutnya bisa lebih mengarah kepada kebaikan dan manfaat.
Catatan ini adalah sekelumit tentang tahun baru, tentang hari baru yang menjadi salah satu bagian instrumen kebahagiaan untuk mayoritas manusia. Makna tahun baru sendiri berbeda masing-masing individu, tapi seperti semangat yang tersulut, tahun baru adalah membuka pintu untuk hadirnya pengalaman dan pembelajaran yang terus menerus.
HAPPY NEW YEAR!!!
Rabu, 01 Desember 2010
Desember
Sorry, i don't have enough words to say about that.
You have said to me:" If you want, please come to me. If not, just go away!
After all, i think we need more time for relax. I don't have more that you want, and maybe, means nothing for you.
Please look at your self to, yes, i have mistakes but i'm not the one. You're too!
I'm sorry, i will go away from you, as what you want. Thank you for the love and everything that have been done for me.
Sama sekali tidak menduga kalau 1 Desember ini aku mengirimkan pesan itu untukmu, D. Maafkan aku, entah kenapa aku begitu lelah meneruskan skenario ini. Biarkan aku menjadi diriku sendiri yangtidak terkekang aturanmu, tidak terkekang cinta atas namamu, D. Kita punya cara yang berbeda, jangan paksa aku untuk mengikuti caramu. Jangan biarkan diri kita menjadi pengecut. D, jika waktu memang memiliki andil, maka tak sedikit dari hidupku yang mampu kau warnai. Kau istimewa, tapi aku tak bisa meneruskannya. Karena kita memiliki cara yang berbeda. Bukan karena cinta harus sama, tapi aku tak rela baik kau maupun aku menguras tenaga lebih banyak lagi hanya untuk bisa saling mengerti.
You have said to me:" If you want, please come to me. If not, just go away!
After all, i think we need more time for relax. I don't have more that you want, and maybe, means nothing for you.
Please look at your self to, yes, i have mistakes but i'm not the one. You're too!
I'm sorry, i will go away from you, as what you want. Thank you for the love and everything that have been done for me.
Sama sekali tidak menduga kalau 1 Desember ini aku mengirimkan pesan itu untukmu, D. Maafkan aku, entah kenapa aku begitu lelah meneruskan skenario ini. Biarkan aku menjadi diriku sendiri yangtidak terkekang aturanmu, tidak terkekang cinta atas namamu, D. Kita punya cara yang berbeda, jangan paksa aku untuk mengikuti caramu. Jangan biarkan diri kita menjadi pengecut. D, jika waktu memang memiliki andil, maka tak sedikit dari hidupku yang mampu kau warnai. Kau istimewa, tapi aku tak bisa meneruskannya. Karena kita memiliki cara yang berbeda. Bukan karena cinta harus sama, tapi aku tak rela baik kau maupun aku menguras tenaga lebih banyak lagi hanya untuk bisa saling mengerti.
Minggu, 31 Oktober 2010
Invisible Moment
Kamu begitu melankolis malam ini, namun justru di saat-saat seperti inilah kamu menjadi jujur dan nampak romantis. Biasanya kau begitu angkuh seakan semuanya bisa kau selesaikan sendiri. Tiba-tiba aku tersadar, ternyata bukan hanya kau yang sedang terbawa situasi ini. Entah karena apa, kita seperti sengaja mengenang masa lalu dan melepaskan rasa rindu setelah beberapa waktu tak bertemu. Aku merindukanmu, tapi aku ingin mengatakan padamu bahwa aku sedang merindukan kekasihku. Seorang yang bagiku adalah salah satu sahabat terbaik. Sama sepertimu, hanya saja cara kalian menunjukkan ketulusan dan perhatian berbeda. Kau membentakku dan marah-marah sesukamu, kau bilang aku belum dewasa. Namun sikapmu membuatku jatuh hati, dan –perlu kamu tahu- aku masih ingat detail bagaimana kita berkenalan. Itu lucu dan menggelikan. Barangkali jika dianalogikan sebagai FTV, kita adalah pemeran utama yang akan berjodoh di akhir cerita.
Itu kau dengan sikapmu, dengan ketulusan yang berbeda. Kekasihku, kau tahu? Dia pun bagiku adalah sahabat yang begitu tulus membagi kebahagiaan hidupnya. Dia yang rela menungguku berjam-jam jika aku pulang malam, dia rela kesampingkan egonya demi terkembangnya senyumku. Dia yang tulus dengan kelembutan hatinya, dan aku luluh dengan senyum hangatnya. Kemarin semua berjalan sesuai harapan, namun tentang sekarang adalah jalan cerita yang berbeda. Aku sedang sangat bersedih dan menyayangkan perpisahan. Kekasihku memilih untuk menapaki waktu sendiri, tanpa aku. Jika boleh jujur, aku masih merindukannya, kau perlu tahu bahwa aku masih merindunya. Rindu ini menyakitkan dan menyesakkan. Kupikir salah satu hal terburuk yang harus dihadapai adalah ketika kau dengan kekasihmu saling mencintai tapi kalian sama-sama pusing mencari waktu yang tepat untuk mengucap kata “maaf kita harus berpisah”.
Kucari celah disela-sela kerinduanku pada ‘kekasih’-ku. Ternyata namamu tak pernah tersisih, tetap ada dalam segala rupa. Dan hari ini kau tampak manis dengan apa adanya. Berapa lama kita tak bersua? Tak lama… tapi memelukmu sejenak seperti meruntuhkan gerbang penantian. Aku ingin memelukmu lebih lama, merasakan degup jantungmu dan memastikan bahwa kau sungguh membebaskanku dengan cintamu. Kau juga harus tahu: aku masih menyimpan selembar janjimu di bawah bantal mimpiku.
-------------------------
Maafkan jika aku belum mampu mendefinisikan fungsi cinta seperti yang kau harapkan. Aku tak bisa membuat turunan-turunan dari variabel cinta yang kau utarakan. Bagiku, cinta itu refleks, cinta adalah hakikat yang maknanya pun menjadi kompleks. Kau mau realita? Sayangnya cinta kadang di luar nalar kita. Sepandai apapun kau usahakan agar aku mampu mendeskripsikan fungsi cinta antara aku dan kekasihku, mohon maaf aku tetap masih belum mampu. Dan, aku lebih tertarik untuk mencari hasil dari rumus yang kau beri, tentang kita, dalam arti sebenarnya.
Aku masih merapal dengan doa yang sama, untukmu, untuk kita: Tuhan, izinkan aku untuk terus menemaninya dalam ada maupun tiada. Izinkan aku untuk menjadi kebaikannya di dunia maupun akhirat. Aku percaya Tuhan, bahwa Engkau hadir dengan banyak cara, dan hubungan manusia dengan-Mu tidak terbatas pada perkara pahala dan dosa. Tuhan, sempurnakan ikhtiarku untuk mencintainya atas dasar kecintaan kepada-Mu.
Masing-masing dari kita membawa beban di pundak, entah beban yang seperti apa. Tak kasat mata namun tertera. Kita sedang menempa perasaan untuk bisa menguatkan hati tentang peristiwa masa lalu yang sesekali mengusik nurani. Adakah manusia yang tidak memiliki masa lalu? Tidak ada, karena manusia tercipta dari sejarah. Termasuk kita dengan semua masa lalu kita, tapi bukankah menjadi bijak ketika kita bisa mengolahnya sebagai informasi untuk menata masa depan kita?
Aku begitu rindu memanggilmu dengan panggilan sayang meski kau bukan kekasihku.
Sayang, jangan minta aku untuk mencintai orang lain. Itu adalah hal berat yang aku sendiri tidak memiliki sejarah untuk bisa mengulanginya. Aku tidak punya pelajaran tentang itu. Aku ingin mencintaimu dengan setia. Benar katamu, kehilangan adalah hal yang manusiawi asalkan yang hilang bukan mimpi dan harapan. Benar katamu, bahwa kita tidak boleh terjebak dengan hal-hal yang bersifat keduniaan karena itu nisbi, namun sunggguh aku tidak terobsesi denganmu karena duniamu. Aku mencintaimu dalam aras nurani yang tidak mampu kubohongi. Izinkan aku untuk tetap memiliki mimpi dan harapan kita supaya aku yakin bahwa aku mencintamu karena cinta-Nya.
”Aku bukan orang baik” katamu.
Sayang, bahkan aku pun bukan orang baik. Aku hanya berusaha menjadi orang baik, tapi bagiku, kebaikan bukanlah terletak pada diri kita. Kebaikan menjadi nyata ketika orang lain merasakannya. Dan, orang di sekitarmu merasakan pancaran kebaikan dari dirimu. Laksana iman yang nyata pula dengan amal perbuatan, begitulah kebaikan. Maka, kumohon, izinkan pula diri ini untuk merasakan kebaikan itu supaya aku bisa menjadi bagian untuk kebaikanmu. Ini adalah tentangmu, bukan tentang kekasihku.
”Tapi sudah terlalu banyak orang yang aku sakiti” kau masih saja murung.
Sayang, mereka telah memaafkanmu. Percayalah padaku, mereka telah berendah hati untuk mengabulkan permohonan maafmu yang tak pernah main-main. Kau tulus, aku percaya itu. Bahkan ketika keberanianmu berbatas kau pun masih dengan rasa yang sama, rasa untuk sebisa mungkin membahagiakan orang lain. Kamu tidak menyakiti, tapi kamu berbagi kedewasaan. Aku tidak sedang melakukan pembenaran karena alasan aku terlanjur mencintai dirimu. Tapi ini adalah pelajaran yang tak pernah disayangkan, hidup itu sekolah terbaik dan kau juga salah satu guru yang tak sengaja aku dapati di ruang semesta ini.
Seberapa bersalahnya diriku yang selalu menduakan rasa, berusaha mencinta dengan terpaksa. Demi melupakan memori yang menciptakan partikel-partikel sederhana yang kita sebut cinta. Kini ketika aku ditanya ”apa itu cinta” aku pun kewalahan untuk memikirkan dan menjawabnya. Cinta bukan aku, cinta bukan kamu, cinta bukan kita, cinta bukan apa atau siapa. Tapi cinta adalah tentang semuanya. Aku takut menafsirkannya terlalu sempit, karena tafsir bersifat subyektif. Dan detik ini, cinta yang aku pahami adalah sebentuk kerinduan kecil untukmu, meski kau bukan kekasihku.
-------------------------------------
Ini adalah pilihan untuk menjadi atau tidak menjadi, untuk berbagi dan memberi. Aku yakin bahwa pelan-pelan keihklasan itu akan muncul dan menjelma nyata dalam keseharian kita. Sekarang aku belajar untuk tidak meminta apa-apa. Aku ingin memberi semampuku: untukku, untukmu, untuk kita dan untuk semesta. Kamu harus bahagia karena setiap orang memiliki hak untuk memilikinya. Semoga suatu saat akan ada lencana kebanggaan yang akan kita bagi pada generasi masa depan. Kelak, akan kita sampaikan bahwa tidak ada yang salah untuk mencintai dan tidak ada yang salah untuk berbagi meskipun itu tak selalu nyata.
Aku berdoa, semoga malam ini akan jauh lebih panjang dari malam-malam sebelumnya. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagiku selain merasakan bahwa dirimu begitu dekat. Meski aku tahu, keinginan untuk selalu bersama itu semu. Aku hanya memintamu, sekarang nikmatilah waktu bersamaku agar esok, saat kau pulang, ada segenggam kenangan yang kau simpan dalam kantong dan ada ratusan jejak yang takkan kau lupakan: kita.
Sabtu, 02 Oktober 2010
Mengapa Perempuan?
Salah satu hal yang menyulitkan adalah ketika harus berusaha menerima sesuatu yang tidak kita inginkan. Sama seperti saat ini, mau tidak mau harus ada keputusan yang diambil. Minimal "Jalani Sebaik-Baiknya". Ya, hanya itu saja.. Rasanya gw pengen banget ngehapus legenda Diah Pitaloka dan Prabu Hayam Wuruk. Oh God kenapa legenda itu menjadi stereotipe fanatik Laki-laki Sunda dan Perempuan Jawa untuk tidak berhubungan?
Rasanya seperti menanggung dosa nenek moyang yah generasi sekarang? tidakah ada cara bijak yang bisa meng-cut relasi tak jelas ini?
Rasionalitas gw nggak bisa jalan kal udah dihubungkandengan mitos dan legenda kayak gini. Sampai sejauh ini gw masih yakin untuk menjalani sebaik-baiknya. Toh yang Kun Fayakun cuma Allah, itu yang gw percaya. Dan meski gw berada di posisi yang bagi gw marginal, tapi gw yakin ini ujian. Hoho berasa serius aja yang dihadapi (gw udah mulai ngelantur. TAPI GW LAGI PENGEN BERONTAK DENGAN SILSILAH KERAJAAN SILIWANGI DAN KERAJAAN MAJAPAHIT. Dan kenapa harus perempuan yang dilarang? Bukan Laki-laki?!
Rasanya seperti menanggung dosa nenek moyang yah generasi sekarang? tidakah ada cara bijak yang bisa meng-cut relasi tak jelas ini?
Rasionalitas gw nggak bisa jalan kal udah dihubungkandengan mitos dan legenda kayak gini. Sampai sejauh ini gw masih yakin untuk menjalani sebaik-baiknya. Toh yang Kun Fayakun cuma Allah, itu yang gw percaya. Dan meski gw berada di posisi yang bagi gw marginal, tapi gw yakin ini ujian. Hoho berasa serius aja yang dihadapi (gw udah mulai ngelantur. TAPI GW LAGI PENGEN BERONTAK DENGAN SILSILAH KERAJAAN SILIWANGI DAN KERAJAAN MAJAPAHIT. Dan kenapa harus perempuan yang dilarang? Bukan Laki-laki?!
Sabtu, 28 Agustus 2010
Because the World is Flat
By social change we refer to whatever may happen in the course of time to the roles, the institutions, or the orders comprising a social structure, the emergence, growth and decline (Vago, 1989:7)
Saya suka membaca apa saja, menulis apa saja, dan berjalan-jalan ke mana saja. Saya suka bertemu dengan banyak orang, belajar dengan banyak orang, dan ingin bermanfaat bagi banyak orang. Bagi saya, hidup tidak sekedar menunggu mati, tapi hidup untuk berprestasi. Saya percaya bahwa satu-satunya hal yang tidak bisa disangkal dalam hidup ini adalah perubahan. Perubahan akan terus terjadi karena langkah kita tidak stagnan tapi dinamis. Biarkan proses perubahan itu natural namun terencana, agar hidup lebih hidup!
Kemudian saya merasa telah, sedang, dan akan terus mengalami perubahan meskipun hanya suatu hal yang sangat kecil. Saya hidup dikelilingi oleh banyak orang, banyak kejadian, banyak pemikiran, dan banyak pula perkembangan teknologi. Inilah fakta, se-idealis apapun saya, saya tidak bisa mengelak dari perkara-perkara yang terjadi di luar diri saya. Bertemu dengan banyak orang dan berinteraksi dengan mereka memunculkan sebuah pemahaman bahwa ”sebaiknya” atau ”etisnya” perilaku adalah seperti ini atau seperti itu. Saya dididik dengan keras oleh Ayah saya, segala sesuatu harus cepat dilaksanakan dan perlu cepat diselesaikan. Saya melaksanakannya sebagai sebuah wujud kepatuhan kepada ”titah” orang tua dan saya yakini bahwa cepat adalah disiplin. Tapi setelah bertemu dengan banyak tipe manusia, ternyata saya perlu beradaptasi, tidak selamanya cepat adalah disiplin. Terkadang cepat juga bisa bermakna ceroboh. Suatu masalah tidak harus diselesaikan secara cepat namun perlu dipecahkan dengan tepat. Bagi saya, idealisme juga perlu penyesuaian dan adaptasi agar kita bisa bertoleransi.
Saya lahir pada bulan Januari 1990, saat ini sedang beranjak menuju umur 21. Ada banyak hal yang telah berubah selain bagaimana saya memandang sebuah persoalan yang terjadi dalam hidup saya. Dulu, ketika masih kecil (sampai saya kelas 2 Sekolah Dasar), asalkan ada minyak tanah untuk mengisi pelita saya bisa tenang belajar membaca dan menulis. Tapi sekarang, sungguh saya sudah tergantung pada listrik. Saya bisa lebih konsentrasi belajar ketka penerangan dengan listrik cukup apalagi ditambah dengan kondisi mata yang sudah miopi. Dulu, saya tidak perlu gusar saat tidak mendapatkan informasi atau berita terbaru karena TV pun hidupnya masih senin - kamis kalau aki tersedia. Sekarang, TV seperti sebuah mainan yang wajib dimiliki. Komputer adalah soulmate saat bekerja. Internet adalah saudara kembar yang sebaiknya tidak terpisahkan. Dan, saya merasa kehilangan jiwa saya ketika terpisah dengan telpon genggam. Itulah, dunia sudah berubah dan saya pun ikut berubah.
Kembali lagi, saya suka membaca apa saja dan dimana saja, termasuk membaca sms. Percaya atau tidak, saya juga bisa berubah sebab apa yang saya baca. Sejak kecil saya suka membaca hanya saja orang tua tidak pernah membelikan buku bacaan. Ibu saya tidak pernah mengenyam pendidikan formal dan ayah lulusan SD, saya pahami kondisinya bahwa apa yang mereka pikirkan tentunya berbeda dengan apa yang saya harapkan. Tapi tidak masalah, toh mereka pasti ingin anaknya maju dan ”berubah” lebih baik daripada mereka. Saya masih bisa membaca buku-buku perpustakaan di SD, SMP, dan saat SMA saya sudah mulai membeli buku apa yang saya sukai. Sejak SMP saya dicekoki bacaan yang berhubungan dengan Islam. Bergerak dari apa yang saya baca, ada beberapa hal yang mulai berubah dari diri saya. Saya memutuskan untuk mulai mengenakan jilbab sejak kelas 1 SMP dan juga keinginan saya untuk menuntut ilmu dan menghapal Al-Qur’an semakin kuat. Pemikiran itu muncul dari apa yang saya baca. Jadi, benar juga kata orang, jika kita ingin tahu seperti apa orang itu maka lihatlah apa yang ia baca. Tapi tidak berhenti sampai di situ, dalam prosesnya pun penuh dengan dinamika karena saya tidak hidup sendiri di dunia ini.
Saya tinggal di lingkungan yang agamis, meskipun orang tua saya biasa saja dan tidak fanatik. Mereka demokratis dan membiarkan saya menjadi diri saya sendiri. Termasuk persoalan agama. Lingkungan tempat tinggal saya sangat mempengaruhi langkah saya melanjutkan sekolah, saya tidak ingin melanjutkan ke Pesanteren seperti apa yang disarankan oleh guru ngaji saya. Saya memutuskan untuk masuk ke Madrasah Aliyah yang bagi saya lebih moderat dari Pesanteren. Bagi saya, sekolah di Aliyah mempermudah saya untuk mempertahankan jilbab yang saya pakai karena disana semuanya sama, untuk perempuannya semua berjilbab. Dan saya suka, saya menikmatinya. Dulu saya seorang jilbaber mulai dari kelas 3 SMA hingga tingkat 1 di IPB. Lagi-lagi semuanya tidak berhenti sampai di situ, saya tidak nyaman dengan atribut yang saya gunakan. Saya tidak suka ke-eksklusif-an, saya memilih egois tapi saya bisa berbagi daripada saya eksklusif dan hanya bergerombol dengan komunitas yang ”itu” saja. Sekarang saya mengenakan jilbab tapi tidak perlu predikat akhwat dan saya pun tidak alergi terhadap mereka, saya kagum pada mereka yang istiqomah. Hanya saja saya memiliki pandangan yang berbeda. Bagi saya keimanan tidak diukur dari apa yang kita kenakan, tapi keimanan itu ada dalam hati dan itu privasi. Sekarang prinsip yang saya pegang adalah saya ingin menjadi orang baik dan bermanfaat bagi orang lain, karena saya percaya bahwa hubungan hamba dengan Tuhan tidak terbatas pada perkara surga dan neraka.
Saya pikir, perubahan saya sebenarnya sangat banyak, tidak bisa diceritakan dalam lembaran-lembaran yang terbatas jumlahnya. Saya berubah secara idealistik maupun materialistik. Saya berubah karena faktor internal maupun eksternal. Saya berubah karena memang saya perlu dan harus berubah. Karena hidup tidak asik jika monoton dan hambar jika tidak berwarna. Dan saya berubah untuk saya dan orang-orang di sekitar saya. Sekali lagi, saya hanya ingin menjadi orang baik dan saya ingin berbagi. Perubahan itu harus supaya hidup lebih hidup. Perubahan itu perlu karena dunia tidak lagi bulat dan tidak ada lagi perbedaan siang dan malam. Semua orang melakukan persaingan baik siang maupun malam. So, because the world is flat and everything like same each other except our attitude and our change, let be our own self and let’s the change happen.
P.S. Untuk Ibu, terima kasih selalu untuk didikanmu.
Saya suka membaca apa saja, menulis apa saja, dan berjalan-jalan ke mana saja. Saya suka bertemu dengan banyak orang, belajar dengan banyak orang, dan ingin bermanfaat bagi banyak orang. Bagi saya, hidup tidak sekedar menunggu mati, tapi hidup untuk berprestasi. Saya percaya bahwa satu-satunya hal yang tidak bisa disangkal dalam hidup ini adalah perubahan. Perubahan akan terus terjadi karena langkah kita tidak stagnan tapi dinamis. Biarkan proses perubahan itu natural namun terencana, agar hidup lebih hidup!
Kemudian saya merasa telah, sedang, dan akan terus mengalami perubahan meskipun hanya suatu hal yang sangat kecil. Saya hidup dikelilingi oleh banyak orang, banyak kejadian, banyak pemikiran, dan banyak pula perkembangan teknologi. Inilah fakta, se-idealis apapun saya, saya tidak bisa mengelak dari perkara-perkara yang terjadi di luar diri saya. Bertemu dengan banyak orang dan berinteraksi dengan mereka memunculkan sebuah pemahaman bahwa ”sebaiknya” atau ”etisnya” perilaku adalah seperti ini atau seperti itu. Saya dididik dengan keras oleh Ayah saya, segala sesuatu harus cepat dilaksanakan dan perlu cepat diselesaikan. Saya melaksanakannya sebagai sebuah wujud kepatuhan kepada ”titah” orang tua dan saya yakini bahwa cepat adalah disiplin. Tapi setelah bertemu dengan banyak tipe manusia, ternyata saya perlu beradaptasi, tidak selamanya cepat adalah disiplin. Terkadang cepat juga bisa bermakna ceroboh. Suatu masalah tidak harus diselesaikan secara cepat namun perlu dipecahkan dengan tepat. Bagi saya, idealisme juga perlu penyesuaian dan adaptasi agar kita bisa bertoleransi.
Saya lahir pada bulan Januari 1990, saat ini sedang beranjak menuju umur 21. Ada banyak hal yang telah berubah selain bagaimana saya memandang sebuah persoalan yang terjadi dalam hidup saya. Dulu, ketika masih kecil (sampai saya kelas 2 Sekolah Dasar), asalkan ada minyak tanah untuk mengisi pelita saya bisa tenang belajar membaca dan menulis. Tapi sekarang, sungguh saya sudah tergantung pada listrik. Saya bisa lebih konsentrasi belajar ketka penerangan dengan listrik cukup apalagi ditambah dengan kondisi mata yang sudah miopi. Dulu, saya tidak perlu gusar saat tidak mendapatkan informasi atau berita terbaru karena TV pun hidupnya masih senin - kamis kalau aki tersedia. Sekarang, TV seperti sebuah mainan yang wajib dimiliki. Komputer adalah soulmate saat bekerja. Internet adalah saudara kembar yang sebaiknya tidak terpisahkan. Dan, saya merasa kehilangan jiwa saya ketika terpisah dengan telpon genggam. Itulah, dunia sudah berubah dan saya pun ikut berubah.
Kembali lagi, saya suka membaca apa saja dan dimana saja, termasuk membaca sms. Percaya atau tidak, saya juga bisa berubah sebab apa yang saya baca. Sejak kecil saya suka membaca hanya saja orang tua tidak pernah membelikan buku bacaan. Ibu saya tidak pernah mengenyam pendidikan formal dan ayah lulusan SD, saya pahami kondisinya bahwa apa yang mereka pikirkan tentunya berbeda dengan apa yang saya harapkan. Tapi tidak masalah, toh mereka pasti ingin anaknya maju dan ”berubah” lebih baik daripada mereka. Saya masih bisa membaca buku-buku perpustakaan di SD, SMP, dan saat SMA saya sudah mulai membeli buku apa yang saya sukai. Sejak SMP saya dicekoki bacaan yang berhubungan dengan Islam. Bergerak dari apa yang saya baca, ada beberapa hal yang mulai berubah dari diri saya. Saya memutuskan untuk mulai mengenakan jilbab sejak kelas 1 SMP dan juga keinginan saya untuk menuntut ilmu dan menghapal Al-Qur’an semakin kuat. Pemikiran itu muncul dari apa yang saya baca. Jadi, benar juga kata orang, jika kita ingin tahu seperti apa orang itu maka lihatlah apa yang ia baca. Tapi tidak berhenti sampai di situ, dalam prosesnya pun penuh dengan dinamika karena saya tidak hidup sendiri di dunia ini.
Saya tinggal di lingkungan yang agamis, meskipun orang tua saya biasa saja dan tidak fanatik. Mereka demokratis dan membiarkan saya menjadi diri saya sendiri. Termasuk persoalan agama. Lingkungan tempat tinggal saya sangat mempengaruhi langkah saya melanjutkan sekolah, saya tidak ingin melanjutkan ke Pesanteren seperti apa yang disarankan oleh guru ngaji saya. Saya memutuskan untuk masuk ke Madrasah Aliyah yang bagi saya lebih moderat dari Pesanteren. Bagi saya, sekolah di Aliyah mempermudah saya untuk mempertahankan jilbab yang saya pakai karena disana semuanya sama, untuk perempuannya semua berjilbab. Dan saya suka, saya menikmatinya. Dulu saya seorang jilbaber mulai dari kelas 3 SMA hingga tingkat 1 di IPB. Lagi-lagi semuanya tidak berhenti sampai di situ, saya tidak nyaman dengan atribut yang saya gunakan. Saya tidak suka ke-eksklusif-an, saya memilih egois tapi saya bisa berbagi daripada saya eksklusif dan hanya bergerombol dengan komunitas yang ”itu” saja. Sekarang saya mengenakan jilbab tapi tidak perlu predikat akhwat dan saya pun tidak alergi terhadap mereka, saya kagum pada mereka yang istiqomah. Hanya saja saya memiliki pandangan yang berbeda. Bagi saya keimanan tidak diukur dari apa yang kita kenakan, tapi keimanan itu ada dalam hati dan itu privasi. Sekarang prinsip yang saya pegang adalah saya ingin menjadi orang baik dan bermanfaat bagi orang lain, karena saya percaya bahwa hubungan hamba dengan Tuhan tidak terbatas pada perkara surga dan neraka.
Saya pikir, perubahan saya sebenarnya sangat banyak, tidak bisa diceritakan dalam lembaran-lembaran yang terbatas jumlahnya. Saya berubah secara idealistik maupun materialistik. Saya berubah karena faktor internal maupun eksternal. Saya berubah karena memang saya perlu dan harus berubah. Karena hidup tidak asik jika monoton dan hambar jika tidak berwarna. Dan saya berubah untuk saya dan orang-orang di sekitar saya. Sekali lagi, saya hanya ingin menjadi orang baik dan saya ingin berbagi. Perubahan itu harus supaya hidup lebih hidup. Perubahan itu perlu karena dunia tidak lagi bulat dan tidak ada lagi perbedaan siang dan malam. Semua orang melakukan persaingan baik siang maupun malam. So, because the world is flat and everything like same each other except our attitude and our change, let be our own self and let’s the change happen.
P.S. Untuk Ibu, terima kasih selalu untuk didikanmu.
Rabu, 04 Agustus 2010
Apa kabar, Kita?
Aku tidak pernah mundur atau berhenti mencintaimu. Merindumu selalu memberi rasa berbeda, rindu memang selalu punya citra tersendiri meski kadang menyesakkanku. Sampai tiba saatnya ketika kau berkata semua akan baik-baik saja dan mungkin kita akan bersama bukan di waktu sekarang, aku merasa sepertinya kamu menjanjikan sesuatu padaku. Janji yang membuatku tersenyum sepanjang waktu, janji yang kurasa membuat diri ini siap bahwa suatu saat kita akan menjadi juaranya. Aku tersenyum, meski kamu tahu, untuk bersama perlu ada banyak hal yang harus kita lalui. Perlu ada banyak hal yang harus kita selesaikan.
Kamu selalu berucap, bahwa aku harus bahagia. Aku pun inginkan kamu bahagia, dengan atau pun tanpaku. Hanya saja aku masih terlalu egois, menginginkan kebersamaan denganmu untuk bahagiaku. Padahal, jika hakekat cinta adalah memberi tanpa mengharap balas, mengapa aku selalu berharap saat aku merindukanmu maka semestinya pun kau merinduku?
Setelah hari itu, hari di mana kita berupaya untuk mencoba menjalani kehidupan kita masing-masing. Aku lega, kupikir aku tak perlu berpayah-payah lagi untuk memikirkan kamu dan dia. Kita sama-sama memiliki hak untuk menjadi manusia yang merdeka, tanpa ada pengekangan perasaan, tanpa ada upaya untuk berbesar hati menerima hanya separuh hatimu. Karena kau adalah dirimu, bukan untukku bukan pula untuknya. Tapi maafkan aku, sayangnya, berkali kucoba untuk mencari kebahagian bersama orang lain justru membuatku semakin terpuruk dalam bayang ketidakpastian. Jika masa lalu perlu kusimpan kemudian kubuka di saat aku perlu untuk mengingatnya, mengapa saat membuka itu terasa sakit?
Berpisah denganmu sama sekali bukan hal yang aku inginkan. Jika kita punya kesempatan untuk menghitung berapa lama kebersamaan kita, mungkin kita akan lupa. Tapi sesingkat apa pun momen itu bersamamu, selalu saja memorinya tertata rapi dalam direktori otakku. Kau selalu mengajarkanku hal-hal sederhana nan istimewa, sederet detail kecil yang berharga. Dan kamu tahu? Bau tanah yang pertama kali tercium saat hujan turun selalu mengingatkanku pada kebersamaan kita. Kita selalu betah berlama-lama menikmati tetes air hujan jatuh di kepala kita, kita juga menantikan waktu-waktu istimewa untuk bisa menenun detik dari tempat yang tinggi. Tak peduli seberapa lelah kaki kita berjalan menuju tempat itu, sesampainya di sana pasti terdengar tawa renyahmu dan candaanmu. Dan rasa lelah itu seakan menguap begitu saja kala kutahu baumu dekat. Kamu sama sekali tidak romantis, tapi bagiku itulah caramu untuk bersikap romantis kapan pun kamu mau.
Setelah sekian lama, sejak hari itu, aku selalu membunuh perasaanku terhadapmu. Perasaan yang sesungguhnya tak bernyawa kala aku harus berjalan sendirian. Jika memang Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam, bolehkah aku minta pada Tuhanku, semoga aku tercipta dari tulang rusukmu? Dan hari ini, setelah hari itu, aku bernostalgia dengan candamu. Kau hadir memupuk kembali perasaan yang selama ini kebas. Kembali lagi momen kita, kembali lagi kebersamaan kita menciptakan babak baru dalam episodeku. Kau masih seperti dulu memintaku tidur lelap dan bangun esok pagi saat kokok ayam masih senyap.
Kamu selalu berucap, bahwa aku harus bahagia. Aku pun inginkan kamu bahagia, dengan atau pun tanpaku. Hanya saja aku masih terlalu egois, menginginkan kebersamaan denganmu untuk bahagiaku. Padahal, jika hakekat cinta adalah memberi tanpa mengharap balas, mengapa aku selalu berharap saat aku merindukanmu maka semestinya pun kau merinduku?
Setelah hari itu, hari di mana kita berupaya untuk mencoba menjalani kehidupan kita masing-masing. Aku lega, kupikir aku tak perlu berpayah-payah lagi untuk memikirkan kamu dan dia. Kita sama-sama memiliki hak untuk menjadi manusia yang merdeka, tanpa ada pengekangan perasaan, tanpa ada upaya untuk berbesar hati menerima hanya separuh hatimu. Karena kau adalah dirimu, bukan untukku bukan pula untuknya. Tapi maafkan aku, sayangnya, berkali kucoba untuk mencari kebahagian bersama orang lain justru membuatku semakin terpuruk dalam bayang ketidakpastian. Jika masa lalu perlu kusimpan kemudian kubuka di saat aku perlu untuk mengingatnya, mengapa saat membuka itu terasa sakit?
Berpisah denganmu sama sekali bukan hal yang aku inginkan. Jika kita punya kesempatan untuk menghitung berapa lama kebersamaan kita, mungkin kita akan lupa. Tapi sesingkat apa pun momen itu bersamamu, selalu saja memorinya tertata rapi dalam direktori otakku. Kau selalu mengajarkanku hal-hal sederhana nan istimewa, sederet detail kecil yang berharga. Dan kamu tahu? Bau tanah yang pertama kali tercium saat hujan turun selalu mengingatkanku pada kebersamaan kita. Kita selalu betah berlama-lama menikmati tetes air hujan jatuh di kepala kita, kita juga menantikan waktu-waktu istimewa untuk bisa menenun detik dari tempat yang tinggi. Tak peduli seberapa lelah kaki kita berjalan menuju tempat itu, sesampainya di sana pasti terdengar tawa renyahmu dan candaanmu. Dan rasa lelah itu seakan menguap begitu saja kala kutahu baumu dekat. Kamu sama sekali tidak romantis, tapi bagiku itulah caramu untuk bersikap romantis kapan pun kamu mau.
Setelah sekian lama, sejak hari itu, aku selalu membunuh perasaanku terhadapmu. Perasaan yang sesungguhnya tak bernyawa kala aku harus berjalan sendirian. Jika memang Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam, bolehkah aku minta pada Tuhanku, semoga aku tercipta dari tulang rusukmu? Dan hari ini, setelah hari itu, aku bernostalgia dengan candamu. Kau hadir memupuk kembali perasaan yang selama ini kebas. Kembali lagi momen kita, kembali lagi kebersamaan kita menciptakan babak baru dalam episodeku. Kau masih seperti dulu memintaku tidur lelap dan bangun esok pagi saat kokok ayam masih senyap.
Rabu, 19 Mei 2010
Baiknya, Kita Akhiri Saja
Aku ingin mengajakmu untuk sekedar menjamu suasana malam ini. Duduk tenang di alam bebas dan hanya beratapkan langit. Sekali ini saja ingin kunikmati bulan sabit itu bersamamu dan aku ingin menyampaikan kata maaf. Beberapa hari ini, aku bahagia dengan satu kepedihan. Ingin rasanya mengakhirkan segala yang perlu kuakhirkan. Ingin kuakhiri kebersamaan ini. Kebersamaan yang kurasa membuatku menjadi seperti robot tak bernyawa. Kau baik, hanya saja aku tak cukup bisa untuk menerima kebaikanmu. Satu hal yang kusadari saat ini, ternyata memeluk orang yang benar-benar kita sayangi akan berbeda dengan memeluk orang yang semata kita sayangi. Dan saat memelukmu, aku hanya merasa menipu diri sendiri.
Aku cukup bangga bisa mengenal sosokmu yang nyata-nyata sempat hanya sebatas sahabat fana. Aku pun beruntung bisa sekedar mencuri hati dan perhatianmu beberapa waktu ini. Namun sayangnya, aku tak pernah benar-benar merasa yakin meski hanya sekedar cukup untuk belajar mencintaimu. Meski malam ini aku tak bisa menikamati bulan sabit bersamamu, izinkanlah aku tetap berucap maaf, karena aku perlu untuk mengakhiri kebersamaan kita.
Aku cukup bangga bisa mengenal sosokmu yang nyata-nyata sempat hanya sebatas sahabat fana. Aku pun beruntung bisa sekedar mencuri hati dan perhatianmu beberapa waktu ini. Namun sayangnya, aku tak pernah benar-benar merasa yakin meski hanya sekedar cukup untuk belajar mencintaimu. Meski malam ini aku tak bisa menikamati bulan sabit bersamamu, izinkanlah aku tetap berucap maaf, karena aku perlu untuk mengakhiri kebersamaan kita.
Jumat, 07 Mei 2010
The Spectrum of Feeling PART VI
Sudah cukup lama aku tak bersua dengan Maharani. Sepuluh jari tanganku tak cukup untuk menghitung cacahnya, kecuali dengan pengulangan. Kutahu dia baik-baik saja, jauh lebih baik dari semenjak perpisahan itu. Hingga hari ini barangkali, aku pun tak tahu kabar Maharani yang sebenarnya. Dia cukup kuat untuk menahan tangis, cukup tangguh untuk meredam amarah, tapi kukira, selalu saja dia tak cukup yakin untuk benar-benar meninggalkanku. Aku rasa dia banyak mengeluh akhir-akhir ini, sejak aku menghubunginya kembali, untuk sesaat memberitahunya bahwa aku telah berdua. Kukira dia akan bahagia dengan warta yang sungguh tak dinyana. Dan aku yakin dia bahagia. Sayangnya, aku salah.
“Baru kau beritahu sekarang?” katanya di ujung telpon. Sebab teknologi, jarak menjadi semakin dekat meski ada sekat. Ah, aku jadi teringat, dulu masih pakai surat.
“Bukan maksudku....” aku tak berani melanjutkan, rasa bersalahku membuncah. Biasanya selalu kukabari dia, apa pun kondisiku.
“Sudahlah, nikmati saja perjalananmu, aku kecewa!” kata-katanya getir dan membuatku tak bisa tidur semalaman.
Adakah yang salah jika aku berusaha melabuhkan hati kepada selain Maharani? Kutahu jejak bisu kami tak mungkin bisa untuk diketahui banyak orang. Kami diam, tak perlu ada banyak komentar dari apa yang pernah kami jalani.
Sebenarnya, bukan bagaimana jalan ceritanya, tapi semua itu tentang kebersamaan kita. [Maharani]
Percayakah jika laki-laki itu pembohong dan perempuan mudah menangis? Aku salah satu yang sedikit percaya akan hal itu. Laki-laki tidak selamanya akan berbohong, tapi di suatu waktu dia akan mencari cara aman untuk kenyamanannya. Perempuan pun sebenarnya demikian, tapi kadang lelaki yang selalu disalahkan. Perempuan mudah menangis sepertinya, tapi Maharani sangat pandai menyembunyikan air matanya di hadapanku.
Cinta itu bukan bagaimana kita mencapai, tapi seperti apa kita menjaga. [Maharani]
Katanya, dia sangat mencintaiku, tapi entah mengapa aku menjadi ragu saat dia tak mau mendengar perkataanku. Mengajaknya menjadi seperti apa yang aku inginkan. Maharani sepertinya tak pernah menolak dengan peraturanku, dia patuh, kusangka begitu.
Biarkanlah orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri. Pelangi akan indah jika berwarna, begitu pun kasih akan bermakna jika berbeda. [Maharani]
****
“Jalani saja” ucapku setelah tiga hari dia meminta jeda. Bagaimana pun aku selalu mencintainya, menginginkannya, ingin memilikinya. Maharani memakiku dan berontak saat kukatakan hal itu, yang dia inginkan adalah satu jawaban “ya” atau “tidak”. Dia melepas dengan paksa genggaman tanganku yang sebenarnya menandakan bahwa aku masih ingin bersamanya. Tapi menurutnya apalah arti kebersamaan jika sebenarnya aku telah belajar membagi hati. Ah, Maharani, kadang dia manis, tapi sungguh sialan jika telah membuatku telak. Aku tak bisa berkata-kata lagi bahkan untuk sedikit saja menjelaskan. Dia selalu saja keras kepala, tak mau kalah. Dia bilang aku pengecut, padahal aku tak tahu apa itu keberanian. Aku hanya tidak ingin menyakiti dan mengecewakan salah satu hati.
Kuumbar janji yang kukira bisa kuwujudkan untuk Maharani. Aku katakan bahwa aku akan melakukan apa saja, asal aku bisa, dan itu bisa membuat dia bahagia. I promise to do anything for you, because i believe that there is something left between me and you. Sayangnya, dia memintaku untuk hanya memilihnya saja, dan mengucapkan selamat tinggal pada perempuanku yang satunya. Aku rasa aku tak bisa. Satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah berdamai dengan waktu, biarkan semua mengalir. Aku pun tidak pernah tahu –hingga saat ini- siapa yang akan menjadi pendampingku. Perempuan memang kadang berlebihan untuk minta dimengerti.
“Nikmati saja perjalananmu. Aku cukup bahagia jika tahu kau bahagia” sampai akhirnya aku ingin menampar diriku sendiri saat mendengar dia berkata seperti itu.
“Maksud kamu?” tanyaku pada Maharani.
“Sekuat apa pun kau menahanku untuk bertahan dan kuat menjalani semua ini dengan hanya separuh hatimu, kau takkan pernah berhasil.” Katanya dingin. Sedingin tatapannya saat itu.
“Untuk apa kau menemuiku jika hanya berucap seperti itu? Kau sia-siakan tenagamu” balasku.
“Kau salah, aku menemuimu karena aku tak mau tenagaku sia-sia, hanya untuk menangisimu. Aku ingin bebas dari perasaan yang sesungguhnya mematikan rasionalitasku ini. Kau nikmatilah perjalananmu dengan perempuanmu itu.”
“Bisakah sedikit saja aku memberi penjelasan padamu Maharani?” mungkin aku cukup mengiba.
“Tak ada yang perlu kau jelaskan, semua sudah sangat jelas.”
“Maharani! Kau selalu keras kepala.” Kataku sekeras maknanya.
“Terima kasih dan maaf, Rey, selamat tinggal.” Maharani berlalu tanpa menoleh lagi ke belakang. Hanya saja kata-kata terakhir yang diucapkannya tak mau hengkang dari otakku, TERIMA KASIH DAN MAAF.
TO BE CONTINUED...
-Turasih-
“Baru kau beritahu sekarang?” katanya di ujung telpon. Sebab teknologi, jarak menjadi semakin dekat meski ada sekat. Ah, aku jadi teringat, dulu masih pakai surat.
“Bukan maksudku....” aku tak berani melanjutkan, rasa bersalahku membuncah. Biasanya selalu kukabari dia, apa pun kondisiku.
“Sudahlah, nikmati saja perjalananmu, aku kecewa!” kata-katanya getir dan membuatku tak bisa tidur semalaman.
Adakah yang salah jika aku berusaha melabuhkan hati kepada selain Maharani? Kutahu jejak bisu kami tak mungkin bisa untuk diketahui banyak orang. Kami diam, tak perlu ada banyak komentar dari apa yang pernah kami jalani.
Sebenarnya, bukan bagaimana jalan ceritanya, tapi semua itu tentang kebersamaan kita. [Maharani]
Percayakah jika laki-laki itu pembohong dan perempuan mudah menangis? Aku salah satu yang sedikit percaya akan hal itu. Laki-laki tidak selamanya akan berbohong, tapi di suatu waktu dia akan mencari cara aman untuk kenyamanannya. Perempuan pun sebenarnya demikian, tapi kadang lelaki yang selalu disalahkan. Perempuan mudah menangis sepertinya, tapi Maharani sangat pandai menyembunyikan air matanya di hadapanku.
Cinta itu bukan bagaimana kita mencapai, tapi seperti apa kita menjaga. [Maharani]
Katanya, dia sangat mencintaiku, tapi entah mengapa aku menjadi ragu saat dia tak mau mendengar perkataanku. Mengajaknya menjadi seperti apa yang aku inginkan. Maharani sepertinya tak pernah menolak dengan peraturanku, dia patuh, kusangka begitu.
Biarkanlah orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri. Pelangi akan indah jika berwarna, begitu pun kasih akan bermakna jika berbeda. [Maharani]
****
“Jalani saja” ucapku setelah tiga hari dia meminta jeda. Bagaimana pun aku selalu mencintainya, menginginkannya, ingin memilikinya. Maharani memakiku dan berontak saat kukatakan hal itu, yang dia inginkan adalah satu jawaban “ya” atau “tidak”. Dia melepas dengan paksa genggaman tanganku yang sebenarnya menandakan bahwa aku masih ingin bersamanya. Tapi menurutnya apalah arti kebersamaan jika sebenarnya aku telah belajar membagi hati. Ah, Maharani, kadang dia manis, tapi sungguh sialan jika telah membuatku telak. Aku tak bisa berkata-kata lagi bahkan untuk sedikit saja menjelaskan. Dia selalu saja keras kepala, tak mau kalah. Dia bilang aku pengecut, padahal aku tak tahu apa itu keberanian. Aku hanya tidak ingin menyakiti dan mengecewakan salah satu hati.
Kuumbar janji yang kukira bisa kuwujudkan untuk Maharani. Aku katakan bahwa aku akan melakukan apa saja, asal aku bisa, dan itu bisa membuat dia bahagia. I promise to do anything for you, because i believe that there is something left between me and you. Sayangnya, dia memintaku untuk hanya memilihnya saja, dan mengucapkan selamat tinggal pada perempuanku yang satunya. Aku rasa aku tak bisa. Satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah berdamai dengan waktu, biarkan semua mengalir. Aku pun tidak pernah tahu –hingga saat ini- siapa yang akan menjadi pendampingku. Perempuan memang kadang berlebihan untuk minta dimengerti.
“Nikmati saja perjalananmu. Aku cukup bahagia jika tahu kau bahagia” sampai akhirnya aku ingin menampar diriku sendiri saat mendengar dia berkata seperti itu.
“Maksud kamu?” tanyaku pada Maharani.
“Sekuat apa pun kau menahanku untuk bertahan dan kuat menjalani semua ini dengan hanya separuh hatimu, kau takkan pernah berhasil.” Katanya dingin. Sedingin tatapannya saat itu.
“Untuk apa kau menemuiku jika hanya berucap seperti itu? Kau sia-siakan tenagamu” balasku.
“Kau salah, aku menemuimu karena aku tak mau tenagaku sia-sia, hanya untuk menangisimu. Aku ingin bebas dari perasaan yang sesungguhnya mematikan rasionalitasku ini. Kau nikmatilah perjalananmu dengan perempuanmu itu.”
“Bisakah sedikit saja aku memberi penjelasan padamu Maharani?” mungkin aku cukup mengiba.
“Tak ada yang perlu kau jelaskan, semua sudah sangat jelas.”
“Maharani! Kau selalu keras kepala.” Kataku sekeras maknanya.
“Terima kasih dan maaf, Rey, selamat tinggal.” Maharani berlalu tanpa menoleh lagi ke belakang. Hanya saja kata-kata terakhir yang diucapkannya tak mau hengkang dari otakku, TERIMA KASIH DAN MAAF.
TO BE CONTINUED...
-Turasih-
Minggu, 04 April 2010
The Spectrum of Feeling PART V
Sekarang, aku duduk di sini sendiri ditemani detik yang kian meretas waktu. Bersama silih berganti purnama yang membiarkanku mengenangmu, memperlakukan bayangmu laksana nyata. Di antara selaksa rindu yang membuatku kadang terperangkap dalam lorong hati yang sukar kumaknai. Aku terjaga di tengah biduk malam yang membawa pesan damai pada hati, namun ternyata kurasakan pedih yang dalam karena hatiku tak sebahagia biasanya. Aku bersandar pada rasa yang mengalahkan logika. Sampai akhirnya aku mengerti dan kubiarkan pohon cintaku tumbuh dengan pucuknya yang selalu merindu. Kubiarkan angin menghembusnya agar galau ini meliuk lalu beranjak. Ku tak pernah membiarkanmu hilang lenyap, tapi aku mengenangmu pada salah satu ruang hati yang mungkin tak pernah bisa kupersilahkan untuk disinggahi orang lain.
Seperti detik-detik yang telah berlalu, aku pun masih mencintaimu, sampai sekarang. Meski banyak rongrongan menggelitik gendang telingaku untuk segera melupakanmu dan menggantikannya dengan yang lain, tapi tak ku indahkan. Bukannya aku tak mampu melakukannya tapi aku tak mau mewujudkannya. Karena aku merasa yakin, setidaknya, kau pun masih merindukanku. Aku percaya kau masih mengabadikan jejak bisu kita yang barangkali telah berkali-kali tergilas hujan air mataku. Kau, kupercaya itu. Aku, selalu mencintaimu meski dalam bisu.
Aku tak mengerti akan kehadiran rasa ini. Sama sekali aku tak pernah memaksakan diri untuk mencintaimu. Dulu atau sekarang, semuanya normal. Hanya perasaanku saja yang barangkali tak pantas disebut normal. Mataku tak mampu membedakan mana realita dan mana fatamorgana. Mencintaimu sampai detik ini bukan fatamorgana, bukan pula realita, aku pun tak tahu apa istilah yang tepat untuk menyebutnya. Yang jelas, aku mencintaimu... sampai waktu yang tak ingin kuakhiri.
Kau, sebuah nama yang tak sempat terucap. Kau, sesosok wajah yang tak sempat terlihat. Kau satu hati yang tak lagi bisa kululuhkan. Dan untuk sebuah apresiasi perasaan yang mendewasakan. Aku benar-benar mundur kali ini.
Seperti detik-detik yang telah berlalu, aku pun masih mencintaimu, sampai sekarang. Meski banyak rongrongan menggelitik gendang telingaku untuk segera melupakanmu dan menggantikannya dengan yang lain, tapi tak ku indahkan. Bukannya aku tak mampu melakukannya tapi aku tak mau mewujudkannya. Karena aku merasa yakin, setidaknya, kau pun masih merindukanku. Aku percaya kau masih mengabadikan jejak bisu kita yang barangkali telah berkali-kali tergilas hujan air mataku. Kau, kupercaya itu. Aku, selalu mencintaimu meski dalam bisu.
Aku tak mengerti akan kehadiran rasa ini. Sama sekali aku tak pernah memaksakan diri untuk mencintaimu. Dulu atau sekarang, semuanya normal. Hanya perasaanku saja yang barangkali tak pantas disebut normal. Mataku tak mampu membedakan mana realita dan mana fatamorgana. Mencintaimu sampai detik ini bukan fatamorgana, bukan pula realita, aku pun tak tahu apa istilah yang tepat untuk menyebutnya. Yang jelas, aku mencintaimu... sampai waktu yang tak ingin kuakhiri.
Kau, sebuah nama yang tak sempat terucap. Kau, sesosok wajah yang tak sempat terlihat. Kau satu hati yang tak lagi bisa kululuhkan. Dan untuk sebuah apresiasi perasaan yang mendewasakan. Aku benar-benar mundur kali ini.
Langganan:
Komentar (Atom)

