Rabu, 04 Agustus 2010
Terima Kasih, Karena Kau Mencintaiku
“Kalau orang cepat marah, masih gadis saja sudah tampak seperti ibu-ibu. Gimana nanti kalau jadi ibu? tampaknya akan seperti nenek-nenek. Berbahagialah sayang, maka kau akan muda selamanya.”
Selelah apa pun, pelukanmu selalu hangat. Sehangat warna jingga kala putih menjadi dingin. Kadang kau banyak diam di waktu-waktu tertentu. Tapi kutahu, kau diam bukan untuk menyerah. Kau diam untuk senantiasa bertahan.
“Aku ingin membuatmu bahagia, selalu, kapan saja, namun tidak semuanya harus diungkapkan bukan? Sayang, aku ingin kau merasakan kebahagiaan itu, bukan sekedar mendengar bahwa kebahagiaan itu ada. Percayalah, aku selalu menyayangimu.” Seketika saja lelahku kandas dengan kata-katamu, terima kasih karena kau mencintaiku….
Januari-Desember
Dan aku Januari yang menjadi bagian mereka, bergabung pada salah satu di antara mereka. Bergelut dengan apa saja yang sedang kuhadapi. Aku pun turut serta, menyatukan kedua belah tangan, menunduk khusyuk dan percaya bahwa Dia Maha Mendengar. Aku tak berkomat-kamit, hanya sekedar berkata lirih dalam hati. Tuhan Maha Sempurna, aku tak perlu berteriak agar Dia kabulkan doa.
“Tuhan, aku ingin berbicara dengan-Mu. Kupercaya, Engkau hadir dengan banyak cara.” Hanya itu saja kuberbicara. Selebihnya aku menunduk dan bungkam suara. Terlarut pada harapan yang menggema di dinding hati.
Januari dan Desember, ketika dihitung barangkali tampak begitu jauh karena hitungan melibatkan angka yang berbilang. Tapi rasakan… sesungguhnya Desember dan Januari begitu dekat, sangat dekat dan lekat. Karena kedekatan tak berbatas bilangan. Itu saja. Ingin kukatakan, sekuat apa pun kamu mencintai Desember, dia adalah dirinya sendiri. Desember bukanlah milikku apalagi milikmu. Dia adalah dirinya sendiri. Selalu, kupercaya, cinta itu membebaskan bukan mengikat.
Aku pun sama, mencintai Desember. Aku tak pernah ingin memaksanya untuk mencintaiku pula. Harapku hanya ingin dia bahagia. Jadi mengertilah bahwa Desember hanya perlu jeda untuk membuat sebuah keputusan. Semakin kau paksa dia untuk memilihmu, dia akan semakin jauh darimu. Percayalah, jika kamu sungguh tulus dengan perasaanmu maka sayangi dia apa adanya tanpa rekayasa.
*Aku masih Januari yang senantiasa lekat dengan Desember meski jarak kami bersekat, tapi kupercaya kami dekat sebab hati adalah kunci.
Hidup Adalah Belajar
Belajar bersyukur meski tak cukup
Belajar ikhlas meski tak rela
Belajar taat meski berat
Belajar memahami meski tak sehati
Belajar bersabar meski terbebani
Belajar setia meski tergoda
Belajar dan terus belajar dengan keyakinan setegar karang
*sms from my friend, Ferdiansyah.
Sent: 05.07.2010, 05:44 AM
ELEGI
Sampai kutemukan titik temu
Biarkanku menahan napas, menikmatimu
Bersandar nyaman di bahu lelapmu
Wanita dan Pria dalam Satu Episode
Jadi teringat, bahwa kelemahan seorang wanita adalah pada pendengaran karena hatinya lembut dan penuh dengan perasaan. Jika mendengar pujian maupun makian, dia akan terbawa. Sedangkan kelemahan seorang pria adalah pada pandangan, jadi penampakan fisik adalah salah satu factor seorang pria bisa jatuh hati kepada wanita. Mungkin ada benarnya juga, sesungguhny akehidupan manusia diatur oleh Tuhan yang sistemnya diserahkan pada alam.
MAKNA 2710
Entah dengan istilah apa dapat digambarkan, kesendirian itu seperti angin lembut yang menyejukkan, atau tetes hujan saat gambaran kemarau membayang di pelupuk mata. Hanya saja, memang, kebahagian tidak mampu muncul sempurna kala sendiri. Kebahagiaan nyata jika dibagi, kebahagiaan sempurna jika dirasakan juga oleh orang lain.
Apa kabar, Kita?
Kamu selalu berucap, bahwa aku harus bahagia. Aku pun inginkan kamu bahagia, dengan atau pun tanpaku. Hanya saja aku masih terlalu egois, menginginkan kebersamaan denganmu untuk bahagiaku. Padahal, jika hakekat cinta adalah memberi tanpa mengharap balas, mengapa aku selalu berharap saat aku merindukanmu maka semestinya pun kau merinduku?
Setelah hari itu, hari di mana kita berupaya untuk mencoba menjalani kehidupan kita masing-masing. Aku lega, kupikir aku tak perlu berpayah-payah lagi untuk memikirkan kamu dan dia. Kita sama-sama memiliki hak untuk menjadi manusia yang merdeka, tanpa ada pengekangan perasaan, tanpa ada upaya untuk berbesar hati menerima hanya separuh hatimu. Karena kau adalah dirimu, bukan untukku bukan pula untuknya. Tapi maafkan aku, sayangnya, berkali kucoba untuk mencari kebahagian bersama orang lain justru membuatku semakin terpuruk dalam bayang ketidakpastian. Jika masa lalu perlu kusimpan kemudian kubuka di saat aku perlu untuk mengingatnya, mengapa saat membuka itu terasa sakit?
Berpisah denganmu sama sekali bukan hal yang aku inginkan. Jika kita punya kesempatan untuk menghitung berapa lama kebersamaan kita, mungkin kita akan lupa. Tapi sesingkat apa pun momen itu bersamamu, selalu saja memorinya tertata rapi dalam direktori otakku. Kau selalu mengajarkanku hal-hal sederhana nan istimewa, sederet detail kecil yang berharga. Dan kamu tahu? Bau tanah yang pertama kali tercium saat hujan turun selalu mengingatkanku pada kebersamaan kita. Kita selalu betah berlama-lama menikmati tetes air hujan jatuh di kepala kita, kita juga menantikan waktu-waktu istimewa untuk bisa menenun detik dari tempat yang tinggi. Tak peduli seberapa lelah kaki kita berjalan menuju tempat itu, sesampainya di sana pasti terdengar tawa renyahmu dan candaanmu. Dan rasa lelah itu seakan menguap begitu saja kala kutahu baumu dekat. Kamu sama sekali tidak romantis, tapi bagiku itulah caramu untuk bersikap romantis kapan pun kamu mau.
Setelah sekian lama, sejak hari itu, aku selalu membunuh perasaanku terhadapmu. Perasaan yang sesungguhnya tak bernyawa kala aku harus berjalan sendirian. Jika memang Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam, bolehkah aku minta pada Tuhanku, semoga aku tercipta dari tulang rusukmu? Dan hari ini, setelah hari itu, aku bernostalgia dengan candamu. Kau hadir memupuk kembali perasaan yang selama ini kebas. Kembali lagi momen kita, kembali lagi kebersamaan kita menciptakan babak baru dalam episodeku. Kau masih seperti dulu memintaku tidur lelap dan bangun esok pagi saat kokok ayam masih senyap.
Selasa, 15 Juni 2010
RUANG KECIL DI POJOK WORLD CLASS UNIVERSITY
Berbicara mengenai fasilitas, perlu ditilik dari sudut pandang yang seringkali terlupakan. TOILET. Ruangan kecil yang berada di sudut-sudut gedung fakultas banyak yang terabaikan dan kondisinya kurang layak untuk dipakai. Kebersihan toilet yang kurang terjaga, sarana di dalamnya yang rusak, serta hal krusial yang sering digaungkan tapi terkesampingkan: air sering mati dan banyak toilet yang dikunci. Padahal jika dikaitkan dengan teori kebutuhan Malsow, toilet merupakan salah satu sarana untuk memenuhi kebutuhan fisiologis manusia. Kebutuhan tersebut berada di piramida paling bawah yang artinya harus terpenuhi pertama kali.
Ironis jika sebuah perguruan tinggi yang sedang berusaha memiliki predikat World Class University masih memiliki persoalan tentang kebersihan dan kenyamanan TOILET. Bahkan untuk bisa mengakses toilet yang bersih, mahasiswa perlu mengeluarkan recehan Rp 500,00. Hal tersebut bisa menjadi rasional karena memang untuk menjaga kebersihan membutuhkan sumberdaya finansial. Namun, apakah persoalan dana untuk menjaga properti masih harus dibebankan kepada mahasiswa juga?
Untuk mengatasi persoalan toilet ini tidak hanya tanggungjawab satu bagian saja, katakanlah bagian fasilitas dan properti, namun perlu kolaborsi dan sinergitas dari semua pihak. Masih ada jalan keluar untuk menikmati toilet yang bersih tanpa harus membayar, yaitu dengan cara bersama-sama menjaga dan merasa memiliki fasilitas tersebut. Tidak ada salahnya untuk membawa kantong plastik jika tempat sampah tidak ada, tidak ada ruginya untuk menghemat penggunaan kertas tisu agar sampah tisu juga berkurang. Dan, perlu koordinasi yang baik dari semua pihak supaya toilet bisa tetap buka sampai malam setiap hari dengan ketersediaan air yang mencukupi.
Kamis, 27 Mei 2010
MEMORIA
Masih lekat dipikiranku suatu waktu yang menjadi roda masa sekarang. Masa lalu, saat aku masih berada di gendonganmu, menangis, merengek minta susu. Kau tak lantas memarahiku tapi kau belai rambutku dan kau carikan susu. Pun masih tergambar jelas saat rumah itu masih tak berdinding, kau memelukku erat saat tidur karena aku takut. Kau bilang, setan itu hanya datang pada anak yang penakut. Katamu aku adalah anak gadismu yang pemberani, aku tak perlu takut ada ibu disisiku, memelukku.
“Ibu aku tidak bisa tidur” aku ingat kata-kata itu keluar dari mulutku tengah malam, saat kulihat wajahmu pulas. Kau langsung terbangun, kau pijat-pijat tanganku sambil bercerita tentang rasa banggamu memiliki anak gadis sepertiku. Padahal, kutahu siangmu begitu melelahkan. Kau adalah pahlawan yang sama sekali tak berpamrih.
Aku sadari sekarang, saat itu rambutku masih gimbal. Betapa susahnya kau merawatnya. Aku pun malu saat itu, mengapa rambutku gimbal. Tapi kau tak pernah malu, kau katakan “Ibu bahagia memiliki anak gadis yang cantik sepertimu”. Kau ikat rambutku agar aku tak merasa gerah. Dan lagi-lagi kau menguatkanku saat teman-teman mencemooh karena rambutku berbeda dengan mereka, kau bilang, “Tuhan menjadikanmu istimewa sehingga Dia menciptakanmu dengan berbeda”. Aku tak paham kata-katamu saat itu. Aku hanya tahu, tanganmu setia menggandengku pergi ke sekolah meski kau harus menunda sebentar waktu untuk menjemur pakaian atau bersih-bersih rumah. Aku selalu menjadi prioritasmu.
Semakin aku besar, rasanya bayang-bayang masa dimana kau senantiasa menuntunku semakin lekat. Banyak kenangan yang membuatku selalu terpacu untuk mencapai keberhasilan, adalah kenangan bersamamu ibu. Ibu, saat itu....
Kau selalu bangun lebih pagi sebelum kokok ayam terdengar. Menanak nasi, dan menyapu rumah kita yang dulu belum berjendela kaca. Kau biarkan aku yang berusia lima tahun tergolek di tempat tidur, meneruskan mimpi semalam. Hati-hati sekali jika kau bangun, kau tak ingin membuatku terjaga. Baru setelah azan subuh, kau bangunkan aku dan saat itu adalah pertama kali kau ajariku mengambil air wudlu. Kau membelikanku mukena kecil yang sampai saat ini masih ada, kau ajari dua rakaat subuh padaku. Tapi aku nakal ibu, aku ingin dapat pahala lebih saat itu dan aku pun menambah rakaat subuh menjadi tiga. Kau tak menyalahkanku, justru kau menjelaskan padaku dengan teduhmu.
Aku ingin doaku semakbul doamu, aku ingin menjadi ibu yang sepertimu. Sabar jika aku menangis, pengertian jika aku merengek, dan kau murka saat aku melakukan salah. Ibu, kau perempuan terhebat yang hadir dalam hidupku. Melebihi segala guru yang ada di dunia ini, kau sekolah pertamaku dan guru seumur hidupku.
Saat itu, pertama kali aku merasakan pusing naik angkutan umum. Barangkali pertama kali pula aku naik kendaraan bermotor. Aku lupa. Saat itu umurku empat. Kau menggendongku, mengenakan gaun warna biru. Kau mengajakku jalan-jalan karena aku merengek minta bertemu ayah yang sedang di perantauan. Kau tak menjanjikan bahwa kita akan menyusul ayah. Kau hanya bilang bahwa kita akan naik mobil seperti yang ayah lakukan. Aku melonjak senang. Tapi ibu, aku tak tahu ternyata naik mobil bisa membuat kepala sangat pusing dan perut menjadi mual. Aku tak tahan di dalam mobil, lima belas menit perjalanan aku mulai menangis. Dan kau mengusap kepalaku, berusaha mencari objek yang bisa membuatku tenang. Kau tunjukkan beberapa ekor sapi di sawah yang terlihat di sepanjang jalan.
”Naik mobil memang pusing, tapi kalau kamu naik sapi akan lama sekali sampai ke tujuan” katamu saat itu.
”Memang kita benar-benar menyusul ayah?” tanyaku polos setelah diam sambil melihat sapi-sapi itu.
”Kita sudah naik mobil seperti yang ayah lakukan, ayah akan bangga karena puterinya berani menaiki mesin yang membuatnya pusing dan mual.” Saat itu aku tak paham maksudmu, tapi aku sangat bahagia karena kau ternyata mengajakku membeli baju mungil berwarna merah yang bentuknya masih kuingat sampai sekarang.
Saat ayah pulang, kau dengan bangga menceritakan bahwa aku sudah sekolah. Aku masuk TK dan aku sudah bisa menyanyikan lagu ’Balonku’. Wajahmu berseri dan kau sangat cantik.
Ibu, satu kenangan ini membuatku selalu berusaha menjadi nomor satu. Aku ingat seusai magrib senja itu. Rumah kita belum ada listrik. Dan kau tak pernah kehabisan cerita untuk menemaniku yang masih terjaga. Aku nyaman berada di dekatmu. Senja itu, hanya dengan satu lampu templok, kau ambil jam dinding satu-satunya di rumah kita. Kau letakkan di atas meja dan kau dekatkan lampu templok itu untuk menyinarinya. Kau beranjak dari tempatku dan mengambil sesuatu. Ternyata kau membawakan aku sebuah buku tulis bergaris dan sebatang pensil. Aku takjub dengan dua benda itu. Artinya kau akan mengajariku menulis. Di sekolah aku sudah belajar membaca, tapi aku masih kaku untuk menulis.
Kau taruh buku dihadapanku, kau ajari aku memegang pensil kayu itu. Aku sangat bangga ketika memegang benda itu. Sungguh, itulah pertama kali aku tahu bahwa menulis itu sangat menyenangkan. Kau berusaha mengajari menulis dengan meniru angka-angka yang ada pada jam dinding di hadapanku. Kau bilang, ”Kamu akan menjadi seorang yang hebat nak, giatlah berlatih.” Aku semakin semangat dan belum juga mau tidur meski jarum pendek sudah di angka sembilan. Kau menuntun tanganku untuk sebisa mungkin menulis angka-angka itu. Ibu, aku baru tahu setelah aku kelas tiga SD, betapa besar jasamu. Saat itu aku ingat, ayah tak ada di rumah, dan aku harus mengembalikan raport ke sekolah hari itu. Raport harus ditandatangani orang tua. Aku panik ibu, mencarimu, mencari raportku pukul setengah tujuh pagi. Yang kutemui hanya hanya sarapan pagiku di meja. Kau tak ada ibu, aku marah dan menangis saat itu. Belum juga pukul tujuh kurang seperempat, kau muncul membawa buku bersampul merah, raport-ku. Kuperiksa ternyata sudah ditandatangani.
”Ibu dari mana?” tanyaku masih dengan isak tangis.
”Dari rumah sepupumu, minta tanda tangan” jelasmu.
”Kenapa minta padanya?” aku tak terima karena aku ingin tanda tangan orang tuaku yang ada di raport.
Ibu memelukku sambil tersenyum, ”Maafkan ibu nak, ibu tidak bisa menulis, karena ibu dulu tidak bisa sekolah sepertimu. Kau harus sekolah sekarang, supaya kau pandai menulis, membaca, dan berkarya” nasehatmu saat itu.
Sejak saat itu, kutahu perjuanganmu begitu keras untuk bisa mendidikku sampai sekarang, mengenyam bangku sekolah, mendapat ranking satu. Semuanya diawali dengan keiklasan seorang ibu sepertimu yang berusaha mengajari anaknya dengan meniru angka jam dinding supaya anaknya bisa menulis. Padahal ibu pun belum pernah menulis sebelumnya.
Ibu, aku sudah lancar menulis angka-angka itu sekarang. Aku sudah bisa membaca dengan lancar. Rasanya ingin kembali menikmati waktu, saat aku belum bisa apa-apa, menemukan kebahagiaan dari hal-hal sederhana itu. Kau selalu mengajariku untuk teguh pada pendirian dan menjadi tegar dalam kondisi apa pun. Hingga saat ini. Kau tak pernah mengungkit jasamu, tak pernah meminta imbalan dari tindakanmu. Saat aku pulang, kau sedia menyiapkan sarapan pagi dan memasak untuk makan siang serta malam. Kau tak peduli dengan lelahmu kemarin sore dan pagi-pagi sekali kau sudah bangun untuk merebus air panas untuk mandiku. Ibu, jasamu tak terukur, jika ada setumpuk nominal di dunia ini pun tak pernah cukup untuk membayarnya. Ibu, jika anakmu kau anggap pintar, maka sesungguhnya kau jauh lebih cerdas dari anakmu ini. Jika kau doakan anakmu menjadi orang hebat, maka sesungguhnya kau jauh lebih hebat melahirkan anak-anakmu. Ibu....
*Ibu, aku tahu, kau pun tak bisa membaca tulisanku. Tapi, aku ingin meninggalkan jejak yang kupersembahkan untukmu.
Aku mencintaimu ibu........
Rabu, 19 Mei 2010
Baiknya, Kita Akhiri Saja
Aku cukup bangga bisa mengenal sosokmu yang nyata-nyata sempat hanya sebatas sahabat fana. Aku pun beruntung bisa sekedar mencuri hati dan perhatianmu beberapa waktu ini. Namun sayangnya, aku tak pernah benar-benar merasa yakin meski hanya sekedar cukup untuk belajar mencintaimu. Meski malam ini aku tak bisa menikamati bulan sabit bersamamu, izinkanlah aku tetap berucap maaf, karena aku perlu untuk mengakhiri kebersamaan kita.
Minggu, 16 Mei 2010
16 Mei 2010
‘aku kangen’ pesanku tempo hari
‘aku juga kangen’ balasnya, tanpa kalimat selanjutnya. Dan esok harinya aku begitu bersemangat menjalani hari.
‘aku menang’
---------------
Tak ada balasan.
‘kemana saja hari ini?’
--------------------------
Tak ada balasan.
--------------------------
--------------------------
--------------------------
Hingga hanya bisa kupandangi layar kosong itu. Tak kudapati kemesraanmu beberapa hari ini.
Jumat, 07 Mei 2010
YA SUDAHLAH (Bondan ft Fade to Black)
Ketika mimpimu yang begitu indah,
tak pernah terwujud..ya sudahlah
Saat kau berlari mengejar anganmu,
dan tak pernah sampai..ya sudahlah (hhmm)
*reff:
Apapun yang terjadi, ku kan slalu ada untukmu
Janganlah kau bersedih..coz everything’s gonna be OKAY
Santoz:
yo..Satu dari sekian kemungkinan
kau jatuh tanpa ada harapan
saat itu raga kupersembahkan
bersama jiwa, cita,cinta dan harapan
Lezz:
Kita sambung satu persatu sebab akibat
tapi tenanglah mata hati kita kan lihat
menuntun ke arah mata angin bahagia
kau dan aku tahu,jalan selalu ada
titz:
juga ku tahu lagi problema kan terus menerjang
bagai deras ombak yang menabrak karang
namun ku tahu..ku tahu kau mampu tuk tetap tenang
hadapi ini bersamaku hingga ajal datang
B:
Saat kau berharap keramahan cinta,
tak pernah kau dapat..ya sudahlah
yeeah..dengar ku bernyanyi..lalalalalala
heyyeye yaya dedudedadedudedudidam..semua ini belum berahir
back to *reff
F2B:
satukan langkah..langkah yang beriring!
genggam hati, rangkul emosi!
B:
Genggamlah hatiku, satukan langkah kita
F2B:
Sama rasa, tanpa pamrih
ini cinta..across da sea
B:
peluklah diriku..terbanglah bersamaku, melayang jauh.. (come fly with me, baby)
F2B:
Ini aku dari ujung rambut menyusur jemari
sosok ini yang menerima kelemahan hati
yea..aku cinta kau..(ini cinta kita)
cukup satu waktu yes.(untuk satu cinta)
satu cinta ini akan tuntun jalanku
rapatkan jiwamu yo tenang disisiku
rebahkan rasamu..untuk yang ditunggu
Bahagia..Hingga ujung waktu.
back to *reff 2x
The Spectrum of Feeling PART VI
“Baru kau beritahu sekarang?” katanya di ujung telpon. Sebab teknologi, jarak menjadi semakin dekat meski ada sekat. Ah, aku jadi teringat, dulu masih pakai surat.
“Bukan maksudku....” aku tak berani melanjutkan, rasa bersalahku membuncah. Biasanya selalu kukabari dia, apa pun kondisiku.
“Sudahlah, nikmati saja perjalananmu, aku kecewa!” kata-katanya getir dan membuatku tak bisa tidur semalaman.
Adakah yang salah jika aku berusaha melabuhkan hati kepada selain Maharani? Kutahu jejak bisu kami tak mungkin bisa untuk diketahui banyak orang. Kami diam, tak perlu ada banyak komentar dari apa yang pernah kami jalani.
Sebenarnya, bukan bagaimana jalan ceritanya, tapi semua itu tentang kebersamaan kita. [Maharani]
Percayakah jika laki-laki itu pembohong dan perempuan mudah menangis? Aku salah satu yang sedikit percaya akan hal itu. Laki-laki tidak selamanya akan berbohong, tapi di suatu waktu dia akan mencari cara aman untuk kenyamanannya. Perempuan pun sebenarnya demikian, tapi kadang lelaki yang selalu disalahkan. Perempuan mudah menangis sepertinya, tapi Maharani sangat pandai menyembunyikan air matanya di hadapanku.
Cinta itu bukan bagaimana kita mencapai, tapi seperti apa kita menjaga. [Maharani]
Katanya, dia sangat mencintaiku, tapi entah mengapa aku menjadi ragu saat dia tak mau mendengar perkataanku. Mengajaknya menjadi seperti apa yang aku inginkan. Maharani sepertinya tak pernah menolak dengan peraturanku, dia patuh, kusangka begitu.
Biarkanlah orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri. Pelangi akan indah jika berwarna, begitu pun kasih akan bermakna jika berbeda. [Maharani]
****
“Jalani saja” ucapku setelah tiga hari dia meminta jeda. Bagaimana pun aku selalu mencintainya, menginginkannya, ingin memilikinya. Maharani memakiku dan berontak saat kukatakan hal itu, yang dia inginkan adalah satu jawaban “ya” atau “tidak”. Dia melepas dengan paksa genggaman tanganku yang sebenarnya menandakan bahwa aku masih ingin bersamanya. Tapi menurutnya apalah arti kebersamaan jika sebenarnya aku telah belajar membagi hati. Ah, Maharani, kadang dia manis, tapi sungguh sialan jika telah membuatku telak. Aku tak bisa berkata-kata lagi bahkan untuk sedikit saja menjelaskan. Dia selalu saja keras kepala, tak mau kalah. Dia bilang aku pengecut, padahal aku tak tahu apa itu keberanian. Aku hanya tidak ingin menyakiti dan mengecewakan salah satu hati.
Kuumbar janji yang kukira bisa kuwujudkan untuk Maharani. Aku katakan bahwa aku akan melakukan apa saja, asal aku bisa, dan itu bisa membuat dia bahagia. I promise to do anything for you, because i believe that there is something left between me and you. Sayangnya, dia memintaku untuk hanya memilihnya saja, dan mengucapkan selamat tinggal pada perempuanku yang satunya. Aku rasa aku tak bisa. Satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah berdamai dengan waktu, biarkan semua mengalir. Aku pun tidak pernah tahu –hingga saat ini- siapa yang akan menjadi pendampingku. Perempuan memang kadang berlebihan untuk minta dimengerti.
“Nikmati saja perjalananmu. Aku cukup bahagia jika tahu kau bahagia” sampai akhirnya aku ingin menampar diriku sendiri saat mendengar dia berkata seperti itu.
“Maksud kamu?” tanyaku pada Maharani.
“Sekuat apa pun kau menahanku untuk bertahan dan kuat menjalani semua ini dengan hanya separuh hatimu, kau takkan pernah berhasil.” Katanya dingin. Sedingin tatapannya saat itu.
“Untuk apa kau menemuiku jika hanya berucap seperti itu? Kau sia-siakan tenagamu” balasku.
“Kau salah, aku menemuimu karena aku tak mau tenagaku sia-sia, hanya untuk menangisimu. Aku ingin bebas dari perasaan yang sesungguhnya mematikan rasionalitasku ini. Kau nikmatilah perjalananmu dengan perempuanmu itu.”
“Bisakah sedikit saja aku memberi penjelasan padamu Maharani?” mungkin aku cukup mengiba.
“Tak ada yang perlu kau jelaskan, semua sudah sangat jelas.”
“Maharani! Kau selalu keras kepala.” Kataku sekeras maknanya.
“Terima kasih dan maaf, Rey, selamat tinggal.” Maharani berlalu tanpa menoleh lagi ke belakang. Hanya saja kata-kata terakhir yang diucapkannya tak mau hengkang dari otakku, TERIMA KASIH DAN MAAF.
TO BE CONTINUED...
-Turasih-
Minggu, 04 April 2010
The Spectrum of Feeling PART V
Seperti detik-detik yang telah berlalu, aku pun masih mencintaimu, sampai sekarang. Meski banyak rongrongan menggelitik gendang telingaku untuk segera melupakanmu dan menggantikannya dengan yang lain, tapi tak ku indahkan. Bukannya aku tak mampu melakukannya tapi aku tak mau mewujudkannya. Karena aku merasa yakin, setidaknya, kau pun masih merindukanku. Aku percaya kau masih mengabadikan jejak bisu kita yang barangkali telah berkali-kali tergilas hujan air mataku. Kau, kupercaya itu. Aku, selalu mencintaimu meski dalam bisu.
Aku tak mengerti akan kehadiran rasa ini. Sama sekali aku tak pernah memaksakan diri untuk mencintaimu. Dulu atau sekarang, semuanya normal. Hanya perasaanku saja yang barangkali tak pantas disebut normal. Mataku tak mampu membedakan mana realita dan mana fatamorgana. Mencintaimu sampai detik ini bukan fatamorgana, bukan pula realita, aku pun tak tahu apa istilah yang tepat untuk menyebutnya. Yang jelas, aku mencintaimu... sampai waktu yang tak ingin kuakhiri.
Kau, sebuah nama yang tak sempat terucap. Kau, sesosok wajah yang tak sempat terlihat. Kau satu hati yang tak lagi bisa kululuhkan. Dan untuk sebuah apresiasi perasaan yang mendewasakan. Aku benar-benar mundur kali ini.
The Spectrum of Feeling PART IV
Perkenalkan, aku laki-laki, aku maskulin, aku tidak bisa berdiam diri dengan hanya satu wanita. Terlalu munafik jika aku katakan bahwa hanya ada satu wanita yang aku suka. Aku senang berpetualang, juga pada banyak hati. Aku kurang berminat berbicara tentang kesetiaan, karena kesetiaan itu mematikan. Kesetiaan akan melahirkan kecemburuan, dan cemburu itu menyesatkan. Orang bisa membunuh karena gelap mata sebab cemburu. Namaku Geo. Itu jika kamu mau tahu. Sayangnya, perempuan itu melankolis dan sangat cemburuan, kecuali untuk beberapa kasus, ada juga yang menyerang dan agresif. Perempuan punya ekspektasi lebih tentang kesetiaan. Bagi laki-laki, jangan pernah bermain-main kata, atau menjanjikan sebuah kebersamaan untuk selamanya jika kau hanya singgah sementara dan mau menikmatinya saja. Perempuan itu akan minta kau menikah dengannya, berumah tangga, dan melahirkan banyak anak.
Jika akan ada banyak wanita yang menggugatku, mungkin itu laku yang sia-sia. Aku selalu fair dalam mendekati wanita, merajut kisah sehari atau beberapa jam dengan mereka, pasti kuungkapkan terlebih dahulu bahwa aku bukan laki-laki yang rela jatuh pada pelukan satu wanita saja.
****
Pertemuan itu tak sengaja, seperti sebuah kecelakaan waktu. Entah pula, aku yang sangat rasional merasa berharap bahwa kecelakaan itu akan kembali terjadi meski hanya sekedar bisa menyapanya sebentar. Bisa saja langsung kutemui dia, tapi kuingin semuanya natural, aku ingin dia juga merasa perlu bertemu denganku. Gadis itu, cukup bisa membuatku merasa kalah. Dia istimewa dengan sisi-sisi pribadi yang tak dibuat-buat. Tapi rasa-rasanya aku tak perlu banyak memujinya. Aku tidak mau jatuh cinta. Aku merasa bahwa kita tidak selalu bisa selalu menentukan kepada siapa kita harus jatuh cinta. Dia gadis istimewa, Maharani namanya. Dia tak tahu, aku -si playboy- sedikit memujinya.
The Spectrum of Feeling PART III
Dua puluh bilangan tahun, dia merasa menjejaki masa-masa melalui apa pun yang dia perbuat. Dia bisa melakukan apa saja yang dia inginkan, tentu saja ketika dia mampu menanggung konsekuensinya. Karena hidup adalah konsekuensi. Baginya, kehidupan itu adalah pencarian. Dia selalu mencari, apalagi kebebasan. Maharani tidak suka istilah "biarkan hidup mengalir seperti air", dalam pandangannya kalimat itu terlalu pasrah. Hidup perlu dilawan, segala sesuatu tidak bisa mengalir begitu saja, semuanya harus dikondisikan. Untuk apa manusia diberi kelebihan akal untuk mewujudkan peradaban jika perjalanan hidup tak lebih dari "kerbau yang dicocok hidungnya"? Satu hal pencapaian paling tinggi yang dia inginkan dalam hidupnya adalah membuat pikirannya merdeka. Menjadi manusia yang merdeka, perempuan yang mumpuni, dan menjadi pribadi yang tidak tertindas. Jalannya satu, dia harus dan perlu cerdas.
Adakah jalan lain untuk menjadi pribadi yang merdeka? karena beberapa waktu terakhir banyak tetek bengek yang terlalu munafik jika dia mau mengelak. Dan lagi, rasa-rasa pikirannya terbelenggu untuk bisa bebas. Berlahan kebebasan itu semakin meredup seiring dengan ego yang berusaha dia pertahankan. Kecemburuan, itulah satu hal yang meracuninya. meracuni positifnya. meracuni jalan pikirannya. Katanya bisa memaafkan adalah kebesaran hati yang luar biasa. Tapi baginya memaafkan adalah mengoyak hati. Ya, dia salah dengan pandangannya, tapi entah mengapa emosinya menuntun pada ketidakikhlasan.
"Kita jalani saja, toh kita tidak pernah tahu siapa yang akan menjadi pendamping kita" kata laki-laki itu.
"aku tidak bisa seperti kamu, membagi hati" Maharani memaki pedas.
"Aku juga tidak menginginkannya" laki-laki itu tak bernada.
"Tapi kamu menikmatinya."
"Terserah kamu."
"Aku mundur" Maharani berteriak.
"Kamu tidak akan bisa!" laki-laki itu menjagal dan menahannya pergi.
Gontai langkah Maharani saat dia harus kembali pada kebebasannya. baginya, lima tahun perjalanan takkan semudah membalik telapak tangan apalagi bertepuk. Apa yang bisa kita berikan pada orang yang suatu saat menjadi pendamping kita jika telah terbiasa belajar membagi hati? Kebohongan apa yang akan kita tutupi dan dengan cara bagaimana?
"Aku mundur."
"Kamu tidak akan bisa" laki-laki itu menahan Maharani pergi.
Senin, 29 Maret 2010
Manusia dan Tuntutan Peradaban
Manusia dengan berbagai kelebihannya, terutama karunia akal yang pada akhirnya mengantarkannya untuk membentuk peradaban dari waktu ke waktu memeliki andil besar dalam upaya pemanfaatan sumber daya yang terdapat di bumi. Pemanfaatn tersebut tidak terlepas dari upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan dalam mencapai kesejahteraan. Seiring dengan pertambahan umur bumi dimana space untuk manusia tinggal semakin sempit akibat laju pertumbuhan penduduk yang kian meningkat, carying capacity pun semakin berkurang. Akibatnya muncul berbagai permasalahan dan konflik dalam pemanfaatan sumberdaya.
Isu global warming bagi saya menuntut manusia untuk menciptakan sebuah peradaban baru melalui upaya repositioning tugas-tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi. Saya menyebutnya ‘peradaban bijak yang dituntut’. Mengapa demikian? Perilaku bijak manusia untuk menjaga dan melestarikan bumi merupakan sebuah tuntutan kondisi yang mau tidak mau harus diupayakan. Tentu saja, jika manusia ingin terus melanjutkan peradaban sampai keturunan cucu buyut dan keturunannya lagi.
Salah satu perilaku untuk menjaga sumberdaya yang ada di bumi ini adalah perilaku berhemat. Menggunakan sesuatu sesuai porsinya dan tidak berlebihan. Misalnya dalam penggunaan air, ada sebuah refleksi yang mungkin patut untuk kita adopsi. ketika kita mandi, apakah sempat terpikir berapa volume air yang kita habiskan untuk membersihkan badan kita? Kemana air sisa yang kita gunakan untuk mandi? Sempatkah terpikir dalam pikiran untuk menampung dan menggunakan sisa air tersebut untuk keperluan lain? Jika jawabannya ‘iya’ maka saya ucapkan selamat, jika tidak maka mari kita mulai berpikir dan bertindak untuk melakukannya.
Ketika kita mandi, banyak air yang kita habiskan dan mengalir begitu saja. Pun dalam aktivitas yang lain seperti buang hajat, maka akan ada banyak air yang dibutuhkan dan dihabiskan. Sebuah contoh dari perilaku seseorang yang bagi saya patut ditiru yaitu memanfaatkan air sisa mandi. Ketika kita mandi, cobalah untuk menaruh beberapa ember di sekitar kaki kita dan biarkan air yang digunakan sebanyak mungkin bisa tertampung di ember tersebut. Tentu saja arahkan guyuran air setepat mungkin bisa jatuh di ember tadi. Tujuannya satu, yaitu untuk memanfaatkan sisa air tersebut untuk keperluan lain seperti menyiram sisa hajat kita. Sederhana, tapi yakinlah dari hal tersebut telah ada suatu tindakan berhemat dan dapat menurunkan tingkat konsumsi air bersih. Jika anda yang membaca tulisan ini terprovokasi untuk melakukannya, maka provokasilah yang lain juga!
Air meskipun disebut sebagai renewable natural resources, tetapi faktanya sekarang banyak tempat di belahan dunia ini yang kekurangan air sehingga kekeringan. Ada pula tempat yang kelimpahan air sehingga banjir. Oleh karena itu, upaya berhemat dalam penggunaan air perlu dilakukan dan dilestarikan. Tidakkah mengingat firman Allah SWT bahwa sesungguhnya Dia tidak menyukai hamba-hamba yang berlebihan, dan sesungguhnya pemborosan itu adalah perilaku setan? Maka marilah kita bangun sebuah peradaban yang bijak, yang mencermikan ke-berakal-an manusia. Caring now, for better tomorrow!
The Spectrum Of Feelings PART II
3 hari berlalu, seperti masa-masa yang tergilas oleh derasnya hujan kota ini. Aku menanti, menanti jawaban yang selama ini kau gantung. Tetap pada satu pendirian yang membawaku sampai di persimpangan ini. Pendirian itu adalah sebuah kepercayaan yang kubangun dengan susah payah bersama gelisah. 3 hari itu seperti sayembara dengan teka-teki yan tak terjawab meski waktunya sudah lewat 10 jam hitungan.
"Masih adakah yang bisa kita sisakan untuk bisa saling menyapa dalam sayang?"
Aku termangu dengan tatapan kosong memandang layar kosong tanpa pesan. Kau berdiam diri di sana tanpa acuh. Ya, kau banggakan dirimu sebagai laki-laki bernyawa dengan sejuta pesona. Pesona yang membuatku jatuh pada omong kosong khayalan.
"Kita jalani saja" hanya mata nanar ini yang mampu mengacakan segalanya. Penerimaan yang kupaksakan dengan dalih aku tak sanggup untuk kecewa. Aku hanya mampu diam membatu dalam sunyi tak terdefinisi diantara cakaran-cakaran jalang yang membuatku luruh dalam tangis tertahan. Rasionalitasku menuntunku untuk tak menjatuh mata air mataku, tapi hal itu justru membuat dada ini seperti ingin meledak. Aku berada di antara dimensi ketegaran dan ketidakrelaan.
"Harus ada jawabannya". Aku hanya butuh satu kata. Bukan diantara ya atau tidak. Tapi satu kata ya, atau satu kata tidak. Sungguh kuakui, cinta tak pandang siapa, cinta tak perlu alasan apa, cinta tak punya mata. Aku terpuruk dan terjerembab dalam lorong gelap dengan peristilahan cinta. Kucintai kau tanpa kutahu makna kecewa. Aku berharap dengan segunung asa untuk terus bertahan, akulah yang akan jadi pemenangnya. Tapi semuanya buyar, saat ini aku hanya butuh satu kata. satu kata ya atau satu kata tidak, bukan diantaranya atau kalimat jalani saja.
Hey, kau yang punya hati. Kau nikmati aku dalam malam-malammu (kau nikmati kegalauanku, kau nikmati gundahku yang melahirkan tawa hambar dan tangis yang sesumbar). Sampai sekarang rasionalitasku pun tak bisa membawa diri ini untuk pergi tanpa menengok ke belakang. Setiap kali kujejakkan kaki dalam lapang jalan yang sebenarnya, selalu saja penopangku tak cukup kuat untuk meneruskannya. kupikir, tongkatku masih tertinggal di kamar hatimu. Kutengok lagi ke belakang dan berusaha mencari pintu rumahmu untuk bisa singgah dan mengambil milikku yang ada padamu.
Rumahmu lapang, masih selapang dulu ketika aku biasa menyapamu dan membantumu menjaganya. Tapi ada bagian yang tak boleh kubuka, padahal disitulah kusimpan tongkatku. Kau, kau sembunyikan sesuatu di ruangan yang paling bisa membuatku nyaman dalam rumahmu.
"kenapa harus aku?" Perlukah kujelaskan pada setiap benda yang bisu menatapku? kukira semuanya bisa kujaga sampai ribuan jam. Tapi sekejap saja kau tinggalkan jejak dan tanpa peduli mulut mana yang selalu menyebutkan nama kamu diantara sederet nama lain dalam doanya. Jalan pikiranku dibuat buntu tanpa kepastian.
3 hari yang sudah berlalu. kuminta waktu untuk menciptakan spasi antara kita yang kusangka akan membuat kata-kata kita lebih memiliki ruang. kuminta waktu untuk mencuci benci yang meradang dalam beberapa prasangka. Namun 3 hari itu hanyalah 3 hari tanpa ya, 3 hari tanpa tidak. kau hanya menjawab "jalani saja".
Kamis, 18 Maret 2010
More than Words (LIRIK LAGU WESTLIFE)
Westlife - More Than Words Lyrics
Saying I Love You
Is Not The Words
I Want To Hear From You
It's Not That I Want You
Not To Say
But If You Only Knew
How Easy
It Would Be To
Show Me How You Feel
More Than Words
Is All You Have To Do
To Make It Real
Then You Wouldn't
Have To Say
That You Love Me
Cos I'd Already Know
What Would You Do
If My Heart Was Torn In Two
More Than Words To Show You Feel
That Your Love For Me Is Real
What Would You Say
If I Took Those Words Away
Then You Couldn't Make Things New
Just By Saying I Love You
It S More Than Words
It S More Than What You Say
It S The Things You Do
Oh Yeah
It S More Than Words
It S More Than What You Say
It S The Things You Do
Oh Yeah
Now That I've Tried To
Talk To You
And Make You Understand
All You Have To Do
Is Close Your Eyes
And Just Reach Out Your Hands
And Touch Me
Hold Me Close
Don't Ever Let Me Go
More Than Words
Is All I Ever
Needed You To Show
Then You Wouldn't Have To Say
That You Love Me
Cos I'd Already Know
What Would You Do
If My Heart Was Torn In Two
More Than Words To Show You Feel
That Your Love For Me Is Real
What Would You Say If I Took Those Words Away
Then You Couldn't Make Things New
Just By Saying I Love You
More Than Words
powered by lirik lagu indonesia