Be an Ordinary Person with Extraordinary Personality

Kamis, 13 November 2008

Etika Keilmuan

Seorang ilmuwan mempunyai tanggung jawab utama baik terhadap dirinya sendiri, sesama ilmuwan, serta masyarakat. Tangung jawab tersebut adalah menjamin kebenaran dan keterandalan pernyataan-pernyataan ilmiah yang dibuatnya dan dapat dibuat oleh sesama ilmuwan lainnya. Untuk dapat melaksanakan tanggung jawab tersebut ilmuwan memiliki pedoman kerja sebagai watak yang harus melekat dalam diri seorang ilmuwan. Antara lain bekerja dengan jujur; tidak boleh menukangi data; bertindak tepat, teliti dan cermat; berlaku adil terhadap pendapat orang lain yang muncul terlebih dahulu; menjauhi pandangan berbias terhadap dat adan pemikiran ilmuwan lain; mampu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dengan tuntas.

Ilmu bukan saja menimbulkan gejals dehumanisasi namun bahkam mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri’ Oleh karena itu, seorang ilmuwan tidak boleh berhenti pada penelaahan dan keilmuan secar ibdividual namun ikut bertanggungjawab agar produk kelimuan sampai dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Seorang ilmuwan juga harus memiliki sikap sosial yakni konsisten dengan proses penelaahan keilmuan yang dilakukan. Dalam prosesnya ilmuwan harus mampu menyampaikan sesuatu kepada masyarakat luas dengan bahasa yang dapat mereka cerna. Dalam hal ini ilmuwan harus dapat memberikan perspektif yang benar: untung dan ruginya, baik dan buruknya, sehingga penyelesaian yang obyektif dapat dimungkinkan. Seorang ilmuwan harus tampil ke depan dan mempengaruhi opini masyarakat terhadap masalah tertentu yang perlu dipecahkannamun karena satu dan lain hal masalah itu belum muncul k epermukaan dan mendapat dukungan. Dalam hal ini, ilmuwan harus bertindak persuasif dan argumentatif berdasarkan pengetahuan yang dia miliki. Dengan kemampuan pengetahuannya seorang ilmuwan harus dapat mempengaruhi opini masyarakat terhadap masalah-masalah yang seyogyanya mereka sadari.

Pada dasarnya pikiran manusia bukan saja dapat dipergunakan untuk menemikan dan mempertahankan kebenaran namun sekaligus dapat dipergunakan untuk menemukan dan mempertahnakan hal-hal yang tidak benar. Berkaitan dengan hal ini, seorang ilmuean tidak menolak atau menerima sesuatu secara begitu saja tanpa pemikiran yang cermat. Ilmuwan harus berbicar dengan masyarakat sekiranya dia mengetahui ada suatu pemikiran yang keliru. Ilmuwan bukan saja sebagai penganalisis materi kebenaran namun juga sebagai prototipe moral yang baik. Berkaitan dengan ilmu dan teknologi yang merupakan salah satu sendi masyarakat modern, ilmuwan tidak boleh picik dan menganggap ilmu dan teknologi tersebut alpha dan omega dari segala-galanya, masih banyak sendi-sendi lain yang menyangga peradaban manusia yang baik.

Selanjutnya berbicara tentang etika ilmiah. Etika ini berkaitan dnegan janji yang diusulkan Dullaart, namun dalamkata-katanya penuhi dengan kata-kata yang batasannya dapat dikaburkan. Untuk mengelakkan adanya permainan kata dalam usaha menafsirkan kode etik ilmuwan itu, maka mau tidak mau kode etik itu harus dikaitkandengan sistem dosa. Intinya etika tersebut harus didampingidengan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa supaya seorang ilmuwan tidak menyalahgunakan pengetahuan yang dimilikinya. Seorang ilmuwan secara moral tidak akan membiarkan hasil penemuannya dipergunakan untuk menindas bangsa lain meskipun yang mempergunakan itu adalah bangsanya sendiri. Seorang ilmuwan juga harus transparan, dia tidak boleh menyembunyikan hasil penemuannya apa pun bentuknya dari masyarakat luas serta apa pun juga yang akan menjadi konsekuensinya yakni tidak boleh memutarbalikkan penemuannya bila hipotesisnya yang dijunjung tinggi yang disusun di atas kerangka pemikiran yang terpengaruh preferensi moral ternyata hancur berantakan karena bertentangan dengan fakta-fakta pengujian.

Untuk Sahabatku... Aku Rindu Masa-Masa Itu

Apa yang telah terjalani serasa berlalu begitu saja. Keceriaan, tawa, sukacita, dan segala sesuatu yang membuatku lupa dengan kesedihan kini sudah berlalu. Bahkan ketakutan, rasa was – was, khawatir, yang kerap kali membuatku benci dengan duniaku, kini pun berlalu. Seakan semua menjadi tuntas, bahkan dengan perasaanku terhadap mereka. Mereka yang dulu membuatku bisa berpikir bahwa di sekitarku terdapat banyak orang yang ceria. Mereka juga menyadarkanku, jika ingin menang, maka kita harus berkompetisi. YA! Mereka adalah teman – temanku. Teman – teman yang selama ini mau menerimaku di samping mereka. Mereka sahabatku.

Sobat, kita pernah merasakan apa yang mungkin orang lain di luar dunia kita tidak merasakannya. Kau ingat waktu masa orientasi, ah...aku sendiri merasa bagai orang bego sedunia yang mau saja menuruti perintah senior. Ingatkah?

Sobat, kita juga punya kenangan yang sedikit banyak membawa kita menapaki masa yang benar – benar berharga. Ketika mereka, senior angkuh, membentak kita. Mungkin mereka berpikir kalau kita tak bisa apa – apa. Dan ingatkah? Ketika kita semua melawan mereka lalu kita merasa menang sebagai adik kelas? Ya saat itu adalah saat kompetisi basket.

Sepenggal cerita kelas sepuluh tadi baru sebagai langkah awal perjalanan kita. Di sebuah rumah singgah yang membuat kita tahu bahwa ternyata jika ada aksi maka timbul reaksi. Membuat kita tahu bahwa ternyata bahasa Al-Qur’an itu sungguh indah. Jika saja kita tak menginginkan masa depan kita, mungkin kita akan memilih tempat singgah itu sebagai rumah kita.

Lalu ketika mulai melangkah lagi ke sebuah tangga yang lebih tinggi. Kita mulai sadar mengapa para senior itu berlagak angkuh di depan adik kelas. Saat ini kita butuh pengakuan. Kita merasa bahwa itu adalah eksistensi diri yang perlu penyesuaian dari mereka, mereka yang kadang tak megerti.

Untuk semua sahabat yang selalu menjadi bintang dalam hidupku, membentuk rasi yang begitu indah.... Aku rindu kalian semua....


Aku Berpikir


Aku berpikir tentang keegoisan dan privacy

Aku berpikir tentang harga diri dan semangat

Aku berpikir tentang kebenaran dan rasa takut

Aku berpikir tentang kepedulian dan kekikiran

Aku berpikir tentang kebetulan dan takdir

Aku berpikir tentang kelembutan dan kekerasan

Aku berpikir tentang manfaat dan kemubaziran

Lalu semuanya terhenti seketika kala aku samapai pada ingatan tentang kehidupan dan kematian.

Tapi aku masih saja berpikir tentang semua itu bahkan kematian sendiri yang selalu menjadi teka-teki. Aku percaya bahwa perjalanan ini akan diakhiri dengan istirahat yang begitu panjang. Yang waktunya takkan pernah terhitung oleh stopwatch.

Tapi bukankah aku masih bisa berpikir dan mempertanyakan tentang semua itu ketika Yang Maha Esa masih menganugerahiku napas? Tetapi mengapa sebagian orang melarangku untuk melanjutkan jalan pikiranku ke arah yang akau kehendaki? Apakah berpikir itu dibatasi? Yang aku tahu bahwa selama kita tidak berpikir tentang Zat Allah, itu sah saja. Atau aku yang belum tahu ilmunya?

Aku dikatakan liberal karena aku sering tidak tunduk pada aturan. Tapi aku masih mengerti bahwa peraturan itu dibuat untuk ditaati bukan untuk dilanggar. Tetapi jika peraturan itu masih monoton? Apa bisa disebut sebagai sebuah proses pendisiplinan yang menyenangkan. Peraturan itu hanya akan membuat yang diberi menjadi jenuh dan akan semakin melanggar. Kenyataannya peraturan hanyalah seonggok tulisan dan ucapan tak bermakna.

Saat Kuingin Berbicara Tentang Hidup


Hidup ini memang penuh dengan liku tanpa kita tahu apa yang ada di balik likuan itu. Barangkali yang ada dibaliknya adalah setumpuk emas yang berkilauan dan membuat kita menelan ludah karena melihatnya, atau mungkin juga yang ada di baliknya adalah setumpuk kotoran kuda yang akan membuat kita menutup hidung ketika kita melihatnya dan mencium baunya. Entah kita akan lari atau jalan terus dengan pura – pura tidak tahu apa yang kita alami. Memang benar hidup di dunia hanyalah sementara, kenapa kita perlu lari ? pengen nggak punya masalah? Mati saja. Toh matipun kita masih berpikir ribuan kali. Sudah cukupkah bekal yang kita siapkan?

Kata – kata ini tak akan cukup menggambarkan tekstur hidup yang kadang licin, kadang kasar, kadang juga lembut. Perih, sakit, menderita, mungkin adalah sebagian kata – kata kesengsaraan yang membuat kita tertunduk memohon untuk jangan ditimpakan kepada kita. Senyum, tawa, harta, tahta, adalah segenap rasa dan fakta yang barangkali kita harapkan. Tapi bukan itu masalahnya. Bukan keengsaraan atau kebahagian, tapi cara menyikapinya. Cara bijak menghadapi realita hidup baik yang menyayat perih ataupun menyelipkan tawa adalah ikhtiar, percaya kekuatan doa dan tentu saja tawakal atau kepasrahan diri kita kepada Allah swt penggenggam semesta, pemilik dan pengatur dunia.

Rabu, 12 November 2008

Brighter

Live life to the fullest
Make each day
Brighter
Enjoy
Simple pleasures
Of Life
In nature
And in people
Learn
And discover
New experiences
Take life as an adventure
Dream Big
Go for what
YOU WANT

Sebuah Asa Dari Kedalaman Hati

Terlalu dini kah jika aku bercita - cita suatu saat nanti aku ingin menjadi seorang Umi, seorang Ibu yang melahirkan para mujahid dan mujahidah penerus peradaban dan penegak dien Allah SWT?

aku ingin seperti Bunda Khadijah, istri Rasulullah, yang senantiasa memberikan dukungan kepada dakwah suamiku nanti. Yang kemudian menjadi kekuatan sebuah perubahan perdaban mnausia penerus ajaran Muhammad.

Tapi itu suatu saat nanti, bukan sekarang. saat ini yang harus aku lakuakan adalah persiapan. persiapan mengahdapi dunia yang semakin keras. semakin tidak bersahabat. Semakin memnantang keberadaan manusia di persada ini. Aku berusaha untuk menata dengan sebaik - baiknya, ilmu, kesesuaian jiwa, keselarasan derap langkah tujuan, mendorong hasrat untuk selalu membahagiakan dan memberi manfaat kepada setiap orang di sekitarku. aku tak ingin menyesal kelak, dan membiarkan setan bersorak dan tertawa dengan latah melihat kegagalanku. Maka selain penataan diri, selalu kumohon kepada Allah SWT dalam sujudku agar Dia membuka hati dan wawasanku. agar Sang Maha Rahman menjadikanku sebagai pencari hikmah yang penuh kerendahan hati. Membuka telingaku selebar - lebarnya dan mengunci lisanku dari berbagai ucapan yang berlebihan dan menyakitkan.

Aku memahami bahwa pada hakekatnya, hidup bergerak dari satu pilihan ke pilihan yang lainnya. dari satu jalan ke jalan yang berikutnya. Dan itu senantiasa. bagiku, di situlah cinta berperan, kepada siapa kita melabuhkan cinta. tak perlu ada luka ketika cinta harus memilih, sebab semua pilihan itu adalah ekspresi cinta juga. jadi biarkan saja benih cinta tertebar seluas - luasnya, biarkan benih itu tumbuh, menyemarakkan sebanyak mungkin hati dan menjaga bumi ini dalam cerahnya cinta tulis pad Illahi.

Bila suatu saat telah kutemukan seseorang yang dapat emmbimbingku, ingin kupandang cinta itu dengan kacamata iman kepada Sang Khalik, yang telah menciptakan perasaan cinta di hati setiap malkhlukNya. Supaya khati kami berdua terikat dalam janji cinta kepada Allah untuk selalu mengabdi padaNya. aku tak ingin baik aku ataupun dia hanya sekedar berdalih mengucapkan cinta. Sekelumit saja, sebagai kata yang tak ada bobotnya. ahrapanku, cinta diantara kami adalah sebuah sebuah aplikasi nyata sebagai hakekat penciptaan kita, manusia, sebagai makhluk yang paling sempurna. Kita adalah manusia yang tak sepantasnya mendustakan bisikan nurani yang bernafaskan iman dan begitu mengagungkan makna cinta yang hakiki. Cinta bukanlah sekedara ejaan C-I-N-T-A; tapi lebih dari itu. Cinta menuntun hati untuk sepakat saling tulus, mendukung dan memelihara. Tak rela pada hadirnya amarah. Sebab sesungguhnya cinta adalah sinar kasih dari mata yang senantiasa memnacarkan cahaya keikhlasan.

Referensi : Ketika Aku Mencintaimu.

LOMBA CERPEN STAIN Purwokerto

Badan Ekskutif Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN)
Purwokerto bekerjasama dengan OBSESI Press Selenggarakan LOMBA CIPTA
CERPEN RELIGIUSITAS-CINTA TINGKAT MAHASISWA-PELAJAR SE-INDONESIA***

Persyaratan Cerpen yang dilombakan:
(1) Peserta dibatasi emailkan cerpen 1 judul cerpen karya terbaiknya,
sesuai dengan topik umumnya, yakni "Religiusitas-Cinta";
(2) Cerpen yang diemailkan adalah karya yang belum pernah
dipublikasikan di media massa ataupun dalam bentuk buku;
(3) Diemailkan ke lpmobsesi_stpwt[at]yahoo[dot]com, dan di-CC ke
obsesipress[at]gmail[dot]com ;
(4) Disertakan scan dari Kartu Pelajar atau Kartu Mahasiswa sebagai
identitas;
(5) Biografi penulis maksimal 1 halaman, dan scan foto penulis;
(6) Naskah diterima dari pengiriman email tanggal 22 Oktober - 22
Desember 2008;
(7) Pemenang yang dipilih adalah Juara I, II, dan Juara III, akan
diumumkan pada tanggal 1 Januari 2009, dan penganugerahan hadiah para
juara dan nominator akan dilangsungkan 14 Februari 2009, bersamaan
dengan penganugerahan juara Lomba Esai Mahasiswa Tingkat Nasional
Periode ke-2.

Adapun hadiah yang akan diberikan adalah:
(1) Bagi cerpen Juara I, II, dan III, akan mendapatkan hadiah uang
sebesar =
Juara I - Rp.700.000,
Juara II - Rp.500.000,
Juara III - Rp.300.000 ;

(2) Bagi Juara I, II, dan III, akan mendapatkan Piala Tetap dari Ketua
STAIN Purwokerto;

(3) Bagi Juara I, II, III, dan 27 nominator, maka karya cerpennya akan
dibukukan dan diterbitkan oleh penerbit OBSESI Press dalam bentuk
eksklusif ;

(4) Bagi Juara I, II, III, dan 27 nominator, akan mendapatkan
SERTIFIKAT JUARA atau SERTIFIKAT NOMINATOR ;

(5) Bagi Juara I, II, III akan mendapatkan masing-masing 3 eksemplar
BUKU ANTOLOGI CERPEN "RELIGIOSITAS CINTA" tersebut; dan 27 nominator
akan mendapatkan masing-masing 2 eksemplar ;

(6) Penganugerahan hadiah/buku antologi kepada para juara dan
nominator akan dilangsungkan 14 Februari 2009, bersamaan dengan
penganugerahan juara Lomba Esai Mahasiswa Tingkat Nasional Periode ke-2.

Tim Juri Nasional :
(1) Drs. Ahmadun Yosi Herfanda (Sastrawan, dan Redaktur Sastra Budaya
koran Republika - Jakarta);
(2) Abdul Wachid B.S., S.S., M.Hum. (Sastrawan, Dosen Bahasa dan
Sastra Indonesia, Kritikus Sastra) ;
(3) Heru Kurniawan, S.Pd., M.Hum. (Sastrawan, Dosen Bahasa dan Sastra
Indonesia, Editor)

Persyaratan Program Beasiswa Tanoto Foundation S1&S2

BEASISWA TANOTO FOUNDATION PROGRAM S1 & S2

TAHUN AKADEMIK 2009 / 2010

Tanoto Foundation, yayasan yang memiliki kepedulian pada pengembangan sumber daya manusia Indonesia melalui bidang pendidikan, mengundang Mahasiswa S1 dan S2 yang berprestasi untuk bergabung dalam program beasiswa S1 dan S2. Program beasiswa diselenggarakan berlandaskan prinsip – prinsip kecakapan masing – masing pelamar tanpa memandang suku, agama, ras, gender serta menjunjung tinggi kebijakan non-diskriminatif.

Saat ini Tanoto Foundation menyediakan beasiswa kepada 300 mahasiswa S1 dan 50 mahasiswa S2, dari berbagai disiplin ilmu yang berasal dari enam Perguruan Tinggi mitra Tanoto Foundation yaitu :

• Universitas Indonesia
• Universitas Gadjah Mada
• Institut Teknologi Bandung
• Institut Pertanian Bogor
• Universitas Sumatera Utara
• Universitas Riau


FORMULIR PENDAFTARAN TIDAK BOLEH DIKETIK ULANG :
Formulir Pendaftaran S1
Formulir Pendaftaran S2

PERSYARATAN :

A. PROGRAM SARJANA STRATA SATU ( S 1 )

1. Warga Negara Indonesia
2. Telah terdaftar sebagai mahasiswa di Perguruan Tinggi mitra Tanoto Foundation
3. Usia maksimum 21 tahun di bulan Juli 2009
4. Minimum IPK = 3,00 ( skala 4,00 )
5. Bagi mereka yang baru duduk di tahun pertama Perguruan Tinggi, minimum nilai rata – rata raport kelas 3 SMU = 8,0 ( skala 10 )
6. Membutuhkan dukungan financial
7. Berjiwa kepemimpinan dan memiliki kepedulian serta komitmen untuk ikut memajukan bangsa Indonesia.
8. Melengkapi formulir pendaftaran yang diperoleh melalui website Tanoto Foundation
9. Bagi yang lulus seleksi Beasiswa Tanoto Foundation tidak diperbolehkan menerima Beasiswa dari institusi lain.

B. PROGRAM SARJANA STRATA DUA ( S 2 )

1. Warga Negara Indonesia
2. Telah terdaftar sebagai mahasiswa di Perguruan Tinggi mitra Tanoto Foundation
3. Usia maksimum 40 tahun pada bulan Juli 2009
4. Memiliki pengalaman kerja minimum selama 2 tahun, setelah menyelesaikan program S1
5. Minimum IPK = 3,25 ( skala 4,00 )
6. Berjiwa kepemimpinan dan memiliki kepedulian serta komitmen untuk ikut memajukan bangsa Indonesia.
7. Melengkapi formulir pendaftaran yang diperoleh melalui website Tanoto Foundation
8. Bagi yang lulus seleksi Beasiswa Tanoto Foundation tidak diperbolehkan menerima Beasiswa dari institusi lain.

PENGEMBALIAN FORMULIR PENDAFTARAN :

DIKIRIM LANGSUNG KE :
TANOTO FOUNDATION, P.O. BOX 2117 JKP 10021
DENGAN MENCANTUMKAN TULISAN “ BEASISWA “ PADA BAGIAN KIRI ATAS AMPLOP, PALING LAMBAT 31 DESEMBER 2008 CAP POS.
HANYA APLIKASI YANG MEMENUHI PERSYARATAN AKAN DIPROSES LEBIH LANJUT.
KEPUTUSAN BERSIFAT MUTLAK DAN TIDAK BISA DIGANGGU GUGAT

INFORMASI LENGKAP : info@tanoto-foundation.or.id

Ngomongin Tentang e-paper

Di Indonesia terdapat banyak industri surat kabar. Saat ini industri tersebut memasuki episode baru dengan diluncurkannya versi baru koran yaitu koran internet atau yang dikenal dengan istilah e-paper. E-paper memiliki layout yang sama persis dengan edisi cetak di depan layar computer. Versi e-paper ini terbit sekali setiap hari. Karakteristik e-paper dan portal berita sangat berbeda. e-paper yang terbit setiap hari ini hanya meng-update informasi dan berita satu kali dalam sehari, sedangkan portal berita terus meng-update berita. Kontan merupakan pelopor e-paper di Indonesia yang mulai terbit pada tanggal 1 Juli 2008. Kemudian pada tanggal 3 Juli 2008, Harian Kompas juga meluncurkan format e-papernya yang kemudian diikuti oleh koran Tempo dan Republika. Tingginya jumlah pengunjung website surat kabar yang berasal dari luar negeri menjadi salah satu alasan mengapa mereka membuat e-paper.

Sebagai media massa yang selangkah lebih maju daripada koran cetak, e-paper mempunyai kelebihan pada fasilitas yang terdapat di dalamnya. Sebagai contoh e-paper Tempo, di dalamnya terdapat fasilitas suara yang bisa membacakan isi artikel. Ada pula fasilitas download, cetak, dan kirim ke e-mail, serta add to my clipping. E-paper merupakan solusi yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah distribusi koran cetak. secara logika, warga negara Indonesia tidak hanya mentap di Indonesia saja, tetapi mereka tersebar di 86 negara. Tidak bisa dibayangkan jika mereka harus dikirimi satu persatu edisi cetaknya. Singkatnya dengan menggunakan format e-paper, jumlah pembaca akan meningkat secara signifikan, dan ini sangat membantu dalam memasarkan iklan. E-paper tidak hanya sebatas pelengkap surat kabar edisi cetak, tapi bisa menjadi revenue stream yang baru. Di halaman e-paper bisa dibuat iklan dengan format flash. Selain itu, sangat memungkinkan pula akan adanya iklan baris dari Google.

Obama Menang Euy!!!

wuih...wuih...wuih...
Obama menang orang Indonesia geger, merasa memiliki dengan alasan dia pernah tinggal di Indonesia.
semua media mengekspos Obama Obama n Obama.
Tinggal tunggu tanggal mainnya aja, gimana ntar kebijakan yang dia buat.
Ya nggak????

Gue Suka Lagu Ini

Pertama dengar lagu ini :Biasa Aja
Kedua kali dengar lagu ini : Cukup Bermakna
Ketiga kali dengar : Mulai menginterpretasi lirik
Mimpi adalah kunci,
Untuk kita menaklukan dunia,
Berlarilah tanpa lelah....
....
Menarilah dan terus tertawa
Walau dunia tak seindah surga
Bersyukurlah pada Yang Kuasa
....
kira-kira begiutlah lirik yang membuatku berpikir
Bahwa ada suatu pesan semangat yang disampaikan dalam lagu ini.
Aku tak pernah tahu indahnya syurga seperti apa?
Yang kutahu surga itu indah, penuh dengan kenikmatan, kesenangan...
Aku hanya merasakan peluh yang menetes dalam kehidupan kadang membuat kita sakit
Membuat kita jenuh dan penat
Tapi melalui lagu ini,
Ada satu simpul semangat yang berusaha dikuatkan

Kartu AS, Pakainya Suka-Suka

Pengalaman ini aku tulis sebagai tugas mata kuliah perilaku konsumen. My first task, tapi gara-gara aku presentasi tentang salah satu provider seluler ini, temen-temen pada bialang aku kayak sales... he he he nggak apa-apa si... tapi kan?

Dulu saat pertama saya menggunakan handphone, membayar sms sebesar Rp 300,00 masih terasa murah. Hal ini disebabkan rata-rata semua operator menerapkan tarif sebesar itu. Namun seiring berjalannya waktu dan banyaknya operator yang muncul maka persaingan harga pun terjadi. Mulai dari tarif nol rupiah sampai sekian rupiah. Yang kadang membuat saya berpikir, kalau operator menerapkan tarif nol rupiah lalu mereka mengambil untung dari mana? Tapi saya tidak mau ambil pusing karena saya sudah memilih operator yang menurut saya tepat yaitu Telkomsel. Bagi saya, operator yang satu ini tidak banyak mengobral janji musiman seperti operator lainnya. Telkomsel dengan tiga kartunya yakni kartu Hallo, Simpati, dan As dipercaya oleh khalayak karena pelayanannya. Selain sinyal kuat, menurut saya fitur-fitur yang ditawarkan juga menarik.

Di antara ketiga produk Telkomsel, saya memilih kartu As sebagai sarana untuk berkomunikasi. Awalnya memang saya menggunakan kartu dari operator lain, namun karena sering tulalit akhirnya saya berpindah menggunakan kartu As. Walaupun kadang saya tergiur dengan penawaran dan iklan produk lain, namun entah menggapa hati saya tetap terpaut pada kartu As. Bagi saya, kartu As itu memiliki sinyal yang kuat, sms murah, juga menerapkan tarif per detik untuk telepon. Selain itu banyak layanan yang bisa di dapatkan seperti call me, transfer pulsa, collect call, juga meminta untuk dibayarkan sms. Saat mengisi pulsa, pelanggan juga mendapatkan bonus sebesar sepuluh persen dari jumlah nominal pulsa yang dibeli.

Hal yang paling membuat saya geli selama menggunakan kartu As adalah ketika kartu saya terblokir tanpa sebab jelas. Waktu itu saya kelas 2 SMA. Saat itu saya tinggal di rumah kost bersama teman-teman yang lain. Ada kebiasaan kami ketika sedang santai atau tidak ada pekerjaan, yaitu menelpon ke costumer service Telkomsel. Walaupun tidak ada hal penting yang harus ditanyakan, kami tetap menelepon. Kadang iseng menanyakan kode nada sambung atau kode PUK. Suatu saat saya dan teman satu kamar tidak bisa tidak bisa tidur sampai larut malam. Lalu ide jail kami muncul dan akhirnya memencet tombol 116 di handphone. saat itu waktu sudah menunjukkan pukul satu lebih. Saat terhubung dengan costumer service, kami berdua cekikikan karena kami tersambung dengan operator pria yang suaranya terdengar sudah sangat mengantuk. Lalu saya bertanya tentang nada sambung pribadi, mulai dari bagaimana cara mengaktiifkan, biaya, masa aktif, juga beberapa kode lagu yang masih baru (biasanya lagu yang masih baru belum ada kodenya). Saya dan teman saya terus bertanya sampai sepertinya operator mulai kesal baru kami mengucapkan terima kasih dan sambungan pun terputus.

Keesokan paginya, saya melepas kartu As saya dari HP. Menggantinya dengan kartu lain yang merupakan produk Telkomsel juga. Namun, ketika saya memasang kartu As kembali, ternyata kartu ada tulisan sisipkan simcard di LCD handphone saya. Saya pikir HP saya error karena terlalu sering di buka tutup. Tapi setelah saya bawa ke tempat service HP, katanya bukan handphone saya yang rusak tapi memang kartunya yang telah terblokir. Saya kecewa sekaligus merasa aneh. Biasanya kartu akan terblokir karena salah memasukkan kode pin atau PUK, tapi saya tidak melakukan kesalahan itu. Setelah dipikir-pikir apa karena tadi malam saya menjahili operator yang mungkin tengah mengantuk ya?

Lepas dari pengalaman itu, saya tetap membeli kartu As kembali. Hingga saat ini saya tetap memakainya karena saya merasa nyaman dengan layanan dan sinyalnya yang kuat. Walaupun untuk pulsanya cukup ‘mahal’ jika dibandingkan dengan promo-promo yang ada sekarang namun bagi saya tetap kartu As yang bisa di pakai sesuka saya. Karena bonus yang didapatkan juga ada, selain itu untuk menghemat kita bisa ikut paket sms mania yang bertarif Rp 20,00 per sms dari harga sms utamanya sebesar RP 88,00. Untuk menelepon juga ada waktu tertentu pada siang hari mulai pukul 05.00-17.00 yang menawarkan tarif murah yaitu 6,5 rupiah per detik dari tarif utamanya RP 13,00. Bagi saya layanan kartu ini memuaskan penggunanya dan tidak mengobral janji-janji yang biasanya serentak dilakukan oleh operator-operator lain.

Feel

Barangkali rasa cinta merupakan suatu anugerah yang membahagiakan bagi sebagian orang. Mencinta dan dicinta adalah fitrah manusia. Sebenarnya aku benci bercerita tentang cinta yang tanpa arah. Karenaa rasa cinta ini membuat aku tersiksa. Dia tak pernah tahu kalau aku mencintainya. Cinta…cinta! Kenapa sih pakai membuatku hampir gila? Padahal seharusnya aku tak boleh seperti ini. Melamun, membayangkan seandainya dia tahu, bahkan kadang – kadang aku menangis membayangkan teganya dia yang tak pernah mengerti perasaanku. Padahal sering dia menyapa aku, bertanya keadaanku, tapi justru semua itu membuatku semakin sakit. Sungguh sakit serasa tercabik kenyataan yang tak bisa aku hadapi.

Seperti hari ini aku pun merasa sakit melihatnya bercanda dengan teman – teman ceweknya di depan kelasnya. Dia terlihat begitu bahagia. Tapi aku? Ah…dia begitu tega padaku. Tapi kalau aku pikir – pikir dia memang nggak salah, toh dia nggak tahu kalau aku mencintainya. Aku memang benar – benar bodoh diperbudak rasa yang menggilakan ini.

“Ta! Boleh minjem buku PR lo nggak?” pinta Tia teman super akrabku. Soalnya dimana ada aku pasti ada dia, begitupun sebaliknya. Namun aku tak pernah menceritakan kalau aku suka sama Fandi anak IPA 1. Bukannya nggak percaya sama teman tapi hati orang siapa tahu. Aku berusaha menyimpan perasaan ini sedalam – dalamnya. Ibaratnya di dasar hati. Biarpun benar – benar menyiksa, tapi aku berusaha menikmatinya.

“Ambil di tas gue” jawabku singkat.

“Lo ngelamun lagi ya? Hobi kok ngelamun! Kalau ada sesuatu yang bikin lo nggak konsen atau bikin lo bingung, cerita dong sama aku. Kita kenal kan sudah lama. Bukan kemarin – kemarin Ta! Bukan sehari dua hari, tapi sudah hampir dua tahun kita selalu bareng” saran Tia padaku.

“Nyantai aja lagi…gue bukan lagi ngelamun tapi lagi merenung. Lagian kalau lagi ada masalah gue pasti bakal cerita sama lo” jawabku menutupi yang sebenarnya.

“Ya udah…tapi bener kan nggak ada apa – apa?”

“Bener! Swear Baby!” jawabku lagi sambil mencubit pipi Tia karenaa gemas. Habisnya dia nanya kayak wartawan aja. Sepeninggal Tia dari tempat dudukku, aku kembali menatapi kelas Fandi, tapi ternyata dia sudah nggak terlihat. Ternyata guru juga sudah masuk kelas gue. Ah…hilangin dulu tentangFandi, sekarang konsen sama pelajaran.

Sepulang sekolah ketika aku sedang menuju perpustakan, ada suara memanggil namaku. Ketika aku menengok, ternyata itu adalah Fandi. Kaget juga sih! Tapi aku berusaha nggak salting biar nggak dikirain yang tidak – tidak.

“Ada apa Fan?” tanyaku akrab dengan salam renyah.

“Ta, bisa nggak antar aku ke toko buku. Lo kan hobi baca, gue mau cari referensi buat bikin makalah” pintanya padaku.

“Wah kata siapa gue hobi mbaca?” aku mencoba bercanda. Padahal memang kenyataannya sejak aku menyukai Fandi hobiku berubah menjadi melamun.

“Vita…Vita ternyata lo masih sama seperti waktu kelas satu,suka merendah. Ternyata jagonya ilmu padi. Jelas – jelas lo kutu buku. Makanya gue mau minta tolong sama lo. Please ya…!” Fandi memohon sambil menarik aku ke tempat parkir. Aku menurut saja, bagiku kalau melihat Fandi senang, ya aku ikut senang juga.

Hampir dua jam aku ngantar Fandi muter – muter book store buat cari referensinya. Akhirnya…nemu juga buku yang dicari.

“Makasih ya Ta! Sudah nemenin aku, nyariin buku yang tepat. Sebagai tanda terima kasih gue ke lo, gue mau traktir lo. Mau kan?”

“Bisa…bisa yang penting gue dianterin pulang dan kalau bisa makan di warung soto yang dekat sekolah kita aja ya?! soalnya sudah lama aku nggak makan soto di sana” pintaku.

“Ta, kamu tahu Natan kan?” Tanya Fandi padaku ketika sudah sampai di tempat makan. Aku mikir sebentar, kayaknya aku sudah pernah dengar nama itu. Tapi siapa ya?

“Natan siapa?” tanyaku santai dan tak begitu terobsesi siapa Natan. Karenaa hari ini aku bahagia. Setidaknya bisa bersama Fandi walau sekejap.

“Natan yang biasa sama aku kalau di sekolah” jawab Fandi.

“O…Jonatan! Kirain siapa, memangnya ada apa?”

“Bener mau tahu?”

“Ah…Nggak lah, Nggak penting. Lagian nggak ada hubungannya sama aku” jawabku cuek.

Selesai makan aku langsung pulang diantar sama Fandi. Ya…hitung – hitung hari ini dewi fortuna sedang berpihak pada gue. Gue bersyukur banget, karenaa gue nggak bakal tahu kapan lagi gue bisa bareng sama dia, dapet ucapan terima kasih dari dia. Karenaa setahu gue, bukan hanya gue yang suka sama dia. Tapi banyak cewek lain yang menyukai Fandi karenaa dia baik, supel, smart, dan tentu saja coker.

Malamnya aku nggak bisa tidur, terus membayangkan moment tak terlupakan bersama Fandi tadi siang. Memang sepertinya terlalu berlebihan apabila kuanggap pergi ke toko buku dan makan soto bareng aja moment tak terlupakan. Tapi pikir aja deh, biarpun Cuma dikasih senyum sama orang yang kita sukai, pasti itu kita anggap sebagai suatu yang luar biasa.

Ringtone ponselku berdering. Wow! Fandi nelfon. Bakal ada titik terang nih! Pikirku terbang.

“Iya Fan?”

“Malem Ta! Belum tidur kan? Pasti lagi belajar, Vita gitu loh!” ucap Fandi.

“Gue belum tidur, tumben nelfon, ada yang penting?” tanyaku penasaran. Karenaa ini pertama kali Fandi nelfon aku, biasanya paling – paling sms, itu pun kalau nanya PR.

“Iya Ta, ini ada temen gue yang pengen ngomong sama lo!” jawab Fandi sambil tertawa. Tiba – tiba suara sudah berubah bukan suara Fandi. Sebenarnya aku agak akrab dengan suara ini tapi siapa ya?

“Malem Ta! Sori ganggu” Sapa suara itu.

“Ini siapa sih?” tanyaku penasaran.

“Wah…kamu nggak kenal sama suaraku ya? Ini Natan! Jonatan Apriansyah” jawab suara yang ternyata adalah suara Jonatan, teman Fandi yang sudah cukup aku kenal. Sebenarnya dia memang termasuk coker, supel, baik, dan juga smart. Tapi bagi gue yang memenuhi criteria itu Cuma Fandi. Entah kenapa kalau tentang Fandi semuanya terasa terbius bagiku. Tak sadar untuk memuja dan mencinta.

“O…kamu tumben ada apa? Nggak ada angin nggak ada hujan kamu nelpon. Pakai nomernya Fandi lagi. Kamu memang di rumah Fandi apa?”

“Iya gue tidur di rumah Fandi. Ini lagi ngerjain makalah. Ta…!”sapa Natan lagi.

“Iya…!”

“Besok pulang sekolah kamu ada acara apa nggak?”

“Nggak!” jawabku singkat.

“Mau nggak ke Perpustakaan Umum? Aku tungguin disana” ajak Natan.

“Boleh…kebetulan aku juga mau ngembaliin buku” aku menerima ajakan Natan. Akhirnya telpon ditutup. Tanpa memikirkan apa maksud Natan, aku beranjak ke tempat tidur,sudah ngantuk. Apa yang akan terjadi besok, ya…biarlah terjadi. Paling – paling nggak beda kayak Fandi, minta dicariin buku. Memoryku berangsur – angsur membuyar, dan aku terlelap dalam buaian dan dekapan sang malam yang kan menemani hidupku malam ini. Aku berharap semoga besok perasaanku untuk Fandi telah hilang sehingga aku tak selalu merasa tersiksa dan terhantui bayangnya setiap detik dalam nafasku.

Pulang sekolah aku terus menuju perpustakaan umum yang terletak di depan sekolahku. Ternyata Natan memang sudah ada di sana. Dia juga tidak sendiri, tapi bareng sama Fandi, dan yang aku aneh sudah ada Tia, itu lho teman akrabku. Dari kejauhan kupandangi Tia dan Fandi yang begitu akrab bercerita. Rasanya aku iri yang tak bisa seperti itu pada Fandi. Tia melambaikan tangan padaku. Kubalas lambaiannya dengan senyum untuknya, Fandi dan juga Natan yang juga ikut melambai ke arahku.

“Ada apa nih…? Tumben banget ngumpul kayak gini!” Perasaanku nggak enak. Takut kalau hari ini aku bakal dapet berita buruk dari mereka. Jangan – jangan Fandi mau ngabarin kalau dia sudah jadian sama Tia, Karenaa aku lihat tadi mereka berdua bercerita begitu akrab.

“Aku nganterin Natan, katanya da pentingan sama kamu” jawab Fandi sambil tersenyum, menampakkan kebahagiaan terpancar dari arti senyum itu.

“Kalau aku tadi diajak sama mereka berdua, katanya disuruh nemenin kamu” jelas Tia sambil menunjuk Fandi dan Natan. “ Eh…gue mau baca – baca dulu. Katanya Natan mau bicara penting sama kamu. Takutnya gue ganggu” ucap Tia sambil beranjak berdiri dari tempat duduk. Fandi pun melakukan hal yang sama. Ternyata dia mencari tempat baca yang berlainan denganTia. Hatiku agak lega, setidaknya disaat aku penasaran ini aku tak merasa sakit melihat kedekatan Tia sama Fandi.

“Ta!” ucap Natan memecahakn kediamanku.

“Ya!” jawabku rada salting juga sih…karenaa tak biasanya Natan ngajak aku bicara. Cuma berdua lagi. Oh My God I hope no mistake! Doaku saat ini.

“ Sebelumnya Gue minta maaf sama lo. Mungkin lo kaget tiba – tiba gue yang nggak begitu akrab sama longajak lo ke sini. Gue tahu tentang lo dari fandi. Semakinaku Tanya sama dia, aku semakin tertarik sama kamu. Sekarang gue pengen ngugkapin perasaan gue sama lo. Semua persepsi gue sama lo, rasa suka gue sama lo. Ta mau nggak lo jadi cewek gue?” To teh point Natan berujar seperti itu. Terang aja gue salting banget. Semua diluar bayangan gue. Dan ini juga bukan yang gue harapin. Tentunya yang aku harapin berkata seperti ini padaku adalah Fandi. Sekarang saat semuanya jelas, bahwa kenyataan berkat lain, Fandi tak menyukaiku. Dia nanya semua tentang aku, karenaa dia solider pada Natan. Ah…rasanya hatiku semakin hancur.

“Natan, makasih banget, gue seneng kalu lo suka sama gue. Tapi gue belum bisa ngasih jawaban sesuai harapan lo, karenaa gue menyukai orang lain. Gue takut kalau gue nerima lo, gue takut kalau lo cuma gue jadiin pelarian perasaan gue. Jadi sory banget” Jawabku sepelan mungkin, mencoba mengatasi perasaanku dan juga perasan Natan.

“Gue yang seharusnya minta maaf kok Ta! Gue nggak tahu diri, seharusnya gue nggak langsung bilang ke lo. Seharusnya gue konfirmasi dulu, ada nggak cowok yang lo suka. Tapi gue berharap dengan kejadian ini, kita bisa menjadi teman dan bisa berbagi perasaan” Jawab Natan begitu dewasa membuatku merasa begitu bersalah.

Aku tak kuasa menahan tangisku,tak peduli begitu banyak orang yang melihatku, aku berlari keluar ruang Perpustakaan. Fandi dan Tia tak melihatku karenaa tempat duduk mereka terhalang oleh sekat. Natan mengejarku.

“Vita, gue tahu gue salah, tapi gue nggak mau lo nangis, gue merasa bersalah banget kalau lo seperti ini” suara Natan terdengar begitu panik. Aku jadi merasa iba, rasanya dia begitu tulus. Otakku berpikir begitu keras mencari jalan keluar yag tepat agar tak menyakitkan bagiku ataupun Natan.”Tan beri aku waktu untuk berpikir, aku mohon jangan dulu tarik kata – katamu” akhirnya kata – kata itulah yang keluar dari mulutku. Natan mendekapku begitu erat seakan dia begitu bahagia mendengar pertimbanganku dan tak mau melepasku. Tapi hatiku berontak, Fandi…teganya dia padaku.

Beberapa hari aku berpikir keras, haruskah aku menerima Natan? Atau tetap menunggu Fandi tanpa kepastian. Tiba – tiba ada sms masuk ke ponselku. Tia ngirim pesan.

Vit Gue lagi bahagia banget. Hari ini Fandi nembak gue, dan gue jadian sama dia.Blz

Pesan itu bagaikan petir yang sekejap membuat tubuhku kaku. Fandi…jadian sama Tia. Sahabat akrabku, dan aku tak mungkin untuk mengatakan pada Tia kalau sebenarnya cowok yang gue suka adalah Fandi. Ah…rasanya dunia ini menjadi begitu sempit, menjepit diriku, membuat otakku begitu penat, ingin berhenti berpikir. Tia…fandi… Natan. Namun, aku begitu sayang pada Tia, sahabat yang selalu ada bila kubutuhkan. Lebih baik aku kehilangan Fandi daripada Tia. Biarpu susah rasanya, aku mecoba mengetikkan kata – kata untuk membalas sms Tia. Tapi tak ada kata yang bisa aku ketik. Malahan air mataku mengalir begitu deras. Kuputuskan untuk menelfon Tia saja nanti kalau aku sudah tenang.

Kupencet tombol ponsel, menelpon Tia yang pasti sedang begitu bahagia.”Hallo!” sapaku.

“Hallo…Vit kok pesanku nggak dibalas?” tanyanya begitu mencerminkan bahagia.

“Sory deh, tadi gue baru nganter nyokap ke Supermarket dan ponselku nggak dibawa. Ini aja baru gue buka. Selamat ya…” aku berbohong menutupi kesedihanku, mencoba terdengar tegar dan bahagia ditelinga Tia. Tapi ketika mengucapkan kata selamat, air mataku langsung terjatuh.

“Lo nangis ya?” Tanya Tia

“ Enggak…ini lagi Bantu nyokap motong bawang, dia dapet pesenan catering” jawabku berbohong lagi. Setelah kututup telpon, aku terisak. Aku berharap aku bisa lega dengan menangis Semoga besok di sekolah aku bisa menerima kenyataan dan bisa menganggap Fandi adalah sekedar angin yang berhembus sebentar.

Keesokan paginya, aku berangkat ke sekolah lebih pagi. Biasa jadwalnya buat piket. Kalau nggak datang pagi bisa kena semprot classleader yang killer dan super nyebelin. Rasanya aku menjadi pembuka gerbang, soalnya sekolah masih begitu sepi. Kubuka pintu kelas, dan aku terperanjat karenaa Fandi sudah ada di situ. Aku pikir dia pasti nunggui Tia, aku cuek, karenaa sakit hatiku belum bisa hilang juga.

“Pagi Ta!” sapanya.

“Pagi” jawabku singkat sambil menuju tempat sapu.

“Gue mo nanya sama lo”

“Tentang Tia? Kenapa nggak nanya langsung sama dia aja. Kalian kan sudah resmi pacaran ngapain pake sembunyi – sembunyi nanya sama orang lain” jawabku sewot karenaa marah.

“Kok lo sewot banget sih, gue Cuma dititipi pesan sama Natan, kalau nanti siang dia mau ketemu kamu sepulang sekolah di kelas ini. Sebenarnya lo mau jawab apa sih? Natan udah nggak sabar tuh, penasaran lo mau nerima dia apa nggak. Nggak ada hubungannya sama Tia, jadi jangan sewot gitu dong” jelas Fandi.

Tiba – tiba saja hatiku merasa panas. Kulempar sapu yang sudah kupegang, dan aku berlari keluar. Fandi bingung melihat sikapku. Aku terus berlari menuju ke salah satu sudut sekolahku. Untung hari masih pagi, sehingga belum banyak yang datang ke sekolah. Aku terisak sambil merangkul kakiku erat. Ternyata Fandi mengejarku dan dia mendekatiku.

“Lo kenapa? Vita, nggak biasanya kamu kayak gini. Kamu ada masalah? Sama Natan? Tia? Atau aku ada salah sama kamu?’ Tanya Fandi lembut.

“Buat apa lo cari tahu, toh kalau aku ada masalah pun lo nggak mungkin peduli. Aku bukan apa – apa lo. Kita juga nggak pernah akrab banget. Jadi lo nggak perlu sok perhatian sama aku” jawabku sambil menunduk.

“Lo bicara apa?” tanyaa Fandi, namun tak kujawab karenaa nggak tahu aku harus bilang apa. Haruskah aku bilang kalau orang yang aku cintai itu dia, bukan Nata? Haruskah aku begitu egois dan mengorbankan persahabatanku dengan Tia? Tidak. Tapi pada kenyataannya aku tak bisa terus menerus membohongi perasanku. Akhirnya aku meninggalkan Fandi yang masih bingung dengan sikapku. Aku menuju ruang piket dan minta izin untuk tidak sekolah dengan alasan sakit.

Jam istirahat Tia menelponku. Tapi tak kuangkat. Biarlah, mungkin dia sudah diberi tahu oleh Fandi. Tapi bagaiman dengan Natan? Hari ini aku berjanji untuk menjawab. Kuputuskan untuk mengundangnya ke rumahku sepulang sekolah.

Natan, ntar pulang sekolah ke rumahku, sendiri.

Begitu singkat pesan yang aku kirimkan padanya.

Bel pintu berbunyi, kupikir itu pasti Natan, karenaa ini adalah jam pulang sekolah. Benar saja itu memang dia, sendiri. Perasaanku cukup lega setidaknya aku bisa bebas berbicara padanya.

“Ta…kita ke luar aja yuk!” ajaknya padaku, nggak enak kalau ngomongin masalah itu di rumah kamu. Aku mengiyakannya, hitung – hitung buat refresing.

“Kenapa tadi kamu nggak jadi sekolah?” Tanya Natan diperjalanan.

“Tadi…nggak apa – apa kok, aku lagi boring aja!”

“Kita mau kemana?”

“Ada deh”.

Ternyata Natan mengajakku ke sebuah tempat yang begitu sejuk, perkebunan teh. Aku merasa fresh di situ. Tapi rasa tenangku tiba – tiba hilang karenaa ternyata fandi dan Tia sudah ada di sana lebih dulu. Mereka berdua menghampiriku, sambil tersenyum.

Suasana menjadi begitu hening, hingga angin yang berhembus seperti terdengar derunya. “Aku mau ke warung di seberang itu, mau beli makanan. Tia anterin aku yuk” Ucap natan sambil mengajak Tia memecahkan keheningan diantara kita berempat.

“Sama aku aja Tan” ucapku menawarkan diri. Tapi Natan malah menyuruh aku duduk saja, karenaa katanya aku terlihat capek. Tapi aku merasa enggan, karenaa di situ hanya ada Fandi. “Udah…kamu di sini aja, aku sama Tia kok! Biar Fandi yang emenin kamu di sini”.

“Gimana kalau Tia aja yang di sini” pintaku, tapi malah Natan tertawa.

“Kalau aku sama Fandi yang beli makanan takut milihnya yang nggak enak dan kamu nggak suka. Kalau Tia kan tahu selera kamu” Tia mengangguk mendengar Natan berujar seperti itu.

Akhirnya aku diam, dan Natan pergi bersama Tia. Fandi duduk mendekat aku. Tapi aku bergeser.Hampir aku berdiri, namun dengan sigap tangan Fandi menarik tamganku. “Kamu ini kenapa?Ta…kamu aneh banget tahu ga?” ucap Fandi ketika dengan kasar aku melepaskan tangannya.

“Fan, gue sudah bilang tadi pagi, buat apa kamu acuh dengan keadaanku. Kita nggak pernah terlalu akarab dan aku kira ini nggak penting buat kamu”.

“Tapi aku heran dengan perubahan sikap kamu ke aku. Aku rasa ada yang lain. Ditambah lagi hanya karenaa tadi pagia aku bilang Cuma seperti itu saja kamu pake nggak jadi sekolah”.

“Yang jelas, aku benci Fan sama kamu. Sekarang aku benci sama kamu” ucapku sambil berdiri. Tak terasa air mataku telah jatuh.

“Kamu benci sama aku? Kenapa?” Tanya Fandi sambil berdiri di hadapanku.

Kupalingkan wajahku dari pandangannya “Fan, lo kok tega banget sih? Lo nanya semua tentang aku, kesukaan aku, pokoknya yang berhubungan sama diri aku, dan ternyata semua itu Cuma buat lo omongin sama sahabata lo, natan. Gue nggak nyangka lo bakal setega itu sama aku”.

“Apa itu salah? Justru karenaa Natan tahu pribadi kamu, dia jadi suka sama kamu” jawab Fandi tanpa nada bersalah sedikitpun.

“Cerita lo memang nggak salah, dan persaan Natan pun ta patut dipersalahkan. Tapi lo kenapa nggak pernah bilang kalau semua itu akan kamu ceritakan pada Natan?”

“Waktu kita habis dari book store, gue sebenarnya pengen cerita tapi lo sendiri yang bilang kalau itu nggak penting dan nggak ada hubungannya sama lo”.

Sejenak aku teringat ketika Fandi menanyakan apakah aku tahu Natan apa tidak. Ternyata dia akan cerita seperti itu.” Mungkin memang aku yang salah Fan, aku yang bodoh mengapa aku tak bertanya dulu padamu” jawabku sambil terus berusaha meredakan emosiku yag semakin menyala.

“Jadi lo sudah nggak marah lagi?”

“Tapi gue tetep vbenci sama lo. Gue benci…” jawabku sambil sedikit berteriak.

“Kenapa Ta? Kenapa lo benci sama gue?” Tanya Fandi dengan nada datar seakan tak menyadari betapa marahnya aku.

“Karena gue sayang banget sama lo dan gue nggak mau kehilangan lo” tiba – tiba kata – kata itu yang keluar dari mulutku. Aku langsung terdiam. Tapi rasanya perasaan ini menjadi begitu lega. Tanpa kusadari Fandi memelukku erat dan membisikkan kata yang benar – benar membuatku serasa baru keluar daris sesuatu yang begitu menyesakkan “Aku juga sayang banget sama kamu, dan aku nggak mau kehilangan kamu’.

Namun langsung ku lepas pelukannya.” Dasar cowok, mau lo tangkap dua sekaligus? Sadar fa, lo sedang pacaran sama Tia. Gue bukan tipe perampas”Ucapku begitu marah.

Namun Fandi menarikku dan mendekapku dalam pelukannya. Aku berontak ingin lepas, tapi dia semakin erat memelukku.” Kata siapa aku pacaran sama Tia? Jonatan sama Tia lah yang Bantu aku memainkan skenario ini supaya aku bisa tahu kalau kamu memang benar – benar saynag sama aku. Swear, aku cuma sayang sama kamu, dan benar – benar pengen ngelindungi kamu” terang Fandi Padaku. Dengan pelan dia melepaskan pelukannya dan menyaeka air ataku. Bersamaan dengan itu terlihat Natan dan Tia bertepuk tangan.

“Mana makanannya?” tanyaku pada mereka berdua yang tampak tersenyum kepadaku dan Fandi.

“Makanannya ada di warung, soalnya kita tadi nggak ke warung, kita ngintip di balik pohon teh itu” jawab Tia sambil menunjuk serumpunpohon teh.

“Kalian jahat baget sama aku!” ucapku. Lalu tiba – tiba tanganku hangat, Fandi menggandengku.”Vita, sekarang di depan Tia dan Natan, aku mau mengatakan kalau aku sayang banget sama kamu. Maukah kamu jadi pacarku?” aku tak menjawab apa – apa karena saking bahagianya. Aku hanya mengangguk.

“Ye…akhirnya kita nggak jomblo lagi” sorak Tia

“Lho kok kita?” tanyaku heran.

“Ya iya lah kita, kamu sama Fandi, gue sama Natan” jawab Tia genit. Aku mencubitnya “Kamu bertiga memang tega!” teriakku sambil tertawa, hilang sudah kesediahan dan kegelisahanku.

“habisnya kamu nggak mau cerita kalau kamu suka sama Fandi. Kebetulan pas waktu itu aku minjem buku PR kamu, aku nggak sengaja buka diary kamu, yang di situ tertulis kalau kamu sayang banget sama Fandi. Ya udah, gue pikir dari pada terus – terusan lo ngelamun, gue pikir lebih baik Fandi tahu. Eh…pas gue bilang sama dia ternyata dia juga sudah punya rencana buat nembak kamu. Dengan bantuanku sma Natan Jadilah deh cerita seperti ini. Tapi kamu seneng kan?” jawab Tia sambil tertawa.,

Akhirnya kita semua tertawa, Fandi menggandenga tanganku erat dan kita berdua bercerita bnyak tentang perasaan kita masing – masig. Aku tak menyangka perasaanku yang selalu tersiksa dulu, kini menjadi lega luar biasa. Terima kasih Tuhan, terima kasih Tia.

Aku dan Fandi tersenyum sambil memandangi langit sore yang bermega nan cerah. Cerahnya menggmbarkan perasaanku yang sedang begitu bahagia.

“Kata – kata kadang tak berarti jika kita tak dapat memaknainya. Berpikir adalah kunci menemukan suatu arti. Demikian pun kehidupan”