Jangan kau hapus dulu diriku darimu. Izinkan aku melantunkan sebuah puisi tak berirama yang telah sekian lama kususun, untukmu. Kuciptakan disela mimpi-mimpiku. Aku dan segala kenangan tentangmu. Kusebut semua itu sebagai 'aku' dan 'kamu', karena kutahu takkan menjadi 'kita.'
Aku adalah dua helai sayap yang muncul
Dari kesadaran akan gelap dalam rumah kepompong mungilku
Setiap detik, kuhitung berapa lama lagi aku akan terbang
Kudera rasa sakitku untuk mencari celah kebebasan
Aku menari
Mencerna setiap radius yang telah kulewati
Kukecup setiap keindahan, agar aku bisa menjadi bagian darinya
Meski aku hanya seekor kupu-kupu
Dengan dua helai sayap yang muncul dari kesadaran akan gelap
Dalam rumah kepompong mungilku
Kau pernah dekat dalam ukuran jarak, pun lekat pada setiap gerak. Aku memujamu dan membiarkanmu menempati salah satu sudut terindahku. Kuizinkan hatiku menginginkanmu, juga tak kukekang otakku memikirkanmu. Mulutku bergumam untuk mendoakanmu meski kutahu kau semu.
Kupikir dulu, kita hanya akan sekedar bercerita tentang langit yang gelap sebagai pertanda pedih. Kuluapkan semua kepedihanku padamu, tanpa malu, tanpa peduli kau baik atau tidak. Seiring berjalannya usia detik demi detik, aku merasa ada sesuatu yang berbeda, lain dari biasanya. Aku merindukanmu, mendambamu, bermimpi tentangmu, dirimu mengimaji dalam pikiranku.
Kita berjalan meniti jalan aspal yang lurus, kemudian sampai juga saatnya bertemu derasnya aliran sungai dan liku jalan bersemak. Mungkin itu hanya bayanganku, hanya di pihakku, entah bagimu. Meski kadang kurasakan bahwa bebanmu lebih berat dari yang sekedar aku pikirkan. Mungkin juga kau terhimpit rasa bersalah, atau apapun sebutannya. Semuanya hanya mungkin karena aku tak mau lagi melihatmu. Aku sakit dengan rasaku. Sakit diantara banyak rasa untuk selalu sanggup mempertahankanmu berhari-hari dengan dihantui rasa bersalah yang semakin hari semakin dalam. Aku bersalah pada ku, mu, dia, mereka, dan Nya.
Aku pernah merasa kuat karenamu. Aku juga pernah begitu lemah sebab adamu. Aku sering tersenyum setelah mengangkat teleponmu, membaca smsmu, melihatmu di jalan, atau sekedar mengingatmu. Tapi aku juga tak jarang menangis mendengar kau memaksaku untuk tetap berdiri, aku tangisi pertemuan, aku tangisi kesempatan, aku tangisi semuanya yang kuingat tentangmu... kenangan. Kau pernah membuatku merasa berarti. Kau juga sempat membuatku berpikir bahwa aku adalah manusia paling tak berguna. Kau, memberikanku banyak kata untuk menciptakan episode-episode warta di dalam dunia karyaku. Kau, sempat meninabobokkan aku dalam setiap nada yang kau alunkan sebelum tidurku.
***
Kemarin, saat kudengar kabarmu, aku merasa seperti berputar-putar di sebuah labirin tua, sempit. Tak berbatas perdu atau semak yang cukup longgar, tapi aku terhimpit rumpun bambu liar yang membentuk alur buntu. Tak tahu ke mana harus kujejak. Semua buntu. Di saat seperti ini kupikir semua indraku tak berfungsi dengan baik. Tak cukup gaung jika aku berteriak, tak kan ada yang mendengarku. Kakiku pun sudah terlalu lemas untuk kuseret, pasrah. Jika memang Tuhan berkehendak helaan terakhir napasku adalah di tempat terkutuk ini, maka semoga esok hari ada yang menemukanku dan menguburku dengan layak. Pandangan ini sudah semakin kabur, tak ada cahaya, tak ada harapan meski hanya melihat bayangan tubuhku sendiri.
Tubuh ini tergoncang hebat ketika secercah cahaya menusuk retina mata. Ternyata labirin itu hanya mimpi. Tapi mengapa labirin? Mengapa buntu? Mengapa bambu liar? Berbagai tanda tanya agung membentuk stempel di otakku.
Kemesraan ini....
Janganlah cepat berlalu,
Hatiku damai,
Jiwaku tentram di sisimu*
Kini bukan lagi rasa sadarku yang berada di daerah ambang, tapi telingaku mendengar gumam lagu bertajuk kemesraan yang sempat kau dendangkan untukku. Aku baru saja tersadar dari mimpi tapi sepertinya harus kembali tersungkur ke alam bawah sadar itu lagi.
***
Kini, segunung harapan kuubah menjadi bongkahan-bongkahan kecil agar aku mampu menatanya. Kubiarkan diri ini berproses dengan mengenangmu. Mimpi-mimpi yang pernah kita ciptakan, angan yang kita bicarakan sekarang telah tergilas kenyataan. Aku, barangkali takkan pernah membuatmu hilang dari sebagian memoriku. Bagaimana pun, kau pernah ada di hatiku.
Kuucapkan selamat berbahagia dengan waktu. Dengannya yang mendampingimu....
Tampilkan postingan dengan label fragmen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fragmen. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 02 Januari 2010
Selasa, 15 Desember 2009
Jatuh Cinta pada Hujan
Aku mengenalmu seperti aku mengenal hujan, tanpa kesengajaan. Sesaat seperti gerimis saja. Gerimis saja. Tapi sepanjang kujejak jalan, kurasakan bahwa kau tidak hanya gerimis. Kau hujan, kau deras. Kau mengajakku menikmati suatu waktu yang menjadi momentum. Tentang penghargaan, tentang senyum dan ketulusan. Aku tak sering melihat rupamu, tak sesering hujan deras di kota ini. Aku hanya tahu kau selalu ada saat kubutuhkan, kau menentramkan dan memberi kedamaian. Aku tergelak saat kau sarankanku tersenyum, aku menangis saat kau ajariku merenung. Kau istimewa di hatiku, seistimewa suara hujan saat aku merindukan tidur yang nyenyak. Bolehkah aku mengucapkan sesuatu untukmu? Aku menyayangimu dengan ketiadaan. Aku menyayangimu dengan kesederhanaan. Itulah, kukatakan kau istimewa, sangat istimewa. Semangatmu membara tapi meneduhkan setiap hati. Harapanmu tinggi namun merendahkan ambisi. Sekali lagi, aku menyayangimu.
Sekali waktu, kau mengajakku berfantasi tentang masa depan, kau tanyakan padaku. Apa yang ingin kulihat suatu saat nanti? Kujawab, aku ingin melihat kupu-kupu. Kau tertawa, mengapa harus kupu-kupu, katamu. Aku suka kupu-kupu, aku suka keindahannya. Sepertimu, kau indah. Aku ingin melihat kupu-kupu yang indah itu bersamamu. Kau tertawa lagi, mengapa kau suka keindahan, tanyamu lagi. Keindahan itu menenteramkan. Sepertimu, mendamaikan. Kau diam dan memandangku. Aku menunduk, kau bilang padaku: jagalah dirimu, berproseslah seperti kupu-kupu itu. Dan kau tersenyum. Lalu fantasi masa depan itu berubah menjadi alur tak terencana dalam perbincangan kita. Sampai akhirnya kau tanyakan resiprokal pertanyaan pertamamu, apa yang tidak ingin kau temui suatu saat nanti? Aku menggeleng cepat. Tak ada yang ingin kujawab dari pertanyaanmu. Kau tak boleh tahu jawabannya.
Berangsur, kau memang deras. Bukan gerimis. Hadirmu memberi suasana yang sama sekali berbeda. Aku tahu itu. Kau bilang, jika kita mencintai seseorang maka biarkan orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri. Jika tidak, sesungguhnya kita hanya akan melihat pantulan diri kita pada dirinya. Tidak akan ada komplemen, hanya duplikat. Itulah yang paling kuhormati darimu,kau tak mengikat. Suatu saat, aku ingin mengatakan bahwa aku tak sekedar menyayangimu tapi aku menghormatimu.
Suatu pagi, sapaanmu begitu hangat.
Hai, kau cantik pagi ini, sapamu.
Terima kasih, dengan wajah bersemu merah kuucapkan.
Kau menarik tanganku. Kuikuti dirimu. Aku terharu, kau memang istimewa. Kau istimewa dengan kesederhanaan dan kerendahatianmu. Kau memberiku satu bingkai ornamen kupu-kupu. Tak ada kata yang keluar dari mulutku. Tak pula air mata menetes dari mataku. Aku juga tak tersenyum memandangmu, aku tak percaya. Saat ini jika bisa kukatakan, maka akan kutakan tentang jawabanku terhadap pertanyaanmu tempo hari. Hal apa yang paling tidak ingin kau temui suatu saat nanti? Pertanyaanmu waktu itu. Aku akan menjawab, hal yang tidak ingin kutemui adalah kehilanganmu. Kehilangan ketulusanmu. Tapi aku belum bisa mengungkapkannya, aku masih terpana dengan sebingkai ornamen kupu-kupu itu.
Aku masih tercengang dengan pemberianmu. Aku tahu, kau tak mudah mendapatkannya. Kau harus mengorbankan beberapa keinginanmu untuk dapat membelikanku benda itu.
Mengapa kau memberiku ini? Tanyaku.
Bukankah itu yang ingin kau lihat di masa depan? Katamu.
Mengapa kau memberikannya sekarang, aku tahu kau punya keperluan lain, lanjutku.
Sayang, apa kau tahu? Katamu. Masa depan itu tidak dinanti tapi dijalani. Bahkan satu detik yang akan datang setelah ini adalah sebuah masa depan. Bagiku, kau adalah masa depanku. Hal yang paling ingin kulihat di masa depan adalah kebahagiaanmu. Oleh karena itu aku ingin mulai menjalani masa depan itu dari setiap nafas yang kuhirup setiap waktu untuk membahagiakanmu. Jika kupu-kupu adalah salah satu hal yang bisa membahagiakanmu, mengapa harus aku tunda?
Baru setelah kudengar penuturanmu, air mataku leleh. Kau memang istimewa. Istimewa dengan ketulusanmu. Biarkan aku ucapkan terima kasih dan sedikit pujian untukmu, untuk semua ini. Untuk kasih sayangmu, dan untuk tingkahmu yang begitu menghormatiku. Kau adalah hujan, bukan gerimis. Kau deras.
Sekali waktu, kau mengajakku berfantasi tentang masa depan, kau tanyakan padaku. Apa yang ingin kulihat suatu saat nanti? Kujawab, aku ingin melihat kupu-kupu. Kau tertawa, mengapa harus kupu-kupu, katamu. Aku suka kupu-kupu, aku suka keindahannya. Sepertimu, kau indah. Aku ingin melihat kupu-kupu yang indah itu bersamamu. Kau tertawa lagi, mengapa kau suka keindahan, tanyamu lagi. Keindahan itu menenteramkan. Sepertimu, mendamaikan. Kau diam dan memandangku. Aku menunduk, kau bilang padaku: jagalah dirimu, berproseslah seperti kupu-kupu itu. Dan kau tersenyum. Lalu fantasi masa depan itu berubah menjadi alur tak terencana dalam perbincangan kita. Sampai akhirnya kau tanyakan resiprokal pertanyaan pertamamu, apa yang tidak ingin kau temui suatu saat nanti? Aku menggeleng cepat. Tak ada yang ingin kujawab dari pertanyaanmu. Kau tak boleh tahu jawabannya.
Berangsur, kau memang deras. Bukan gerimis. Hadirmu memberi suasana yang sama sekali berbeda. Aku tahu itu. Kau bilang, jika kita mencintai seseorang maka biarkan orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri. Jika tidak, sesungguhnya kita hanya akan melihat pantulan diri kita pada dirinya. Tidak akan ada komplemen, hanya duplikat. Itulah yang paling kuhormati darimu,kau tak mengikat. Suatu saat, aku ingin mengatakan bahwa aku tak sekedar menyayangimu tapi aku menghormatimu.
Suatu pagi, sapaanmu begitu hangat.
Hai, kau cantik pagi ini, sapamu.
Terima kasih, dengan wajah bersemu merah kuucapkan.
Kau menarik tanganku. Kuikuti dirimu. Aku terharu, kau memang istimewa. Kau istimewa dengan kesederhanaan dan kerendahatianmu. Kau memberiku satu bingkai ornamen kupu-kupu. Tak ada kata yang keluar dari mulutku. Tak pula air mata menetes dari mataku. Aku juga tak tersenyum memandangmu, aku tak percaya. Saat ini jika bisa kukatakan, maka akan kutakan tentang jawabanku terhadap pertanyaanmu tempo hari. Hal apa yang paling tidak ingin kau temui suatu saat nanti? Pertanyaanmu waktu itu. Aku akan menjawab, hal yang tidak ingin kutemui adalah kehilanganmu. Kehilangan ketulusanmu. Tapi aku belum bisa mengungkapkannya, aku masih terpana dengan sebingkai ornamen kupu-kupu itu.
Aku masih tercengang dengan pemberianmu. Aku tahu, kau tak mudah mendapatkannya. Kau harus mengorbankan beberapa keinginanmu untuk dapat membelikanku benda itu.
Mengapa kau memberiku ini? Tanyaku.
Bukankah itu yang ingin kau lihat di masa depan? Katamu.
Mengapa kau memberikannya sekarang, aku tahu kau punya keperluan lain, lanjutku.
Sayang, apa kau tahu? Katamu. Masa depan itu tidak dinanti tapi dijalani. Bahkan satu detik yang akan datang setelah ini adalah sebuah masa depan. Bagiku, kau adalah masa depanku. Hal yang paling ingin kulihat di masa depan adalah kebahagiaanmu. Oleh karena itu aku ingin mulai menjalani masa depan itu dari setiap nafas yang kuhirup setiap waktu untuk membahagiakanmu. Jika kupu-kupu adalah salah satu hal yang bisa membahagiakanmu, mengapa harus aku tunda?
Baru setelah kudengar penuturanmu, air mataku leleh. Kau memang istimewa. Istimewa dengan ketulusanmu. Biarkan aku ucapkan terima kasih dan sedikit pujian untukmu, untuk semua ini. Untuk kasih sayangmu, dan untuk tingkahmu yang begitu menghormatiku. Kau adalah hujan, bukan gerimis. Kau deras.
Langganan:
Komentar (Atom)