Rasa bersalahku semakin membuncah, di satu sisi aku menyayangimu, merasa bahwa kau adalah cinta pertama yang tak lekang oleh waktu. Berkali-kali aku coba menjalin hubungan dengan cinta yang baru, tapi namamu yang masih saja terpatri jelas. Namun, sayang ini seperti berbatas keadaan. Aku seperti hilang arah dan memiliki beban begitu berat ketika mengatakan “aku menyayangimu”. Meski perasaan tak bisa dibohongi, tapi beginilah keadaannya. Rasanya aku ingin pergi saja dari kehidupanmu.
Aku sudah bilang akan pergi darimu, berangsur-angsur kunikmati kesendirian dan keadaan tanpamu.
Aku terbiasa bersamamu saat itu. Banyak impian yang kita ciptakan bersama, membaca buku-buku yang sama, mendengar lagu-lagu yang sama, menyukai warna yang sama, dan menikmati kesempatan. Begitu banyak tentangmu, hingga aku tak tahu bagaimana cara menghapusnya satu persatu. Mungkin, jika kau tanyakan padaku seberapa banyak aku mengingatmu, aku jawab terlalu banyak hingga aku tak sadar bahwa aku pun sampai membandingkan orang lain denganmu.
Aku terbiasa menunggumu di sini, pada petang hari. Di kursi panjang berwarna cokelat. Masih dengan setumpuk kertas yang kudekap di dada, muka lusuh bekas aktivitas seharian, juga badan yang sudah remuk redam akibat begadang semalaman. Kau muncul dari balik gedung itu dengan gayamu yang biasa saja. Meski tanpa lambaian tangan namun senyummu sumringah. Kelegaan yang kudapat ketika aku yakin bahwa kau tersenyum padaku.
Tapi cinta bukan kesamaan, bukan pula senyum yang muncul saat pertemuan. Karena itu, akhirnya aku benar-benar pergi, maafkan aku. Aku tak cukup tangguh untuk mengikuti segala keinginanmu, aku ingin menjadi diriku sendiri.
-------------------------------------------------------------------------------------
Kau sama sekali hilang tak berkabar sekarang, meskipun aku tak mencemaskanmu tapi kuharap kau baik-baik juga. Terlebih lagi, semoga sudah kau temukan apa yang selama ini kau cari (aku juga tak tahu pasti apa yang ingin kau raih). Itu urusanmu, itu hak dan kewajiban untuk hidup yang dianugerahkan kepadamu. Setiap kita punya selera sendiri untuk menentukan kemana arah yang akan kita ikuti, dan memang dari dulu nampaknya kita berbeda. Tapi kupikir kita masih bisa untuk saling toleran dan menghormati bukan tanpa kabar seperti ini.
Tidak ada salahnya untuk memberi kabar, maka kusampaikan bahwa aku baik-baik saja. Sangat menikmati hidup, menikmati kebersamaan, menikmati kesendirian dan perenungan, juga menikmati pencarian. Kuharap kau juga. Tidak mau bertemu denganmu bukan berarti aku mengabaikanmu atau tak menghormatimu. Hanya saja, aku ingin kita baik-baik saja, kutahu jika pertemuan terjadi bukan tidak mungkin kita akan saling diam. Canggung untuk menentukan siapa dulu yang berhak bicara, padahal kita tidak sedang memperebutkan hak atau harus melaksanakan kewajiban, kita hanya butuh waktu senggang untuk berpikir. Dan aku: MENIKMATI KEBEBASAN.
Sabtu, 29 Januari 2011
Sabtu, 15 Januari 2011
A Right for Happiness

Kemana kamu seharian sayang? Aku menunggumu di sini: di sudut hati yang was-was dengan pernyataan “aku menyayangimu” yang kau ucapkan tempo hari. 11 Januari. Momen itu seperti sebuah kesempatan yang membuat kita menata keping-keping haru akan cinta yang telah terserak selama enam tahun lewat. Waktu yang tidak singkat untuk akhirnya kita bertemu kembali di sebuah kesempatan yang tidak pernah tertebak. Dan seharian ini, menunggu kau berkata-kata terasa jauh lebih lama daripada waktu enam tahun itu.
Hari-hariku sekarang dipenuhi dengan keinginan untuk segera menemuimu dan menceritakan banyak hal. Lucu memang, karena tradisi kita bukanlah saling bercerita. Sebelumnya sapaan adalah hal mahal yang jarang kita bagi. Lalu, ketika kita mengingat masa-masa di awal kita jumpa dulu, kau begitu puas menertawai tingkahku yang kau bilang begitu tak acuh. Aku menjadi begitu rindu dengan tingkahmu, dengan sapaan dan nasehatmu. Kupikir, aku jatuh cinta.
Sudah berapa banyak perubahan kita Sayang? Sejauh kita mencari arti dan saling menghargai untuk beberapa waktu ini, kurasa kau makin matang dengan kemandirianmu. Meskipun tetap saja, kau ucapkan bahwa kau ingin selalu menjadi anak kecil, karena dengan begitu kau akan selalu merasakan kebahagiaan. Sayang, kebahagiaan itu sebuah pilihan, mari kita berbahagia tanpa harus kembali ke masa kecil kita dulu. Bukankah kita bisa ciptakan hari-hari penuh senyum dengan kebersamaan kita? Kita bisa wujudkan mimpi-mimpi kita bersama mulai dari sekarang, dan itu bisa kita raih dengan perasaan yang bahagia, bukan dengan lilitan kesedihan. Ingatkah malam itu? Ketika kau tanyakan padaku sebuah kalimat “bahwa satu detik dari sekarang adalah masa depan”, maka jika kita ingin masa depan kita bahagia, mari kita sajikan detik-detik yang penuh dengan syukur atas segala yang terjadi. Dan, aku ingin menapaki masa yang tersisa ini bersamamu, Sayang. Dengan rasa syukur yang tak pernah terputus.
Rainy

Aku mencintai hujan, karena itu adalah bagian dari sebuah momen yang mampu menggugah hatiku. Aku selalu mengingat masa-masa di mana hujan menemaniku dalam pedih atau perih, dalam canda maupun rasa tak tega. Masa dengan diriku, dengan ayah ibuku, dengan adikku, dengan sahabat-sahabatku, seseorang yang pernah melekat di hatiku, atau pun denganmu. Ya denganmu. Hujan, kala itu. Aku memberi makna hanya sebatas waktu dan kondisi cuaca. Pikiranku justru menerawang masa di mana aku belum mengenalmu. Jangankan kenal, ada bayangan bertemu denganmu saja tak pernah sama sekali terbersit.
Saat itu hujan, aku mampu berteriak sekencang-kencangnya mengungkap rasa sedihku. Ya dengan cara itu, aku meninggalkan seseorang yang pernah mengisi sebagian ruang di hatiku. Aku harus menitipkan pilu pada gudang rasa di hatiku, saat itu. Setiap kali aku menemuinya, rasa itu menakutkan. Aku tahu akan ada dua manusia yang tak setuju atas langkahku bersamanya. Tapi karena hujan, aku jadi merasa ada wakil dari perasaanku,. Dalam hujan, bagiku, ada gigil yang tak dingin. Ada lelah namun terarah. Ada luka namun tak menganga. Saat hujan, tak peduli seberapa deras mata air mata kita. Tak peduli seberapa keras tertawa kita. Tak peduli sebagus apa busana kita. Tak peduli sejelata apa kondisi kita. Yang jelas timpaannya sama.Hujan. Aku mencintainya.
Sampai di suatu persimpangan aku menemuimu tak sengaja. Maka dengan sigap tak perlu kutunggu rintik hujan untukku merasakan semuanya. Mulai kuartikan satu persatu rasa yang menggelikan ini. Tak lagi kupedulikan rasa pilu yang kutitipkan di gudang rasaku. Yang aku usahakan adalah menyisipkan bahagia di setiap gelak tawa pahit yang kadang aku benci. Tawa topeng yang sungguh mengenaskan. Namun, karenamu, aku tak perlu lagi memakai topeng. Kau melepaskannya. Dan kau pasti mengerti kapan kau melepaskan penutup wajah rasaku itu. Kau ingat? Saat hujan. Dari situ, kupikir sekarang hujan tak hanya milikku, orang tuaku, adikku, sahabatku, orang itu, tapi juga milikmu. Aku bangga pada hujan yang menyatukan perasaan.
Lurus terus kita berjalan, bergandeng tangan, berdua. Mengesampingkan cercaan orang yang menganggap kita tabu, karena kau bukan milikku. Kau miliknya. Tapi aku tak menyalahkanmu, kuanggap itu wajar. Perasaanku wajar, perbuatanmu pun jadi wajar. Meski kelak, semuanya menjadi salah ajar. Kau tetap bersamanya, namun kau menggandeng tanganku ketika berjalan. Aku jadi berpikir bahwa kau lebih memilihku.
Sampai akhirnya kutahu semuanya hanya sekedar permainan tak berjudul. Bahkan sekalipun kucoba untuk menyusun beberapa huruf untuk menamainya, aku justru semakin terlihat seperti peserta terbodoh dalam perlombaan scrable. Meski demikian aku semakin mencandu pada games itu. Terus mencoba setiap waktu tak peduli apakah saat itu aku akan menang atau kalah. Hanya saja, yang aku tahu, aku semakin mencintaimu dan membutuhkanmu.
Tapi aku mulai ragu, apakah cinta itu kebutuhan? Apakah karena aku membutuhkanmu lalu aku mencintaimu? Bahkan hingga hari ini pun aku tak mengerti maumu sebenarnya. Kau membuatku nyaman dengan semua gerak-gerikmu.
HAPPY BIRTHDAY

Sederet doa tanpa api menghangatkanmu di setiap kue hari
Kalori bagi kekuatan hatiyang tak pernah habis dicerna usus
Lilin tanpa sumbu menyala dalam jiwa
Menerangi jalan setapakmu ketika dunia terlelap dalam gelap
Berbahagialah, sesungguhnya engkau mampu berulang tahun setiap hari
(kuambil penggalan ucapan ini dari Filosofi Kopi-Dewi Lestari)
Kamu mungkin sudah hidup 3000 tahun lamanya. Bagimu masa depan tidak menjanjikan apa-apa, maka marilah bermimpi untuk masa depan. Munculkan imajinasi yang tak terbendung untuk menciptakan sebuah dunia seperti yang kamu inginkan. Aku berdoa untukmu, di hari ulang tahunmu ini. Semoga kamu bisa menjadi sesuatu untuk negeri ini (patutlah jika kita harus sadari bahwa negeri ini sudah terlalu hapal dengan kemiskinan). Kamu, kurasa bisa menjadi bagian kecil yang bermakna untuk negeri ini, semoga.
Selamat hari lahir, berapa pun umurmu hari ini.
Selasa, 04 Januari 2011
It Comes and It Goes

Aku sengaja menulis pesan ini untuk kalian berdua. Sebelumnya aku ucapkan terima kasih atas ketersediaannya membaca tulisan yang barangkali sedikit membosankan atau mungkin tak bermakna. Aku harap, semoga ada yang bermanfaat dan dapat membuka pemikiran kita.
Kalian tentu saja mengenalku dengan cara yang berbeda, dengan pandangan kalian masing-masing. Tapi pasti ada kesamaan dari kalian berdua terkait dengan persepsi tentang aku, kalian sama-sama memandang bahwa aku adalah orang yang keras kepala. Maafkan aku atas satu sifat yang melekat dalam pribadiku itu. Karena keras kepalaku, barangkali tanpa aku sadari aku menyakiti perasaan kalian. Aku tak pernah berencana untuk masuk dalam kehidupan kalian, aku anggap ini memang jalan cerita yang harus dilewati, dan melalui tulisan ini, aku ingin minta maaf sekaligus berterima kasih kepada kalian berdua atas pelajaran berharga yang telah dan sedang dilalui.
Barangkali tak cukup kata untuk mengungkapkan segala ingatan dan kenanganku tentang salah satu diantara kalian. Ini tentang kamu, laki-laki. Kamu adalah laki-laki pertama yang meruntuhkan kekesalanku terhadap laki-laki. Kamu datang disaat kehidupanku seperti jatuh, disaat aku begitu malu menghadapi kenyataan bahwa aku sendiri merasa dikhianati. Kamu banyak mengajariku bagaimana menghormati orang lain, bagaimana memegang prinsip dengan kuat dan lemah lembut dalam menyampaikan. Aku begitu mengagumimu. Bahkan meskipun kita dekat, aku belum mengenalmu sebelumnya, aku hanya tahu kamu sedikit saja. Dan untuk beberapa lama kita hanya berusaha untuk saling mengerti. Aku masih kekanakan dulu, dan mungkin begitu menyebalkan untukmu. Aku sangat tidak asyik dan aku tidak mudah mengungkap apa yang kurasakan, aku terlalu serius dan cengeng. Mungkin kau masih ingat betapa menyebalkannya aku. Maafkan aku atas sikapku dan terima kasih kau membantuku untuk menjadi lebih dewasa.
Kamu begitu simpel, cuek, namun penuh dengan perhatian. Aku tidak pernah memikirkan seberapa besar sayangmu padaku karena itu hakmu. Yang jelas, kamu banyak membawa kebaikan dalam hidupku. Aku menjadi orang yang begitu kompetitif, sejak aku mengenalmu aku mengagumimu. Kamu belajar bukan untuk peringkat tapi karena kamu mencintai ilmu itu sendiri. Dan hal itu mempengaruhiku sampai ketika aku menuliskan hal ini untukmu dan untuk kalian. Aku banyak termotivasi darimu, meskipun kadang aku juga kesal padamu. Kamu ingat saat kamu membantuku belajar Bahasa Inggris berhari-hari ketika aku mempersiapkan olimpiade tingkat provinsi waktu aku kelas 3 SMA? Hingga aku bisa sampai di tingkat nasional? Dan setelah itu aku jatuh dari motor kemudian kamu rela meluangkan waktumu untuk antar jemput aku ke sekolah? Sejujurnya dan seharusnya tidak ada alasan untuk menyakiti dan mengecewakanmu, kamu begitu baik.
Aku terbiasa bersamamu saat itu. Banyak impian yang kita ciptakan bersama, membaca buku-buku yang sama, mendengar lagu-lagu yang sama, menyukai warna yang sama, dan menikmati kesempatan. Begitu banyak tentangmu, hingga aku tak tahu bagaimana cara menghapusnya satu persatu. Mungkin, jika kau tanyakan padaku seberapa banyak aku mengingatmu, aku jawab terlalu banyak hingga aku tak sadar bahwa aku pun sampai membandingkan orang lain denganmu.
---------------------------------
Dan kamu, perempuan yang begitu baik, aku ucapkan terima kasih atas perkenalan kita. Atas waktu-waktu yang kamu sempatkan demi menanyakan bagaimana kabarku. Maafkan aku jika terlalu keras bersikap padamu. Aku hanya tidak ingin kamu semakin sakit dan menjadi orang yang mudah mengeluh. Aku menyayangimu sebagai saudaraku sesama perempuan. Tulisan ini bukan untuk pembenaran sikapku, tapi hanya sejauh ini yang bisa aku lakukan. Maafkan jika aku egois membuat keputusan ini, aku hanya tidak ingin energiku terkuras lebih banyak untuk memikirkan semua ini. Kamu sudah tahu, bagaimana aku memutuskan untuk berpisah, mungkin aku telah menyakitinya, sahabatmu itu. Dan di setiap doaku, aku memohon agar kita semua bisa mendapatkan proses yang terbaik. Aku pikir, kita tidak perlu repot dengan persoalan yang pernah kita hadapi.
Kamu pun banyak memberikan banyak kebaikan dalam perjalanan hidupku. Terima kasih telah membuatnya tersenyum. Terima kasih untuk apresiasi perasaanmu terhadapnya. Aku tidak berpikir untuk merebutnya darimu, bahkan aku bahagia mengetahui bahwa dia pun menyayangimu, seorang perempuan yang ayu dan lemah lembut. Selama ini aku tidak menyadari bahwa sikapku menyakiti dan mengecewakanmu. Maafkan aku. Kamu adalah perempuan yang tegar dan kuat, janganlah menjadi perempuan yang cengeng, tunjukkan bahwa meskipun dalam kondisi terlemah kita tetap kuat. Mari sama-sama belajar untuk tidak menyalahkan siapa-siapa jika kenyataan tidak sesuai rencana. Ini bukan untukmu saja, tapi untuk kita. Aku pun harus belajar ikhlas dengan jalan ini.
Terima kasih telah bersedia mengunjungi tempat tinggalku , begitulah adanya aku yang kamu lihat. Aku tidak selembut kamu, aku keras kepala. Bahkan ketika berbicara aku pun begitu keras. Aku bukan orang baik, aku hanya berusaha untuk menjadi baik. Maafkan aku atas sikapku selama ini. Aku salut padamu untuk penerimaan yang lapang atas kehadiranku dalam hidupmu. Aku yakin Allah punya rencana yang lebih baik. Wallahu A’lam.
-------------------------------------
Untuk kalian berdua, entah apa yang kalian pikirkan saat ini. Barangkali ketika kalian membacanya, rasa kesal kalian bertambah. Tapi kupikir aku harus membuat keputusan ini, karena kita semua harus bahagia. Aku pernah bilang: Suatu saat jika kita sudah lulus kuliah, kita bicarakan semua ini. Saat itu aku lapang menerima bahwa ada seorang kekasih dan aku bukan siapa-siapa. Aku hanya menikmati perjalanan. Dengan salah satunya pun aku bilang: biarkan kita menjadi diri kita sendiri, jangan dikekang, karena cinta itu membebaskan bukan mengikat. Tapi nampaknya sekarang berbeda, kita masing-masing terlalu egois dengan tendensi kita. Kondisi ini menyebabkan kita menjadi manusia yang lemah, tidak tegas, bahkan kita masing-masing menjadi pengecut yang tidak mampu mengakui kesalahan. Padahal sepertinya yang kita perlukan hanyalah kejujuran tentang kenyataan. Kemudian seharusnya kita sampaikan, karena diam tidak menyelesaikan masalah, yang ada hanyalah menumpuk kebencian. Sayangnya, kita tidak pernah jujur.
Untuk kalian berdua, setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Demikian pun aku, maaf atas ketidakjujuranku dan keegoisanku. Aku pikir dengan bersaing mendapatkannya kembali, aku akan menjadi pemenang. Tapi itu salah, aku hanya akan menjadi pecundang yang tersenyum diatas rasa sakit orang lain. Aku memang salah, tapi bagiku kesalahan itulah sarana untuk belajar.
Inilah satu-satunya hal yang bisa aku lakukan setelah kepercayaan itu mungkin makin memudar. Kalian bilang: Kalian tidak tahu harus percaya pada siapa. Aku sedih, karena aku ternyata begitu lemah dan untuk memupuk sebuah kepercayaan saja aku gagal. Membuat tulisan ini untuk kalian berdua, bagiku adalah jalan untuk tidak terus tenggelam dalam persoalan ini.
Saat menuliskan hal ini, bahkan saat kamu menyambangi tempat tinggalku, aku sudah tidak peduli apakah kamu, salah satu atau diantara kalian berdua benar-benar tulus datang karena rasa sayang. Tapi bolehkah aku ungkapkan kekecewaanku?
Kamu, sekuat perasaan dan logika setelah aku berpisah denganmu, aku yakinkan diriku bahwa suatu saat aku akan bertemu dengan laki-laki yang menghormatiku dan bisa menerimaku. Meskipun harus berusaha keras untuk tidak membandingkannya denganmu. Namun ketika kamu datang lagi, semua yang aku bangun seakan runtuh. Dan aku kecewa atas ketidaktegasanmu menghadapi semua ini. Apa kamu bangga dengan sikapmu? Merasa menyayangi dan disayangi, tapi secara tidak sadar kamu sedang menghancurkan perasaan? Tegaslah! Meski itu akan mencurahkan banyak air mata tapi yakin setelah itu rasa sakit bisa semakin cepat terobati.
Dan kamu, saudaraku perempuan, aku pun telah meyakinkan diriku, aku yakin bahwa kamu ternyata lebih membutuhkannya daripada aku. Aku tahu itu dari sikapmu (meskipun aku keras, aku masih perempuan). Aku telah sampaikan, silahkan kamu lakukan yang terbaik, cinta itu akan datang jika kita meraihnya tanpa obsesi. Tapi ketika kita mengejar cinta dengan pamrih untuk memenuhi obsesi, percayalah meskipun dekat, cinta itu akan lari. Setiap kali kita berkomunikasi seakan kau pun telah kuat untuk menerima semuanya. Tapi lagi-lagi, kenapa kau libatkan aku dalam perasaanmu? Tidak cukupkah waktu 3 bulan aku menghilang dan tidak mau membicarakannya? Aku kecewa, karena setiap kali aku meyakinkanmu bahwa hidup ini harus terus berjalan, dengan atau pun tanpanya, justru aku yang menjadi tersangka dan seolah-olah paling bersalah di mata kalian berdua.
Maafkan aku, aku tidak sedang melakukan pembenaran, aku hanya yakin bahwa masing-masing dari kita harus bahagia. Banyak hal yang yang harus dicapai, lalu kenapa masih membelitkan diri pada persoalan ini? Saat tulisan ini (mungkin) kalian baca, aku telah memutuskan untuk pergi dari kehidupan kalian. Aku tidak peduli apakah kalian sedang menjalin hubungan atau tidak, yang jelas aku ingin bahagia. Aku tidak mau terlibat. Mungkin ini egois, tapi bagiku jauh lebih baik daripada tidak bersikap. Jika sewaktu-waktu aku bertemu dengan kalian, aku adalah diriku, bukan bentukan atau pun tuntutan sikap dari kalian.
Kamu, aku berdoa untuk kebaikanmu, semoga impianmu untuk bisa mengabdikan diri bagi masyarakat bisa tercapai. Barangkali suatu saat kita bisa bekerkjasama untuk sesuatu yang lebih bermaslahat. Siapa sangka? Karena manusia hanya bisa berencana.
Dan kamu, aku pun berdoa semoga kebaikan-kebaikan selalu menyertaimu. Semoga kamu bisa mendapatkan apa yang kamu impikan dan mandiri sesuai tujuanmu.
Kita harus sukses, harus bisa memberi manfaat bagi sesama maupun semesta. Aku memutuskan semua ini karena aku yakin Allah yang mempunyai rencana terbaik. Kita ikuti saja skenario sang Khalik agar kita bisa ikhlas. Setelah ini, aku fokus pada tujuan hidupku untuk mengabdi. Aku tahu, akan ada masa dimana aku tidak bisa menolak bahwa rencana Allah lah yang akan terwujud. Tapi ini adalah pilihan yang harus aku tentukan. Inilah perjalanan, dan aku tidak pernah menyesal dengan perjalanan. Aku menyesal karena selama ini kita terlalu picik dan munafik dengan apa yang kita pikirkan dan kita rasakan.
TERIMA KASIH DAN MAAF, aku yang akan mengalah dan pergi dari kehidupan kalian.
Kota Hujan, 12 November 2010
20:58
Senin, 03 Januari 2011
Thank You for Ever Hurting Me, I Learn a Lot
Dini hari 01.57 wib
2 januari 2010
“Jika kenyataan berjalan tidak sesuai dengan yang kita harapkan, maka belajarlah untuk tidak menyalahkan apapun dan siapapun.”
Sederet kalimat itu seperti menjadi salah satu pijakan langkah yang kutentukan. Gagal bukan berarti akhir, tapi tidak semerta-merta diartikan bahwa kegagalan adalah awal dari kesuksesan. Kita bisa belajar dari banyak hal, dari banyak sumber, dan setiap waktu. Termasuk belajar dari kegagalan, dari rasa sakit dan penderitaan, serta belajar bagaimana meraih kesuksesan ditengah-tengah rasa yang oleh kebanyakan orang diratapi.
“Thank you for ever hurting me, i learn a lot...”
Seorang sahabat mengupdate statusnya di facebook kurang lebih sembilan menit yang lalu. Terima kasih pernah menyakitiku, aku belajar banyak. Seketika saya tertarik untuk sedikit mengulasnya disela rasa jenuh mengerjakan studi pustaka untuk syarat penelitian di program studi yang saya ambil. Saya tidak tahu dari mana rasa sakit itu bersumber dan bagaimana prosesnya, yang jelas penggalan status itu membuat saya berpikir bahwa kehidupan itu tidak menjanjikan kepastian. Sesuatu yang kadang sudah dibangun dengan susah payah, penuh dengan perjuangan, dan mengorbankan banyak hal seketika bisa runtuh begitu saja. Itulah ketidakpastian. Kemudian kekecewaan muncul dan mendera perasaan, dunia seakan runtuh dan menimpa diri yang sedang ditimpa kesusahan. Heart break!
Menjadi bijak untuk menyikapi kondisi yang tidak pasti adalah sebuah pilihan, termasuk untuk menjadikan rasa sakit sebagai sebuah pelajaran berharga. Dengan sakit, berarti kita belajar untuk menghargai kebahagiaan, belajar untuk mensyukuri kenikmatan senang.
Thank you
Terima kasih, thank you, adalah sebuah ungkapan syukur yang seringkali menjadi hal sangat berharga. Ketika sakit mendera, ungkapan itu juga bisa ikut terkubur dan samar hingga tak diucapkan lagi. Padahal dengan mengucapkan terima kasih, kita bisa membuka satu pintu kelegaan untuk ikhlas menerima kondisi yang ada, baik yang sedang maupun yang telah terjadi.
For ever hurting me
Bagi saya ini adalah kata-kata yang sulit untuk diucapkan. Serupa serapah apabila tidak divokalkan dengan intonasi yang baik. Pada dasarnya yang menjadikan kita merasa bahagia, rindu, sakit, sedih, kecewa, atau perasaan lainnya adalah interaksi yang selama ini terbentuk dalam kehidupan. Melukai dan menyakiti seseorang juga kerap kali terjadi baik secara sengaja maupun tidak. Hanya saja, yang perlu diingat adalah setiap orang –sekuat apapun- pasti dia pernah sakit hati, pernah menyakiti dan merasa disakiti. Jadi, dunia tidak akan runtuh dia atas tubuh kita ketika rasa sakit itu menimpa. Manusia adalah ciptaan yang memiliki kekuatan untuk melawan keadaan.
Learn a lot
Andreas Harefa memberikan sebuah qoute yang bisa menginspirasi banyak orang, bahwa dewasa adalah growing up not growing older. Menjadi dewasa adalah sebuah ihwal yang juga merupakan pilihan. Untuk bisa belajar dari rasa sakit, belajar dari kegagalan, bersikap dan berpikir dewasa itu menjadi penting. Masalah memang perlu dihadapi sesuai porsinya, namun ketika kita bisa bersikap dan berpikir dewasa (growing up) maka permasalahan itu bisa dihadapi dengan adil. Menjadi dewasa adalah sebuah keniscayaan untuk belajar. Belajar lebih banyak untuk membuat manusia bisa memanusiakan dirinya sendiri. Sebab akal bercokol dalam diri manusia maka kita bisa menentukan cara untuk bersikap, menghadapi masalah dan rasa sakit sebagai sebuah pembelajaran.
Mari belajar untuk memetik hikmah dari setiap peristiwa. Tidak ada satu pun situasi yang tercipta tanpa solusi. Manusia adalah makhluk unggul, ketika kita bisa memanusiakan keunggulan kita maka semoga kita sedang belajar. Karena belajar adalah proses, hasil dari belajar adalah bonus.
2 januari 2010
“Jika kenyataan berjalan tidak sesuai dengan yang kita harapkan, maka belajarlah untuk tidak menyalahkan apapun dan siapapun.”
Sederet kalimat itu seperti menjadi salah satu pijakan langkah yang kutentukan. Gagal bukan berarti akhir, tapi tidak semerta-merta diartikan bahwa kegagalan adalah awal dari kesuksesan. Kita bisa belajar dari banyak hal, dari banyak sumber, dan setiap waktu. Termasuk belajar dari kegagalan, dari rasa sakit dan penderitaan, serta belajar bagaimana meraih kesuksesan ditengah-tengah rasa yang oleh kebanyakan orang diratapi.
“Thank you for ever hurting me, i learn a lot...”
Seorang sahabat mengupdate statusnya di facebook kurang lebih sembilan menit yang lalu. Terima kasih pernah menyakitiku, aku belajar banyak. Seketika saya tertarik untuk sedikit mengulasnya disela rasa jenuh mengerjakan studi pustaka untuk syarat penelitian di program studi yang saya ambil. Saya tidak tahu dari mana rasa sakit itu bersumber dan bagaimana prosesnya, yang jelas penggalan status itu membuat saya berpikir bahwa kehidupan itu tidak menjanjikan kepastian. Sesuatu yang kadang sudah dibangun dengan susah payah, penuh dengan perjuangan, dan mengorbankan banyak hal seketika bisa runtuh begitu saja. Itulah ketidakpastian. Kemudian kekecewaan muncul dan mendera perasaan, dunia seakan runtuh dan menimpa diri yang sedang ditimpa kesusahan. Heart break!
Menjadi bijak untuk menyikapi kondisi yang tidak pasti adalah sebuah pilihan, termasuk untuk menjadikan rasa sakit sebagai sebuah pelajaran berharga. Dengan sakit, berarti kita belajar untuk menghargai kebahagiaan, belajar untuk mensyukuri kenikmatan senang.
Thank you
Terima kasih, thank you, adalah sebuah ungkapan syukur yang seringkali menjadi hal sangat berharga. Ketika sakit mendera, ungkapan itu juga bisa ikut terkubur dan samar hingga tak diucapkan lagi. Padahal dengan mengucapkan terima kasih, kita bisa membuka satu pintu kelegaan untuk ikhlas menerima kondisi yang ada, baik yang sedang maupun yang telah terjadi.
For ever hurting me
Bagi saya ini adalah kata-kata yang sulit untuk diucapkan. Serupa serapah apabila tidak divokalkan dengan intonasi yang baik. Pada dasarnya yang menjadikan kita merasa bahagia, rindu, sakit, sedih, kecewa, atau perasaan lainnya adalah interaksi yang selama ini terbentuk dalam kehidupan. Melukai dan menyakiti seseorang juga kerap kali terjadi baik secara sengaja maupun tidak. Hanya saja, yang perlu diingat adalah setiap orang –sekuat apapun- pasti dia pernah sakit hati, pernah menyakiti dan merasa disakiti. Jadi, dunia tidak akan runtuh dia atas tubuh kita ketika rasa sakit itu menimpa. Manusia adalah ciptaan yang memiliki kekuatan untuk melawan keadaan.
Learn a lot
Andreas Harefa memberikan sebuah qoute yang bisa menginspirasi banyak orang, bahwa dewasa adalah growing up not growing older. Menjadi dewasa adalah sebuah ihwal yang juga merupakan pilihan. Untuk bisa belajar dari rasa sakit, belajar dari kegagalan, bersikap dan berpikir dewasa itu menjadi penting. Masalah memang perlu dihadapi sesuai porsinya, namun ketika kita bisa bersikap dan berpikir dewasa (growing up) maka permasalahan itu bisa dihadapi dengan adil. Menjadi dewasa adalah sebuah keniscayaan untuk belajar. Belajar lebih banyak untuk membuat manusia bisa memanusiakan dirinya sendiri. Sebab akal bercokol dalam diri manusia maka kita bisa menentukan cara untuk bersikap, menghadapi masalah dan rasa sakit sebagai sebuah pembelajaran.
Mari belajar untuk memetik hikmah dari setiap peristiwa. Tidak ada satu pun situasi yang tercipta tanpa solusi. Manusia adalah makhluk unggul, ketika kita bisa memanusiakan keunggulan kita maka semoga kita sedang belajar. Karena belajar adalah proses, hasil dari belajar adalah bonus.
Jumat, 31 Desember 2010
HAPPY NEW YEAR 2011
Penghujung tahun adalah momentum spesial yang berusaha diciptakan oleh banyak orang - dengan caranya masing-masing. Sebenarnya setiap hari adalah sama, hanya namanya saja yang dibeda-bedakan. Barangkali untuk memudahkan manusia memilah dan mengatur jadwal. Senin-Minggu adalah hapalan nama hari yang bahkan semenjak kita kanak-kanak telah dijejalkan ke otak. Istilah weekend, I hate Monday, atau Friday is freeday adalah kesimpulan manusia yang disebabkan bertumpuknya aktivitas dalam hidupnya. Tapi tahun baru -1 Januari- seems different, ada yang istimewa di waktu ini. Tidak peduli jatuh di hari apa pun, yang muncul adalah kesukacitaan yang secara sengaja dibuat. New Year.
Berbagai ucapan selamat tahun baru dari sahabat-sahabatku baik melalui sms, facebook, atau pun face to face terasa begitu melegakan. Semuanya bernada positif dan penuh semangat. Andai setiap hari adalah tahun baru, maka dunia ini akan penuh dengan manusia yang optimis dan bahagia. Banyak orang membuat resolusi di penghujung tahun dan berusaha mewujudkannya di tahun berikutnya. Resolusi seperti sebuah keniscayaan. Target dilist sedemikian rupa, menampakkan euforia tahun yang baru.
Setiap hari adalah hari yang baik, dan beruntunglah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin
Kesukacitaan dalam menyambut tahun baru baiknya menjadi perenungan, capaian apa yang telah kita raih dari resolusi tahun sebelumnya? Apakah capaian itu memberikan manfaat bagi banyak orang termasuk alam sekitar? Tolak ukur apa yang dijadikan indikator keberhasilan capaian? Hal itu menjadi penting supaya resolusi yang dibuat selanjutnya bisa lebih mengarah kepada kebaikan dan manfaat.
Catatan ini adalah sekelumit tentang tahun baru, tentang hari baru yang menjadi salah satu bagian instrumen kebahagiaan untuk mayoritas manusia. Makna tahun baru sendiri berbeda masing-masing individu, tapi seperti semangat yang tersulut, tahun baru adalah membuka pintu untuk hadirnya pengalaman dan pembelajaran yang terus menerus.
HAPPY NEW YEAR!!!
Berbagai ucapan selamat tahun baru dari sahabat-sahabatku baik melalui sms, facebook, atau pun face to face terasa begitu melegakan. Semuanya bernada positif dan penuh semangat. Andai setiap hari adalah tahun baru, maka dunia ini akan penuh dengan manusia yang optimis dan bahagia. Banyak orang membuat resolusi di penghujung tahun dan berusaha mewujudkannya di tahun berikutnya. Resolusi seperti sebuah keniscayaan. Target dilist sedemikian rupa, menampakkan euforia tahun yang baru.
Setiap hari adalah hari yang baik, dan beruntunglah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin
Kesukacitaan dalam menyambut tahun baru baiknya menjadi perenungan, capaian apa yang telah kita raih dari resolusi tahun sebelumnya? Apakah capaian itu memberikan manfaat bagi banyak orang termasuk alam sekitar? Tolak ukur apa yang dijadikan indikator keberhasilan capaian? Hal itu menjadi penting supaya resolusi yang dibuat selanjutnya bisa lebih mengarah kepada kebaikan dan manfaat.
Catatan ini adalah sekelumit tentang tahun baru, tentang hari baru yang menjadi salah satu bagian instrumen kebahagiaan untuk mayoritas manusia. Makna tahun baru sendiri berbeda masing-masing individu, tapi seperti semangat yang tersulut, tahun baru adalah membuka pintu untuk hadirnya pengalaman dan pembelajaran yang terus menerus.
HAPPY NEW YEAR!!!
Minggu, 12 Desember 2010
Rabu, 01 Desember 2010
Desember
Sorry, i don't have enough words to say about that.
You have said to me:" If you want, please come to me. If not, just go away!
After all, i think we need more time for relax. I don't have more that you want, and maybe, means nothing for you.
Please look at your self to, yes, i have mistakes but i'm not the one. You're too!
I'm sorry, i will go away from you, as what you want. Thank you for the love and everything that have been done for me.
Sama sekali tidak menduga kalau 1 Desember ini aku mengirimkan pesan itu untukmu, D. Maafkan aku, entah kenapa aku begitu lelah meneruskan skenario ini. Biarkan aku menjadi diriku sendiri yangtidak terkekang aturanmu, tidak terkekang cinta atas namamu, D. Kita punya cara yang berbeda, jangan paksa aku untuk mengikuti caramu. Jangan biarkan diri kita menjadi pengecut. D, jika waktu memang memiliki andil, maka tak sedikit dari hidupku yang mampu kau warnai. Kau istimewa, tapi aku tak bisa meneruskannya. Karena kita memiliki cara yang berbeda. Bukan karena cinta harus sama, tapi aku tak rela baik kau maupun aku menguras tenaga lebih banyak lagi hanya untuk bisa saling mengerti.
You have said to me:" If you want, please come to me. If not, just go away!
After all, i think we need more time for relax. I don't have more that you want, and maybe, means nothing for you.
Please look at your self to, yes, i have mistakes but i'm not the one. You're too!
I'm sorry, i will go away from you, as what you want. Thank you for the love and everything that have been done for me.
Sama sekali tidak menduga kalau 1 Desember ini aku mengirimkan pesan itu untukmu, D. Maafkan aku, entah kenapa aku begitu lelah meneruskan skenario ini. Biarkan aku menjadi diriku sendiri yangtidak terkekang aturanmu, tidak terkekang cinta atas namamu, D. Kita punya cara yang berbeda, jangan paksa aku untuk mengikuti caramu. Jangan biarkan diri kita menjadi pengecut. D, jika waktu memang memiliki andil, maka tak sedikit dari hidupku yang mampu kau warnai. Kau istimewa, tapi aku tak bisa meneruskannya. Karena kita memiliki cara yang berbeda. Bukan karena cinta harus sama, tapi aku tak rela baik kau maupun aku menguras tenaga lebih banyak lagi hanya untuk bisa saling mengerti.
Selasa, 23 November 2010
???
Ini seperti remah-remah busuk
Bertahan di lautan beton
Bacin!
Ini seperti layu-layu basah
Kerap tak terjamah karena sampah
Bukankah waktu yang menebarkan aromanya?
Rasa, menuai makna sepihak penuh sesak
Dan gigi gertak menahan amarah yang ditimpa lara
Ini memang busuk, basah, dan sampah
Tapi hanya sepihak
Bogor, Oktober 2010
Bertahan di lautan beton
Bacin!
Ini seperti layu-layu basah
Kerap tak terjamah karena sampah
Bukankah waktu yang menebarkan aromanya?
Rasa, menuai makna sepihak penuh sesak
Dan gigi gertak menahan amarah yang ditimpa lara
Ini memang busuk, basah, dan sampah
Tapi hanya sepihak
Bogor, Oktober 2010
Jumat, 19 November 2010
BAHAN PRAKTIKUM POLITIK SUMBERDAYA ALAM
Kamis, 18 November 2010
Kita Selamanya (Bondan Prakoso ft F2B)
Sejak SMA gw suka lagu-lagu mereka
hampir tiap hari,tiap pagi gw dengerin
terutama yang berjudul 'Hidup Berawal dari Mimpi'
Dan sampai sekarang, nggak pernah bosan
salah satunya lagu ini:
10. Bondan Prakoso & Fade2Black - Kita Selamanya.mp3
KITA SELAMANYA
eiyo… it’s not the end, it’s just beginning
titz:
ok… detak detik tirai mulai menutup panggung
tanda skenario… eyo… baru harus diusung
lembaran kertas barupun terbuka
tinggalkan yang lama, biarkan sang pena berlaga
kita pernah sebut itu kenangan tempo dulu
pernah juga hilang atau takkan pernah berlalu
masa jaya putih biru atau abu-abu (hey)
memori crita cinta aku, dia dan kamu
santoz:
saat dia (dia) dia masuki alam pikiran
ilmu bumi dan sekitarnya jadi kudapan
cinta masa sekolah yang pernah terjadi
dat was the moment a part of sweet memory
kita membumi, melangkah berdua
kita ciptakan hangat sebuah cerita
mulai dewasa, cemburu dan bungah
finally now, its our time to make a history
reff:
bergegaslah, kawan… tuk sambut masa depan
tetap berpegang tangan, saling berpelukan
berikan senyuman tuk sebuah perpisahan!
kenanglah sahabat… kita untuk slamanya!
satu alasan kenapa kau kurekam dalam memori
satu cerita teringat didalam hati
karena kau berharga dalam hidupku, teman
untuk satu pijakan menuju masa depan
lezz:
saat duka bersama, tawa bersama
berpacu dalam prestasi… (huh) hal yang biasa
satu persatu memori terekam
didalam api semangat yang tak mudah padam
kuyakin kau pasti sama dengan diriku
pernah berharap agar waktu ini tak berlalu
kawan… kau tahu, kawan… kau tahu kan?
beri pupuk terbaik untuk bunga yang kau simpan
back to reff:
bridge:
bergegaslah, kawan… tuk sambut masa depan
tetap berpegang tangan dan saling berpelukan
berikan senyuman tuk sebuah perpisahan!
kenanglah sahabat…
back to reff:
hampir tiap hari,tiap pagi gw dengerin
terutama yang berjudul 'Hidup Berawal dari Mimpi'
Dan sampai sekarang, nggak pernah bosan
salah satunya lagu ini:
10. Bondan Prakoso & Fade2Black - Kita Selamanya.mp3
KITA SELAMANYA
eiyo… it’s not the end, it’s just beginning
titz:
ok… detak detik tirai mulai menutup panggung
tanda skenario… eyo… baru harus diusung
lembaran kertas barupun terbuka
tinggalkan yang lama, biarkan sang pena berlaga
kita pernah sebut itu kenangan tempo dulu
pernah juga hilang atau takkan pernah berlalu
masa jaya putih biru atau abu-abu (hey)
memori crita cinta aku, dia dan kamu
santoz:
saat dia (dia) dia masuki alam pikiran
ilmu bumi dan sekitarnya jadi kudapan
cinta masa sekolah yang pernah terjadi
dat was the moment a part of sweet memory
kita membumi, melangkah berdua
kita ciptakan hangat sebuah cerita
mulai dewasa, cemburu dan bungah
finally now, its our time to make a history
reff:
bergegaslah, kawan… tuk sambut masa depan
tetap berpegang tangan, saling berpelukan
berikan senyuman tuk sebuah perpisahan!
kenanglah sahabat… kita untuk slamanya!
satu alasan kenapa kau kurekam dalam memori
satu cerita teringat didalam hati
karena kau berharga dalam hidupku, teman
untuk satu pijakan menuju masa depan
lezz:
saat duka bersama, tawa bersama
berpacu dalam prestasi… (huh) hal yang biasa
satu persatu memori terekam
didalam api semangat yang tak mudah padam
kuyakin kau pasti sama dengan diriku
pernah berharap agar waktu ini tak berlalu
kawan… kau tahu, kawan… kau tahu kan?
beri pupuk terbaik untuk bunga yang kau simpan
back to reff:
bridge:
bergegaslah, kawan… tuk sambut masa depan
tetap berpegang tangan dan saling berpelukan
berikan senyuman tuk sebuah perpisahan!
kenanglah sahabat…
back to reff:
Minggu, 07 November 2010
Saudaraku, di Lereng Merapi
Ya Allah, untuk saudara-saudaraku disana, di lereng Merapi
Aku minta maaf tidak bisa memberikan kontribusi apa pun
Hanya iringan doa yang bisa kuhaturkan padaMu
Terserah padaMu, Engkau Yang Maha Mengatur segala kejadian
Engkau yang menentukan setiap kehidupan
Ya Allah, bukankah janjiMu nyata?
Setelah ada kesusahan akan ada kebahagiaan
Semoga Ya Allah, Tuhanku
Aku miris dan tersayat melihat wajah-wajah itu, wajah yang tersaput abu vulkanik
Bulu romaku tegak tatkala tangisan pilu seorang anak yang kehilangan ayahnya pecah
Kau sedang menguji hambaMu, wahai Rabbi?
Jika ini adalah ujian, maka naikkan derajat mereka yang begitu tabah menerima cobaanMu
Jika ini azab, ampuni dosa dan kesalahan kami
Jadikan kami manusia yang mampu belajar dari setiap kejadian
Belajar dari kemarahan alam
Belajar dari ujian-ujianMu
Aku minta maaf tidak bisa memberikan kontribusi apa pun
Hanya iringan doa yang bisa kuhaturkan padaMu
Terserah padaMu, Engkau Yang Maha Mengatur segala kejadian
Engkau yang menentukan setiap kehidupan
Ya Allah, bukankah janjiMu nyata?
Setelah ada kesusahan akan ada kebahagiaan
Semoga Ya Allah, Tuhanku
Aku miris dan tersayat melihat wajah-wajah itu, wajah yang tersaput abu vulkanik
Bulu romaku tegak tatkala tangisan pilu seorang anak yang kehilangan ayahnya pecah
Kau sedang menguji hambaMu, wahai Rabbi?
Jika ini adalah ujian, maka naikkan derajat mereka yang begitu tabah menerima cobaanMu
Jika ini azab, ampuni dosa dan kesalahan kami
Jadikan kami manusia yang mampu belajar dari setiap kejadian
Belajar dari kemarahan alam
Belajar dari ujian-ujianMu
Minggu, 31 Oktober 2010
Invisible Moment
Kamu begitu melankolis malam ini, namun justru di saat-saat seperti inilah kamu menjadi jujur dan nampak romantis. Biasanya kau begitu angkuh seakan semuanya bisa kau selesaikan sendiri. Tiba-tiba aku tersadar, ternyata bukan hanya kau yang sedang terbawa situasi ini. Entah karena apa, kita seperti sengaja mengenang masa lalu dan melepaskan rasa rindu setelah beberapa waktu tak bertemu. Aku merindukanmu, tapi aku ingin mengatakan padamu bahwa aku sedang merindukan kekasihku. Seorang yang bagiku adalah salah satu sahabat terbaik. Sama sepertimu, hanya saja cara kalian menunjukkan ketulusan dan perhatian berbeda. Kau membentakku dan marah-marah sesukamu, kau bilang aku belum dewasa. Namun sikapmu membuatku jatuh hati, dan –perlu kamu tahu- aku masih ingat detail bagaimana kita berkenalan. Itu lucu dan menggelikan. Barangkali jika dianalogikan sebagai FTV, kita adalah pemeran utama yang akan berjodoh di akhir cerita.
Itu kau dengan sikapmu, dengan ketulusan yang berbeda. Kekasihku, kau tahu? Dia pun bagiku adalah sahabat yang begitu tulus membagi kebahagiaan hidupnya. Dia yang rela menungguku berjam-jam jika aku pulang malam, dia rela kesampingkan egonya demi terkembangnya senyumku. Dia yang tulus dengan kelembutan hatinya, dan aku luluh dengan senyum hangatnya. Kemarin semua berjalan sesuai harapan, namun tentang sekarang adalah jalan cerita yang berbeda. Aku sedang sangat bersedih dan menyayangkan perpisahan. Kekasihku memilih untuk menapaki waktu sendiri, tanpa aku. Jika boleh jujur, aku masih merindukannya, kau perlu tahu bahwa aku masih merindunya. Rindu ini menyakitkan dan menyesakkan. Kupikir salah satu hal terburuk yang harus dihadapai adalah ketika kau dengan kekasihmu saling mencintai tapi kalian sama-sama pusing mencari waktu yang tepat untuk mengucap kata “maaf kita harus berpisah”.
Kucari celah disela-sela kerinduanku pada ‘kekasih’-ku. Ternyata namamu tak pernah tersisih, tetap ada dalam segala rupa. Dan hari ini kau tampak manis dengan apa adanya. Berapa lama kita tak bersua? Tak lama… tapi memelukmu sejenak seperti meruntuhkan gerbang penantian. Aku ingin memelukmu lebih lama, merasakan degup jantungmu dan memastikan bahwa kau sungguh membebaskanku dengan cintamu. Kau juga harus tahu: aku masih menyimpan selembar janjimu di bawah bantal mimpiku.
-------------------------
Maafkan jika aku belum mampu mendefinisikan fungsi cinta seperti yang kau harapkan. Aku tak bisa membuat turunan-turunan dari variabel cinta yang kau utarakan. Bagiku, cinta itu refleks, cinta adalah hakikat yang maknanya pun menjadi kompleks. Kau mau realita? Sayangnya cinta kadang di luar nalar kita. Sepandai apapun kau usahakan agar aku mampu mendeskripsikan fungsi cinta antara aku dan kekasihku, mohon maaf aku tetap masih belum mampu. Dan, aku lebih tertarik untuk mencari hasil dari rumus yang kau beri, tentang kita, dalam arti sebenarnya.
Aku masih merapal dengan doa yang sama, untukmu, untuk kita: Tuhan, izinkan aku untuk terus menemaninya dalam ada maupun tiada. Izinkan aku untuk menjadi kebaikannya di dunia maupun akhirat. Aku percaya Tuhan, bahwa Engkau hadir dengan banyak cara, dan hubungan manusia dengan-Mu tidak terbatas pada perkara pahala dan dosa. Tuhan, sempurnakan ikhtiarku untuk mencintainya atas dasar kecintaan kepada-Mu.
Masing-masing dari kita membawa beban di pundak, entah beban yang seperti apa. Tak kasat mata namun tertera. Kita sedang menempa perasaan untuk bisa menguatkan hati tentang peristiwa masa lalu yang sesekali mengusik nurani. Adakah manusia yang tidak memiliki masa lalu? Tidak ada, karena manusia tercipta dari sejarah. Termasuk kita dengan semua masa lalu kita, tapi bukankah menjadi bijak ketika kita bisa mengolahnya sebagai informasi untuk menata masa depan kita?
Aku begitu rindu memanggilmu dengan panggilan sayang meski kau bukan kekasihku.
Sayang, jangan minta aku untuk mencintai orang lain. Itu adalah hal berat yang aku sendiri tidak memiliki sejarah untuk bisa mengulanginya. Aku tidak punya pelajaran tentang itu. Aku ingin mencintaimu dengan setia. Benar katamu, kehilangan adalah hal yang manusiawi asalkan yang hilang bukan mimpi dan harapan. Benar katamu, bahwa kita tidak boleh terjebak dengan hal-hal yang bersifat keduniaan karena itu nisbi, namun sunggguh aku tidak terobsesi denganmu karena duniamu. Aku mencintaimu dalam aras nurani yang tidak mampu kubohongi. Izinkan aku untuk tetap memiliki mimpi dan harapan kita supaya aku yakin bahwa aku mencintamu karena cinta-Nya.
”Aku bukan orang baik” katamu.
Sayang, bahkan aku pun bukan orang baik. Aku hanya berusaha menjadi orang baik, tapi bagiku, kebaikan bukanlah terletak pada diri kita. Kebaikan menjadi nyata ketika orang lain merasakannya. Dan, orang di sekitarmu merasakan pancaran kebaikan dari dirimu. Laksana iman yang nyata pula dengan amal perbuatan, begitulah kebaikan. Maka, kumohon, izinkan pula diri ini untuk merasakan kebaikan itu supaya aku bisa menjadi bagian untuk kebaikanmu. Ini adalah tentangmu, bukan tentang kekasihku.
”Tapi sudah terlalu banyak orang yang aku sakiti” kau masih saja murung.
Sayang, mereka telah memaafkanmu. Percayalah padaku, mereka telah berendah hati untuk mengabulkan permohonan maafmu yang tak pernah main-main. Kau tulus, aku percaya itu. Bahkan ketika keberanianmu berbatas kau pun masih dengan rasa yang sama, rasa untuk sebisa mungkin membahagiakan orang lain. Kamu tidak menyakiti, tapi kamu berbagi kedewasaan. Aku tidak sedang melakukan pembenaran karena alasan aku terlanjur mencintai dirimu. Tapi ini adalah pelajaran yang tak pernah disayangkan, hidup itu sekolah terbaik dan kau juga salah satu guru yang tak sengaja aku dapati di ruang semesta ini.
Seberapa bersalahnya diriku yang selalu menduakan rasa, berusaha mencinta dengan terpaksa. Demi melupakan memori yang menciptakan partikel-partikel sederhana yang kita sebut cinta. Kini ketika aku ditanya ”apa itu cinta” aku pun kewalahan untuk memikirkan dan menjawabnya. Cinta bukan aku, cinta bukan kamu, cinta bukan kita, cinta bukan apa atau siapa. Tapi cinta adalah tentang semuanya. Aku takut menafsirkannya terlalu sempit, karena tafsir bersifat subyektif. Dan detik ini, cinta yang aku pahami adalah sebentuk kerinduan kecil untukmu, meski kau bukan kekasihku.
-------------------------------------
Ini adalah pilihan untuk menjadi atau tidak menjadi, untuk berbagi dan memberi. Aku yakin bahwa pelan-pelan keihklasan itu akan muncul dan menjelma nyata dalam keseharian kita. Sekarang aku belajar untuk tidak meminta apa-apa. Aku ingin memberi semampuku: untukku, untukmu, untuk kita dan untuk semesta. Kamu harus bahagia karena setiap orang memiliki hak untuk memilikinya. Semoga suatu saat akan ada lencana kebanggaan yang akan kita bagi pada generasi masa depan. Kelak, akan kita sampaikan bahwa tidak ada yang salah untuk mencintai dan tidak ada yang salah untuk berbagi meskipun itu tak selalu nyata.
Aku berdoa, semoga malam ini akan jauh lebih panjang dari malam-malam sebelumnya. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagiku selain merasakan bahwa dirimu begitu dekat. Meski aku tahu, keinginan untuk selalu bersama itu semu. Aku hanya memintamu, sekarang nikmatilah waktu bersamaku agar esok, saat kau pulang, ada segenggam kenangan yang kau simpan dalam kantong dan ada ratusan jejak yang takkan kau lupakan: kita.
Kamis, 07 Oktober 2010
Sejumput Harap
Semoga ini adalah doa terbaik seorang ibu dan bisa mengantarkan pada Ridha-Nya.
Mari berusaha seikhlas-ikhlasnya karena itu adalah usaha yg tak tertandingi.
Aku percaya dan aku siap.
Allah tidak memberi situasi tanpa solusi.
Jaga dirimu, kesehatanmu..
aku-kamu-kita semua sedang berproses.
terima kasih pernah menjadi salah satu sahabat terbaikku, dan itu takkan pernah terganti.
Masing-masing dari kita pun sedang menanti dan meminta pada-Nya untuk esok yang lebih baik. Semoga!
Mari berusaha seikhlas-ikhlasnya karena itu adalah usaha yg tak tertandingi.
Aku percaya dan aku siap.
Allah tidak memberi situasi tanpa solusi.
Jaga dirimu, kesehatanmu..
aku-kamu-kita semua sedang berproses.
terima kasih pernah menjadi salah satu sahabat terbaikku, dan itu takkan pernah terganti.
Masing-masing dari kita pun sedang menanti dan meminta pada-Nya untuk esok yang lebih baik. Semoga!
Sabtu, 02 Oktober 2010
Mengapa Perempuan?
Salah satu hal yang menyulitkan adalah ketika harus berusaha menerima sesuatu yang tidak kita inginkan. Sama seperti saat ini, mau tidak mau harus ada keputusan yang diambil. Minimal "Jalani Sebaik-Baiknya". Ya, hanya itu saja.. Rasanya gw pengen banget ngehapus legenda Diah Pitaloka dan Prabu Hayam Wuruk. Oh God kenapa legenda itu menjadi stereotipe fanatik Laki-laki Sunda dan Perempuan Jawa untuk tidak berhubungan?
Rasanya seperti menanggung dosa nenek moyang yah generasi sekarang? tidakah ada cara bijak yang bisa meng-cut relasi tak jelas ini?
Rasionalitas gw nggak bisa jalan kal udah dihubungkandengan mitos dan legenda kayak gini. Sampai sejauh ini gw masih yakin untuk menjalani sebaik-baiknya. Toh yang Kun Fayakun cuma Allah, itu yang gw percaya. Dan meski gw berada di posisi yang bagi gw marginal, tapi gw yakin ini ujian. Hoho berasa serius aja yang dihadapi (gw udah mulai ngelantur. TAPI GW LAGI PENGEN BERONTAK DENGAN SILSILAH KERAJAAN SILIWANGI DAN KERAJAAN MAJAPAHIT. Dan kenapa harus perempuan yang dilarang? Bukan Laki-laki?!
Rasanya seperti menanggung dosa nenek moyang yah generasi sekarang? tidakah ada cara bijak yang bisa meng-cut relasi tak jelas ini?
Rasionalitas gw nggak bisa jalan kal udah dihubungkandengan mitos dan legenda kayak gini. Sampai sejauh ini gw masih yakin untuk menjalani sebaik-baiknya. Toh yang Kun Fayakun cuma Allah, itu yang gw percaya. Dan meski gw berada di posisi yang bagi gw marginal, tapi gw yakin ini ujian. Hoho berasa serius aja yang dihadapi (gw udah mulai ngelantur. TAPI GW LAGI PENGEN BERONTAK DENGAN SILSILAH KERAJAAN SILIWANGI DAN KERAJAAN MAJAPAHIT. Dan kenapa harus perempuan yang dilarang? Bukan Laki-laki?!
Sabtu, 28 Agustus 2010
Because the World is Flat
By social change we refer to whatever may happen in the course of time to the roles, the institutions, or the orders comprising a social structure, the emergence, growth and decline (Vago, 1989:7)
Saya suka membaca apa saja, menulis apa saja, dan berjalan-jalan ke mana saja. Saya suka bertemu dengan banyak orang, belajar dengan banyak orang, dan ingin bermanfaat bagi banyak orang. Bagi saya, hidup tidak sekedar menunggu mati, tapi hidup untuk berprestasi. Saya percaya bahwa satu-satunya hal yang tidak bisa disangkal dalam hidup ini adalah perubahan. Perubahan akan terus terjadi karena langkah kita tidak stagnan tapi dinamis. Biarkan proses perubahan itu natural namun terencana, agar hidup lebih hidup!
Kemudian saya merasa telah, sedang, dan akan terus mengalami perubahan meskipun hanya suatu hal yang sangat kecil. Saya hidup dikelilingi oleh banyak orang, banyak kejadian, banyak pemikiran, dan banyak pula perkembangan teknologi. Inilah fakta, se-idealis apapun saya, saya tidak bisa mengelak dari perkara-perkara yang terjadi di luar diri saya. Bertemu dengan banyak orang dan berinteraksi dengan mereka memunculkan sebuah pemahaman bahwa ”sebaiknya” atau ”etisnya” perilaku adalah seperti ini atau seperti itu. Saya dididik dengan keras oleh Ayah saya, segala sesuatu harus cepat dilaksanakan dan perlu cepat diselesaikan. Saya melaksanakannya sebagai sebuah wujud kepatuhan kepada ”titah” orang tua dan saya yakini bahwa cepat adalah disiplin. Tapi setelah bertemu dengan banyak tipe manusia, ternyata saya perlu beradaptasi, tidak selamanya cepat adalah disiplin. Terkadang cepat juga bisa bermakna ceroboh. Suatu masalah tidak harus diselesaikan secara cepat namun perlu dipecahkan dengan tepat. Bagi saya, idealisme juga perlu penyesuaian dan adaptasi agar kita bisa bertoleransi.
Saya lahir pada bulan Januari 1990, saat ini sedang beranjak menuju umur 21. Ada banyak hal yang telah berubah selain bagaimana saya memandang sebuah persoalan yang terjadi dalam hidup saya. Dulu, ketika masih kecil (sampai saya kelas 2 Sekolah Dasar), asalkan ada minyak tanah untuk mengisi pelita saya bisa tenang belajar membaca dan menulis. Tapi sekarang, sungguh saya sudah tergantung pada listrik. Saya bisa lebih konsentrasi belajar ketka penerangan dengan listrik cukup apalagi ditambah dengan kondisi mata yang sudah miopi. Dulu, saya tidak perlu gusar saat tidak mendapatkan informasi atau berita terbaru karena TV pun hidupnya masih senin - kamis kalau aki tersedia. Sekarang, TV seperti sebuah mainan yang wajib dimiliki. Komputer adalah soulmate saat bekerja. Internet adalah saudara kembar yang sebaiknya tidak terpisahkan. Dan, saya merasa kehilangan jiwa saya ketika terpisah dengan telpon genggam. Itulah, dunia sudah berubah dan saya pun ikut berubah.
Kembali lagi, saya suka membaca apa saja dan dimana saja, termasuk membaca sms. Percaya atau tidak, saya juga bisa berubah sebab apa yang saya baca. Sejak kecil saya suka membaca hanya saja orang tua tidak pernah membelikan buku bacaan. Ibu saya tidak pernah mengenyam pendidikan formal dan ayah lulusan SD, saya pahami kondisinya bahwa apa yang mereka pikirkan tentunya berbeda dengan apa yang saya harapkan. Tapi tidak masalah, toh mereka pasti ingin anaknya maju dan ”berubah” lebih baik daripada mereka. Saya masih bisa membaca buku-buku perpustakaan di SD, SMP, dan saat SMA saya sudah mulai membeli buku apa yang saya sukai. Sejak SMP saya dicekoki bacaan yang berhubungan dengan Islam. Bergerak dari apa yang saya baca, ada beberapa hal yang mulai berubah dari diri saya. Saya memutuskan untuk mulai mengenakan jilbab sejak kelas 1 SMP dan juga keinginan saya untuk menuntut ilmu dan menghapal Al-Qur’an semakin kuat. Pemikiran itu muncul dari apa yang saya baca. Jadi, benar juga kata orang, jika kita ingin tahu seperti apa orang itu maka lihatlah apa yang ia baca. Tapi tidak berhenti sampai di situ, dalam prosesnya pun penuh dengan dinamika karena saya tidak hidup sendiri di dunia ini.
Saya tinggal di lingkungan yang agamis, meskipun orang tua saya biasa saja dan tidak fanatik. Mereka demokratis dan membiarkan saya menjadi diri saya sendiri. Termasuk persoalan agama. Lingkungan tempat tinggal saya sangat mempengaruhi langkah saya melanjutkan sekolah, saya tidak ingin melanjutkan ke Pesanteren seperti apa yang disarankan oleh guru ngaji saya. Saya memutuskan untuk masuk ke Madrasah Aliyah yang bagi saya lebih moderat dari Pesanteren. Bagi saya, sekolah di Aliyah mempermudah saya untuk mempertahankan jilbab yang saya pakai karena disana semuanya sama, untuk perempuannya semua berjilbab. Dan saya suka, saya menikmatinya. Dulu saya seorang jilbaber mulai dari kelas 3 SMA hingga tingkat 1 di IPB. Lagi-lagi semuanya tidak berhenti sampai di situ, saya tidak nyaman dengan atribut yang saya gunakan. Saya tidak suka ke-eksklusif-an, saya memilih egois tapi saya bisa berbagi daripada saya eksklusif dan hanya bergerombol dengan komunitas yang ”itu” saja. Sekarang saya mengenakan jilbab tapi tidak perlu predikat akhwat dan saya pun tidak alergi terhadap mereka, saya kagum pada mereka yang istiqomah. Hanya saja saya memiliki pandangan yang berbeda. Bagi saya keimanan tidak diukur dari apa yang kita kenakan, tapi keimanan itu ada dalam hati dan itu privasi. Sekarang prinsip yang saya pegang adalah saya ingin menjadi orang baik dan bermanfaat bagi orang lain, karena saya percaya bahwa hubungan hamba dengan Tuhan tidak terbatas pada perkara surga dan neraka.
Saya pikir, perubahan saya sebenarnya sangat banyak, tidak bisa diceritakan dalam lembaran-lembaran yang terbatas jumlahnya. Saya berubah secara idealistik maupun materialistik. Saya berubah karena faktor internal maupun eksternal. Saya berubah karena memang saya perlu dan harus berubah. Karena hidup tidak asik jika monoton dan hambar jika tidak berwarna. Dan saya berubah untuk saya dan orang-orang di sekitar saya. Sekali lagi, saya hanya ingin menjadi orang baik dan saya ingin berbagi. Perubahan itu harus supaya hidup lebih hidup. Perubahan itu perlu karena dunia tidak lagi bulat dan tidak ada lagi perbedaan siang dan malam. Semua orang melakukan persaingan baik siang maupun malam. So, because the world is flat and everything like same each other except our attitude and our change, let be our own self and let’s the change happen.
P.S. Untuk Ibu, terima kasih selalu untuk didikanmu.
Saya suka membaca apa saja, menulis apa saja, dan berjalan-jalan ke mana saja. Saya suka bertemu dengan banyak orang, belajar dengan banyak orang, dan ingin bermanfaat bagi banyak orang. Bagi saya, hidup tidak sekedar menunggu mati, tapi hidup untuk berprestasi. Saya percaya bahwa satu-satunya hal yang tidak bisa disangkal dalam hidup ini adalah perubahan. Perubahan akan terus terjadi karena langkah kita tidak stagnan tapi dinamis. Biarkan proses perubahan itu natural namun terencana, agar hidup lebih hidup!
Kemudian saya merasa telah, sedang, dan akan terus mengalami perubahan meskipun hanya suatu hal yang sangat kecil. Saya hidup dikelilingi oleh banyak orang, banyak kejadian, banyak pemikiran, dan banyak pula perkembangan teknologi. Inilah fakta, se-idealis apapun saya, saya tidak bisa mengelak dari perkara-perkara yang terjadi di luar diri saya. Bertemu dengan banyak orang dan berinteraksi dengan mereka memunculkan sebuah pemahaman bahwa ”sebaiknya” atau ”etisnya” perilaku adalah seperti ini atau seperti itu. Saya dididik dengan keras oleh Ayah saya, segala sesuatu harus cepat dilaksanakan dan perlu cepat diselesaikan. Saya melaksanakannya sebagai sebuah wujud kepatuhan kepada ”titah” orang tua dan saya yakini bahwa cepat adalah disiplin. Tapi setelah bertemu dengan banyak tipe manusia, ternyata saya perlu beradaptasi, tidak selamanya cepat adalah disiplin. Terkadang cepat juga bisa bermakna ceroboh. Suatu masalah tidak harus diselesaikan secara cepat namun perlu dipecahkan dengan tepat. Bagi saya, idealisme juga perlu penyesuaian dan adaptasi agar kita bisa bertoleransi.
Saya lahir pada bulan Januari 1990, saat ini sedang beranjak menuju umur 21. Ada banyak hal yang telah berubah selain bagaimana saya memandang sebuah persoalan yang terjadi dalam hidup saya. Dulu, ketika masih kecil (sampai saya kelas 2 Sekolah Dasar), asalkan ada minyak tanah untuk mengisi pelita saya bisa tenang belajar membaca dan menulis. Tapi sekarang, sungguh saya sudah tergantung pada listrik. Saya bisa lebih konsentrasi belajar ketka penerangan dengan listrik cukup apalagi ditambah dengan kondisi mata yang sudah miopi. Dulu, saya tidak perlu gusar saat tidak mendapatkan informasi atau berita terbaru karena TV pun hidupnya masih senin - kamis kalau aki tersedia. Sekarang, TV seperti sebuah mainan yang wajib dimiliki. Komputer adalah soulmate saat bekerja. Internet adalah saudara kembar yang sebaiknya tidak terpisahkan. Dan, saya merasa kehilangan jiwa saya ketika terpisah dengan telpon genggam. Itulah, dunia sudah berubah dan saya pun ikut berubah.
Kembali lagi, saya suka membaca apa saja dan dimana saja, termasuk membaca sms. Percaya atau tidak, saya juga bisa berubah sebab apa yang saya baca. Sejak kecil saya suka membaca hanya saja orang tua tidak pernah membelikan buku bacaan. Ibu saya tidak pernah mengenyam pendidikan formal dan ayah lulusan SD, saya pahami kondisinya bahwa apa yang mereka pikirkan tentunya berbeda dengan apa yang saya harapkan. Tapi tidak masalah, toh mereka pasti ingin anaknya maju dan ”berubah” lebih baik daripada mereka. Saya masih bisa membaca buku-buku perpustakaan di SD, SMP, dan saat SMA saya sudah mulai membeli buku apa yang saya sukai. Sejak SMP saya dicekoki bacaan yang berhubungan dengan Islam. Bergerak dari apa yang saya baca, ada beberapa hal yang mulai berubah dari diri saya. Saya memutuskan untuk mulai mengenakan jilbab sejak kelas 1 SMP dan juga keinginan saya untuk menuntut ilmu dan menghapal Al-Qur’an semakin kuat. Pemikiran itu muncul dari apa yang saya baca. Jadi, benar juga kata orang, jika kita ingin tahu seperti apa orang itu maka lihatlah apa yang ia baca. Tapi tidak berhenti sampai di situ, dalam prosesnya pun penuh dengan dinamika karena saya tidak hidup sendiri di dunia ini.
Saya tinggal di lingkungan yang agamis, meskipun orang tua saya biasa saja dan tidak fanatik. Mereka demokratis dan membiarkan saya menjadi diri saya sendiri. Termasuk persoalan agama. Lingkungan tempat tinggal saya sangat mempengaruhi langkah saya melanjutkan sekolah, saya tidak ingin melanjutkan ke Pesanteren seperti apa yang disarankan oleh guru ngaji saya. Saya memutuskan untuk masuk ke Madrasah Aliyah yang bagi saya lebih moderat dari Pesanteren. Bagi saya, sekolah di Aliyah mempermudah saya untuk mempertahankan jilbab yang saya pakai karena disana semuanya sama, untuk perempuannya semua berjilbab. Dan saya suka, saya menikmatinya. Dulu saya seorang jilbaber mulai dari kelas 3 SMA hingga tingkat 1 di IPB. Lagi-lagi semuanya tidak berhenti sampai di situ, saya tidak nyaman dengan atribut yang saya gunakan. Saya tidak suka ke-eksklusif-an, saya memilih egois tapi saya bisa berbagi daripada saya eksklusif dan hanya bergerombol dengan komunitas yang ”itu” saja. Sekarang saya mengenakan jilbab tapi tidak perlu predikat akhwat dan saya pun tidak alergi terhadap mereka, saya kagum pada mereka yang istiqomah. Hanya saja saya memiliki pandangan yang berbeda. Bagi saya keimanan tidak diukur dari apa yang kita kenakan, tapi keimanan itu ada dalam hati dan itu privasi. Sekarang prinsip yang saya pegang adalah saya ingin menjadi orang baik dan bermanfaat bagi orang lain, karena saya percaya bahwa hubungan hamba dengan Tuhan tidak terbatas pada perkara surga dan neraka.
Saya pikir, perubahan saya sebenarnya sangat banyak, tidak bisa diceritakan dalam lembaran-lembaran yang terbatas jumlahnya. Saya berubah secara idealistik maupun materialistik. Saya berubah karena faktor internal maupun eksternal. Saya berubah karena memang saya perlu dan harus berubah. Karena hidup tidak asik jika monoton dan hambar jika tidak berwarna. Dan saya berubah untuk saya dan orang-orang di sekitar saya. Sekali lagi, saya hanya ingin menjadi orang baik dan saya ingin berbagi. Perubahan itu harus supaya hidup lebih hidup. Perubahan itu perlu karena dunia tidak lagi bulat dan tidak ada lagi perbedaan siang dan malam. Semua orang melakukan persaingan baik siang maupun malam. So, because the world is flat and everything like same each other except our attitude and our change, let be our own self and let’s the change happen.
P.S. Untuk Ibu, terima kasih selalu untuk didikanmu.
Kepada: Tuhan
Salam taklukku hanya pada Mu waha pemilik Asma-Asma yang Agung...
Tuhan, inilah getar terdahsyat kala kusebut nama Mu. Inilah debar terindah kala kulantunkan ayatmu. Wahai Yang Maha Tahu, terima kasih Engkau beri pemahaman padaku, entah kenapa, aku yakin bahwa relasi kita tidak terbatas pada perkara pahala dan dosa, tapi lebih dari itu. Ada persoalan lain yang tak kasat di mataku dan pula tak terlintas di pikiranku. Aku yakin kuasa Mu.
Tuhan, Engkau disebut dengan banyak Nama. Tapi kupercaya Kau tunggal dan selalu indah dengan nama-nama yang Engkau punya. Saat ini aku berusia 20 tahun, 6 bulan, 9 hari (15 Juli 2010). Jika aku bertanya, kapankah waktuku berakhir? Apa yang akan Engkau sampaikan sebagai jawabnya, Tuhan? Apakah jawaban yang berkali-kali kuhapal akan semakin banyak kurapal? Jodoh, rezeki, dan maut adalah hak Mu. Ya, aku patri keimanan itu dalam hati.
Tuhan, kapan waktuku?
Tuhan, inilah getar terdahsyat kala kusebut nama Mu. Inilah debar terindah kala kulantunkan ayatmu. Wahai Yang Maha Tahu, terima kasih Engkau beri pemahaman padaku, entah kenapa, aku yakin bahwa relasi kita tidak terbatas pada perkara pahala dan dosa, tapi lebih dari itu. Ada persoalan lain yang tak kasat di mataku dan pula tak terlintas di pikiranku. Aku yakin kuasa Mu.
Tuhan, Engkau disebut dengan banyak Nama. Tapi kupercaya Kau tunggal dan selalu indah dengan nama-nama yang Engkau punya. Saat ini aku berusia 20 tahun, 6 bulan, 9 hari (15 Juli 2010). Jika aku bertanya, kapankah waktuku berakhir? Apa yang akan Engkau sampaikan sebagai jawabnya, Tuhan? Apakah jawaban yang berkali-kali kuhapal akan semakin banyak kurapal? Jodoh, rezeki, dan maut adalah hak Mu. Ya, aku patri keimanan itu dalam hati.
Tuhan, kapan waktuku?
Rabu, 04 Agustus 2010
Senandung Pagi
Kudengar nyanyian alam pagi ini, suara kokok ayam, korek kodok, dan entah bunyi-bunyi satwa lain yang masih mengoceh. Pagi di Sarolangun. Pagi ini fajar masih terlihat, semburat cahaya putih di antara langit yang masih berkabut meniadakan kegelisahan. Tuhan Maha Sempurna dengan segala detail ciptaanNya. Sisa purnama tadi malam juga masih tampak di ufuk barat, memamerkan bulatan utuh satelit bumi. Dan… pagi ini begitu sejuk, pagi di 28 Juli 2010.
*di PT EMAL BSP Jambi
*di PT EMAL BSP Jambi
Lembayung Jambi
Lihatlah ke ufuk barat
Senja bermega merah
Mengalahkan bising mesin-mesin penggiling kelapa sawit
Jambi, 28 Juli 2010
Senja bermega merah
Mengalahkan bising mesin-mesin penggiling kelapa sawit
Jambi, 28 Juli 2010
Langganan:
Komentar (Atom)



