Be an Ordinary Person with Extraordinary Personality
Tampilkan postingan dengan label mata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mata. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Agustus 2009

MATA BIDADARI

Kulepas pergimu dengan senyum yang tak bisa kudefinisikan. Aku sendiri masih berpikir bahwa rasa ini sungguh kupaksakan. Karena sebuah alasan. Tapi kau, kau adalah mata bidadari, yang membuatku ingin meneteskan air mata jika tak sengaja memandangmu. Aku malu pada diriku juga padamu atas tingkahmu yang begitu santun padaku. Kau laksana cermin yang mampu menamparku dengan tindak-tanduk baikmu. Dan satu ketukan pintu di pagi hari olehmu, membuatku tersadar akan suasana dan kondisiku. Aku sudah terlalu lama merasa angkuh untuk sebuah hasrat untuk memiliki. Kupikir adalah sebuah keinginan untuk melindungi, ternyata setelah kucari jawaban lagi, hal itu adalah keserakahan untuk mengikat. Aku telah terlalu lama mengabaikan sisi lembutku untuk teguran. Aku terlalu sibuk dengan ambisi yang tak terjabarkan.

Terima kasih, kau sadarkanku dengan mata bidadarimu. Kau menarikku dari lorong waktu khayalan. Kau ingatkanku bahwa kita hidup di alam sadar dan kenyataan. Hati ini luluh dengan kesederhanaan dan rendah hatimu. Kau mampu tunjukkan padaku bahwa cinta itu membebaskan bukan mengikat. Melindungi meski tak memiliki.

Nuraniku menjerit dengan kedatanganmu yang tiba-tiba yang tak pernah kususun skenarionya. Mungkin diriku adalah penghayal akut yang sellau membuat imajinasi sendiri sekuat realita. Kuciptakan mimpi-mimpi sederhana dan kompleks, bahkan tentang detail seorang yang kuperjuangkan. Selama ini aku kuatkan hati untuk sebuah kenangan. Karena sebuah alasan . kupaksakan ikhlas untuk sebuah pengharapan, kupikir itu adalah pengorbanan. Ternyata aku justru makin terkubur dalam lumpur ketidakpastian. Hingga akhirnya kau datang menyapaku. Kau datang sadarkanku bahwa selama ini yang kuperjuangkan adalah kenisbian.

Mata bidadarimu, membuatku ingin meneteskan air mata dengan santun tingkahmu, dengan ikhlas senyummu, serta lembut perangaimu. Kau ajarkanku untuk kembali berpikir jernih.

*Untuk seorang sahabat yang mengajakku bertafakur atas hidup dan pencapaianku, kuucapkan terima kasih banyak. Ketidaksengajaan hadirmu membuatku tersadar.

Jumat, 21 November 2008

Hari Senin Itu Aku Tidak Buta







Hari senin itu, aku menjejakkan kaki di sebuah tempat di mana aku bia melihat ke bawah. Aku rasa, saat itu hati ini menyadari bahwa ada nikmat Tuhan yang selama ini kita abaikan. Nikmat yang kita rasa sepele tapi ternyata begitu besar. Nikmat mata, nikmat indera penglihatan itu sering kita abaikan. Aku sendiri menyadarinya tanpa sengaja, tanpa kesengajaan tepatnya. Doa-doa yang selama ini keluar dari mulut yang masih banyak salah ini pun tak sempat untuk menggumamkan sebaris kata"Alhamdulillah Ya Allah, kau berikan hamba mata untuk melihat apa yang Kau ciptakan". Aku malu pada Zat yang kuyakini sebagai yang Maha dari segala Maha, hari senin itu.
Dari atas sana, dari tempat yang dapat tercapai jika aku menaiki anak tangga yang berbilang tak sedikit, aku merasakan nikmat melihat itu adalah luar biasa. Aku bisa tahu bahwa di bawah sana ada danau yang hijau warnanya, ada burung-burung liar Owak Malam yang bertengger di pohon yang tak kuketahui namanya. Aku bisa melihat orang-orang berjalan, melakukan aktivitasnya masing-masing.
Aku selalu menunggu hari senin itu lagi, agar aku bisa terus-menerus sadar bahwa aku tidak buta. Hari senin itu, pandanganku lepas, aku bisa melihat gunung Salak berdiri tegap dan begitu gagah saat matahari yang memata-matai hari tak bersembunyi di balik awan. Dan ada saat-saat tertentu dimana aku sama skali tak bisa melihat kegagahan gunung Salak, karena tertutup kabut putih. Tap bagiku tak kalah indah, terlihat atau tidak terlihat. Yang pasti aku bersyukur bahwa aku bisa melihat, tidak buta.