Be an Ordinary Person with Extraordinary Personality

Sabtu, 28 Agustus 2010

Because the World is Flat

By social change we refer to whatever may happen in the course of time to the roles, the institutions, or the orders comprising a social structure, the emergence, growth and decline (Vago, 1989:7)

Saya suka membaca apa saja, menulis apa saja, dan berjalan-jalan ke mana saja. Saya suka bertemu dengan banyak orang, belajar dengan banyak orang, dan ingin bermanfaat bagi banyak orang. Bagi saya, hidup tidak sekedar menunggu mati, tapi hidup untuk berprestasi. Saya percaya bahwa satu-satunya hal yang tidak bisa disangkal dalam hidup ini adalah perubahan. Perubahan akan terus terjadi karena langkah kita tidak stagnan tapi dinamis. Biarkan proses perubahan itu natural namun terencana, agar hidup lebih hidup!

Kemudian saya merasa telah, sedang, dan akan terus mengalami perubahan meskipun hanya suatu hal yang sangat kecil. Saya hidup dikelilingi oleh banyak orang, banyak kejadian, banyak pemikiran, dan banyak pula perkembangan teknologi. Inilah fakta, se-idealis apapun saya, saya tidak bisa mengelak dari perkara-perkara yang terjadi di luar diri saya. Bertemu dengan banyak orang dan berinteraksi dengan mereka memunculkan sebuah pemahaman bahwa ”sebaiknya” atau ”etisnya” perilaku adalah seperti ini atau seperti itu. Saya dididik dengan keras oleh Ayah saya, segala sesuatu harus cepat dilaksanakan dan perlu cepat diselesaikan. Saya melaksanakannya sebagai sebuah wujud kepatuhan kepada ”titah” orang tua dan saya yakini bahwa cepat adalah disiplin. Tapi setelah bertemu dengan banyak tipe manusia, ternyata saya perlu beradaptasi, tidak selamanya cepat adalah disiplin. Terkadang cepat juga bisa bermakna ceroboh. Suatu masalah tidak harus diselesaikan secara cepat namun perlu dipecahkan dengan tepat. Bagi saya, idealisme juga perlu penyesuaian dan adaptasi agar kita bisa bertoleransi.

Saya lahir pada bulan Januari 1990, saat ini sedang beranjak menuju umur 21. Ada banyak hal yang telah berubah selain bagaimana saya memandang sebuah persoalan yang terjadi dalam hidup saya. Dulu, ketika masih kecil (sampai saya kelas 2 Sekolah Dasar), asalkan ada minyak tanah untuk mengisi pelita saya bisa tenang belajar membaca dan menulis. Tapi sekarang, sungguh saya sudah tergantung pada listrik. Saya bisa lebih konsentrasi belajar ketka penerangan dengan listrik cukup apalagi ditambah dengan kondisi mata yang sudah miopi. Dulu, saya tidak perlu gusar saat tidak mendapatkan informasi atau berita terbaru karena TV pun hidupnya masih senin - kamis kalau aki tersedia. Sekarang, TV seperti sebuah mainan yang wajib dimiliki. Komputer adalah soulmate saat bekerja. Internet adalah saudara kembar yang sebaiknya tidak terpisahkan. Dan, saya merasa kehilangan jiwa saya ketika terpisah dengan telpon genggam. Itulah, dunia sudah berubah dan saya pun ikut berubah.

Kembali lagi, saya suka membaca apa saja dan dimana saja, termasuk membaca sms. Percaya atau tidak, saya juga bisa berubah sebab apa yang saya baca. Sejak kecil saya suka membaca hanya saja orang tua tidak pernah membelikan buku bacaan. Ibu saya tidak pernah mengenyam pendidikan formal dan ayah lulusan SD, saya pahami kondisinya bahwa apa yang mereka pikirkan tentunya berbeda dengan apa yang saya harapkan. Tapi tidak masalah, toh mereka pasti ingin anaknya maju dan ”berubah” lebih baik daripada mereka. Saya masih bisa membaca buku-buku perpustakaan di SD, SMP, dan saat SMA saya sudah mulai membeli buku apa yang saya sukai. Sejak SMP saya dicekoki bacaan yang berhubungan dengan Islam. Bergerak dari apa yang saya baca, ada beberapa hal yang mulai berubah dari diri saya. Saya memutuskan untuk mulai mengenakan jilbab sejak kelas 1 SMP dan juga keinginan saya untuk menuntut ilmu dan menghapal Al-Qur’an semakin kuat. Pemikiran itu muncul dari apa yang saya baca. Jadi, benar juga kata orang, jika kita ingin tahu seperti apa orang itu maka lihatlah apa yang ia baca. Tapi tidak berhenti sampai di situ, dalam prosesnya pun penuh dengan dinamika karena saya tidak hidup sendiri di dunia ini.

Saya tinggal di lingkungan yang agamis, meskipun orang tua saya biasa saja dan tidak fanatik. Mereka demokratis dan membiarkan saya menjadi diri saya sendiri. Termasuk persoalan agama. Lingkungan tempat tinggal saya sangat mempengaruhi langkah saya melanjutkan sekolah, saya tidak ingin melanjutkan ke Pesanteren seperti apa yang disarankan oleh guru ngaji saya. Saya memutuskan untuk masuk ke Madrasah Aliyah yang bagi saya lebih moderat dari Pesanteren. Bagi saya, sekolah di Aliyah mempermudah saya untuk mempertahankan jilbab yang saya pakai karena disana semuanya sama, untuk perempuannya semua berjilbab. Dan saya suka, saya menikmatinya. Dulu saya seorang jilbaber mulai dari kelas 3 SMA hingga tingkat 1 di IPB. Lagi-lagi semuanya tidak berhenti sampai di situ, saya tidak nyaman dengan atribut yang saya gunakan. Saya tidak suka ke-eksklusif-an, saya memilih egois tapi saya bisa berbagi daripada saya eksklusif dan hanya bergerombol dengan komunitas yang ”itu” saja. Sekarang saya mengenakan jilbab tapi tidak perlu predikat akhwat dan saya pun tidak alergi terhadap mereka, saya kagum pada mereka yang istiqomah. Hanya saja saya memiliki pandangan yang berbeda. Bagi saya keimanan tidak diukur dari apa yang kita kenakan, tapi keimanan itu ada dalam hati dan itu privasi. Sekarang prinsip yang saya pegang adalah saya ingin menjadi orang baik dan bermanfaat bagi orang lain, karena saya percaya bahwa hubungan hamba dengan Tuhan tidak terbatas pada perkara surga dan neraka.

Saya pikir, perubahan saya sebenarnya sangat banyak, tidak bisa diceritakan dalam lembaran-lembaran yang terbatas jumlahnya. Saya berubah secara idealistik maupun materialistik. Saya berubah karena faktor internal maupun eksternal. Saya berubah karena memang saya perlu dan harus berubah. Karena hidup tidak asik jika monoton dan hambar jika tidak berwarna. Dan saya berubah untuk saya dan orang-orang di sekitar saya. Sekali lagi, saya hanya ingin menjadi orang baik dan saya ingin berbagi. Perubahan itu harus supaya hidup lebih hidup. Perubahan itu perlu karena dunia tidak lagi bulat dan tidak ada lagi perbedaan siang dan malam. Semua orang melakukan persaingan baik siang maupun malam. So, because the world is flat and everything like same each other except our attitude and our change, let be our own self and let’s the change happen.

P.S. Untuk Ibu, terima kasih selalu untuk didikanmu.

Kepada: Tuhan

Salam taklukku hanya pada Mu waha pemilik Asma-Asma yang Agung...

Tuhan, inilah getar terdahsyat kala kusebut nama Mu. Inilah debar terindah kala kulantunkan ayatmu. Wahai Yang Maha Tahu, terima kasih Engkau beri pemahaman padaku, entah kenapa, aku yakin bahwa relasi kita tidak terbatas pada perkara pahala dan dosa, tapi lebih dari itu. Ada persoalan lain yang tak kasat di mataku dan pula tak terlintas di pikiranku. Aku yakin kuasa Mu.

Tuhan, Engkau disebut dengan banyak Nama. Tapi kupercaya Kau tunggal dan selalu indah dengan nama-nama yang Engkau punya. Saat ini aku berusia 20 tahun, 6 bulan, 9 hari (15 Juli 2010). Jika aku bertanya, kapankah waktuku berakhir? Apa yang akan Engkau sampaikan sebagai jawabnya, Tuhan? Apakah jawaban yang berkali-kali kuhapal akan semakin banyak kurapal? Jodoh, rezeki, dan maut adalah hak Mu. Ya, aku patri keimanan itu dalam hati.

Tuhan, kapan waktuku?

Rabu, 04 Agustus 2010

Senandung Pagi

Kudengar nyanyian alam pagi ini, suara kokok ayam, korek kodok, dan entah bunyi-bunyi satwa lain yang masih mengoceh. Pagi di Sarolangun. Pagi ini fajar masih terlihat, semburat cahaya putih di antara langit yang masih berkabut meniadakan kegelisahan. Tuhan Maha Sempurna dengan segala detail ciptaanNya. Sisa purnama tadi malam juga masih tampak di ufuk barat, memamerkan bulatan utuh satelit bumi. Dan… pagi ini begitu sejuk, pagi di 28 Juli 2010.

*di PT EMAL BSP Jambi

Lembayung Jambi

Lihatlah ke ufuk barat
Senja bermega merah
Mengalahkan bising mesin-mesin penggiling kelapa sawit

Jambi, 28 Juli 2010

Jambi’s Night…

I miss you, merindukanmu adalah jelajah imajinasi terhangat kala dingin Jambi malam hari mulai terasa. Aku merindumu, wahai sosok yang selalu kudamaba ditengah terombang-ambingnya rasa yang kubiarkan diam, tak perlu banyak tanya. Sebentar lagi kita jumpa, wahai sosok manis yang kurindu senyum dan lentik bulu matanya. Kita kan bersua di bulan yang paling indah, Ramadan. Dan, memori kita tak pernah jauh dari bulan suci itu.
Aku merindumu, jika boleh mengenang, aku merindu masa-masa belia kita dulu. Saat aku dengan lugu mengiyakan undanganmu untuk pengajian besok pagi. Waktu itu hujan, dan aku bertudung kresek merah berlari-lari menuju tempat masak untuk khotmil qur’an nanti malam. Tanpa prasangka sedikitpun, aku iyakan ajakanmu. Esok paginya kita bertemu, masih lugu, biasa, tanpa sapa yang mengena. Hanya saja, kau selalu manis… bahkan hingga sekarang. Dan, beberapa hari setelahnya, lebaran pun tiba. Tiada terduga sebelumnya, saat itu adalah pertama kali aku menerima surat dari laki-laki yang kujawab dengan “hatiku sudah sejalan dengan pikiranku, aku menerimamu”.
Itu adalah awal dari hubungan kita. Aku jatuh cinta untuk pertama kali, hingga saat ini, tak pernah terganti. Kamulah yang terbaik dan terindah di mataku, sosok yang tak pernah bosan aku rindukan, meski aku mengerti bagaiman pun kondisi kita sekarang adalah jalan yang harus kita lalui. Proses yang harus kita lewati, biarlah Tuhan yang mengatur semuanya. Setiap detik yang terlewati tak ada lena maupun jeda untuk tidak merindumu. Sedekat apa pun kamu, rindu ini tak pernah kikis. Bahkan ketika aku bisa mendekapmu nyata, justru saat itu lah rinduku begitu kuat.

“Ya Rabb, aku serahkan segala urusanku pada Mu, termasuk dia…, semua ini adalah hak Mu”

Terima Kasih, Karena Kau Mencintaiku

Setiap kali, de javu itu seakan nyata. Aku hapal wangi tubuhmu yang khas, bukan wangi parfum buatan. Karena setiap tubuh memiliki aroma spesial yang tak dimiliki oleh tubuh yang lain. Selalu saja aku betah berlama-lama di dekatmu. Bahkan, jika aku bisa aku ingin selalu di sisimu. Kau bukan pencipta tema ketika kita akan berbicara. Tanpa menentukan plot cerita pun, perbincangan kita mengalir sempurna dan tanpa batas. Kau selalu mengelola cinta sebagai titipan, memahami bahwa kita hanya sebagai pelaku, Tuhan lah yang sutradara. Kau pun tak malu untuk sekedar mengalah demi melihat senyumku. Kau tak pernah marah. Gelak tawaku muncul seketika bila kau menenangkanku dan mengatakan:
Kalau orang cepat marah, masih gadis saja sudah tampak seperti ibu-ibu. Gimana nanti kalau jadi ibu? tampaknya akan seperti nenek-nenek. Berbahagialah sayang, maka kau akan muda selamanya.”
Selelah apa pun, pelukanmu selalu hangat. Sehangat warna jingga kala putih menjadi dingin. Kadang kau banyak diam di waktu-waktu tertentu. Tapi kutahu, kau diam bukan untuk menyerah. Kau diam untuk senantiasa bertahan.
Aku ingin membuatmu bahagia, selalu, kapan saja, namun tidak semuanya harus diungkapkan bukan? Sayang, aku ingin kau merasakan kebahagiaan itu, bukan sekedar mendengar bahwa kebahagiaan itu ada. Percayalah, aku selalu menyayangimu.” Seketika saja lelahku kandas dengan kata-katamu, terima kasih karena kau mencintaiku….

Januari-Desember

Aku januari, menjadi awal bagi yang lainnya. Pertanda yang senantiasa dinanti dan diperingati. Saat awalku, bertaburan warna-warni kembang api yang dinyalakan serempak, juga teromper teret tet tet yang ditiup oleh banyak orang dengan berbagai karakter dan ikatan. Ada muda mudi satu pasang yang sedang mencicipi bahagia satu tahun jadian, ada juga suami istri yang sedang melepas lelah dan jengah di depan jendela sambil tersenyum melihat anak-anaknya tertidur pulas. Di pojok lain, ada juga segerombol orang yang menjalin hubungan persahabatan sedang menikmati kebersamaan sebelum 00:00 bertambah bilangannya.
Dan aku Januari yang menjadi bagian mereka, bergabung pada salah satu di antara mereka. Bergelut dengan apa saja yang sedang kuhadapi. Aku pun turut serta, menyatukan kedua belah tangan, menunduk khusyuk dan percaya bahwa Dia Maha Mendengar. Aku tak berkomat-kamit, hanya sekedar berkata lirih dalam hati. Tuhan Maha Sempurna, aku tak perlu berteriak agar Dia kabulkan doa.
“Tuhan, aku ingin berbicara dengan-Mu. Kupercaya, Engkau hadir dengan banyak cara.” Hanya itu saja kuberbicara. Selebihnya aku menunduk dan bungkam suara. Terlarut pada harapan yang menggema di dinding hati.
Januari dan Desember, ketika dihitung barangkali tampak begitu jauh karena hitungan melibatkan angka yang berbilang. Tapi rasakan… sesungguhnya Desember dan Januari begitu dekat, sangat dekat dan lekat. Karena kedekatan tak berbatas bilangan. Itu saja. Ingin kukatakan, sekuat apa pun kamu mencintai Desember, dia adalah dirinya sendiri. Desember bukanlah milikku apalagi milikmu. Dia adalah dirinya sendiri. Selalu, kupercaya, cinta itu membebaskan bukan mengikat.
Aku pun sama, mencintai Desember. Aku tak pernah ingin memaksanya untuk mencintaiku pula. Harapku hanya ingin dia bahagia. Jadi mengertilah bahwa Desember hanya perlu jeda untuk membuat sebuah keputusan. Semakin kau paksa dia untuk memilihmu, dia akan semakin jauh darimu. Percayalah, jika kamu sungguh tulus dengan perasaanmu maka sayangi dia apa adanya tanpa rekayasa.
*Aku masih Januari yang senantiasa lekat dengan Desember meski jarak kami bersekat, tapi kupercaya kami dekat sebab hati adalah kunci.

Hidup Adalah Belajar

Hidup Adalah Belajar
Belajar bersyukur meski tak cukup
Belajar ikhlas meski tak rela
Belajar taat meski berat
Belajar memahami meski tak sehati
Belajar bersabar meski terbebani
Belajar setia meski tergoda
Belajar dan terus belajar dengan keyakinan setegar karang

*sms from my friend, Ferdiansyah.
Sent: 05.07.2010, 05:44 AM

ELEGI

Malam, biarkan aku mengendusmu
Sampai kutemukan titik temu
Biarkanku menahan napas, menikmatimu
Bersandar nyaman di bahu lelapmu

Wanita dan Pria dalam Satu Episode

Sampai sekarang, pertanyaan itu masih bersarang bebas entah di neuron bagian mana. Mengapa semakin tua suami istri, cinta mereka menjadi semakin terpupuk, subur, dan semakin tidak membosankan? Betapa menakjubkan kala memikirkan itu, Tuhan menurunkan sifat kasihNya kepada umat manusia, menetapkannya dan menjaganya. Seorang sahabat menjawab pertanyaan itu dengan jawaban sederhana, semua itu karena Cinta Tuhan kepada umatnya. Adakah jawaban lain? Dalam salah satu film ‘Before Sunrise’, kondisi kasih yang terus terpupuk itu disebabkan karena alam mengatur interaksi kehidupan. Alam yang membangun situasi, semakin tua wanita maka pendengarannya semakin berkurang, dan semakin tua seorang pria maka penglihatannya semakin tidak tajam. Kondisi itulah yang menyebabkan pasangan bisa saling melengkapi dan tidak terjadi kecemburuan.
Jadi teringat, bahwa kelemahan seorang wanita adalah pada pendengaran karena hatinya lembut dan penuh dengan perasaan. Jika mendengar pujian maupun makian, dia akan terbawa. Sedangkan kelemahan seorang pria adalah pada pandangan, jadi penampakan fisik adalah salah satu factor seorang pria bisa jatuh hati kepada wanita. Mungkin ada benarnya juga, sesungguhny akehidupan manusia diatur oleh Tuhan yang sistemnya diserahkan pada alam.

MAKNA 2710

Menjadi manusia yang merdeka adalah keinginan tiada tara yang hadir setiap saat dalam kehidupan. Dan, setiap individu berjuang mati-matian untuk tidak sekedar menjadi ‘kacung’ dalam kehidupan. Sama halnya ketika seseorang membuat keputusan dalam setiap kesempatan, meskipun ada orang lain, namun hak prerogatif terletak pada dirinya sendiri dan orang lain adalah variabel anteseden. Setiap orang punya kesendirian dan kadang ingin menciptakan kesendirian itu untuk mengambil jeda sejenak dari hiruk pikuk yang seringkali melelahkan. Dalam kesendirian, kita bebas berpikir tentang apa pun, men-defrag folder-folder acak kehidupan, mem-back up mimpi-mimpi dan harapan, atau sekedar mengetik hal-hal yang akan dilakukan.
Entah dengan istilah apa dapat digambarkan, kesendirian itu seperti angin lembut yang menyejukkan, atau tetes hujan saat gambaran kemarau membayang di pelupuk mata. Hanya saja, memang, kebahagian tidak mampu muncul sempurna kala sendiri. Kebahagiaan nyata jika dibagi, kebahagiaan sempurna jika dirasakan juga oleh orang lain.

Apa kabar, Kita?

Aku tidak pernah mundur atau berhenti mencintaimu. Merindumu selalu memberi rasa berbeda, rindu memang selalu punya citra tersendiri meski kadang menyesakkanku. Sampai tiba saatnya ketika kau berkata semua akan baik-baik saja dan mungkin kita akan bersama bukan di waktu sekarang, aku merasa sepertinya kamu menjanjikan sesuatu padaku. Janji yang membuatku tersenyum sepanjang waktu, janji yang kurasa membuat diri ini siap bahwa suatu saat kita akan menjadi juaranya. Aku tersenyum, meski kamu tahu, untuk bersama perlu ada banyak hal yang harus kita lalui. Perlu ada banyak hal yang harus kita selesaikan.
Kamu selalu berucap, bahwa aku harus bahagia. Aku pun inginkan kamu bahagia, dengan atau pun tanpaku. Hanya saja aku masih terlalu egois, menginginkan kebersamaan denganmu untuk bahagiaku. Padahal, jika hakekat cinta adalah memberi tanpa mengharap balas, mengapa aku selalu berharap saat aku merindukanmu maka semestinya pun kau merinduku?
Setelah hari itu, hari di mana kita berupaya untuk mencoba menjalani kehidupan kita masing-masing. Aku lega, kupikir aku tak perlu berpayah-payah lagi untuk memikirkan kamu dan dia. Kita sama-sama memiliki hak untuk menjadi manusia yang merdeka, tanpa ada pengekangan perasaan, tanpa ada upaya untuk berbesar hati menerima hanya separuh hatimu. Karena kau adalah dirimu, bukan untukku bukan pula untuknya. Tapi maafkan aku, sayangnya, berkali kucoba untuk mencari kebahagian bersama orang lain justru membuatku semakin terpuruk dalam bayang ketidakpastian. Jika masa lalu perlu kusimpan kemudian kubuka di saat aku perlu untuk mengingatnya, mengapa saat membuka itu terasa sakit?
Berpisah denganmu sama sekali bukan hal yang aku inginkan. Jika kita punya kesempatan untuk menghitung berapa lama kebersamaan kita, mungkin kita akan lupa. Tapi sesingkat apa pun momen itu bersamamu, selalu saja memorinya tertata rapi dalam direktori otakku. Kau selalu mengajarkanku hal-hal sederhana nan istimewa, sederet detail kecil yang berharga. Dan kamu tahu? Bau tanah yang pertama kali tercium saat hujan turun selalu mengingatkanku pada kebersamaan kita. Kita selalu betah berlama-lama menikmati tetes air hujan jatuh di kepala kita, kita juga menantikan waktu-waktu istimewa untuk bisa menenun detik dari tempat yang tinggi. Tak peduli seberapa lelah kaki kita berjalan menuju tempat itu, sesampainya di sana pasti terdengar tawa renyahmu dan candaanmu. Dan rasa lelah itu seakan menguap begitu saja kala kutahu baumu dekat. Kamu sama sekali tidak romantis, tapi bagiku itulah caramu untuk bersikap romantis kapan pun kamu mau.
Setelah sekian lama, sejak hari itu, aku selalu membunuh perasaanku terhadapmu. Perasaan yang sesungguhnya tak bernyawa kala aku harus berjalan sendirian. Jika memang Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam, bolehkah aku minta pada Tuhanku, semoga aku tercipta dari tulang rusukmu? Dan hari ini, setelah hari itu, aku bernostalgia dengan candamu. Kau hadir memupuk kembali perasaan yang selama ini kebas. Kembali lagi momen kita, kembali lagi kebersamaan kita menciptakan babak baru dalam episodeku. Kau masih seperti dulu memintaku tidur lelap dan bangun esok pagi saat kokok ayam masih senyap.

Selasa, 15 Juni 2010

RUANG KECIL DI POJOK WORLD CLASS UNIVERSITY

Menjadi sebuah perguruan tinggi idaman seringkali dilihat dari bagaimana kualitas lulusannya bisa menembus pasar kerja. Adakalanya, orang memang lebih suka melihat hal-hal besar tetapi sering mengabaikan suatu detail kecil. Sebenarnya ada banyak faktor yang mempengaruhi suatu perguruan tinggi bisa menjadi idaman dan diprioritaskan oleh banyak lulusan SMA. Pertama, faktor sejarah, sebuah perguruan tinggi dengan sejarah yang gemilang berhasil melahirkan orang-orang besar dan memiliki banyak dedikasi untuk masyarakat akan jauh lebih dipandang oleh khalayak. Sejarah mampu mengokohkan nama sebuah asosiasi pendidikan tersebut. Kedua, faktor kredibilitas perguruan tinggi yang bersangkutan, kemampuan perguruan tinggi untuk mengampu keahlian-keahlian bagi mahasiswanya melalui berbagai mata kuliah yang diajarkan menjadi salah satu basis yang nantinya bisa mengantarkan mahasiswa menjadi lulusan yang mumpuni. Ketiga, faktor fasilitas, sepertinya memang merupakan hal kecil tapi akan menjadi besar ketika fasilitas-fasilitas tersebut tidak memadai dan layak karena akan berpengaruh besar dalam proses kegiatan akademik maupun non akademik bagi civitas perguruan tinggi.

Berbicara mengenai fasilitas, perlu ditilik dari sudut pandang yang seringkali terlupakan. TOILET. Ruangan kecil yang berada di sudut-sudut gedung fakultas banyak yang terabaikan dan kondisinya kurang layak untuk dipakai. Kebersihan toilet yang kurang terjaga, sarana di dalamnya yang rusak, serta hal krusial yang sering digaungkan tapi terkesampingkan: air sering mati dan banyak toilet yang dikunci. Padahal jika dikaitkan dengan teori kebutuhan Malsow, toilet merupakan salah satu sarana untuk memenuhi kebutuhan fisiologis manusia. Kebutuhan tersebut berada di piramida paling bawah yang artinya harus terpenuhi pertama kali.

Ironis jika sebuah perguruan tinggi yang sedang berusaha memiliki predikat World Class University masih memiliki persoalan tentang kebersihan dan kenyamanan TOILET. Bahkan untuk bisa mengakses toilet yang bersih, mahasiswa perlu mengeluarkan recehan Rp 500,00. Hal tersebut bisa menjadi rasional karena memang untuk menjaga kebersihan membutuhkan sumberdaya finansial. Namun, apakah persoalan dana untuk menjaga properti masih harus dibebankan kepada mahasiswa juga?

Untuk mengatasi persoalan toilet ini tidak hanya tanggungjawab satu bagian saja, katakanlah bagian fasilitas dan properti, namun perlu kolaborsi dan sinergitas dari semua pihak. Masih ada jalan keluar untuk menikmati toilet yang bersih tanpa harus membayar, yaitu dengan cara bersama-sama menjaga dan merasa memiliki fasilitas tersebut. Tidak ada salahnya untuk membawa kantong plastik jika tempat sampah tidak ada, tidak ada ruginya untuk menghemat penggunaan kertas tisu agar sampah tisu juga berkurang. Dan, perlu koordinasi yang baik dari semua pihak supaya toilet bisa tetap buka sampai malam setiap hari dengan ketersediaan air yang mencukupi.

Kamis, 27 Mei 2010

MEMORIA

MEMORIA

Masih lekat dipikiranku suatu waktu yang menjadi roda masa sekarang. Masa lalu, saat aku masih berada di gendonganmu, menangis, merengek minta susu. Kau tak lantas memarahiku tapi kau belai rambutku dan kau carikan susu. Pun masih tergambar jelas saat rumah itu masih tak berdinding, kau memelukku erat saat tidur karena aku takut. Kau bilang, setan itu hanya datang pada anak yang penakut. Katamu aku adalah anak gadismu yang pemberani, aku tak perlu takut ada ibu disisiku, memelukku.

“Ibu aku tidak bisa tidur” aku ingat kata-kata itu keluar dari mulutku tengah malam, saat kulihat wajahmu pulas. Kau langsung terbangun, kau pijat-pijat tanganku sambil bercerita tentang rasa banggamu memiliki anak gadis sepertiku. Padahal, kutahu siangmu begitu melelahkan. Kau adalah pahlawan yang sama sekali tak berpamrih.

Aku sadari sekarang, saat itu rambutku masih gimbal. Betapa susahnya kau merawatnya. Aku pun malu saat itu, mengapa rambutku gimbal. Tapi kau tak pernah malu, kau katakan “Ibu bahagia memiliki anak gadis yang cantik sepertimu”. Kau ikat rambutku agar aku tak merasa gerah. Dan lagi-lagi kau menguatkanku saat teman-teman mencemooh karena rambutku berbeda dengan mereka, kau bilang, “Tuhan menjadikanmu istimewa sehingga Dia menciptakanmu dengan berbeda”. Aku tak paham kata-katamu saat itu. Aku hanya tahu, tanganmu setia menggandengku pergi ke sekolah meski kau harus menunda sebentar waktu untuk menjemur pakaian atau bersih-bersih rumah. Aku selalu menjadi prioritasmu.

Semakin aku besar, rasanya bayang-bayang masa dimana kau senantiasa menuntunku semakin lekat. Banyak kenangan yang membuatku selalu terpacu untuk mencapai keberhasilan, adalah kenangan bersamamu ibu. Ibu, saat itu....

Kau selalu bangun lebih pagi sebelum kokok ayam terdengar. Menanak nasi, dan menyapu rumah kita yang dulu belum berjendela kaca. Kau biarkan aku yang berusia lima tahun tergolek di tempat tidur, meneruskan mimpi semalam. Hati-hati sekali jika kau bangun, kau tak ingin membuatku terjaga. Baru setelah azan subuh, kau bangunkan aku dan saat itu adalah pertama kali kau ajariku mengambil air wudlu. Kau membelikanku mukena kecil yang sampai saat ini masih ada, kau ajari dua rakaat subuh padaku. Tapi aku nakal ibu, aku ingin dapat pahala lebih saat itu dan aku pun menambah rakaat subuh menjadi tiga. Kau tak menyalahkanku, justru kau menjelaskan padaku dengan teduhmu.

Aku ingin doaku semakbul doamu, aku ingin menjadi ibu yang sepertimu. Sabar jika aku menangis, pengertian jika aku merengek, dan kau murka saat aku melakukan salah. Ibu, kau perempuan terhebat yang hadir dalam hidupku. Melebihi segala guru yang ada di dunia ini, kau sekolah pertamaku dan guru seumur hidupku.

Saat itu, pertama kali aku merasakan pusing naik angkutan umum. Barangkali pertama kali pula aku naik kendaraan bermotor. Aku lupa. Saat itu umurku empat. Kau menggendongku, mengenakan gaun warna biru. Kau mengajakku jalan-jalan karena aku merengek minta bertemu ayah yang sedang di perantauan. Kau tak menjanjikan bahwa kita akan menyusul ayah. Kau hanya bilang bahwa kita akan naik mobil seperti yang ayah lakukan. Aku melonjak senang. Tapi ibu, aku tak tahu ternyata naik mobil bisa membuat kepala sangat pusing dan perut menjadi mual. Aku tak tahan di dalam mobil, lima belas menit perjalanan aku mulai menangis. Dan kau mengusap kepalaku, berusaha mencari objek yang bisa membuatku tenang. Kau tunjukkan beberapa ekor sapi di sawah yang terlihat di sepanjang jalan.

”Naik mobil memang pusing, tapi kalau kamu naik sapi akan lama sekali sampai ke tujuan” katamu saat itu.

”Memang kita benar-benar menyusul ayah?” tanyaku polos setelah diam sambil melihat sapi-sapi itu.

”Kita sudah naik mobil seperti yang ayah lakukan, ayah akan bangga karena puterinya berani menaiki mesin yang membuatnya pusing dan mual.” Saat itu aku tak paham maksudmu, tapi aku sangat bahagia karena kau ternyata mengajakku membeli baju mungil berwarna merah yang bentuknya masih kuingat sampai sekarang.

Saat ayah pulang, kau dengan bangga menceritakan bahwa aku sudah sekolah. Aku masuk TK dan aku sudah bisa menyanyikan lagu ’Balonku’. Wajahmu berseri dan kau sangat cantik.

Ibu, satu kenangan ini membuatku selalu berusaha menjadi nomor satu. Aku ingat seusai magrib senja itu. Rumah kita belum ada listrik. Dan kau tak pernah kehabisan cerita untuk menemaniku yang masih terjaga. Aku nyaman berada di dekatmu. Senja itu, hanya dengan satu lampu templok, kau ambil jam dinding satu-satunya di rumah kita. Kau letakkan di atas meja dan kau dekatkan lampu templok itu untuk menyinarinya. Kau beranjak dari tempatku dan mengambil sesuatu. Ternyata kau membawakan aku sebuah buku tulis bergaris dan sebatang pensil. Aku takjub dengan dua benda itu. Artinya kau akan mengajariku menulis. Di sekolah aku sudah belajar membaca, tapi aku masih kaku untuk menulis.

Kau taruh buku dihadapanku, kau ajari aku memegang pensil kayu itu. Aku sangat bangga ketika memegang benda itu. Sungguh, itulah pertama kali aku tahu bahwa menulis itu sangat menyenangkan. Kau berusaha mengajari menulis dengan meniru angka-angka yang ada pada jam dinding di hadapanku. Kau bilang, ”Kamu akan menjadi seorang yang hebat nak, giatlah berlatih.” Aku semakin semangat dan belum juga mau tidur meski jarum pendek sudah di angka sembilan. Kau menuntun tanganku untuk sebisa mungkin menulis angka-angka itu. Ibu, aku baru tahu setelah aku kelas tiga SD, betapa besar jasamu. Saat itu aku ingat, ayah tak ada di rumah, dan aku harus mengembalikan raport ke sekolah hari itu. Raport harus ditandatangani orang tua. Aku panik ibu, mencarimu, mencari raportku pukul setengah tujuh pagi. Yang kutemui hanya hanya sarapan pagiku di meja. Kau tak ada ibu, aku marah dan menangis saat itu. Belum juga pukul tujuh kurang seperempat, kau muncul membawa buku bersampul merah, raport-ku. Kuperiksa ternyata sudah ditandatangani.

”Ibu dari mana?” tanyaku masih dengan isak tangis.
”Dari rumah sepupumu, minta tanda tangan” jelasmu.
”Kenapa minta padanya?” aku tak terima karena aku ingin tanda tangan orang tuaku yang ada di raport.
Ibu memelukku sambil tersenyum, ”Maafkan ibu nak, ibu tidak bisa menulis, karena ibu dulu tidak bisa sekolah sepertimu. Kau harus sekolah sekarang, supaya kau pandai menulis, membaca, dan berkarya” nasehatmu saat itu.

Sejak saat itu, kutahu perjuanganmu begitu keras untuk bisa mendidikku sampai sekarang, mengenyam bangku sekolah, mendapat ranking satu. Semuanya diawali dengan keiklasan seorang ibu sepertimu yang berusaha mengajari anaknya dengan meniru angka jam dinding supaya anaknya bisa menulis. Padahal ibu pun belum pernah menulis sebelumnya.

Ibu, aku sudah lancar menulis angka-angka itu sekarang. Aku sudah bisa membaca dengan lancar. Rasanya ingin kembali menikmati waktu, saat aku belum bisa apa-apa, menemukan kebahagiaan dari hal-hal sederhana itu. Kau selalu mengajariku untuk teguh pada pendirian dan menjadi tegar dalam kondisi apa pun. Hingga saat ini. Kau tak pernah mengungkit jasamu, tak pernah meminta imbalan dari tindakanmu. Saat aku pulang, kau sedia menyiapkan sarapan pagi dan memasak untuk makan siang serta malam. Kau tak peduli dengan lelahmu kemarin sore dan pagi-pagi sekali kau sudah bangun untuk merebus air panas untuk mandiku. Ibu, jasamu tak terukur, jika ada setumpuk nominal di dunia ini pun tak pernah cukup untuk membayarnya. Ibu, jika anakmu kau anggap pintar, maka sesungguhnya kau jauh lebih cerdas dari anakmu ini. Jika kau doakan anakmu menjadi orang hebat, maka sesungguhnya kau jauh lebih hebat melahirkan anak-anakmu. Ibu....

*Ibu, aku tahu, kau pun tak bisa membaca tulisanku. Tapi, aku ingin meninggalkan jejak yang kupersembahkan untukmu.
Aku mencintaimu ibu........

Rabu, 19 Mei 2010

Baiknya, Kita Akhiri Saja

Aku ingin mengajakmu untuk sekedar menjamu suasana malam ini. Duduk tenang di alam bebas dan hanya beratapkan langit. Sekali ini saja ingin kunikmati bulan sabit itu bersamamu dan aku ingin menyampaikan kata maaf. Beberapa hari ini, aku bahagia dengan satu kepedihan. Ingin rasanya mengakhirkan segala yang perlu kuakhirkan. Ingin kuakhiri kebersamaan ini. Kebersamaan yang kurasa membuatku menjadi seperti robot tak bernyawa. Kau baik, hanya saja aku tak cukup bisa untuk menerima kebaikanmu. Satu hal yang kusadari saat ini, ternyata memeluk orang yang benar-benar kita sayangi akan berbeda dengan memeluk orang yang semata kita sayangi. Dan saat memelukmu, aku hanya merasa menipu diri sendiri.

Aku cukup bangga bisa mengenal sosokmu yang nyata-nyata sempat hanya sebatas sahabat fana. Aku pun beruntung bisa sekedar mencuri hati dan perhatianmu beberapa waktu ini. Namun sayangnya, aku tak pernah benar-benar merasa yakin meski hanya sekedar cukup untuk belajar mencintaimu. Meski malam ini aku tak bisa menikamati bulan sabit bersamamu, izinkanlah aku tetap berucap maaf, karena aku perlu untuk mengakhiri kebersamaan kita.

Minggu, 16 Mei 2010

16 Mei 2010

Logo icon messenger yahoo miliknya terpampang jelas di depan mataku yang sedari sore di depan komputer. Dia sedang online sekarang, dari tadi sejak aku aktifkan akunku. Ingin kusapa, tapi urung niatku. Dia sedang tidak ingin membalas apa-apa, dia diam. Lagi-lagi aku ingin dia lah orang pertama yang kuberitahu akan segala pencapaianku. Dia pernah berjanji, dia yang pertama akan mengucapkan selamat padaku. Dan aku masih menyimpan selembar janjinya itu di bawah bantal mimpiku.

‘aku kangen’ pesanku tempo hari
‘aku juga kangen’ balasnya, tanpa kalimat selanjutnya. Dan esok harinya aku begitu bersemangat menjalani hari.

‘aku menang’
---------------
Tak ada balasan.

‘kemana saja hari ini?’
--------------------------
Tak ada balasan.

--------------------------
--------------------------
--------------------------
Hingga hanya bisa kupandangi layar kosong itu. Tak kudapati kemesraanmu beberapa hari ini.

Jumat, 07 Mei 2010

YA SUDAHLAH (Bondan ft Fade to Black)

B:
Ketika mimpimu yang begitu indah,
tak pernah terwujud..ya sudahlah
Saat kau berlari mengejar anganmu,
dan tak pernah sampai..ya sudahlah (hhmm)

*reff:
Apapun yang terjadi, ku kan slalu ada untukmu
Janganlah kau bersedih..coz everything’s gonna be OKAY

Santoz:
yo..Satu dari sekian kemungkinan
kau jatuh tanpa ada harapan
saat itu raga kupersembahkan
bersama jiwa, cita,cinta dan harapan

Lezz:
Kita sambung satu persatu sebab akibat
tapi tenanglah mata hati kita kan lihat
menuntun ke arah mata angin bahagia
kau dan aku tahu,jalan selalu ada

titz:
juga ku tahu lagi problema kan terus menerjang
bagai deras ombak yang menabrak karang
namun ku tahu..ku tahu kau mampu tuk tetap tenang
hadapi ini bersamaku hingga ajal datang

B:
Saat kau berharap keramahan cinta,
tak pernah kau dapat..ya sudahlah
yeeah..dengar ku bernyanyi..lalalalalala
heyyeye yaya dedudedadedudedudidam..semua ini belum berahir

back to *reff

F2B:
satukan langkah..langkah yang beriring!
genggam hati, rangkul emosi!

B:
Genggamlah hatiku, satukan langkah kita

F2B:
Sama rasa, tanpa pamrih
ini cinta..across da sea

B:
peluklah diriku..terbanglah bersamaku, melayang jauh.. (come fly with me, baby)

F2B:
Ini aku dari ujung rambut menyusur jemari
sosok ini yang menerima kelemahan hati
yea..aku cinta kau..(ini cinta kita)
cukup satu waktu yes.(untuk satu cinta)

satu cinta ini akan tuntun jalanku
rapatkan jiwamu yo tenang disisiku
rebahkan rasamu..untuk yang ditunggu
Bahagia..Hingga ujung waktu.

back to *reff 2x

The Spectrum of Feeling PART VI

Sudah cukup lama aku tak bersua dengan Maharani. Sepuluh jari tanganku tak cukup untuk menghitung cacahnya, kecuali dengan pengulangan. Kutahu dia baik-baik saja, jauh lebih baik dari semenjak perpisahan itu. Hingga hari ini barangkali, aku pun tak tahu kabar Maharani yang sebenarnya. Dia cukup kuat untuk menahan tangis, cukup tangguh untuk meredam amarah, tapi kukira, selalu saja dia tak cukup yakin untuk benar-benar meninggalkanku. Aku rasa dia banyak mengeluh akhir-akhir ini, sejak aku menghubunginya kembali, untuk sesaat memberitahunya bahwa aku telah berdua. Kukira dia akan bahagia dengan warta yang sungguh tak dinyana. Dan aku yakin dia bahagia. Sayangnya, aku salah.

“Baru kau beritahu sekarang?” katanya di ujung telpon. Sebab teknologi, jarak menjadi semakin dekat meski ada sekat. Ah, aku jadi teringat, dulu masih pakai surat.

“Bukan maksudku....” aku tak berani melanjutkan, rasa bersalahku membuncah. Biasanya selalu kukabari dia, apa pun kondisiku.

“Sudahlah, nikmati saja perjalananmu, aku kecewa!” kata-katanya getir dan membuatku tak bisa tidur semalaman.

Adakah yang salah jika aku berusaha melabuhkan hati kepada selain Maharani? Kutahu jejak bisu kami tak mungkin bisa untuk diketahui banyak orang. Kami diam, tak perlu ada banyak komentar dari apa yang pernah kami jalani.

Sebenarnya, bukan bagaimana jalan ceritanya, tapi semua itu tentang kebersamaan kita. [Maharani]

Percayakah jika laki-laki itu pembohong dan perempuan mudah menangis? Aku salah satu yang sedikit percaya akan hal itu. Laki-laki tidak selamanya akan berbohong, tapi di suatu waktu dia akan mencari cara aman untuk kenyamanannya. Perempuan pun sebenarnya demikian, tapi kadang lelaki yang selalu disalahkan. Perempuan mudah menangis sepertinya, tapi Maharani sangat pandai menyembunyikan air matanya di hadapanku.

Cinta itu bukan bagaimana kita mencapai, tapi seperti apa kita menjaga. [Maharani]

Katanya, dia sangat mencintaiku, tapi entah mengapa aku menjadi ragu saat dia tak mau mendengar perkataanku. Mengajaknya menjadi seperti apa yang aku inginkan. Maharani sepertinya tak pernah menolak dengan peraturanku, dia patuh, kusangka begitu.

Biarkanlah orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri. Pelangi akan indah jika berwarna, begitu pun kasih akan bermakna jika berbeda. [Maharani]

****
“Jalani saja” ucapku setelah tiga hari dia meminta jeda. Bagaimana pun aku selalu mencintainya, menginginkannya, ingin memilikinya. Maharani memakiku dan berontak saat kukatakan hal itu, yang dia inginkan adalah satu jawaban “ya” atau “tidak”. Dia melepas dengan paksa genggaman tanganku yang sebenarnya menandakan bahwa aku masih ingin bersamanya. Tapi menurutnya apalah arti kebersamaan jika sebenarnya aku telah belajar membagi hati. Ah, Maharani, kadang dia manis, tapi sungguh sialan jika telah membuatku telak. Aku tak bisa berkata-kata lagi bahkan untuk sedikit saja menjelaskan. Dia selalu saja keras kepala, tak mau kalah. Dia bilang aku pengecut, padahal aku tak tahu apa itu keberanian. Aku hanya tidak ingin menyakiti dan mengecewakan salah satu hati.

Kuumbar janji yang kukira bisa kuwujudkan untuk Maharani. Aku katakan bahwa aku akan melakukan apa saja, asal aku bisa, dan itu bisa membuat dia bahagia. I promise to do anything for you, because i believe that there is something left between me and you. Sayangnya, dia memintaku untuk hanya memilihnya saja, dan mengucapkan selamat tinggal pada perempuanku yang satunya. Aku rasa aku tak bisa. Satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah berdamai dengan waktu, biarkan semua mengalir. Aku pun tidak pernah tahu –hingga saat ini- siapa yang akan menjadi pendampingku. Perempuan memang kadang berlebihan untuk minta dimengerti.

“Nikmati saja perjalananmu. Aku cukup bahagia jika tahu kau bahagia” sampai akhirnya aku ingin menampar diriku sendiri saat mendengar dia berkata seperti itu.

“Maksud kamu?” tanyaku pada Maharani.

“Sekuat apa pun kau menahanku untuk bertahan dan kuat menjalani semua ini dengan hanya separuh hatimu, kau takkan pernah berhasil.” Katanya dingin. Sedingin tatapannya saat itu.

“Untuk apa kau menemuiku jika hanya berucap seperti itu? Kau sia-siakan tenagamu” balasku.

“Kau salah, aku menemuimu karena aku tak mau tenagaku sia-sia, hanya untuk menangisimu. Aku ingin bebas dari perasaan yang sesungguhnya mematikan rasionalitasku ini. Kau nikmatilah perjalananmu dengan perempuanmu itu.”

“Bisakah sedikit saja aku memberi penjelasan padamu Maharani?” mungkin aku cukup mengiba.

“Tak ada yang perlu kau jelaskan, semua sudah sangat jelas.”

“Maharani! Kau selalu keras kepala.” Kataku sekeras maknanya.

“Terima kasih dan maaf, Rey, selamat tinggal.” Maharani berlalu tanpa menoleh lagi ke belakang. Hanya saja kata-kata terakhir yang diucapkannya tak mau hengkang dari otakku, TERIMA KASIH DAN MAAF.

TO BE CONTINUED...
-Turasih-

Minggu, 04 April 2010

The Spectrum of Feeling PART V

Sekarang, aku duduk di sini sendiri ditemani detik yang kian meretas waktu. Bersama silih berganti purnama yang membiarkanku mengenangmu, memperlakukan bayangmu laksana nyata. Di antara selaksa rindu yang membuatku kadang terperangkap dalam lorong hati yang sukar kumaknai. Aku terjaga di tengah biduk malam yang membawa pesan damai pada hati, namun ternyata kurasakan pedih yang dalam karena hatiku tak sebahagia biasanya. Aku bersandar pada rasa yang mengalahkan logika. Sampai akhirnya aku mengerti dan kubiarkan pohon cintaku tumbuh dengan pucuknya yang selalu merindu. Kubiarkan angin menghembusnya agar galau ini meliuk lalu beranjak. Ku tak pernah membiarkanmu hilang lenyap, tapi aku mengenangmu pada salah satu ruang hati yang mungkin tak pernah bisa kupersilahkan untuk disinggahi orang lain.

Seperti detik-detik yang telah berlalu, aku pun masih mencintaimu, sampai sekarang. Meski banyak rongrongan menggelitik gendang telingaku untuk segera melupakanmu dan menggantikannya dengan yang lain, tapi tak ku indahkan. Bukannya aku tak mampu melakukannya tapi aku tak mau mewujudkannya. Karena aku merasa yakin, setidaknya, kau pun masih merindukanku. Aku percaya kau masih mengabadikan jejak bisu kita yang barangkali telah berkali-kali tergilas hujan air mataku. Kau, kupercaya itu. Aku, selalu mencintaimu meski dalam bisu.

Aku tak mengerti akan kehadiran rasa ini. Sama sekali aku tak pernah memaksakan diri untuk mencintaimu. Dulu atau sekarang, semuanya normal. Hanya perasaanku saja yang barangkali tak pantas disebut normal. Mataku tak mampu membedakan mana realita dan mana fatamorgana. Mencintaimu sampai detik ini bukan fatamorgana, bukan pula realita, aku pun tak tahu apa istilah yang tepat untuk menyebutnya. Yang jelas, aku mencintaimu... sampai waktu yang tak ingin kuakhiri.
Kau, sebuah nama yang tak sempat terucap. Kau, sesosok wajah yang tak sempat terlihat. Kau satu hati yang tak lagi bisa kululuhkan. Dan untuk sebuah apresiasi perasaan yang mendewasakan. Aku benar-benar mundur kali ini.

The Spectrum of Feeling PART IV

Ucapan itu lirih, tapi sesungguhnya sangat keras dan memekakkan telinga. Perempuan memang punya segala cara untuk membuat lawannya iba. Aku benci tangisan. Sungguh, jika aku tak malu sesungguhnya ingin kutampar dia, membekap mulutnya, dan mengatakan padanya bahwa dia tak lebih dari jalang yang mengusik kehidupanku. Tapi sayangnya, jalang itu kucintai.

Perkenalkan, aku laki-laki, aku maskulin, aku tidak bisa berdiam diri dengan hanya satu wanita. Terlalu munafik jika aku katakan bahwa hanya ada satu wanita yang aku suka. Aku senang berpetualang, juga pada banyak hati. Aku kurang berminat berbicara tentang kesetiaan, karena kesetiaan itu mematikan. Kesetiaan akan melahirkan kecemburuan, dan cemburu itu menyesatkan. Orang bisa membunuh karena gelap mata sebab cemburu. Namaku Geo. Itu jika kamu mau tahu. Sayangnya, perempuan itu melankolis dan sangat cemburuan, kecuali untuk beberapa kasus, ada juga yang menyerang dan agresif. Perempuan punya ekspektasi lebih tentang kesetiaan. Bagi laki-laki, jangan pernah bermain-main kata, atau menjanjikan sebuah kebersamaan untuk selamanya jika kau hanya singgah sementara dan mau menikmatinya saja. Perempuan itu akan minta kau menikah dengannya, berumah tangga, dan melahirkan banyak anak.

Jika akan ada banyak wanita yang menggugatku, mungkin itu laku yang sia-sia. Aku selalu fair dalam mendekati wanita, merajut kisah sehari atau beberapa jam dengan mereka, pasti kuungkapkan terlebih dahulu bahwa aku bukan laki-laki yang rela jatuh pada pelukan satu wanita saja.
****

Pertemuan itu tak sengaja, seperti sebuah kecelakaan waktu. Entah pula, aku yang sangat rasional merasa berharap bahwa kecelakaan itu akan kembali terjadi meski hanya sekedar bisa menyapanya sebentar. Bisa saja langsung kutemui dia, tapi kuingin semuanya natural, aku ingin dia juga merasa perlu bertemu denganku. Gadis itu, cukup bisa membuatku merasa kalah. Dia istimewa dengan sisi-sisi pribadi yang tak dibuat-buat. Tapi rasa-rasanya aku tak perlu banyak memujinya. Aku tidak mau jatuh cinta. Aku merasa bahwa kita tidak selalu bisa selalu menentukan kepada siapa kita harus jatuh cinta. Dia gadis istimewa, Maharani namanya. Dia tak tahu, aku -si playboy- sedikit memujinya.