Selasa, 15 Juni 2010
RUANG KECIL DI POJOK WORLD CLASS UNIVERSITY
Berbicara mengenai fasilitas, perlu ditilik dari sudut pandang yang seringkali terlupakan. TOILET. Ruangan kecil yang berada di sudut-sudut gedung fakultas banyak yang terabaikan dan kondisinya kurang layak untuk dipakai. Kebersihan toilet yang kurang terjaga, sarana di dalamnya yang rusak, serta hal krusial yang sering digaungkan tapi terkesampingkan: air sering mati dan banyak toilet yang dikunci. Padahal jika dikaitkan dengan teori kebutuhan Malsow, toilet merupakan salah satu sarana untuk memenuhi kebutuhan fisiologis manusia. Kebutuhan tersebut berada di piramida paling bawah yang artinya harus terpenuhi pertama kali.
Ironis jika sebuah perguruan tinggi yang sedang berusaha memiliki predikat World Class University masih memiliki persoalan tentang kebersihan dan kenyamanan TOILET. Bahkan untuk bisa mengakses toilet yang bersih, mahasiswa perlu mengeluarkan recehan Rp 500,00. Hal tersebut bisa menjadi rasional karena memang untuk menjaga kebersihan membutuhkan sumberdaya finansial. Namun, apakah persoalan dana untuk menjaga properti masih harus dibebankan kepada mahasiswa juga?
Untuk mengatasi persoalan toilet ini tidak hanya tanggungjawab satu bagian saja, katakanlah bagian fasilitas dan properti, namun perlu kolaborsi dan sinergitas dari semua pihak. Masih ada jalan keluar untuk menikmati toilet yang bersih tanpa harus membayar, yaitu dengan cara bersama-sama menjaga dan merasa memiliki fasilitas tersebut. Tidak ada salahnya untuk membawa kantong plastik jika tempat sampah tidak ada, tidak ada ruginya untuk menghemat penggunaan kertas tisu agar sampah tisu juga berkurang. Dan, perlu koordinasi yang baik dari semua pihak supaya toilet bisa tetap buka sampai malam setiap hari dengan ketersediaan air yang mencukupi.
Kamis, 27 Mei 2010
MEMORIA
Masih lekat dipikiranku suatu waktu yang menjadi roda masa sekarang. Masa lalu, saat aku masih berada di gendonganmu, menangis, merengek minta susu. Kau tak lantas memarahiku tapi kau belai rambutku dan kau carikan susu. Pun masih tergambar jelas saat rumah itu masih tak berdinding, kau memelukku erat saat tidur karena aku takut. Kau bilang, setan itu hanya datang pada anak yang penakut. Katamu aku adalah anak gadismu yang pemberani, aku tak perlu takut ada ibu disisiku, memelukku.
“Ibu aku tidak bisa tidur” aku ingat kata-kata itu keluar dari mulutku tengah malam, saat kulihat wajahmu pulas. Kau langsung terbangun, kau pijat-pijat tanganku sambil bercerita tentang rasa banggamu memiliki anak gadis sepertiku. Padahal, kutahu siangmu begitu melelahkan. Kau adalah pahlawan yang sama sekali tak berpamrih.
Aku sadari sekarang, saat itu rambutku masih gimbal. Betapa susahnya kau merawatnya. Aku pun malu saat itu, mengapa rambutku gimbal. Tapi kau tak pernah malu, kau katakan “Ibu bahagia memiliki anak gadis yang cantik sepertimu”. Kau ikat rambutku agar aku tak merasa gerah. Dan lagi-lagi kau menguatkanku saat teman-teman mencemooh karena rambutku berbeda dengan mereka, kau bilang, “Tuhan menjadikanmu istimewa sehingga Dia menciptakanmu dengan berbeda”. Aku tak paham kata-katamu saat itu. Aku hanya tahu, tanganmu setia menggandengku pergi ke sekolah meski kau harus menunda sebentar waktu untuk menjemur pakaian atau bersih-bersih rumah. Aku selalu menjadi prioritasmu.
Semakin aku besar, rasanya bayang-bayang masa dimana kau senantiasa menuntunku semakin lekat. Banyak kenangan yang membuatku selalu terpacu untuk mencapai keberhasilan, adalah kenangan bersamamu ibu. Ibu, saat itu....
Kau selalu bangun lebih pagi sebelum kokok ayam terdengar. Menanak nasi, dan menyapu rumah kita yang dulu belum berjendela kaca. Kau biarkan aku yang berusia lima tahun tergolek di tempat tidur, meneruskan mimpi semalam. Hati-hati sekali jika kau bangun, kau tak ingin membuatku terjaga. Baru setelah azan subuh, kau bangunkan aku dan saat itu adalah pertama kali kau ajariku mengambil air wudlu. Kau membelikanku mukena kecil yang sampai saat ini masih ada, kau ajari dua rakaat subuh padaku. Tapi aku nakal ibu, aku ingin dapat pahala lebih saat itu dan aku pun menambah rakaat subuh menjadi tiga. Kau tak menyalahkanku, justru kau menjelaskan padaku dengan teduhmu.
Aku ingin doaku semakbul doamu, aku ingin menjadi ibu yang sepertimu. Sabar jika aku menangis, pengertian jika aku merengek, dan kau murka saat aku melakukan salah. Ibu, kau perempuan terhebat yang hadir dalam hidupku. Melebihi segala guru yang ada di dunia ini, kau sekolah pertamaku dan guru seumur hidupku.
Saat itu, pertama kali aku merasakan pusing naik angkutan umum. Barangkali pertama kali pula aku naik kendaraan bermotor. Aku lupa. Saat itu umurku empat. Kau menggendongku, mengenakan gaun warna biru. Kau mengajakku jalan-jalan karena aku merengek minta bertemu ayah yang sedang di perantauan. Kau tak menjanjikan bahwa kita akan menyusul ayah. Kau hanya bilang bahwa kita akan naik mobil seperti yang ayah lakukan. Aku melonjak senang. Tapi ibu, aku tak tahu ternyata naik mobil bisa membuat kepala sangat pusing dan perut menjadi mual. Aku tak tahan di dalam mobil, lima belas menit perjalanan aku mulai menangis. Dan kau mengusap kepalaku, berusaha mencari objek yang bisa membuatku tenang. Kau tunjukkan beberapa ekor sapi di sawah yang terlihat di sepanjang jalan.
”Naik mobil memang pusing, tapi kalau kamu naik sapi akan lama sekali sampai ke tujuan” katamu saat itu.
”Memang kita benar-benar menyusul ayah?” tanyaku polos setelah diam sambil melihat sapi-sapi itu.
”Kita sudah naik mobil seperti yang ayah lakukan, ayah akan bangga karena puterinya berani menaiki mesin yang membuatnya pusing dan mual.” Saat itu aku tak paham maksudmu, tapi aku sangat bahagia karena kau ternyata mengajakku membeli baju mungil berwarna merah yang bentuknya masih kuingat sampai sekarang.
Saat ayah pulang, kau dengan bangga menceritakan bahwa aku sudah sekolah. Aku masuk TK dan aku sudah bisa menyanyikan lagu ’Balonku’. Wajahmu berseri dan kau sangat cantik.
Ibu, satu kenangan ini membuatku selalu berusaha menjadi nomor satu. Aku ingat seusai magrib senja itu. Rumah kita belum ada listrik. Dan kau tak pernah kehabisan cerita untuk menemaniku yang masih terjaga. Aku nyaman berada di dekatmu. Senja itu, hanya dengan satu lampu templok, kau ambil jam dinding satu-satunya di rumah kita. Kau letakkan di atas meja dan kau dekatkan lampu templok itu untuk menyinarinya. Kau beranjak dari tempatku dan mengambil sesuatu. Ternyata kau membawakan aku sebuah buku tulis bergaris dan sebatang pensil. Aku takjub dengan dua benda itu. Artinya kau akan mengajariku menulis. Di sekolah aku sudah belajar membaca, tapi aku masih kaku untuk menulis.
Kau taruh buku dihadapanku, kau ajari aku memegang pensil kayu itu. Aku sangat bangga ketika memegang benda itu. Sungguh, itulah pertama kali aku tahu bahwa menulis itu sangat menyenangkan. Kau berusaha mengajari menulis dengan meniru angka-angka yang ada pada jam dinding di hadapanku. Kau bilang, ”Kamu akan menjadi seorang yang hebat nak, giatlah berlatih.” Aku semakin semangat dan belum juga mau tidur meski jarum pendek sudah di angka sembilan. Kau menuntun tanganku untuk sebisa mungkin menulis angka-angka itu. Ibu, aku baru tahu setelah aku kelas tiga SD, betapa besar jasamu. Saat itu aku ingat, ayah tak ada di rumah, dan aku harus mengembalikan raport ke sekolah hari itu. Raport harus ditandatangani orang tua. Aku panik ibu, mencarimu, mencari raportku pukul setengah tujuh pagi. Yang kutemui hanya hanya sarapan pagiku di meja. Kau tak ada ibu, aku marah dan menangis saat itu. Belum juga pukul tujuh kurang seperempat, kau muncul membawa buku bersampul merah, raport-ku. Kuperiksa ternyata sudah ditandatangani.
”Ibu dari mana?” tanyaku masih dengan isak tangis.
”Dari rumah sepupumu, minta tanda tangan” jelasmu.
”Kenapa minta padanya?” aku tak terima karena aku ingin tanda tangan orang tuaku yang ada di raport.
Ibu memelukku sambil tersenyum, ”Maafkan ibu nak, ibu tidak bisa menulis, karena ibu dulu tidak bisa sekolah sepertimu. Kau harus sekolah sekarang, supaya kau pandai menulis, membaca, dan berkarya” nasehatmu saat itu.
Sejak saat itu, kutahu perjuanganmu begitu keras untuk bisa mendidikku sampai sekarang, mengenyam bangku sekolah, mendapat ranking satu. Semuanya diawali dengan keiklasan seorang ibu sepertimu yang berusaha mengajari anaknya dengan meniru angka jam dinding supaya anaknya bisa menulis. Padahal ibu pun belum pernah menulis sebelumnya.
Ibu, aku sudah lancar menulis angka-angka itu sekarang. Aku sudah bisa membaca dengan lancar. Rasanya ingin kembali menikmati waktu, saat aku belum bisa apa-apa, menemukan kebahagiaan dari hal-hal sederhana itu. Kau selalu mengajariku untuk teguh pada pendirian dan menjadi tegar dalam kondisi apa pun. Hingga saat ini. Kau tak pernah mengungkit jasamu, tak pernah meminta imbalan dari tindakanmu. Saat aku pulang, kau sedia menyiapkan sarapan pagi dan memasak untuk makan siang serta malam. Kau tak peduli dengan lelahmu kemarin sore dan pagi-pagi sekali kau sudah bangun untuk merebus air panas untuk mandiku. Ibu, jasamu tak terukur, jika ada setumpuk nominal di dunia ini pun tak pernah cukup untuk membayarnya. Ibu, jika anakmu kau anggap pintar, maka sesungguhnya kau jauh lebih cerdas dari anakmu ini. Jika kau doakan anakmu menjadi orang hebat, maka sesungguhnya kau jauh lebih hebat melahirkan anak-anakmu. Ibu....
*Ibu, aku tahu, kau pun tak bisa membaca tulisanku. Tapi, aku ingin meninggalkan jejak yang kupersembahkan untukmu.
Aku mencintaimu ibu........
Rabu, 19 Mei 2010
Baiknya, Kita Akhiri Saja
Aku cukup bangga bisa mengenal sosokmu yang nyata-nyata sempat hanya sebatas sahabat fana. Aku pun beruntung bisa sekedar mencuri hati dan perhatianmu beberapa waktu ini. Namun sayangnya, aku tak pernah benar-benar merasa yakin meski hanya sekedar cukup untuk belajar mencintaimu. Meski malam ini aku tak bisa menikamati bulan sabit bersamamu, izinkanlah aku tetap berucap maaf, karena aku perlu untuk mengakhiri kebersamaan kita.
Minggu, 16 Mei 2010
16 Mei 2010
‘aku kangen’ pesanku tempo hari
‘aku juga kangen’ balasnya, tanpa kalimat selanjutnya. Dan esok harinya aku begitu bersemangat menjalani hari.
‘aku menang’
---------------
Tak ada balasan.
‘kemana saja hari ini?’
--------------------------
Tak ada balasan.
--------------------------
--------------------------
--------------------------
Hingga hanya bisa kupandangi layar kosong itu. Tak kudapati kemesraanmu beberapa hari ini.
Jumat, 07 Mei 2010
YA SUDAHLAH (Bondan ft Fade to Black)
Ketika mimpimu yang begitu indah,
tak pernah terwujud..ya sudahlah
Saat kau berlari mengejar anganmu,
dan tak pernah sampai..ya sudahlah (hhmm)
*reff:
Apapun yang terjadi, ku kan slalu ada untukmu
Janganlah kau bersedih..coz everything’s gonna be OKAY
Santoz:
yo..Satu dari sekian kemungkinan
kau jatuh tanpa ada harapan
saat itu raga kupersembahkan
bersama jiwa, cita,cinta dan harapan
Lezz:
Kita sambung satu persatu sebab akibat
tapi tenanglah mata hati kita kan lihat
menuntun ke arah mata angin bahagia
kau dan aku tahu,jalan selalu ada
titz:
juga ku tahu lagi problema kan terus menerjang
bagai deras ombak yang menabrak karang
namun ku tahu..ku tahu kau mampu tuk tetap tenang
hadapi ini bersamaku hingga ajal datang
B:
Saat kau berharap keramahan cinta,
tak pernah kau dapat..ya sudahlah
yeeah..dengar ku bernyanyi..lalalalalala
heyyeye yaya dedudedadedudedudidam..semua ini belum berahir
back to *reff
F2B:
satukan langkah..langkah yang beriring!
genggam hati, rangkul emosi!
B:
Genggamlah hatiku, satukan langkah kita
F2B:
Sama rasa, tanpa pamrih
ini cinta..across da sea
B:
peluklah diriku..terbanglah bersamaku, melayang jauh.. (come fly with me, baby)
F2B:
Ini aku dari ujung rambut menyusur jemari
sosok ini yang menerima kelemahan hati
yea..aku cinta kau..(ini cinta kita)
cukup satu waktu yes.(untuk satu cinta)
satu cinta ini akan tuntun jalanku
rapatkan jiwamu yo tenang disisiku
rebahkan rasamu..untuk yang ditunggu
Bahagia..Hingga ujung waktu.
back to *reff 2x
The Spectrum of Feeling PART VI
“Baru kau beritahu sekarang?” katanya di ujung telpon. Sebab teknologi, jarak menjadi semakin dekat meski ada sekat. Ah, aku jadi teringat, dulu masih pakai surat.
“Bukan maksudku....” aku tak berani melanjutkan, rasa bersalahku membuncah. Biasanya selalu kukabari dia, apa pun kondisiku.
“Sudahlah, nikmati saja perjalananmu, aku kecewa!” kata-katanya getir dan membuatku tak bisa tidur semalaman.
Adakah yang salah jika aku berusaha melabuhkan hati kepada selain Maharani? Kutahu jejak bisu kami tak mungkin bisa untuk diketahui banyak orang. Kami diam, tak perlu ada banyak komentar dari apa yang pernah kami jalani.
Sebenarnya, bukan bagaimana jalan ceritanya, tapi semua itu tentang kebersamaan kita. [Maharani]
Percayakah jika laki-laki itu pembohong dan perempuan mudah menangis? Aku salah satu yang sedikit percaya akan hal itu. Laki-laki tidak selamanya akan berbohong, tapi di suatu waktu dia akan mencari cara aman untuk kenyamanannya. Perempuan pun sebenarnya demikian, tapi kadang lelaki yang selalu disalahkan. Perempuan mudah menangis sepertinya, tapi Maharani sangat pandai menyembunyikan air matanya di hadapanku.
Cinta itu bukan bagaimana kita mencapai, tapi seperti apa kita menjaga. [Maharani]
Katanya, dia sangat mencintaiku, tapi entah mengapa aku menjadi ragu saat dia tak mau mendengar perkataanku. Mengajaknya menjadi seperti apa yang aku inginkan. Maharani sepertinya tak pernah menolak dengan peraturanku, dia patuh, kusangka begitu.
Biarkanlah orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri. Pelangi akan indah jika berwarna, begitu pun kasih akan bermakna jika berbeda. [Maharani]
****
“Jalani saja” ucapku setelah tiga hari dia meminta jeda. Bagaimana pun aku selalu mencintainya, menginginkannya, ingin memilikinya. Maharani memakiku dan berontak saat kukatakan hal itu, yang dia inginkan adalah satu jawaban “ya” atau “tidak”. Dia melepas dengan paksa genggaman tanganku yang sebenarnya menandakan bahwa aku masih ingin bersamanya. Tapi menurutnya apalah arti kebersamaan jika sebenarnya aku telah belajar membagi hati. Ah, Maharani, kadang dia manis, tapi sungguh sialan jika telah membuatku telak. Aku tak bisa berkata-kata lagi bahkan untuk sedikit saja menjelaskan. Dia selalu saja keras kepala, tak mau kalah. Dia bilang aku pengecut, padahal aku tak tahu apa itu keberanian. Aku hanya tidak ingin menyakiti dan mengecewakan salah satu hati.
Kuumbar janji yang kukira bisa kuwujudkan untuk Maharani. Aku katakan bahwa aku akan melakukan apa saja, asal aku bisa, dan itu bisa membuat dia bahagia. I promise to do anything for you, because i believe that there is something left between me and you. Sayangnya, dia memintaku untuk hanya memilihnya saja, dan mengucapkan selamat tinggal pada perempuanku yang satunya. Aku rasa aku tak bisa. Satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah berdamai dengan waktu, biarkan semua mengalir. Aku pun tidak pernah tahu –hingga saat ini- siapa yang akan menjadi pendampingku. Perempuan memang kadang berlebihan untuk minta dimengerti.
“Nikmati saja perjalananmu. Aku cukup bahagia jika tahu kau bahagia” sampai akhirnya aku ingin menampar diriku sendiri saat mendengar dia berkata seperti itu.
“Maksud kamu?” tanyaku pada Maharani.
“Sekuat apa pun kau menahanku untuk bertahan dan kuat menjalani semua ini dengan hanya separuh hatimu, kau takkan pernah berhasil.” Katanya dingin. Sedingin tatapannya saat itu.
“Untuk apa kau menemuiku jika hanya berucap seperti itu? Kau sia-siakan tenagamu” balasku.
“Kau salah, aku menemuimu karena aku tak mau tenagaku sia-sia, hanya untuk menangisimu. Aku ingin bebas dari perasaan yang sesungguhnya mematikan rasionalitasku ini. Kau nikmatilah perjalananmu dengan perempuanmu itu.”
“Bisakah sedikit saja aku memberi penjelasan padamu Maharani?” mungkin aku cukup mengiba.
“Tak ada yang perlu kau jelaskan, semua sudah sangat jelas.”
“Maharani! Kau selalu keras kepala.” Kataku sekeras maknanya.
“Terima kasih dan maaf, Rey, selamat tinggal.” Maharani berlalu tanpa menoleh lagi ke belakang. Hanya saja kata-kata terakhir yang diucapkannya tak mau hengkang dari otakku, TERIMA KASIH DAN MAAF.
TO BE CONTINUED...
-Turasih-
Minggu, 04 April 2010
The Spectrum of Feeling PART V
Seperti detik-detik yang telah berlalu, aku pun masih mencintaimu, sampai sekarang. Meski banyak rongrongan menggelitik gendang telingaku untuk segera melupakanmu dan menggantikannya dengan yang lain, tapi tak ku indahkan. Bukannya aku tak mampu melakukannya tapi aku tak mau mewujudkannya. Karena aku merasa yakin, setidaknya, kau pun masih merindukanku. Aku percaya kau masih mengabadikan jejak bisu kita yang barangkali telah berkali-kali tergilas hujan air mataku. Kau, kupercaya itu. Aku, selalu mencintaimu meski dalam bisu.
Aku tak mengerti akan kehadiran rasa ini. Sama sekali aku tak pernah memaksakan diri untuk mencintaimu. Dulu atau sekarang, semuanya normal. Hanya perasaanku saja yang barangkali tak pantas disebut normal. Mataku tak mampu membedakan mana realita dan mana fatamorgana. Mencintaimu sampai detik ini bukan fatamorgana, bukan pula realita, aku pun tak tahu apa istilah yang tepat untuk menyebutnya. Yang jelas, aku mencintaimu... sampai waktu yang tak ingin kuakhiri.
Kau, sebuah nama yang tak sempat terucap. Kau, sesosok wajah yang tak sempat terlihat. Kau satu hati yang tak lagi bisa kululuhkan. Dan untuk sebuah apresiasi perasaan yang mendewasakan. Aku benar-benar mundur kali ini.
The Spectrum of Feeling PART IV
Perkenalkan, aku laki-laki, aku maskulin, aku tidak bisa berdiam diri dengan hanya satu wanita. Terlalu munafik jika aku katakan bahwa hanya ada satu wanita yang aku suka. Aku senang berpetualang, juga pada banyak hati. Aku kurang berminat berbicara tentang kesetiaan, karena kesetiaan itu mematikan. Kesetiaan akan melahirkan kecemburuan, dan cemburu itu menyesatkan. Orang bisa membunuh karena gelap mata sebab cemburu. Namaku Geo. Itu jika kamu mau tahu. Sayangnya, perempuan itu melankolis dan sangat cemburuan, kecuali untuk beberapa kasus, ada juga yang menyerang dan agresif. Perempuan punya ekspektasi lebih tentang kesetiaan. Bagi laki-laki, jangan pernah bermain-main kata, atau menjanjikan sebuah kebersamaan untuk selamanya jika kau hanya singgah sementara dan mau menikmatinya saja. Perempuan itu akan minta kau menikah dengannya, berumah tangga, dan melahirkan banyak anak.
Jika akan ada banyak wanita yang menggugatku, mungkin itu laku yang sia-sia. Aku selalu fair dalam mendekati wanita, merajut kisah sehari atau beberapa jam dengan mereka, pasti kuungkapkan terlebih dahulu bahwa aku bukan laki-laki yang rela jatuh pada pelukan satu wanita saja.
****
Pertemuan itu tak sengaja, seperti sebuah kecelakaan waktu. Entah pula, aku yang sangat rasional merasa berharap bahwa kecelakaan itu akan kembali terjadi meski hanya sekedar bisa menyapanya sebentar. Bisa saja langsung kutemui dia, tapi kuingin semuanya natural, aku ingin dia juga merasa perlu bertemu denganku. Gadis itu, cukup bisa membuatku merasa kalah. Dia istimewa dengan sisi-sisi pribadi yang tak dibuat-buat. Tapi rasa-rasanya aku tak perlu banyak memujinya. Aku tidak mau jatuh cinta. Aku merasa bahwa kita tidak selalu bisa selalu menentukan kepada siapa kita harus jatuh cinta. Dia gadis istimewa, Maharani namanya. Dia tak tahu, aku -si playboy- sedikit memujinya.
The Spectrum of Feeling PART III
Dua puluh bilangan tahun, dia merasa menjejaki masa-masa melalui apa pun yang dia perbuat. Dia bisa melakukan apa saja yang dia inginkan, tentu saja ketika dia mampu menanggung konsekuensinya. Karena hidup adalah konsekuensi. Baginya, kehidupan itu adalah pencarian. Dia selalu mencari, apalagi kebebasan. Maharani tidak suka istilah "biarkan hidup mengalir seperti air", dalam pandangannya kalimat itu terlalu pasrah. Hidup perlu dilawan, segala sesuatu tidak bisa mengalir begitu saja, semuanya harus dikondisikan. Untuk apa manusia diberi kelebihan akal untuk mewujudkan peradaban jika perjalanan hidup tak lebih dari "kerbau yang dicocok hidungnya"? Satu hal pencapaian paling tinggi yang dia inginkan dalam hidupnya adalah membuat pikirannya merdeka. Menjadi manusia yang merdeka, perempuan yang mumpuni, dan menjadi pribadi yang tidak tertindas. Jalannya satu, dia harus dan perlu cerdas.
Adakah jalan lain untuk menjadi pribadi yang merdeka? karena beberapa waktu terakhir banyak tetek bengek yang terlalu munafik jika dia mau mengelak. Dan lagi, rasa-rasa pikirannya terbelenggu untuk bisa bebas. Berlahan kebebasan itu semakin meredup seiring dengan ego yang berusaha dia pertahankan. Kecemburuan, itulah satu hal yang meracuninya. meracuni positifnya. meracuni jalan pikirannya. Katanya bisa memaafkan adalah kebesaran hati yang luar biasa. Tapi baginya memaafkan adalah mengoyak hati. Ya, dia salah dengan pandangannya, tapi entah mengapa emosinya menuntun pada ketidakikhlasan.
"Kita jalani saja, toh kita tidak pernah tahu siapa yang akan menjadi pendamping kita" kata laki-laki itu.
"aku tidak bisa seperti kamu, membagi hati" Maharani memaki pedas.
"Aku juga tidak menginginkannya" laki-laki itu tak bernada.
"Tapi kamu menikmatinya."
"Terserah kamu."
"Aku mundur" Maharani berteriak.
"Kamu tidak akan bisa!" laki-laki itu menjagal dan menahannya pergi.
Gontai langkah Maharani saat dia harus kembali pada kebebasannya. baginya, lima tahun perjalanan takkan semudah membalik telapak tangan apalagi bertepuk. Apa yang bisa kita berikan pada orang yang suatu saat menjadi pendamping kita jika telah terbiasa belajar membagi hati? Kebohongan apa yang akan kita tutupi dan dengan cara bagaimana?
"Aku mundur."
"Kamu tidak akan bisa" laki-laki itu menahan Maharani pergi.
Senin, 29 Maret 2010
Manusia dan Tuntutan Peradaban
Manusia dengan berbagai kelebihannya, terutama karunia akal yang pada akhirnya mengantarkannya untuk membentuk peradaban dari waktu ke waktu memeliki andil besar dalam upaya pemanfaatan sumber daya yang terdapat di bumi. Pemanfaatn tersebut tidak terlepas dari upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan dalam mencapai kesejahteraan. Seiring dengan pertambahan umur bumi dimana space untuk manusia tinggal semakin sempit akibat laju pertumbuhan penduduk yang kian meningkat, carying capacity pun semakin berkurang. Akibatnya muncul berbagai permasalahan dan konflik dalam pemanfaatan sumberdaya.
Isu global warming bagi saya menuntut manusia untuk menciptakan sebuah peradaban baru melalui upaya repositioning tugas-tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi. Saya menyebutnya ‘peradaban bijak yang dituntut’. Mengapa demikian? Perilaku bijak manusia untuk menjaga dan melestarikan bumi merupakan sebuah tuntutan kondisi yang mau tidak mau harus diupayakan. Tentu saja, jika manusia ingin terus melanjutkan peradaban sampai keturunan cucu buyut dan keturunannya lagi.
Salah satu perilaku untuk menjaga sumberdaya yang ada di bumi ini adalah perilaku berhemat. Menggunakan sesuatu sesuai porsinya dan tidak berlebihan. Misalnya dalam penggunaan air, ada sebuah refleksi yang mungkin patut untuk kita adopsi. ketika kita mandi, apakah sempat terpikir berapa volume air yang kita habiskan untuk membersihkan badan kita? Kemana air sisa yang kita gunakan untuk mandi? Sempatkah terpikir dalam pikiran untuk menampung dan menggunakan sisa air tersebut untuk keperluan lain? Jika jawabannya ‘iya’ maka saya ucapkan selamat, jika tidak maka mari kita mulai berpikir dan bertindak untuk melakukannya.
Ketika kita mandi, banyak air yang kita habiskan dan mengalir begitu saja. Pun dalam aktivitas yang lain seperti buang hajat, maka akan ada banyak air yang dibutuhkan dan dihabiskan. Sebuah contoh dari perilaku seseorang yang bagi saya patut ditiru yaitu memanfaatkan air sisa mandi. Ketika kita mandi, cobalah untuk menaruh beberapa ember di sekitar kaki kita dan biarkan air yang digunakan sebanyak mungkin bisa tertampung di ember tersebut. Tentu saja arahkan guyuran air setepat mungkin bisa jatuh di ember tadi. Tujuannya satu, yaitu untuk memanfaatkan sisa air tersebut untuk keperluan lain seperti menyiram sisa hajat kita. Sederhana, tapi yakinlah dari hal tersebut telah ada suatu tindakan berhemat dan dapat menurunkan tingkat konsumsi air bersih. Jika anda yang membaca tulisan ini terprovokasi untuk melakukannya, maka provokasilah yang lain juga!
Air meskipun disebut sebagai renewable natural resources, tetapi faktanya sekarang banyak tempat di belahan dunia ini yang kekurangan air sehingga kekeringan. Ada pula tempat yang kelimpahan air sehingga banjir. Oleh karena itu, upaya berhemat dalam penggunaan air perlu dilakukan dan dilestarikan. Tidakkah mengingat firman Allah SWT bahwa sesungguhnya Dia tidak menyukai hamba-hamba yang berlebihan, dan sesungguhnya pemborosan itu adalah perilaku setan? Maka marilah kita bangun sebuah peradaban yang bijak, yang mencermikan ke-berakal-an manusia. Caring now, for better tomorrow!
The Spectrum Of Feelings PART II
3 hari berlalu, seperti masa-masa yang tergilas oleh derasnya hujan kota ini. Aku menanti, menanti jawaban yang selama ini kau gantung. Tetap pada satu pendirian yang membawaku sampai di persimpangan ini. Pendirian itu adalah sebuah kepercayaan yang kubangun dengan susah payah bersama gelisah. 3 hari itu seperti sayembara dengan teka-teki yan tak terjawab meski waktunya sudah lewat 10 jam hitungan.
"Masih adakah yang bisa kita sisakan untuk bisa saling menyapa dalam sayang?"
Aku termangu dengan tatapan kosong memandang layar kosong tanpa pesan. Kau berdiam diri di sana tanpa acuh. Ya, kau banggakan dirimu sebagai laki-laki bernyawa dengan sejuta pesona. Pesona yang membuatku jatuh pada omong kosong khayalan.
"Kita jalani saja" hanya mata nanar ini yang mampu mengacakan segalanya. Penerimaan yang kupaksakan dengan dalih aku tak sanggup untuk kecewa. Aku hanya mampu diam membatu dalam sunyi tak terdefinisi diantara cakaran-cakaran jalang yang membuatku luruh dalam tangis tertahan. Rasionalitasku menuntunku untuk tak menjatuh mata air mataku, tapi hal itu justru membuat dada ini seperti ingin meledak. Aku berada di antara dimensi ketegaran dan ketidakrelaan.
"Harus ada jawabannya". Aku hanya butuh satu kata. Bukan diantara ya atau tidak. Tapi satu kata ya, atau satu kata tidak. Sungguh kuakui, cinta tak pandang siapa, cinta tak perlu alasan apa, cinta tak punya mata. Aku terpuruk dan terjerembab dalam lorong gelap dengan peristilahan cinta. Kucintai kau tanpa kutahu makna kecewa. Aku berharap dengan segunung asa untuk terus bertahan, akulah yang akan jadi pemenangnya. Tapi semuanya buyar, saat ini aku hanya butuh satu kata. satu kata ya atau satu kata tidak, bukan diantaranya atau kalimat jalani saja.
Hey, kau yang punya hati. Kau nikmati aku dalam malam-malammu (kau nikmati kegalauanku, kau nikmati gundahku yang melahirkan tawa hambar dan tangis yang sesumbar). Sampai sekarang rasionalitasku pun tak bisa membawa diri ini untuk pergi tanpa menengok ke belakang. Setiap kali kujejakkan kaki dalam lapang jalan yang sebenarnya, selalu saja penopangku tak cukup kuat untuk meneruskannya. kupikir, tongkatku masih tertinggal di kamar hatimu. Kutengok lagi ke belakang dan berusaha mencari pintu rumahmu untuk bisa singgah dan mengambil milikku yang ada padamu.
Rumahmu lapang, masih selapang dulu ketika aku biasa menyapamu dan membantumu menjaganya. Tapi ada bagian yang tak boleh kubuka, padahal disitulah kusimpan tongkatku. Kau, kau sembunyikan sesuatu di ruangan yang paling bisa membuatku nyaman dalam rumahmu.
"kenapa harus aku?" Perlukah kujelaskan pada setiap benda yang bisu menatapku? kukira semuanya bisa kujaga sampai ribuan jam. Tapi sekejap saja kau tinggalkan jejak dan tanpa peduli mulut mana yang selalu menyebutkan nama kamu diantara sederet nama lain dalam doanya. Jalan pikiranku dibuat buntu tanpa kepastian.
3 hari yang sudah berlalu. kuminta waktu untuk menciptakan spasi antara kita yang kusangka akan membuat kata-kata kita lebih memiliki ruang. kuminta waktu untuk mencuci benci yang meradang dalam beberapa prasangka. Namun 3 hari itu hanyalah 3 hari tanpa ya, 3 hari tanpa tidak. kau hanya menjawab "jalani saja".
Kamis, 18 Maret 2010
More than Words (LIRIK LAGU WESTLIFE)
Westlife - More Than Words Lyrics
Saying I Love You
Is Not The Words
I Want To Hear From You
It's Not That I Want You
Not To Say
But If You Only Knew
How Easy
It Would Be To
Show Me How You Feel
More Than Words
Is All You Have To Do
To Make It Real
Then You Wouldn't
Have To Say
That You Love Me
Cos I'd Already Know
What Would You Do
If My Heart Was Torn In Two
More Than Words To Show You Feel
That Your Love For Me Is Real
What Would You Say
If I Took Those Words Away
Then You Couldn't Make Things New
Just By Saying I Love You
It S More Than Words
It S More Than What You Say
It S The Things You Do
Oh Yeah
It S More Than Words
It S More Than What You Say
It S The Things You Do
Oh Yeah
Now That I've Tried To
Talk To You
And Make You Understand
All You Have To Do
Is Close Your Eyes
And Just Reach Out Your Hands
And Touch Me
Hold Me Close
Don't Ever Let Me Go
More Than Words
Is All I Ever
Needed You To Show
Then You Wouldn't Have To Say
That You Love Me
Cos I'd Already Know
What Would You Do
If My Heart Was Torn In Two
More Than Words To Show You Feel
That Your Love For Me Is Real
What Would You Say If I Took Those Words Away
Then You Couldn't Make Things New
Just By Saying I Love You
More Than Words
powered by lirik lagu indonesia
Senin, 08 Maret 2010
Kabar Sederhana
Kamis, 18 Februari 2010
The Spectrum of Feeling
Mungkin, suatu waktu kita masih bisa memetik gitar bersama dengan simponi yang sering kita senandungkan. Bahkan ketika seharusnya aku bisa tanpamu, justru aku sangat mengharap hadirmu. Untuk berbagi sesak ini, berbagi segala kekacauan, berbagai perasaan itu. Rasa sedih yang membuat kreatifitasku sempat mati, seakan semuanya tuntas dan tak butuh dihadapi. Satu-satunya kalimat yang rasanya memenuhi gendang telingaku adalah ”suatu saat nanti aku ingin kamu yang jadi istriku”. Lalu apa artinya semua ini?
Mengapa kata-kata itu masih kamu ucapkan dalam ada dan tiada kejelasan hubungan kita? Dalam dekap tak bernyawa dari napas yang sedang sulit kuhela?
Kamu adalah salah satu cita-cita terindah yang tak terkalahkan. Mendampingimu adalah target paling utama dalam kesetiaan. Yah, itu salah satu alasan (kenapa harus ada jawaban dari setiap pertanyaan dan perlu ada alasan dari setiap pernyataan?) mengapa aku berani mengambil keputusan untuk menjalani hubungan ini. Alasan? Ya, alasan! Alasan bahwa aku menyayangimu, mencintaimu, dan menghormatimu. Padahal aku tahu bahwa: hubungan tidak hanya butuh cinta.
Setiap kali, sejak hari itu, aku selalu merindukanmu. Kamu yang lembut, yang apa adanya menerimaku, yang berusaha membuatku lurus, yang tak pernah kecewakanku sebelumnya. Meski sekarang aku sendiri tak mampu memaknai arti kekecewaan. Karena denganmu, sesuatu menjadi luar biasa, sederhana namun mengena. Setiap kali bersamamu aku bisa merasakan ketulusan tatapan, lembut sapaan, dan kerendahan hati dari setiap ucapan. Hingga aku lupa apa itu kecewa.
Wanita itu diciptakan dengan sempurna, hanya satu kebodohannya yaitu mereka kadang tidak menyadari bahwa dirinya berharga.
Di sini, aku, masih belum bisa berhenti mencintaimu. Hanya mampu diam mencintaimu dalam kebisuan. Kata orang: cinta harus diungkapkan. Tapi bagiku tak perlu, aku selalu tahu bahwa kurasakan itu untukmu. Karena aku tak pernah punya alasan untuk meninggalkanmu. Kamu tahu? Betapa sakitnya menerima kenyataan bahwa hanya separuh hatimu untukku. Betapa tak ikhlasnya menatap matamu tapi memantul bayangan orang lain di salah satu sudutnya. Tapi selalu saja, aku tak pernah merasa punya cukup alasan untuk merasa kecewa. Meski sudah kusiapkan puluhan pertanyaan lengkap dengan struktur 5W+1H-nya, tetap saja saat berhadapan denganmu aku bisu.
Aku sadari bahwa setiap keping kenangan itu sangat mudah untuk menghasut air mata ini. Namun, Tuhan tidak pernah menciptakan suatu kondisi tanpa solusi. Aku masih manusia yang merasa mampu untuk mengazaskan perkembangan intelektualitas. Oleh sebab itu, kucari jeda sejenak untuk keluar dari lingkaran kita. Aku berada di luar lingkaran sekarang. Ya, untuk beberapa hal kupikir aku cukup menjadi penonton saja, agar aku merasa terhibur, entah pun menangis atau tertawa. Sama seperti hal ini, aku cukup menjadi penonton, penilai, pengukur, sampai berapa lama kamu bisa bertahan dengan separuh hatimu itu.
Semoga ini menjadi satu jalan untuk semakin yakin bahwa segala ketentuan ada di tangan-Nya. Aku, kamu, dia, dan siapa pun hanya sebagai perencana kedua. Tuhan telah menuliskan terlebih dahulu, sesuatu yang terbaik menurut kita belum tentu yang terbaik menurut-Nya. Ya, aku sedang berusaha untuk keluar dari lingkaran itu.
Di sini, walau tak mampu menggenggam tanganmu untuk tenangkanku, aku berusaha memandang masa depan kita dengan cara yang berbeda. Jika ada jalan yang terbaik yang mampu kita tapaki, semoga itu adalah keputusan yang tak saling menyakiti. Aku ingin mampu membawa semuanya ke arah yang bermanfaat, bukan untuk aku dan kamu saja, tapi juga dia. Aku ingin memelukmu dalam kenyataan dan keyakinan, mempercayaimu dalam keiklasan. Sampai waktunya tiba, ku masih memberimu waktu sampai kita tahu bahwa ada satu titik dimana kita harus memutuskan jalan kita. Sampai kita yakin bahwa kita akan tetap satu jalan atau berpisah di persimpangan. Dan waktu itu sudah mulai dihitung mundur. Kuyakin, titik itu akan kita temukan meski kita biasa, hanya Tuhan yang luar biasa.
Aku mencintaimu, sampai aku tak tahu makna kecewa.
Thanks to: all friends who have suggested to me that life is an adventure to be faced. There are too many reasons to be thought. There are too many problems to be solved. But, because of you friends, I can be stronger.
Rabu, 17 Februari 2010
FAR AWAY-NICKELBACK
Misused, Mistakes
Too long, Too late
Who was I to make you wait
Just one chance
Just one breath
Just in case there's just one left
'Cause you know,
you know, you know
[CHORUS]
That I love you
I have loved you all along
And I miss you
Been far away for far too long
I keep dreaming you'll be with me
and you'll never go
Stop breathing if
I don't see you anymore
On my knees, I'll ask
Last chance for one last dance
'Cause with you, I'd withstand
All of hell to hold your hand
I'd give it all
I'd give for us
Give anything but I won't give up
'Cause you know,
you know, you know
[CHORUS]
So far away
Been far away for far too long
So far away(So far away)
Been far away for far too long
But you know, you know, you know
I wanted
I wanted you to stay
'Cause I needed
I need to hear you say
That I love you
I have loved you all along
And I forgive you
For being away for far too long
So keep breathing
'Cause I'm not leaving you anymore
believe it
Hold on to me and, never let me go
So keep breathing
'Cause I'm not leaving you anymore
believe it
Hold on to me and, never let me go
Rabu, 03 Februari 2010
Aku Selalu Mencintaimu
hari ini sekan aku bernostalgia dengan semuanya, mengharapkan de javu itu ada. Kurasa tak ada yang salah dengan masa lalu. Nyatanya aku ada sampai sekarang berawal dari masa lalu.
20 tahun yang lalu... aku diberi nama oleh orang tuaku, kakekku tepatnya. Diharapkan menjadi orang yang penuh dengan kasih sayang.
Dan hari ini, aku bilang..."aku adalah orang yang mampu menyayangi, tapi aku juga berharap untuk tidak disakiti". Atau mungkin aku pernah menyekiti (barangkali, itu tak kupngkiri).
Aku dan serpihan masa lalu bersatu di kota ini.
Kau, aku, dia, mereka, semua, hidup, mati, beradu nama di otakku.
Aku mendendangkan lagu sendu sejak awal Februari lalu, tentang sebuah asa tak terjawab. tentang cerita yang tersembunyi. Tentang batu dan air. Tentang api dan tanah. kita bukan sepasang yang saling menikam, kita saling melengkapi. sejak dulu, hingga kini. Tapi barangkali, ada banyak hal yang tak pernah kau duga, tak mau kuungkap padamu.
Karena aku terlanjur mencintaimu. Dalam waktu yang tak terhitung bilangannya.
Hari ini, aku bernostalgia dengan waktu, sebelum aku meneriakkan namamu untuk terakhir kali.
Semalam, aku tiba-tiba terbangun, merindukan masa-masa itu. Saat di mana kau dan aku saling mengingatkan untuk bangun dini hari dan bermunajat kepadaNya. Sungguh, aku rindu sekali masa itu.
Sempat juga satu hari di awal Februari 2010 ini, aku hampir muntah karena air mata ini tak bisa terbendung. Rasanya seperti gejolak yang sangat menyakitkan. Jika dapat kupilih, memang seharusnya tak perlu bertemu denganmu. Tapi aku sungguh merindukanmu, sehingga aku memilih untuk menemuimu.
Dan hari ini, aku akan meneriakkan namamu sekeuatku. Aku lelah.
Aku hanya ingin dirimu tahu, aku selalu mencintaimu.DK.
Sabtu, 23 Januari 2010
Rindu Setengah Mati - D'Masiv
D’Masiv feat. Kevin Aprilio – Rindu Setengah Mati (OST Kejora dan Bintang)
aku ingin engkau ada di sini
menemaniku saat sepi
menemaniku saat gundah
berat hidup ini tanpa dirimu
ku hanya mencintai kamu
ku hanya memiliki kamu
reff:
aku rindu setengah mati kepadamu
sungguh ku ingin kau tahu
aku rindu setengah mati
meski tlah lama kita tak bertemu
ku selalu memimpikan kamu
ku tak bisa hidup tanpamu
repeat reff
aku rindu setengah mati
aku rindu setengah mati kepadamu
sungguh ku ingin kau tahu
aku rindu
Lirik lagu D’Masiv feat. Kevin Aprilio – Rindu Setengah Mati (OST Kejora dan Bintang) ini dipersembahkan oleh LirikLaguIndonesia.Net. Kunjungi DownloadLaguIndonesia.Net untuk download MP3 D’Masiv feat. Kevin Aprilio – Rindu Setengah Mati (OST Kejora dan Bintang).
Senin, 18 Januari 2010
Sepenggal Curhat
Sabtu, 02 Januari 2010
The Last Memories
Aku adalah dua helai sayap yang muncul
Dari kesadaran akan gelap dalam rumah kepompong mungilku
Setiap detik, kuhitung berapa lama lagi aku akan terbang
Kudera rasa sakitku untuk mencari celah kebebasan
Aku menari
Mencerna setiap radius yang telah kulewati
Kukecup setiap keindahan, agar aku bisa menjadi bagian darinya
Meski aku hanya seekor kupu-kupu
Dengan dua helai sayap yang muncul dari kesadaran akan gelap
Dalam rumah kepompong mungilku
Kau pernah dekat dalam ukuran jarak, pun lekat pada setiap gerak. Aku memujamu dan membiarkanmu menempati salah satu sudut terindahku. Kuizinkan hatiku menginginkanmu, juga tak kukekang otakku memikirkanmu. Mulutku bergumam untuk mendoakanmu meski kutahu kau semu.
Kupikir dulu, kita hanya akan sekedar bercerita tentang langit yang gelap sebagai pertanda pedih. Kuluapkan semua kepedihanku padamu, tanpa malu, tanpa peduli kau baik atau tidak. Seiring berjalannya usia detik demi detik, aku merasa ada sesuatu yang berbeda, lain dari biasanya. Aku merindukanmu, mendambamu, bermimpi tentangmu, dirimu mengimaji dalam pikiranku.
Kita berjalan meniti jalan aspal yang lurus, kemudian sampai juga saatnya bertemu derasnya aliran sungai dan liku jalan bersemak. Mungkin itu hanya bayanganku, hanya di pihakku, entah bagimu. Meski kadang kurasakan bahwa bebanmu lebih berat dari yang sekedar aku pikirkan. Mungkin juga kau terhimpit rasa bersalah, atau apapun sebutannya. Semuanya hanya mungkin karena aku tak mau lagi melihatmu. Aku sakit dengan rasaku. Sakit diantara banyak rasa untuk selalu sanggup mempertahankanmu berhari-hari dengan dihantui rasa bersalah yang semakin hari semakin dalam. Aku bersalah pada ku, mu, dia, mereka, dan Nya.
Aku pernah merasa kuat karenamu. Aku juga pernah begitu lemah sebab adamu. Aku sering tersenyum setelah mengangkat teleponmu, membaca smsmu, melihatmu di jalan, atau sekedar mengingatmu. Tapi aku juga tak jarang menangis mendengar kau memaksaku untuk tetap berdiri, aku tangisi pertemuan, aku tangisi kesempatan, aku tangisi semuanya yang kuingat tentangmu... kenangan. Kau pernah membuatku merasa berarti. Kau juga sempat membuatku berpikir bahwa aku adalah manusia paling tak berguna. Kau, memberikanku banyak kata untuk menciptakan episode-episode warta di dalam dunia karyaku. Kau, sempat meninabobokkan aku dalam setiap nada yang kau alunkan sebelum tidurku.
***
Kemarin, saat kudengar kabarmu, aku merasa seperti berputar-putar di sebuah labirin tua, sempit. Tak berbatas perdu atau semak yang cukup longgar, tapi aku terhimpit rumpun bambu liar yang membentuk alur buntu. Tak tahu ke mana harus kujejak. Semua buntu. Di saat seperti ini kupikir semua indraku tak berfungsi dengan baik. Tak cukup gaung jika aku berteriak, tak kan ada yang mendengarku. Kakiku pun sudah terlalu lemas untuk kuseret, pasrah. Jika memang Tuhan berkehendak helaan terakhir napasku adalah di tempat terkutuk ini, maka semoga esok hari ada yang menemukanku dan menguburku dengan layak. Pandangan ini sudah semakin kabur, tak ada cahaya, tak ada harapan meski hanya melihat bayangan tubuhku sendiri.
Tubuh ini tergoncang hebat ketika secercah cahaya menusuk retina mata. Ternyata labirin itu hanya mimpi. Tapi mengapa labirin? Mengapa buntu? Mengapa bambu liar? Berbagai tanda tanya agung membentuk stempel di otakku.
Kemesraan ini....
Janganlah cepat berlalu,
Hatiku damai,
Jiwaku tentram di sisimu*
Kini bukan lagi rasa sadarku yang berada di daerah ambang, tapi telingaku mendengar gumam lagu bertajuk kemesraan yang sempat kau dendangkan untukku. Aku baru saja tersadar dari mimpi tapi sepertinya harus kembali tersungkur ke alam bawah sadar itu lagi.
***
Kini, segunung harapan kuubah menjadi bongkahan-bongkahan kecil agar aku mampu menatanya. Kubiarkan diri ini berproses dengan mengenangmu. Mimpi-mimpi yang pernah kita ciptakan, angan yang kita bicarakan sekarang telah tergilas kenyataan. Aku, barangkali takkan pernah membuatmu hilang dari sebagian memoriku. Bagaimana pun, kau pernah ada di hatiku.
Kuucapkan selamat berbahagia dengan waktu. Dengannya yang mendampingimu....
Selasa, 15 Desember 2009
‘SKENARIO’ POLITIK DAN PROSES PENGEKANGAN DEMOKRASI (Sebuah Pesan untuk Para Wakil)
Jangan biarkan kami gagu
Dengan polahmu yang terlihat lugu
Jangan kau tipu rakyatmu
Kami bukan hambamu
Hari selasa tepatnya tanggal 10 November 2009 yang telah lalu adalah sebuah peristiwa penting bangsa Indonesia dan seluruh komponennya. Momentum bersejarah yang seharusnya dihayati sebagai sebuah refleksi pengabdian dan pengorbanan generasi penerus justru disuguhi dengan drama seri wakil rakyat yang hingga saat ini belum rampung. Kisah (baca: kasus) Cicak vs Buaya tak ubahnya sinetron strip in yang skenarionya dibuat semenarik mungkin untuk menaikkan rating penonton. Penyidikan kasus justru membuat kontoversi yang semakin mengkutub di berbagai kalangan. Seolah-olah persoalan yang tidak jelas arahnya adalah sebuah jembatan emas bagi upaya menaikkan popularitas. Entah apa yang akan dikatakan jika para pendahulu yang memperjuangkan kemerdekaan melihat polah generasi penerusnya yang sedemikian pongah. Tidak tahu si- (apa) yang benar dan si- (apa) yang salah. Politik menjadi ajang atau kontes menjadi bintang (sudah sukar dibedakan mana fakta, makna fiksi).
Politik sedianya memang telah menjadi sebuah wacana umum di berbagai level dalam masyarakat. Pengertian ’umum’ seharusnya memicu kesadaran yang semakin tinggi akan esensi politik itu sendiri. Politik bukan milik satu gelintir orang atau sekelompok golongan. Politik adalah sebuah kepentingan untuk banyak nyawa. Profesor Miriam Budiarjo menyatakan bahwa politik selalu menyangkut tujuan-tujuan dari seluruh masyarakat (public goals), dan bukan tujuan pribadi seseorang (private goals), saya artikan disini bahwa private goals juga termasuk kepentingan golongan tertentu. Seyogyanya dipahami bahwa dalam kancah perpolitikan, bukan hanya idealisme yang berperan tapi juga sensitifitas sosial yang nantinya akan membawa perubahan tidak sekedar sebagai sebuah statement of intent saja tetapi sebuah real action. Faktanya, upaya-upaya untuk sampai pada real action dipengaruhi oleh beberapa aspek yang terkadang membuat tujuan politik tersebut menjadi tidak murni lagi. Aspek yang berpengaruh tersebut bisa dimulai dari bagaimana suatu tampuk kekuasaan diperoleh. Apakah murni sebagai sebuah pengabdian? Atau pengabdian bersyarat? Atau juga realisasi hasrat sebagian orang yang haus kekuasaan demi sebuah eksistensi diri.
Jika kekuasaan diawali dengan tujuan pengabdian bersyarat dan sekedar realisasi hasrat haus kuasa maka jangan berharap kondisi yang lebih baik akan dicapai. Tidak perlu berteori bahwa Indonesia adalah negara demokratis dimana setiap orang berhak untuk bersuara dan hak tersebut diatur oleh UUD 1945. Ketika pengejaran kekuasaan telah dilandasi kepentingan segelintir orang maka yang terjadi adalah bagaimana membuat sebuah skenario politik yang paling indah dan dapat menaikkan pamor calon pemimpin sehingga namanya dapat tercantum sebagai ’PEMIMPIN’. Dimana esensi kemerdekaan berpendapat di negara demokrasi? Praktek nepotisme kelak akan terjadi lagi karena mengedepankan kepentingan segelintir individu atau kelompok. Kepemimpinan tak ubahnya seperti kekuasaan dinasti yang tak terpatahkan. Pembentukan opini publik tentang si-(apa) seperti sebuah retorika agenda setting yang mau tidak mau publik pada saatnya akan menganggap hal itu penting. Atau tak ubahnya spiral of silence yang mengkungkung suara dan kebebasan.
Menengok kondisi Bangsa yang sudah sedemikian carut marut di tengah slogan kemerdekaannya ini, sudah sepatutnya masing-masing individu mengevaluasi dan mengkoreksi diri. Kemerdekaan bukan sekedar pembacaan teks proklamasi atau peringatan hari besar melainkan bagaimana setiap individu berhak untuk memproklamirkan dirinya sebagai individu yang merdeka. Lepas dari politic of interest apapun. Kemerdekaan termasuk juga hak untuk menyuarakan pendapat dalam koridor keadilan tanpa disudutkan oleh kepentingan tertentu. Merdeka adalah persoalan eksistensi, salah satunya adalah eksistensi untuk berpendapat. Seharusnya tidak ada lagi skenario-skenario politik yang menyebabkan bangsa ini kehilangan jati diri demokrasi.
Semoga kesadaran akan eksistensi dalam koridor keadilan akan membawa masing-masing dari kita ke arah pencapaian cita-cita pencerdasan. Bukan pembodohan. Politik bukan sarana mencari popularitas apalagi jembatan untuk mencapai tujuan segelintir golongan. Harus ada cita-cita dan tujuan mulia untuk mewujudkan kepentingan bersama. Semoga cita-cita dan tujuan mulia tersebut tidak hilang dari cara pikir, nalar, dan tindakan para elite politik kita.
